
Bagian timur dari kerajaan Hawthorn, Kota Hawlic.
Kota Hawlic adalah kota yang sangat berdekatan dengan kota Hayate. Meski dekat, keadaan kota Hawlic sendiri jauh lebih buruk dari kota Hayate. Seisi kota Hayate hanya di hiasi oleh banyak bangunan tua dan penduduk yang jauh lebih sedikit dari kota Hayate.
Kota Hawlic juga terdapat beberapa Buster yang berlalu lalang meskipun masih jauh lebih sedikit dari kota Hayate. Di antara semua bangunan itu ada satu rumah tua yang cukup besar dan di jadikan sebagai markas dari Crimson Buster.
Di dalam rumah itu, terlihat tiga orang sedang berhadapan dengan seorang pria berambut hitam pendek dan pupil mata tajam yang berwarna hitam.
Orang itu adalah Parviz, pria berusia 32 tahun dengan tubuh yang tidak terlalu kekar dan sarung pedang yang sangat besar di sampingnya.
Parviz Benedict, ketua dari Crimson Buster yang sebelumnya menyuruh salah satu anak buahnya untuk memanggilkan mereka bertiga.
“Ada apa kau memanggil kami … Parviz-san?!” Sambil bertanya pria itu memasang senyuman antusias.
Pria 28 tahun itu memiliki rambut merah gelap yang di sisir rapi dan sepasang mata yang berwarna hitam.
“Tenanglah, Kazel.” Parviz memasang tatapan dingin ketika menatap Kazel.
Lalu pria berambut hitam yang berdiri di samping Kazel menatapnya dengan tatapan risih. “Kau ini berisik sekali ya, Kazel.”
Kazel merasa tersindir dengan pria di sampingnya. “Apa maksudmu, Mirio?! Kau mau berkelahi ha?!” Kazel memasang tatapan geram melihat pria kekar di sampingnya.
Pria 30 tahun yang bernama Mirio itu hanya memasang wajah santai. Bagi Mirio, menghadapi sifat keras kepala Kazel sudah menjadi hal yang biasa di alaminya.
Mirio memiliki badan yang sedikit kekar dan rambut pendek yang berwarna coklat gelap. Mirio juga memiliki sorot mata yang begitu tenang dengan sepasang mata yang berwarna hitam.
“Kalian berdua ini tidak bisa diam ya?!” Bentak seorang gadis yang sejak tadi berdiri di samping Mirio.
“Biarkan saja dia mengonggong, Chyntia.” Mirio menatap ke wanita 26 tahun yang berada di sampingnya.
Chnytia adalah satu satunya anggota perempuan di Crimson Buster. Chyntia memiliki rambut berwarna hitam panjang yang di kuncir rapi dan pupil mata yang berwarna ungu gelap. Meski penampilan Chyntia terlihat dewasa, tapi sifatnya tidak sedewasa Mirio.
Kazel kembali tersindir dan menatap Mirio dengan kesal. “Mengonggong?! Apa maksud perkataanmu Mirio sialan!”
“Hentikan itu Kazel!” Chyntia mengomel dengan wajah kesal.
“Kau diam saja, Chyntia. Ini urusanku dengan pria gorilla ini!” Kazel menunjuk Mirio dengan perasaan jengkel.
Sebutan Gorilla yang di maksud Kazel mengacu pada bentuk badan yang di miliki Mirio. Mirio sendiri memiliki tubuh yang sangat besar dan berotot layaknya Gorilla.
“Sepertinya kau ingin di hajar ya, pria kurus.” Mirio membalas ejekan Kazel padanya.
Kazel semakin kesal ketika Mirio menghinanya, “Siapa yang kau panggil kurus?! Dasar gorilla jelek!”
Di samping itu, Chyntia hanya bisa menghembus nafas berat melihat pertengakaran kedua temannya yang seperti anak anak. Sebenarnya pertengkaran mereka sudah menjadi hal yang biasa di lihat oleh Chyntia.
Sementara itu, Parviz yang sejak tadi terdiam mulai merasa geram karena tiga anggotanya benar benar berisik. Parviz juga tidak bisa mengelak karena mereka bertiga adalah teman sekaligus anggota terkuatnya.
“Kalian ini, tenanglah sedikit!” Parviz berteriak dengan kesal sambil memukul dinding yang ada di belakangnya hingga retak.
Mendengar Parviz yang sangat kesal, Mirio dan Kazel langsung menghentikan perdebatan mereka dan kembali menatap Parviz dengan raut wajah seakan merasa bersalah.
“Tapi Parviz-san, pria gorilla ini yang mulai duluan!” Kazel masih merasa kesal sambil menunjuk Mirio di sampingnya.
“Hentikan, Kazel!” teriak Parviz kesal.
Kemudian, Parviz menghembus nafas berat lalu menatap Kazel, Mirio dan Chyntia dengan tatapan dingin.
“Aku memanggil kalian karena ada sesuatu yang mulai mengangguku.”
“Hm? Apa itu?” Chyntia tampak polos ketika mendengar perkataan Parviz.
“Aku baru saja mendengar kalau peliharaan kecilku membuat keributan di kota Hayate.”
