
Azka dan Tricia yang sedang menuju ke desa Torbe sejak pagi akhirnya melihat beberapa rumah kecil dari kejauhan. Mereka yang sedikit kelelahan akhirnya sampai sesuai dengan waktu yang mereka perkirakan yaitu saat sore.
Desa itu terlihat begitu kumuh dengan beberapa rumah warga yang telah hancur oleh serangan makhluk misterius yang di maksud oleh Liana saat di penginapan. Desa itu juga terlihat begitu sepi seperti tidak ada tanda kehidupan.
Azka yang melihat keadaan desa itu merasa kalau kunjungannya ke desa ini adalah hal yang benar. Ia awalnya masih tidak peduli dengan keadaan desa Torbe tapi itu sedikit merubah pandangannya setelah ia melihat sendiri keadaan desa itu.
Tricia kemudian berlari secara terburu buru menuju ke perkarangan utama desa itu. Ia terlihat begitu panik sambil berusaha mencari tanda tanda manusia di desa itu.
"Apa ada orang? Halo?!" Tricia terus beteriak berharap akan ada seseorang yang akan menjawabnya.
"Mungkin mereka sedang bersembunyi." Azka berusaha menenangkan Tricia karena ia terlihat begitu panik.
"Tapi seharusnya mereka bisa menjawabku kan?"
"Tenanglah Tricia, kita masih belum tau apa yang sebenarnya terjadi."
Tricia yang begitu panik akhirnya berusaha menenangkan dirinya. Ia mengambil nafas perlahan dan melihat sekeliling desa yang sudah terlihat seperti di landa bencana. Meskipun masih ada beberapa rumah yang berdiri tapi sebagian besar desa itu sudah hampir rata dengan tanah.
Ia terus memperhatikan seisi desa hingga membuatnya teringat tentang desanya yang sudah di hancurkan oleh peperangan Buster dan Lancer lima tahun yang lalu.
Kejadian itu benar benar membekas diingatannya ketika desa yang ia cintai seketika berubah menjadi medan perang.
Azka sejak tadi memperhatikan tingkah Tricia yang terlihat sedikit aneh. Ia berjalan menyusul Tricia yang berada di tengah desa itu.
"Oi, apa kau tidak apa apa?" Azka memasang wajah datar.
Tricia lalu tersadar dari lamunannya dan reflek menoleh ke arah Azka.
"Tak apa," ucap Tricia sambil mengeluarkan senyuman kecil.
Disaat mereka yang terus berusaha mencari tanda tanda seseorang di desa itu. Ada seorang kakek tua berumur 60 tahun yang berjalan mendekati mereka dari arah reruntuhan rumah.
Azka dan Tricia menoleh ke kakek yang terlihat seperti pemimpin desa dengan pakaian yang sedikit lusuh.
"Permisi ... apa kalian adalah orang yang kami tunggu dari kerajaan Oleander?"
Kakek itu menatap mereka dengan penuh harapan. Ia mengira mereka adalah orang yang di kirim untuk menolong desanya setelah ia meminta pertolongan ke kerajaan Oleander.
"Maaf kek, tapi kami bukanlah orang yang anda maksud."
Kakek itu seketika merasa murung ketika mendengar mereka bukanlah orang yang ia maksud.
"Begitu ya ...."
"Azka!"
Tricia berbisik sambil menatap Azka seakan menyuruhnya untuk tidak mengatakan hal itu.
"Kami memang bukan orang yang anda maksud, tapi kami sudah mendengarnya bahwa desa ini telah di serang dan kami datang kesini untuk menolong kalian semua."
Tricia tersenyum sambil menjelaskan kedatangan mereka kepada kakek tua itu.
"Benarkah?"
Kakek itu kembali ceria ketika mereka bersedia menolong desanya. Ia lalu melambaikan tangannya seperti sedang memanggil seseorang dari arah hutan.
