
Setelah melarikan diri dari kejaran tiga anggota terkuat Crimson Buster, Levin dan Tricia akhirnya berhasil melarikan diri ke kota Hayate. Dengan nafas yang masih terengah-engah, mereka berdua berhenti sejenak sambil memastikan kalau mereka bertiga sudah tidak mengejarnya lagi.
“… itu hampir saja ….” Tricia menggumamkan itu sambil berusaha mengatur nafasnya.
Sedangkan Levin yang saking kelelahannya, dia sampai terkapar di tengah jalan kota Hayate. Tubuhnya sekarang di penuhi beberapa luka yang cukup fatal akibat kejaran Chynta, Kazel dan Mirio.
“… aku lapar.” Dengan perutnya yang keroncongan, Levin hanya bisa menatap ke langit-langit dengan lemas.
Mendengar itu, Tricia menatap Levin dengan tatapan senang. “Kau memang selalu lapar ya ….”
Keadaan Kota Hayate sekarang terbilang sangat sepi karena banyak sekali penduduk yang melarikan diri akibat pertarungan yang melibatkan Tricia dan Levin sebelumnya. Meski begitu, masih ada beberapa Buster yang terlihat di jalanan kota.
Terlihat beberapa Buster itu berusaha menghindar dari Tricia dan Levin dan bergegas untuk pergi dari Kota. Mereka semua khawatir kalau Crimson Buster sampai mengamuk dan melibatkan mereka. Apalagi pemimpin dari kelompok Crimson Buster, Parviz si Penebas Api,
Levin yang terbaring cukup lama akhirnya berdiri dan merenggangkan badannya seakan melepas rasa lelahnya.
“… ternyata menjadi Buster itu memang menyenangkan hahaha.”
“Itu bukan sesuatu yang harus di tertawakan.”
“Yah, ternyata baru beberapa hari bergabung bersama kalian, kita sudah menemukan musuh yang kuat.”
“Mungkin kau benar ….”
Tricia hanya memandangi Levin yang tampak tertawa seakan tidak memiliki beban. Kalau di pikir-pikir, ucapan Levin memang benar. Meski dia baru bergabung, entah kenapa Tricia merasa kalau sudah mengenal Levin cukup lama. Begitu juga dengan Azka.
Tricia tidak mengira kalau dirinya akan benar-benar menjadi Buster bersama Azka dan Levin. Itu mengingatkannya kembali dengan perkataan ibunya saat masih kecil. Ternyata ucapan Ibunya saat itu benar-benar terjadi.
Melihat Tricia yang tiba-tiba tersenyum, Levin memiringkan kepalanya dengan ekspresi tanda tanya.
“Ada apa Tricia?”
Pertanyaan Levin tadi membuat Tricia kembali dari lamunannya. “Ti-tidak papa ….”
Setelah menggumamkan itu, Tricia mulai berjalan beberapa langkah dan berbalik ke Levin dengan ekspresi senang.
“Ayo Levin, kita harus kembali ke panti asuhan.”
“Benarkah? aku kira kita akan mencari makanan ….” Sambil mengeluh, Levin dengan berat hati mengikuti Tricia dari belakang. Padahal dia sudah berharap kalau Tricia akan mengajaknya makan terlebih dahulu.
Belum lama mereka berjalan, tiba-tiba terdengar suara seperti hentakan besi yang semakin lama semakin terdengar di telinga mereka.
Dengan perasaan bingung, Levin dan Tricia berhenti dan berbalik melihat asal suara itu.
Spontan mereka berdua terkejut dengan mata melebar ketika melihat Kazel sedang berjalan menggunakan rantai dari punggungnya.
Bahkan kali ini, mereka berdua merasa Kazel yang sekarang sangat berbeda di banding Kazel yang hilang kendali saat pertarungan sebelumnya di tempat ini.
“Apa itu ….” Levin menggumam ketika tatapannya terfokus dengan belasan rantai yang membentuk seperti kaki laba laba dari punggung Kazel.
Sedangkan Tricia hanya diam dengan bibir bergetar. Tricia mulai bergidik gemetaran karena merasakan aura yang menakutkan dari Kazel.
“Akhirnya … ketemu juga ….”
Kedua mata Kazel yang berwarna merah seperti darah itu menatap Levin dengan tatapan kosong. Bahkan suaranya begitu dingin yang sangat berbeda dari gaya bicara sebelumnya.
