Black Buster

Black Buster
Chapter 63 "Souls That Living in Our Link"



“Jadi itu … yang ingin dia katakan?” Menggumam sendiri, Azka berjalan menghampiri tempat Levin dan Kazel.


Suasana malam di Kota Hayate mendadak di telah kesunyian.


Setelah pertarungan yang terus berlangsung dengan banyaknya suara benturan, atmosfer Kota Hayate menjadi sedikit berbeda.


Kota Hayate sudah seperti kota mati.


Sambil berdiri menurunkan wajahnya, tangan kanan Levin masih mengepal dengan kuat. Beberapa tetesan darah terjatuh dari sela-sela jarinya. Darah itu berasal dari pukulannya ke wajah Kazel yang sekarang terbaring tak berdaya.


Tanah tempat Kazel menjadi retak, rantai Kazel yang sebelumnya ingin menusuk Levin berhenti seperti mematung.


Ketika Levin tenggelam dalam lamunan, Azka sudah berdiri di samping sambil menepuk pundaknya.


“Ada apa?”


Pertanyaan itu membuyarkan lamunannya, Levin menoleh ke Azka. “O-oh, tidak papa. Aku hanya sedikit kelaparan.”


Respon Azka diam, ucapan Levin terdengar seperti mengelak dengan perasaannya saat ini.


“Aku tidak tahu kalau kau bisa mengatakan sesuatu seperti tadi.”


“Y-yah, aku hanya ingin mengatakan itu padanya.”


Ketika mereka berdua sedang berbicara, suara batuk tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka.


“… ugh.” Dengan mata melemah, Kazel membuka pandangannya dan melihat Azka dan Levin yang berdiri menutupi pandangannya.


Seakan tak peduli dengan luka di tubuhnya, Kazel mengeluarkan senyuman kecil. Senyuman lembut yang belum pernah Levin lihat sejak awal bertarung dengannya.


“Kenapa … kenapa kau tidak membunuhku?”


Pertanyaan Kazel membuat Levin diam, begitu juga Azka. Mereka seakan hilang kata-kata dengan keadaan Kazel saat ini.


“… tidak ada gunanya membunuhmu kan?” Levin bertanya balik di iringi senyuman lebar.


Sempat terbatuk mengeluarkan darah, Kazel kembali tersenyum kecil. “… entahlah, aku hanyalah pria bodoh.”


Dengan lemah, Kazel melihat rantai-rantai besinya mulai bergerak. Sama seperti sebelumnya, rantai itu bergerak sendiri. Gerakan rantai itu pelan, tapi terlihat jelas rantai itu membidik ke arahnya.


“Tak kusangka, aku akan berakhir seperti ini di depan musuhku sendiri ….” Kazel melirih pelan memandangi bintang di langit malam.


“… dunia ini memang tidak berjalan dengan semestinya. Kehidupan tidak selamanya berakhir indah.” Azka menambahkan.


“Heheheh, kau benar. Dan aku sendiri sudah terjebak bersama rantai masa lalu … benar-benar menyedihkan.”


Sambil menatapnya datar, Azka tahu kalau rantai-rantai di belakangnya sedang membidik ke arah Kazel. Dia memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi setelah ini.


Meringis sambil kesakitan, Kazel kembali menatap Azka dan Levin dengan tatapan lemah.


“… terima kasih bocah … kau sudah menyadarkanku di saat terakhir ...." Tepat setelah mengatakan itu, darah menyembur keluar dari dadanya.


Itu terjadi tepat setelah rantai besi yang berjumlah belasan itu menembus dada Kazel.


Azka dan Levin hanya berdiri diam menyaksikan kematiannya yang begitu emosional. Tidak ada ekspresi apapun dari wajah mereka. Hanya penampakan darah yang terus mengalir dari pria bernama, Kazel Raychain.


Suasana Kota Hayate terasa begitu pilu. Udara malam nan dingin juga menambah kesan memilukan.


Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat Mirio sedang berjalan pergi dari tempat itu. Wajahnya tidak menggambarkan ekspresi apapun, tapi tatapan matanya seakan menunjukkan emosi yang mendalam.