Seketika orang orang desa itu muncul dari balik hutan dengan wajah ceria. Mereka berjalan menuju tengah desa itu untuk menyambut kedatangan Azka dan Tricia.
"Biarkan aku memperkenalkan diri, namaku Buris bisa di bilang aku adalah pemimpin dari desa ini. Tapi kalian bisa memanggilku kakek seperti yang di lakukan orang orang di desa ini."
Buris memperkenalkan dirinya dengan ramah kepada Azka dan Tricia.
"Namaku Tricia, senang bertemu denganmu kek."
Tricia melirik ke arah Azka menunggu ia memperkenalkan dirinya. Azka yang sejak tadi memasang wajah datar menyadari kalau Tricia sejak tadi menatapnya.
"Namaku Azka, senang bertemu denganmu."
"Azka ya?"
"Tidak salah lagi dia orangnya."
"Kau adalah wakil Lancer yang ada di kerajaan Oleander bukan?"
Beberapa warga itu sedikit terkejut karena mengetahui Azka yang seorang wakil Lancer datang ke desa ini.
"Maaf tapi aku sudah tidak menjadi pasukan Lancer."
Azka melihat mereka dengan tatapan datar. Kabar tentangnya yang menjadi wakil Lancer memang sering beredar di desa desa kecil seperti desa Torbe. Karena saat menjadi Lancer dulu ia sering membantu desa desa kecil diluar wilayah Oleander.
Meskipun begitu pandangan orang orang terhadapnya tidak pernah memudar meskipun Azka selalu menolong mereka.
"Benarkah? Kenapa wakil sepertimu sampai keluar dari pasukan Lancer?"
"Lalu apa kau akan tetap menolong kami?"
Berbagai pertanyaan dari para warga itu terus terngiang di telinga Azka hingga membuatnya risih.
"Aku tidak akan menjawabnya."
Warga desa itu seketika terdiam ketika Azka mengeluarkan tatapan seakan mengintimidasi ke arah mereka.
"Kita datang kesini memang berniat untuk menolong kalian. Dan juga dia memang memiliki tatapan seperti itu jadi kalian tak perlu khawatir."
Tricia berusaha menenangkan para penduduk sambil tersenyum karena mereka terlihat sedikit ketakutan oleh tatapan Azka.
Azka merasa bingung dengan penjelasan Tricia padahal ia sama sekali tidak merasa ingin menakuti para penduduk desa Torbe. Ia mungkin sudah terbiasa mengeluarkan tatapan datar ke semua orang di kerajaan Oleander hingga membuatnya susah untuk tersenyum.
"Aku memang bukan lagi bagian dari Lancer tapi mungkin aku bisa membantu kalian. Dan juga mungkin kau bisa menjelaskan tentang makhluk yang menyerang desa ini lebih rinci padaku kek."
"Aku sangat bersyukur kau datang kemari nak Azka. Baiklah kita bisa membicarakannya di tempatku."
Kakek itu mempimpin jalan di ikuti oleh Azka dan Tricia menuju rumahnya. Mereka masuk ke rumah kakek Buris yang terlihat hampir tidak utuh karena sebagian rumahnya sudah hancur kecuali satu ruangan yang mereka tempati.
"Maaf karena sebagian rumahku telah hancur oleh makhluk itu. Meskipun aku cukup beruntung sebagian ruangan di rumahku masih bisa di tempati."
"Tak apa kek. Lalu bagaimana dengan penduduk yang lain?" ucap Tricia sambil melihat seisi rumahnya.
"Mereka mendirikan tenda di hutan yang tidak jauh dari sini. Aku masih bertahan di tempat ini karena menunggu bantuan dari pasukan Lancer kerajaan Oleander."
"Sudah berapa lama kau meminta bantuan ke mereka?"
Kakek Buris terlihat murung karena kehilangan warga desanya.
Azka menahan kesalnya ketika mengetahui belum ada satupun pasukan Lancer yang datang kemari. Bahkan kakek itu sudah meminta pertolongan mereka sejak seminggu yang lalu.