“Peliharaan? Apa maksudmu Filia-chan?” Pikiran Chyntia langsung mengarah kepada Filia ketika Parviz memanggilnya dengan sebutan peliharaan.
Chyntia sepertinya sangat akrab dengan Filia meski gadis kecil itu harus tersiksa mengumpulkan uang sebanyak 10 juta Nam seperti yang di janjikan Parviz.
Di samping Chyntia berdiri, Mirio meletakan beberapa jari di bawah bibirnya seakan berpikir sesuatu. “Aku juga mendengar tentang hal itu … dan kata orang orang di sana, anak itu di bantu oleh dua orang Buster.”
Berbeda dengan Kazel, Mirio memiliki sifat yang cukup tenang bahkan paling tenang di antara Kazel dan Chyntia.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Parviz-san?! Apa aku harus menyeret monster sialan itu kesini dan menagih janjinya?! Atau membunuh mereka semua?! Hahaha aku sudah tidak sabar!”
“Jangan seenaknya sendiri dasar bodoh!” Chyntia membentak ke arah Kazel dengan tatapan kesal.
“Berisik!” Kazel cuek ketika Chyntia terus menatapnya.
“Apa kau tidak bisa diam, Kazel?!” Parviz memasang sorot mata yang mulai menyeramkan.
Melihat ketuanya mulai serius, Kazel langsung terdiam sekaligus sedikit ketakutan dengan tatapan tajam Parviz. Di samping itu, Mirio dan Chnytia juga ikut terdiam dengan tatapan geram Parviz.
Parviz masih memasang tatapan tajam dan berkata, “Besok, mau tidak mau gadis itu harus menyerahkan 10 juta Nam di hadapanku.”
“Bukankah dia masih punya waktu 1 minggu?” Mirio tampak bingung dengan maksud perkataan Parviz.
“Aku sudah tidak peduli dengan perjanjian itu.” Parviz memasang tatapan mencurigakan.
Kazel, Mirio dan Chyntia hanya bisa terdiam menatap sepasang mata hitam dari Parviz. Mereka sebenarnya tak mengerti dengan arah pembicaraan Parviz. Tapi dari tatapannya saja, mereka sangat yakin kalau Parviz sedang merencanakan sesuatu.
“Ngomong ngomong soal Filia.” Mirio menaruh tangannya di dagu dengan tatapan tenang. “Aku sedikit penasaran dengan dua orang Buster yang bersamanya. Maksudku mereka berdua sempat mengalahkan hampir sebagian Buster di kota Hayate.” Mirio melanjutkan hingga suasana di ruangan itu menjadi hening.
“Apa yang kau katakan benar juga ….” Chyntia ikut penasaran sambil meletakan tangan rampingnya di dagu.
“Itu juga menjadi salah satu alasan kenapa aku membatalkan perjanjian itu.” Parviz menambahkan dengan sorot mata dingin.
Tiba tiba, Parviz mulai menatap Kazel dan Chnytia dengan sorot mata mencurigakan. “Aku punya sedikit tugas untuk kalian berdua.”
“Tugas?” Tanya Kazel dan Chyntia secara serempak.
Di dalam ruangan itu, terdapat Alan dan Cornelia yang sedang terkapar tak berdaya dengan keadaaan terikat. Mereka berdua adalah anak dari panti asuhan Alice sekaligus teman dekat Filia.
Alan, bocah laki laki berusia 12 tahun dengan mata dan rambut yang sama sama berwarna coklat. Lalu di sampingnya adalah Cornelia, bocah perempuan berusia 11 tahun berambut pirang pendek dan mata berwarna biru.
Mereka berdua di tangkap oleh Parviz sejak tiga minggu yang lalu dalam keadaan terikat hingga lemah tak berdaya. Pakaian mereka juga sangat kotor dan berantakan dengan tatapan setengah sadar.
Sebelumnya kedua mulut mereka sempat di tutupi oleh sebuah kain. Tapi setelah di pindahkan anggota Crimson Buster, penutup kain itu akhirnya di lepaskan.
Kemudian, mereka menoleh dan saling berpandangan dengan tatapan lemah.
“Mereka … sedang merencanakan sesuatu ….” Alan mengeluarkan suara lemah ketika menatap Cornelia.
“Ya ….” Cornelia mejawab dengan suara lemah dan hampir memejamkan matanya.
Di bandingkan Alan, Cornelia sudah tidak tahan menahan rasa sakit dan kelaparan karena keadaan fisiknya jauh lebih lemah dari Alan.
“Setidaknya … Filia masih bisa hidup ….” Alan masih berbicara dengan suara lemah.
Alan sengaja mengajaknya untuk berbicara agar Cornelia bisa terus tersadar. Alan juga berusaha untuk menguatkan Cornelia meski hanya sebatas kata kata. Alan takut jika Cornelia tidak bisa bertahan dari situasi yang mereka hadapi sekarang.
“Ya ….”
Itu adalah jawaban yang hanya bisa di keluarkan Cornelia. Tapi dari tatapan mata Cornelia, dia terlihat sangat sedih dengan air mata yang mulai berkumpul.