Hentakan rantai yang berbentuk seperti pedang gerigi yang berukuran panjang itu membuat beberapa Buster yang masih ada di kota Hayate juga menjadi ketakutan. Kazel yang sedang berjalan itu bahkan sampai menembus atap atap dari kedai di sekitar.
“Mo-monster!”
“Cepat! Kita harus meninggalkan kota ini!” Teriak salah satu Buster yang memimpin teman-temannya untuk lari.
Sambil berteriak ketakutan, beberapa Buster yang dari kejauhan akhirnya melarikan diri dengan panik. Seketika suasana yang ada di kota Hayate seperti di telan kesunyian kecuali suara rantai berjalan milik Kazel.
Sementara itu, Levin yang sejak tadi memandangi Kazel mulai tertegun. Meski begitu, Levin seperti bersemangat untuk menghilangkan rasa gelisahnya. Levin juga sampai mengikat kedua gelang tali kebanggaannya.
Melihat gerakan Levin yang biasanya dia gunakan sebelum bertarung, Tricia mulai panik sambil menarik Levin untuk pergi dari kota.
“Ayo Levin cepat!”
“Sepertinya dia benar-benar ingin membunuhku ....” Levin mengeluarkan senyuman kecil sambil menatap Kazel.
“Apa yang kau katakan bodoh?” Tricia terus menarik Levin dengan paksa karena dia sendiri tidak sanggup untuk bertarung.
Levin yang belum sempat menjawab itu, tiba-tiba mendorong Tricia untuk menghindar dari serangan salah satu rantai dari Kazel.
Meski Tricia berhasil menghindar, beberapa serangan dari rantai yang berukuran besar itu langsung menyerang ke arah Levin dengan cepat hingga menghancurkan banyak bangunan di sekitar.
“Levin!!!” Tricia berteriak dengan wajah panik.
Gumpalan asap yang mengeliling tempat itu juga membuat Tricia sulit memastikan keadaan Levin. Meski begitu, Tricia sangat terkejut karena serangan rantai dari Kazel sangatlah berbeda dari sebelumnya.
Kali ini rantainya sudah tidak bisa di sebut sebagai rantai. Lebih tepatnya rantai itu seperti berubah menjadi pedang gerigi yang melayang seperti rantai besi. Bahkan rantai-rantai itu berwarna hitam seperti darah yang sudah lama terkena udara luar.
Kazel yang berhasil menyerang Levin itu lalu menatap ke arah Tricia. Dia mengendalikan rantai-rantainya dan melayangkannya ke arah Tricia.
Melihat serangan yang mematikan itu, kedua mata Tricia melebar dan menghindar dari serangan beruntun dari rantai-rantai itu. Tricia terus berlari dari kejaran rantai itu walaupun dia sekarang sangat kelelahan akibat pertarungan-pertarungan sebelumnya.
Menyadari kalau Tricia sedang kesulitan, Levin yang sejak tadi terbaring mulai bangkit dari reruntuhan bangunan. Serangan Kazel tadi memang membuat Levin terluka cukup fatal hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.
“Sialan ….” Sambil memegangi luka yang ada di perutnya, Levin melihat serangan rantai Kazel yang terus menyerang ke Tricia.
Meski Tricia masih bisa bertahan tapi itu terlihat jelas di mata Levin kalau Tricia tidak akan bertahan lama. Karena itu, Levin mengepal kedua tangannya dan berlari dengan cepat menuju Kazel.
Sedangkan Kazel yang sibuk menyerang Tricia dengan rantai-rantainya tidak sadar dengan kedatangan Levin yang sudah siap mendaratkan pukulan.
“Death Blow!”
Kazel terkena pukulan dengan cepat dari Levin hingga rantai-rantainya tidak sempat untuk menahan kecepatannya.
Karena pukulan Levin berhasil menghentikan serangan Kazel, Tricia berhenti dari larinya dengan nafas yang terengah-engah. Dia lalu berbalik ke arah Levin yang ternyata sudah terluka parah akibat serangan sebelumnya.
“Levin, apa kau tidak apa-apa?” Tricia bertanya dengan suara yang keras dari kejauhan.
Sambil mengatur nafasnya, Levin menatap ke Tricia seakan menandakan dirinya baik-baik saja. “Ya ….”
Tapi tidak lama setelah pukulan itu, Kazel kembali bangkit dengan rantai laba-labanya. Dia juga terlihat tidak terluka sama sekali seakan tidak merasakan bekas serangan apapun.