***


Beberapa menit sudah berlalu, dan menyisakan pemandangan Kazel yang telah tertusuk belasan rantai di bawah sinar rembulan.


Sementara itu, Azka dan Levin berdiri tidak terlalu jauh dari mayat Kazel. Terlihat dari wajah Levin berusaha menahan kesedihannya, sedangkan Azka tidak mengeluarkan ekspresi apapun.


“Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam sebuah pertarungan.” Suara Azka datar, mata tajamnya masih memandang ke tempat Kazel.


Seakan mengabaikan emosinya, Levin menaikkan pandagan. “… aku lapar ….” Kemudian, dia roboh ke belakang.


Kedua lutut Levin sudah tidak sanggup menopang tubuhnya. Dia memandangi langit-langit dengan pikiran kosong, dan menghela nafas panjang.


“… apa … itu kekuatan Link?”


Dengan tertusuknya Kazel, Levin menyadari kalau rantai itu bergerak dengan sendrinya. Hal itu membuat Levin sedikit bertanya-tanya.


“Seseorang yang sangat kukenal pernah bilang padaku,” jawab Azka. “Dia mengatakan, Link itu melambangkan jiwa dari para penggunanya. Seseorang bisa mendapatkan kekuatan Link ketika dia baru lahir atau pengguna sebelumnya telah mati.”


“… ya, aku tahu itu. Tapi … kenapa rantai itu bisa bergerak seperti hidup?”


“Aku juga tidak tahu pasti. Tapi, mungkin saja rantai itu masih mencintai jiwa pengguna sebelum orang itu. Melihat dia yang haus akan darah, bisa kubilang kalau pengguna Link rantai sebelumnya memiliki sifat seperti itu. Orang yang kukenal juga mengatakan, hanya dua kemungkinan yang terjadi dengan pengguna Link. Entah orang itu bisa menguasai kekuatan Linknya, atau Link itu sendiri yang menguasai penggunanya.”


“Jadi begitu ya ….” Mendengar penjelasan itu, Levin akhirnya paham dengan inti cerita itu. Meski dia tidak sepintar Azka atau Tricia, tapi dia bisa memahami penjelasan itu.


Yang menjadi pertanyaannya sekarang, siapa orang yang di maksud Azka?


Selesai menjelaskan itu, Azka melihat ke bintang di langit-langit kota Hayate.


Orang yang sebenarnya dia maksud, tidak lain dan tidak bukan adalah Mia Latrice. Saat kecil dulu, Azka masih tidak memahami maksud penjelasan Mia tentang itu. Ketika masih hidup, Mia memang sering menjelaskan dasar kekuatan Link, meski dia sendiri tidak memiliki kekuatan Link.


Tapi, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Azka sadar kalau semua ucapan Mia memang benar.


Ternyata sampai saat ini, Mia masih terus membantunya dengan sebuah jawaban.


“Ah, perutku … mungkin aku akan mati kelaparan ….” Levin mengatakannya dengan ekpresi aneh sekaligus berlebihan.


“Harusnya kau lebih mengkhawatirkan lukamu!”


Tak mendengar bentakan itu, Levin menaikkan setengah badannya dan melihat sekeliling kota. Kemudian, matanya bersinar melihat salah satu kedai yang setengah hancur.


“Makanan!” Tanpa pikir panjang, Levin berlari menuju kedai dengan tatapan berbinar.


Melihat adegan itu, Azka mengeluarkan ekspresi kecut. “… setidaknya dia baik baik saja, meski otaknya masih bermasalah.”


***


Di dalam kedai tersebut, Levin memakan banyak sekali daging secara rakus. Sedangkan Azka yang duduk di sampingnya, memakan semangkuk ramen.


Mereka berdua menikmati makan malam seakan tidak terjadi apa-apa di kota Hayate, terutama di kedai yang atapnya sudah tidak terlihat lagi.


“Permisi! aku tambah lagi dong!”


“Oi, tidak ada siapa-siapa di sini! Lagipula, kau sudah menghabiskan semua makanannya!”


“Ah … aku masih lapar ….”


“Memangnya perutmu sebesar apa?!”


Sambil mengelus perut buncitnya, Levin membuang nafas panjang seakan mengeluh. Di samping itu, Sambil menyeduh ramennya, Azka memulai topik pembicaraan.