Alan dan Cornelia sebelumnya mengetahui kalau Parviz sedang merencanakan sesuatu. Karena tahu rencana jahat Parviz, mereka sudah mulai pasrah menghadapi kenyataan pahit yang akan menimpa mereka dan juga Filia.
Setelah menatap Cornelia cukup lama, Alan memaksakan pandangannya ke arah pintu keluar dengan tatapan lemah.
“Aku mohon … larilah bersama mama … Filia.”
***
“Parviz?” Azka dan Tricia bertanya secara serempak ketika mendengar nama Buster yang menculik Alan dan Cornelia.
“Mereka datang ke kerajaan ini sekitar dua bulan yang lalu ….” Nenek yang bernama Alice itu kembali menjelaskan dengan perasaan murung.
“Aku pernah mendengar Crimson Buster sebelumnya ….” Tricia terlihat ragu meski dengan ingatan yang samar samar.
“Apa mereka itu kuat?!” Levin terlihat bersemangat sambil mendesak Tricia.
“Yang jelas mereka adalah salah satu Buster yang cukup berbahaya di daratan North Land ….” Tricia merasa yakin dengan penjelasannya meski ia tidak tau seberapa kuatnya mereka.
“Benarkah?! Aku ingin sekali bertemu dengan mereka!” Levin semakin bersemangat.
Dengan tatapan datar, Azka hanya terdiam mendengar pembicaraan Tricia dan Levin. Azka sebenarnya cukup tertarik setelah mendengar penjelasan Tricia tentang Crimson Buster.
Tapi selama Crimson Buster tidak menghalangi tujuannya, Azka hanya perlu fokus menemukan informasi menuju daratan Mid Land.
Setelah mengetahui semua itu, Filia tiba tiba terjatuh pingsan di pelukan Alice hingga membuat Azka, Tricia dan Levin menoleh secara serempak.
“Filia ….” Alice tampak khawatir sambil memeriksa kondisi Filia.
“Mungkin lukanya masih belum pulih ….” Tricia mulai menenangkan nenek 60 tahun yang sedang memeluk Filia dengan lembut.
“Begitu ya, sebaiknya aku biarkan saja Filia beristirahat.” Alice mulai tersenyum lega.
Beberapa saat kemudian, Alice selesai membaringkan Filia di salah satu kasur yang sudah sangat tua. Lalu, nenek itu pun menoleh dan mendekat ke arah Azka, Tricia dan Levin.
“Aku sangat berterima karena kalian sudah mengantarkan Filia kemari.”
Tricia menggeleng pelan, “Tak apa nek, lagipula kami tidak sedang buru-buru.”
Alice hanya tersenyum sekaligus bersyukur. “Kalau kalian tidak keberatan … kalian bisa menginap di tempat ini.”
“Tentu saja kami tidak keberatan, apalagi kalau nenek mempunyai makana … aw!” Perkataan Levin terpotong ketika Tricia menyenggolnya dengan kuat.
Sambil memegang lengannya, Levin menatap Tricia dengan kebingungan. “Kau ini kenapa sih?!”
“Harusnya aku yang menanyakan itu!” Tricia mengomel dengan wajah masam ke Levin.
“Apa isi pikiranmu itu cuma makanan?!” Azka ikut kesal sambil menunjuk kepala Levin.
“Eh? Habisnya aku kelaparan ….” Levin meringis dengan perasaan pasrah.
Alice mulai tertawa kecil dengan tangan yang ada di mulutnya. “Hehehe, kalian memang anak muda yang menarik.”
Di mata Alice, mereka bertiga memiliki sifat dan kepribadian yang sangat unik. Di satu sisi, pria berambut hijau gelap itu memiliki sorot mata yang menakutkan. Lalu pria berambut pirang itu memiliki sifat yang sangat polos. Dan gadis berambut hijau muda itu seperti penengah di antara mereka.
Tapi Alice menyimpulkan kalau mereka bertiga adalah orang yang sangat baik bahkan Filia juga mengatakan hal yang sama sebelumnya.
Kemudian, Azka menatap Alice dengan tatapan seakan bertanya tanya. Dia juga sebenarnya sedikit risih karena Alice sejak tadi menatap mereka bertiga.
“Kami masih sedikit penasaran, tapi bisakah kita membicarakan ini di luar?” Azka terlihat serius menanyakan itu karena dia tidak ingin menganggu Filia beristirahat.
Alice lalu menatap Azka sambil tersenyum. “Ya … mungkin itu ide yang bagus.”
Lalu, mereka semua berjalan keluar dan duduk di halaman dekat panti asuhan. Azka mulai duduk dan mengamati sekilas desa Kitara yang sangat gelap.
Tanpa berpikir panjang, Azka mulai menatap Alice dengan tatapan dingin. “Apa Filia sejak dulu sudah seperti itu? Maksudku, apa dia memang ras manusia setengah binatang?”
Mendengar pertanyaan itu, Alice hanya bisa tersenyum. Sesuai perkiraannya, mereka bertiga pasti kebingungan dengan kondisi fisik yang di alami Filia.
“Sebenarnya itu adalah … kekuatan Link.”
To be Continued…