Melihat keadaan Kazel yang seperti baik-baik saja, membuat Levin sedikit terkejut. Padahal kekuatan pukulannya tadi sudah sangat kuat. Bahkan sebelumnya Kazel juga menerima pukulannya dan itu membuat Kazel sudah cukup terluka.
Tapi kali ini berbeda dan itu membuat Levin hanya bisa tersenyum kecil.
Levin sekarang sudah yakin kalau Kazel yang di lihatnya sekarang sangat berbeda dengan Kazel yang hilang kendali pada pertarungan sebelumnya.
“Kau … akan … kubunuh ….” Sambil mengucapkan itu, Kazel bergerak dengan kaki rantainya ke tempat Levin berdiri.
“Begitu ya ….” Levin hanya tersenyum kecil karena melihat keinginan Kazel yang ingin sekali membunuhnya.
“Apa yang kau lakukan Levin?!” Tricia mulai khawatir dengan ekspresi Levin yang mencurigakan.
TIdak memakan waktu lama, beberapa rantai dari Kazel melesat dengan cepat ke Levin yang mampu menghindar dari serangan itu. Kazel sama sekali tidak memberi ampun dengan melesatkan kembali beberapa rantainya.
Serangan itu masih bisa di hindar tapi itu membuat serangan Kazel malah menghancurkan beberapa bangunan yang ada di sekitar tempat itu.
Levin yang masih menghindar itu mendekat ke Tricia dan memutuskan sesuatu padanya.
“Tricia, larilah duluan ke panti asuhan ….”
Mendengar itu, bahu Tricia mulai gemetar. “Apa kau … berniat untuk bertarung dengannya? apa kau tidak sadar kalau kau sedang terluka parah sekarang?”
“Tenang saja, aku tidak akan mati kok.”
“Jangan berbicara yang mengerikan seperti itu.”
“Hahaha, percayalah padaku. Aku pasti akan kembali.”
Tricia hanya diam melihat Levin yang terlihat santai. Meski Tricia tau kalau Levin itu bodoh, tapi kali ini dia sangat khawatir karena Levin sekarang sudah sangat terluka parah. Bahkan Tricia yakin kalau Levin tidak akan bisa bertahan melawan orang itu.
Apalagi Kazel sekarang terlihat lebih menakutkan di banding pertarungan sebelumnya.
Setelah tertawa, Levin kembali menatap Tricia dengan serius.
“Pergilah duluan Tricia, biar aku yang menahannya di sini.” Levin lalu berbalik dan menatap Kazel yang sejak tadi mengendalikan rantainya secara membabi buta
Sedangkan Tricia hanya diam seperti membeku. Dia baru kali ini melihat Levin seserius ini. Sekarang dia menjadi bimbang apakah dia harus meninggalkan Levin di sini?
Tricia masih di buat bingung oleh keputusan Levin yang tiba-tiba. Jika dia di sini mungkin hanya membuat Levin kerepotan. Tricia yakin kalau kekuatannya tidak akan bisa melukai Kazel.
Setelah berpikir cukup matang, Tricia terpaksa menyanggupi perkataan Levin dan bergegas untuk lari menuju panti asuhan menemui Azka dan Filia. Mungkin ini adalah satu-satunya cara yang bisa dia lakukan sekarang.
Karena hal yang paling penting adalah, Tricia sangat mempercayai Levin.
“Beritahu Azka tentang rencana mereka, Tricia!” Levin menoleh ke belakang dengan senyuman.
Tricia hanya tersenyum tanpa menoleh ke arahnya sambil berlari. “Aku mengerti itu, jadi jangan sampai kalah, Levin!”
“Ya!” Sambil meneriakkan itu, Levin melambaikan tangannya.
Tricia yang sedang berlari itu sudah hampir terlihat lagi oleh Levin.
Sekarang, kedua mata Levin kembali tertuju ke Kazel yang sedang berjalan mendekatinya.
“Chain … Destruction!”
Kazel mengendalikan seluruh rantainya dan menyerang ke Levin dengan sekali serangan. Levin berhasil menghindar dari serangan itu namun, staminanya sudah terkuras banyak akibat pertarungan dan pelarian sebelumnya.
Sekali lagi, Kazel menyatukan seluruh rantainya dan menghantam ke arah Levin yang sekali lagi berhasil menghindar.