“Levin, kau tahu di mana markas mereka kan?”


“Hmm.”


“Kudengar mereka berniat menculik Filia dengan paksa.”


“Apa anak-anak dari panti asuhan berada di sana?”


“… hm ….”


“Kampret! Aku berbicara denganmu!”


Dengan ekspresi kesal, Azka melihat Levin yang sejak tadi hanya berbicara ‘hm’ sambil tertunduk murung.


“… habisnya, aku masih lapar ….” Levin menggembungkan pipinya sambil memutar jarinya di meja.


“Kau masih mempermasalahkan itu?! Apa kau ini bocah?!”


Dia tak menjawab, tapi tatapan Levin mengarah ke mangkuk ramen miliknya. Tentu Azka mulai tidak nyaman dengan itu.


“Berhenti menatap makananku seperti itu.”


“… aku lapar.” Setelah mendesah, tatapan Levin berbinar seakan memikirkan sesuatu. “Ah! mungkin masih ada restoran di sekitar sini!”


Belum sempat melangkah, pundak Levin tertahan oleh tangan Azka.


“Apa kau tidak bisa serius?!” tanya Azka kesal. “… baiklah kau bisa mengambil makananku, tapi setelah ini kita harus pergi.”


“Hahaha, terima kasih Azka! Kau memang seorang dewa makanan!” Suara tawa yang menganggu, Levin menepuk pundak Azka berkali-kali, dan mengambil mangkuk ramen tersebut.


Apa itu dewa makanan? Lagi-lagi Levin mengeluarkan istilah yang konyol.


“Terserah kau saja.” Azka menggerutu. “Lalu, apa kau melihat anak-anak panti asuhan di markas mereka?”


“… hm, aku belum sempat melihat apapun. Soalnya, aku dan Tricia sudah di kejar oleh mereka.” Sambil menyeduh ramen, Levin teringat sesuatu dan melanjutkan kata-katanya. “Oh ya, ngomong-ngomong di mana Tricia?”


“Seharusnya dia sudah sampai di sini. Dia terluka cukup parah, jadi nenek tua itu merawatnya sebentar.”


“Benarkah? ternyata nenek itu hebat juga.” Setelah menghabiskan ramennya, Levin kembali bertanya. “Terus, kita harus kemana?”


Ketika mendengar pertanyaan itu, tatapan Azka menjadi serius. “Apa kau masih bisa bertarung?”


“Ha? tentu saja bisa! justru setelah makan, aku kembali bersemangat!”


“Kalau begitu bukankah sudah jelas?” Sambil setengah senyum, tatapan Azka seperti memberitahu sesuatu.


Duduk di sampingnya, Levin juga tersenyum seakan mengerti dengan maksud pria berambut hijau gelap itu.


***


Sementara itu, di Markas Crimson Buster …


“Aku tidak akan membiarkanmu menangkap Filia!”


Bocah yang berteriak dengan suara geram, Alan, berusaha melepaskan diri dari ikatan talinya. Sedangkan bocah perempuan di sampingnya, Cornelia, hanya bisa memejamkan matanya dengan rasa ketakutan.


“Oh, kau keras kepala juga. Padahal kau sendiri sudah tertangkap ….” Pria 32 tahun berambut hitam, Parviz, membalasnya dengan ekspresi tenang.


“Biar kutanya sekali lagi, di mana monster kecil itu bersembunyi?” tanya Parviz menyeringai.


“Aku tidak akan mengatakannya padamu!” Alan tetap pada keputusannya.


Alisnya sedikit menaik, menandakan ekspresi kesal. Parviz mengambil botol anggur di samping dan menghabiskannya dalam sekali tegukan. Chyntia berdiri di sampingnya dengan kepala menunduk.


Suara beling terdengar, Parviz sengaja menjatuhkan botolnya.


“Sebenarnya, aku tidak peduli kau mau menjawabnya atau tidak. Cepat atau lambat, teman kecil kalian pasti akan kudapatkan.”


“Kau … kau benar-benar licik!”


“Hahahahaha! Kau pikir aku siapa? ayahmu? jangan bercanda! Buster bukanlah orang suci!”