"Apa yang sebenarnya Lancer sialan itu lakukan?!"
"Sejujurnya aku juga tidak mengetahui kenapa mereka sampai sekarang tidak datang kemari. Tapi aku masih sangat berharap jika bantuan akan datang untuk menolong kami."
"Tenang saja kek, kami akan berusaha menolongmu."
Tricia tersenyum ke kakek Buris untuk menyemangatinya.
"Aku benar benar berterima kasih."
"Baiklah kek, bisa kau ceritakan makhluk seperti apa yang menyerang desa ini?"
"Makhluk itu bisa di bilang seperti serigala berukuran besar. Anehnya dia hanya menyerang pada saat malam hari. Aku juga tidak tau persis kenapa makhluk seperti itu menyerang desa kecil ini. Tapi aku pernah mendengarnya kalau makhluk itu hanya berniat untuk memakan manusia."
"Sepertinya makhluk itu menyerang desa ini karena desa ini sendiri tidak termasuk dari kerajaan manapun sehingga ia bisa bebas menyerang manusia tanpa khawatir dari pasukan Lancer."
"Ya ... aku juga berpikir seperti itu. Karena beberapa minggu yang lalu aku juga mendengar kalau ada sebuah desa yang tidak termasuk dari wilayah manapun juga di serang oleh makhluk itu. Sekarang keadaan desa itu sudah tidak ada dan semua penduduknya tewas di makan oleh monster itu."
Tricia sejak tadi tertunduk sedih ketika mengetahui telah ada seluruh penduduk desa yang tewas terbunuh.
Ia lalu mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Azka dengan kebingungan.
"Aku masih tidak mengerti dengan maksud monster yang menyerang desa di luar wilayah. Kenapa dia hanya menyerang desa kecil seperti desa ini Azka?"
"Tentu saja, jika monster itu menyerang ke desa yang termasuk dari salah satu wilayah kerajaan. Mungkin monster itu sudah lama terbunuh dari pasukan Lancer yang bertugas di wilayah itu."
"Tapi ... kenapa mereka hanya melindungi desa yang termasuk wilayah kerajaan?"
"Pada dasarnya setiap kerajaan selalu membayar upeti sebagai bayaran untuk mendapat perlindungan dari Lancer. Karena tugas utama Lancer sendiri adalah memburu para Buster. Dengan kata lain kasus seperti desa Torbe ini bukanlah prioritas utama mereka."
"Bukannya itu tidak adil? Seharusnya setiap orang berhak mendapat perlindungan walaupun yang menyerang desa ini bukanlah Buster."
"Hal itu memang di sayangkan. Tapi mengingat bahwa pasukan Lancer sendiri terbentuk untuk melindungi dunia ini dari para Buster. Meskipun begitu tidak semua Lancer yang berpikiran seperti itu."
Azka teringat dengan permintaan Yuga padanya. Ia tau kalau sebenarnya ia memberi penawaran karena Yuga peduli dengan keadaan desa Torbe.
"Semua yang di katakan oleh Azka itu benar nak, kami hanya desa miskin yang bahkan rata rata penduduknya bekerja sebagai pedagang kecil. Aku sebenarnya mengetahui jika meminta tolong ke kerajaan Oleander kami harus menyiapkan uang kepada Raja Edric. Tapi aku hanya berharap mungkin akan ada Lancer yang mendengar permintaan kami."
Kakek Buris terus memasang wajah murung karena sejak awal ia begitu pesimis akan mendapat pertolongan.
Azka seketika kesal mendengar nama Raja Edric. Ia bahkan menganggap orang itu bahkan tidak pantas di sebut manusia.
"Sebentar lagi matahari sudah akan terbenam, apa kau tau kapan kira kira monster itu akan muncul?"
"Aku tidak tau pasti kapan ia akan muncul. Tapi yang bisa ku bilang monster itu biasanya akan keluar ketika bulan sudah terlihat."
