
Di sebuah hutan yang terletak jauh dari desa Corael.
Clint dan para anak buahnya yang berhasil melarikan diri membangun tempat peristirahatan dan telah menetap didalam hutan selama 2 hari. Mereka melarikan diri karena tidak ingin menjadi amukan massa dari desa Corael saat itu.
Lalu tidak lama kemudian, Clint dan Clive keluar dari dalam tenda dengan beberapa luka ditubuh mereka.
Setelah kalah dalam pertarungan, mereka menetap di dalam hutan untuk memulihkan diri.
Clint menghela nafas berat, “Tak kusangka aku bisa kalah dari bocah belati hitam itu!” Clint begitu kesal ketika mengingat kekalahannya.
“Aku juga tidak terima berandalan itu sampai membuatku babak belur!” Seru Clive sambil memegang kepalanya yang terluka. “Lalu, kemana tujuan kita selanjutnya bos?” Clive melanjutkan.
“Tentu saja balas dendam dengan bocah bocah itu!” Clint mengepal kedua tangan dengan kuat. “Jika sampai bertemu lagi aku akan benar benar menghabisi mereka!” Clint melanjutkan dengan murka.
Tiba tiba salah satu anak anggota Clint Buster menghampiri Clint dan Clive dengan wajah panik.
“Bo-bos!” Seru orang itu sambil mengatur nafasnya.
“Tenanglah!” Seru Clint. “Kenapa kau begitu panik?!”
“Ga-gawat! Aku mendengar kalau pasukan Lancer berhasil menangkap Fidel!”
Sebelumnya Clint telah menyuruh beberapa anggotanya untuk berjaga diluar untuk memantau musuh yang mendekat.
“Apa?! Anak itu ….”
Clint sampai sekarang menunggu kedatangan Fidel karena sebelumnya anggota Clint Buster tidak sempat menyelamatkannya
“Dan yang menangkapnya adalah Lancer yang di pimpin oleh Kapten Gracia!” Salah satu anak buah Clint melanjutkan dengan panik.
“Wanita itu lagi?! Kenapa dia bisa sampai disini?!” Clint panik karena mengenal dengan seseorang yang bernama Gracia itu.
Clint memang sebelumnya telah menjadi incaran saat berbuat kekacauan disalah satu kota kerajaan. Tapi, ia tidak menyangka kalau kapten yang bernama Gracia itu mengejarnya sampai di wilayah Free Zone.
“Ki-kita harus melarikan diri bos! Kita tidak bisa bertarung dalam kondisi seperti ini!” Seru Clive karena sadar dengan kondisi Clint Buster sekarang.
“Kau benar! Aku juga tidak mau berurusan dengan wanita gila itu!”
“Lalu bagaimana dengan senior Fidel bos?!” Seru salah satu anggota Clint.
“Kita tidak bisa bertindak gegabah dasar bodoh!” Clint memukul kepala anak buahnya.
“Sakit bos ….”
“Kita tidak akan bisa menyelamatkan si bodoh itu sekarang! Jika anak itu belum dipenjara kita mungkin bisa menyelamatkannya, tapi ….”
Clint sedikit ragu kalau Fidel sampai dibawa ke penjara Markas Lancer, pasti akan sangat sulit menyelamatkannya. Apalagi disana pasti banyak Lancer yang sangat kuat.
Sebenarnya Clint tidak pernah peduli dengan anak buahnya apalagi ia tidak segan untuk membunuh mereka. Tapi, Fidel adalah salah satu anak buah kepercayaannya dan cukup berguna.
Tapi tetap saja Clint tidak ingin sampai berurusan dengan Lancer apalagi sosok Kapten yang bernama Gracia itu. Dia seakan mengerti betul bagaimana kuatnya wanita itu.
“Ka-kau benar bos!” Clive merasa takut jika harus melawan Lancer yang bernama Gracia itu.
“Oi, anak anak bodoh! Cepat bereskan tempat ini dan kita pergi dari sini!” Teriak Clint menyuruh anak buahnya.
“Ba-baik bos!” Seru semua anak buahnya.
Dengan tergesa gesa, mereka semua merapikan dan membersihkan bekas bekas jejak.
Total anggota Clint Buster yang tersisa pada saat itu berjumlah 15 orang ditambah Clint dan Clive. Ini termasuk sedikit jika di bandingkan pada saat masih menguasai desa Corael karena banyak diantara mereka yang tewas.
Tidak memakan waktu lama, seluruh anak buah yang tersisa selesai membereskan semuanya dan bersiap menunggu arahan Clint.