Ruangan itu di penuhi suara tawa Parviz yang menakutkan. Bahkan salah satu anak buahnya merasakan hawa membunuh yang begitu menusuk.


Suara itu seketika menghilang, Mirio yang sebelumnya pergi, datang memasuki ruangan Parviz. Ekspresinya masih datar setelah melihat apa yang terjadi pada Kazel di kota Hayate.


Chyntia yang melihat itu berlari menghampirinya. Memegang kerah baju Mirio, wajah Chyntia menunjukkan kegelisahan.


“Mirio, apa yang terjadi dengan Kazel? Apa dia baik-baik saja?!”


Memalingkan wajahnya, Kazel dengan tenang menurunkan tangan mulus itu dari kerahnya.


“Dia sudah mati ….”


Seperti tertusuk, Chyntia terdiam seakan menolak jawaban itu. Pandangannya mulai kabur, air mata telah menggenang di kedua matanya.


“Tidak … mungkin ….” Mengumam dengan tatapan kosong, lututnya seakan lemas. “Kau … pasti berbohong ….”


Mirio memberanikan diri menatap Chyntia yang di telan kegelisahan. “Aku tidak berbohong. Dia sudah mati dengan rantainya sendiri,” tegasnya.


“Kenapa … kenapa … kenapa kau tidak menyelamatkannya Mirio?! Kita bertiga adalah teman kan?!” Chyntia berteriak sambil meneteskan air mata.


Perasaan Mirio seketika campur aduk. Sekali lagi, dia memalingkan wajahnya. Tapi dari matanya menunjukkan emosi yang mendalam.


“Hentikan itu Chyntia!”


Teriakan Parviz memecah suasana pilu tersebut. Satu anggota Crimson Buster di tempat itu juga terkejut, termasuk Alan dan Cornelia.


Melihat Chyntia yang berusaha mengendalikan diri, Parviz melanjutkan kata-katanya.


“Begitu ya … sangat di sayangkan dia mati dengan cara seperti itu, padahal dia cukup berguna.”


“Apa yang kau bicarakan Parviz-san?!” teriak Chyntia. “Kenapa kau terlihat tak peduli dengan kematian Kazel?”


“Sejak awal aku sudah tahu kalau ini akan terjadi. Lagipula itu salahnya kenapa dia tidak bisa menguasai kekuatan Linknya sendiri.”


“Ta-tapi, setidaknya dia … dia sudah bersama kita cukup lama ….”


Mendengar itu, Parviz hanya diam memasang tatapan tajam. Memang Parviz merekrut Kazel setelah dia terkenal sebagai pembunuh bayaran. Meski merekrutnya sebagai pasukan utama, sejak awal Parviz hanya menginginkan kemampuannya.


Ya, dari awal Parviz tidak memiliki empati apapun, baik Kazel, maupun Chyntia dan Mirio. Itulah sifat pemimpin dari Crimson Buster, Parviz Benedict.


Bermaksud menenangkannya, Mirio mendekat mengelus pundak Chyntia.


“Tenangkan dirimu, Chyntia. Kita tidak bisa melakukan apa-apa … ya, kita tidak bisa … termasuk diriku.” Mirio memberi penekanan yang mendalam di akhir kalimatnya.


“Ngomong-ngomong,” potong Parviz. “Selama ini kau berada di sana ya? Aku sempat mengira kalau kau pergi memburu para penganggu itu. Kau membuatku kecewa, Mirio.”


Mirio yang biasanya tenang, sedikit menunjukkan ekspresi gemetar. Aura menakutkan dari Parviz sangat terasa di ruangan itu. Bagi Mirio, ini pertama kalinya dia melihat tatapan Parviz.


Tatapan yang begitu tajam, ekspresi penuh kekecawaan, dan aura membunuh yang pekat. Itu sudah lebih dari cukup membuat Mirio keringat dingin.


Tidak jauh dari tempat Chyntia dan Mirio berdiri, Alan dan Cornelia merasakan hawa yang sama, hawa membunuh yang menusuk. Bahkan ekspresi dua bocah itu mulai menunjukkan ketakutan.


Sekali lagi, ruangan itu di selimuti suasana mencekam.


To be Continued…