“Apa-apaan itu? serangannya berbeda dari yang sebelumnya ….” Levin mengingat kalau Kazel tidak pernah membuat rantainya menjadi satu.
Entah kenapa Levin merasa kalau sebelumnya rantai-rantai miliknya lah yang mengendalikan Kazel. Tapi sekarang berbeda, Kazel benar-benar mengendalikan rantainya sekarang. Meski begitu, Levin sama sekali tidak mengerti dengan kekuatan Kazel.
“Chain … Destruction ….”
“Gawat serangan itu lagi!”
Tepat setelah mengatakan itu, Levin melompat dari hantaman rantai raksasa itu. Terlihat bekas serangan Kazel sampai membuat lubang yang sangat besar di alun-alun kota Hayate, dan membuat Levin mulai bergidik senang.
“Kalau terkena serangan itu mungkin aku bisa mati ….” Levin menggumam sambil menatap Kazel dengan kesenangan.
***
Sementara itu di markas Crimson Buster, Chyntia yang berjalan dengan buru-buru itu menemui Parviz yang sejak tadi meminum beberapa botol anggur.
Chyntia berjalan sambil teringat dengan Kazel yang sudah kehilangan kendali seperti beberapa tahun yang lalu. Chyntia mengingat jelas kalau Kazel saat itu bukanlah Kazel yang dia kenal seperti biasanya.
Parviz yang sedang meminum anggurnya menyadari kalau tatapan Chyntia mengarah padanya. Dia meletakkan botol anggur itu dan menaruh tangannya di dagu sambil menatap Chyntia dengan datar.
“Kau sudah kembali ya? Kudengar kau sempat di kalahkan.”
Tapi Chyntia hanya diam sambil terus berjalan dengan ekspresi serius. Sementara itu, Parviz masih menatapnya dengan datar dan melanjutkan ucapannya.
“Lalu, kemana gadis kecil itu? Bukankah sudah kuperintahkan pada kalian berdua untuk membawanya?” Kali ini Parviz bertanya dengan suara yang dingin.
Chyntia lalu berhenti di hadapan Parviz.
“Maafkan aku Parviz ….” Chyntia mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya.
Rasa kekecewaan terlihat jelas dari tatapan Parviz, tapi dia tetap tenang sambil menyandarkan kepala di tangannya.
Chyntia yang menundukkan kepalanya itu sempat tertegun. Tapi pikirannya sekarang masih terngiang dengan keadaan Kazel, dan dia pun mengangkat kepalanya dengan perasaan sedih.
“Kami memang gagal menyelesaikan perintahmu. Tapi … sekarang Kazel sudah hilang kendali akibat kekuatan itu ….” Chyntia mengatakannya dengan gemetar.
“Jadi aku mohon selamatkan dia … Parviz-san ….” Ketika kata-kata Chyntia menyelesaikan kata-katanya dengan gemetar, dia mulai menitihkan beberapa air mata.
Parviz hanya terdiam melihat itu.
Bahkan dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi peduli atau khawatir. Ekspresinya hanya datar melihat Chyntia yang sedang memohon di hadapannya.
Ruangan Parviz mendadak di telan kesunyian.
Sekarang hanya ada suara Parviz yang kembali meminum botol anggurnya. Setelah meminumnya dengan perasaan kecewa, dia menaruh botol anggur itu dengan pelan.
“Aku … tidak peduli.”
Kata-kata dari Parviz membuat bahu Chyntia bergetar. Ucapannya membuat Chyntia di liputi emosi yang bercampur aduk.
“Tapi … Kazel—”
“Sudah kubilang aku tidak peduli.”
Parviz tetap pada pendiriannya.
Parviz tahu kalau Kazel sampai menggunakan kekuatan ‘itu’, dia pasti akan mencelakakan dirinya sendiri. Parviz juga tahu kalau satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah membuat Kazel tidak sadarkan diri. Dan hanya kekuatannya yang bisa mewujudkan itu.
Tapi, Parviz sudah tidak peduli.
Bagi Parviz Benedict, kekalahan dan gagal dalam misi adalah hal yang tidak bisa di ampuni. Meski mereka bertiga adalah orang kepercayaanya, Parviz tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya terhadap Chyntia.
“Kau akan kuampuni Chyntia … tapi tidak dengan Kazel.”
Setelah mengucapkan itu, Parviz memasang tatapan tajam ke Chyntia.
To be Continued…