"Mungkin itu sekitar 2 jam lagi dari sekarang. Sebaiknya aku akan menunggu monster itu diluar."
"Apa kau yakin?" Kakek Buris terlihat khawatir.
"Kalau aku menunggunya diluar dia hanya akan mengincarku kan?"
Azka merasa sedikit ragu dengan kekuatannya sekarang. Tapi ia hanya berusaha meyakinkan kakek itu untuk tidak murung.
Saat Azka berniat pergi ke tengah desa ia melihat ke arah Tricia yang sejak tadi hanya terdiam. Ia dari awal benar benar bingung dengan tingkahnya sejak ia tiba di desa ini.
"Tricia ... apa kau disini saja?"
Tricia tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Azka. Ia lalu berlari menyusulnya yang sudah berada di pintu keluar menuju tengah desa.
"Aku akan ikut menunggu."
Azka hanya menatapnya datar sambil melanjutkan langkahnya menuju reruntuhan desa.
Mereka terus menunggu kedatangan monster srigala itu di tengah reruntuhan desa Torbe. Bahkan hari sudah gelap sejak tadi tapi belum terasa tanda tanda monster itu akan muncul.
Mereka berdua duduk dengan suasana hening dan sinar rembulan yang menerangi pandangan mereka. Azka yang terus memperhatikan Tricia kemudian berjalan mendekatinya karena ia terus melamun sejak tadi.
Ia tersadar saat pertama kali bertemu dengannya Tricia sempat menceritakan kalau desanya juga telah hancur karena peperangan 5 tahun yang lalu.
"Aku baru mengingatnya kalau kau pernah berkata desamu juga telah hancur. Apa itu yang membuatmu sejak tadi begitu khawatir?"
Tricia menoleh ke arah Azka dengan memasang wajah murung.
"Ya ... entah kenapa saat aku mengetahui tentang Lancer aku begitu memikirkan desaku yang telah hancur karena peperangan mereka melawan para Buster. Lancer yang harusnya melindungi semua orang bahkan tidak peduli dengan kami. Mereka terus bertarung untuk mengalahkan Buster tanpa melihat siapa korbannya."
Azka terdiam karena ia bingung mau mengatakan apa padanya.
"Karena peperangan itu aku kehilangan desa yang ku cintai dan bahkan kehilangan kedua orang tuaku. Saat itu aku benar benar tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku ... aku ...."
Tricia tiba tiba menitihkan air matanya karena ia benar benar teringat jelas akan kematian orang tuanya.
Azka menyadari ia menangis lalu menenangkan Tricia dengan menyentuh rambutnya.
"Tenanglah Tricia ...."
Azka mengerti dengan perasaan Tricia. Ia merasa bahwa kejadian yang dia alami mirip seperti ia kehilangan Mia pada saat masih kecil di desa Masaya.
Meskipun mirip Azka sama sekali tidak berniat untuk menceritakan hal itu padanya. Ia juga tidak terlalu tertarik dengan masa lalu Tricia karena ia masih belum bisa mempercayainya.
Tricia yang ditenangkan oleh Azka merasa sedikit lebih tenang dan kembali fokus dengan tujuannya ke desa Torbe.
Di saat bersamaan mereka terkejut ketika mendengar suara raungan misterius dari kejauhan.
Seketika srigala hitam yang berukuran besar itu muncul dengan melompat dari arah atas. Hentakan dari srigala itu begitu terasa, dengan mata merahnya srigala itu menatap mereka berdua seakan ingin memangsa mereka dengan liur yang terus menetes dari taringnya.
Rrrrrrrghhhh!!!
Azka menatap Monster itu dengan tenang sambil mengeluarkan Twin Daggernya dari sabuk yang ada di pinggangya seakan siap untuk bertarung.
"Jadi yang muncul ternyata bukan srigala biasa ya ...."
To be Continued...