“Bos, kemana tujuan kita selanjutnya?” Tanya salah satu anak buahnya.
“Tentu saja menjarah kota seperti yang kita lakukan selama ini!” Clint tersenyum jahat dengan tujuan kedepannya.
“Ya! Hidup bos Clint!” Teriak seluruh anggota Clint Buster dengan semangat.
***
Di alun alun desa, gerombolan Lancer yang di pimpin oleh Vitto masih bersiap untuk menembak.
“Jadi kau mau melawan ya? Clint si manusia proyektil!” Seru Vitto pada Azka.
Vitto masih yakin kalau Azka adalah Clint yang selama ini dicari. Dia semakin yakin saat para penduduk terdiam saat ditanya siapa identias Azka.
“Dia masih saja memanggilku Clint.” Ucap Azka sambil bersiap mengeluarkan belatinya.
Tiba tiba Vitto tersenyum kecil, “Tembak dia pasukan tercintaku!”
Vitto memberi perintah dan dengan cepat seluruh pasukan Lancer langsung menembak ke arah Azka.
Penduduk Corael sangat panik ketika hujan peluru menuju kearah Azka. Tapi, dengan mudah Azka menangkis seluruh tembakan dengan belatinya.
Seketika penduduk terdiam ketika melihat Azka menangkis semua tembakan dengan mudah.
“Sialan!” Seru Vitto kesal karena Azka berhasil selamat.
“Wah, keren!” Seru Levin dengan antusias.
“Ini bukan saatnya untuk kagum.” Gumam Tricia saat melihat Levin dengan tatapan masam.
Fidel yang melihat Azka berhasil menangkis semua tembakan hanya terdiam dengan wajah ketakutan. Ia tidak menyangka kalau Azka sekuat itu. Dia sampai ragu apakah Azka bisa tertangkap oleh mereka.
Azka terdiam sejenak dengan meletakkan kedua belatinya disarung belati, “Apa yang kau pikirkan?! Tembakan kalian bisa mengenai mereka!”
Tembakan dari pasukan Lancer itu memang bisa berbahaya jika sampai salah menembak mengenai warga.
“Kau tidak perlu khawatir Buster busuk! Pasukanku sudah terlatih dalam menembak. Selain itu, lumayan juga kau bisa menangkis semua tembakan mereka.” Ucap Vitto.
“Apa maumu sebenarnya?! Sudah kubilang aku bukan lah Clint yang kalian cari!”
“Jangan berbohong! Tembak dia!” Seru Vitto sambil menyuruh pasukannya kembali menembak.
“Sampai kapan kalian terus menembakiku?!” Azka mulai geram karena mereka terus menghujaninya dengan peluru.
“Tentu saja sampai menangkapmu!”
Vitto terus menyuruh anak buahnya untuk tak berhenti menembak. Dia semakin kesal karena tidak ada satupun peluru yang mengenai Azka.
Penduduk desa Corael yang melihat kejadian itu hanya bisa mundur dengan panik. Mereka takut kalau tembakan itu bisa mengenai mereka.
Azka semakin geram karena Vitto benar benar tidak percaya dengan kata katanya. Sepertinya hanya ‘cara’ itu agar bisa membuatnya berhenti.
“Sialan! Black Slash!” Tebasan hitam melesat dan mengenai seluruh anak buah Vitto.
Vitto panik ketika melihat keadaan anak buahnya yang sudah terkapar.
“Anak buahku! Sialan kau Clint!” Vitto tertunduk geram.
Tricia hanya bisa terdiam sekaligus panik. Ia tak menyangka Azka benar benar menyerang mereka.
“Azka, kau seharusnya tidak perlu menyerang mereka kan?” Tanya Tricia.
“Percuma saja, si bodoh itu tidak bisa dijelaskan dengan kata kata.”
“Hahahahaha, kau memang orang yang jahat ya!” Seru Levin tampak santai melihat seluruh Lancer yang terkapar.
“Oi, oi apa kau sudah gila?!” Fidel panik saat Azka membuat gerombolan Lancer terkapar.
Fidel terkejut karena Azka dengan sengaja menyerang mereka. Ia bahkan tak bisa membayangkan apa jadinya jika harus berurusan dengan Lancer yang jauh lebih kuat.
“Aku sampai melupakanmu. Berani sekali kau berbohong tentangku kemereka!” Azka menatap Fidel dengan tatapan menyeramkan.
Fidel ketakutan dengan tatapan Azka, “A-aku hanya panik karena ditangkap oleh mereka. Dan aku tidak tau kemana perginya bos dan teman teman. Jadi aku tak punya pilihan lain!”
Fidel membuat alasan dengan panik. Ia tidak mau menjelaskan apa rencananya karena takut akan membuat Azka semakin marah.
“Jangan berbohong padaku keparat! Aku tau apa yang kau rencanakan!” Azka semakin mendesak Fidel dengan keras.
“Baiklah, baiklah aku sengaja melakukan ini karena aku berniat melibatkan kalian!” Fidel gemetaran saat menjelaskan. “Ja-jadi aku mohon ampuni aku dan selamatkan aku!”
Saking ketakutannya, Fidel sampai memohon ampun dan berharap jika Azka mau menyelamatkannya.
“Tunggu Azka, sebelum melepaskannya biar aku menghajar orang ini!” Levin kembali emosi terhadap Fidel.
“Jangan memperparah suasananya!” Teriak Tricia sambil menahan Levin yang ingin pergi memukul Fidel.
Azka hanya terdiam lalu kembali menatap Vitto yang sejak tadi terlihat geram. Azka menduga kalau Vitto tidak terlalu berbahaya mengingat jabatannya adalah wakil Lancer.
“Sialan kau Clint!” Vitto mengambil sebuah senapan dari anak buahnya yang terkapar. Dia lalu mengarahkan senapannya kearah Azka.
“Sampai kapan dia memanggilku Clint?!”
Azka sedikit geram bukan karena Vitto sedang mengarahkan senapan kerahanya tapi, karena kebodohannya yang sejak tadi masih mengira dirinya adalah Clint.
“Kau akan mati ditanganku dasar Buster sialan!”
Sfx: Dor!
Vitto yang sama sekali tidak ahli menggunakan senapan tidak sengaja menembakkan peluru terhadap warga yang sudah menjauh dari Azka dan Vitto.
Azka yang melihat itu lalu bergerak cepat menuju tembakan yang diarahkan Vitto.
“Pelurunya?!” Seru Tricia kaget.
Dengan sigap, Azka berhasil menghentikan tembakan dari Vitto.
Vitto tampak panik karena tak bermaksud mengarahkan senapannya ke penduduk.
Azka lalu menatap Vitto dengan geram, “Apa yang kau lakukan?! Mereka hanyalah warga sipil!”
Vitto mulai ketakutan ketika merasakan tatapan Azka yang mengintimidasi. Tidak lama, dia mengeluarkan senyuman kecil dengan bercucuran keringat.
“Heheheh, itu salah mereka karena berdiri disitu!” Seru Vitto dengan tatapan seakan tak bersalah.
Vitto sengaja berbicara seperti itu karena tak ingin diremehkan oleh semuanya. Apalagi dia memiliki jabatan sebagai wakil Lancer yang harusnya dihormati.
Semua orang di alun alun desa semakin geram dengan ucapan Vitto. Mereka benar benar tak menyangka seorang Wakil Lancer bisa beralasan seperti itu.
“Jadi kau menyalahkan mereka ha?!” Azka mulai berjalan pelan dengan perasaan geram kearah Vitto.
“Cukup sampai disana!” Teriak seorang gadis.
Tiba tiba muncul seorang gadis berusia 24 tahun berambut pendek seleher berwarna merah muda. Gadis itu berdiri di samping Vitto seakan muncul tiba tiba seperti menggunakan sihir.
Azka dan yang lainnya sangat terkejut dengan kehadiran wanita berseragam Lancer dengan sebuah katana dipinggangnya.
Azka terdiam sejenak, karena ia sedikit mengenal siapa wanita itu.
Vitto ikut terkejut dengan kedatangan Lancer wanita yang tidak asing untuknya.
“Ka-kapten Gracia!” Vitto panik saat menoleh kearah Gracia.
Wanita bernama Gracia jtu lalu menatap Azka dengan tatapan dingin.
“Ternyata aku tidak salah lihat.” Ucap Gracia. “Sudah lama kita tidak bertemu … Azka Endorphane.”
Azka terdiam sambil menatap Gracia dengan tatapan datar. Dia juga berjaga jaga dengan mengenggam kedua belatinya dengan erat.
To be Continued…
Yang udah mampir dan baca cerita ini jangan lupa juga dukung author dengan beri like dan votenya.
Kalo ada kritik dan saran tentang penulisan atau lainnya bisa di kolom komentar ya, author juga masih belajar kok.
Terima kasih