Black Buster

Black Buster
Chapter 73 "Repentance"



Bulan purnama malam itu mulai tertutup awan di langit kota Hawlic.


Pertarungan antara Levin dan Mirio baru saja berakhir, dan menyisakan mereka berdua yang lemas terkapar.


Alan dan Cornelia berjalan mendekati Levin dengan perasaan khawatir. Terlihat Levin masih tersadar meski dengan tatapan lemah.


“Kakak …,” gumam Alan.


“… aku akan membawa kalian berdua pulang,” ucap Levin dengan senyuman sekarat.


Spontan saja, Alan dan Cornelia merasa bersyukur melihat Levin baik-baik saja. Mereka sebenarnya sudah menduga kalau kedatangan Levin untuk menyelamatkan mereka berdua.


Namun Cornelia kembali mengeluarkan ekspresi khawatir.


“Apa … Filia masih baik-baik saja?”


Mendengar itu, Alan kembali terdiam memikirkan keadaan Filia. Mereka tahu kalau pemimpin Crimson Buster sedang mengejarnya ke desa Kitara.


Dengan suara lemah, Levin berkata, “… aku yakin anak itu akan baik-baik saja bersama mereka.”


Alan dan Cornelia saling menatap kebingungan dengan kata ‘mereka’ yang di maksud Levin. Mereka berdua lalu teringat dengan Azka yang sebelumnya datang bersama Levin ke tempat ini, dan mungkin ada orang lain lagi yang bersamanya.


Sementara itu…


Dengan tubuh yang penuh luka, Mirio terkapar tak jauh dari tempat mereka bertiga. Ternyata sejak tadi Mirio masih tersadar meski dengan mata setengah terbuka, menatap ke langit-langit malam.


“Kau … sangat mempercayai mereka ya,” sahut Mirio tiba-tiba.


Sontak Alan dan Cornelia terkejut mendengar Mirio berbicara. Mereka kembali ketakutan namun Mirio memejamkan matanya, dan berkata, “Aku sudah kalah …. jadi aku tidak perlu menahan kalian berdua lagi.”


Levin yang mendengar itu hanya tersenyum kecil. “Aku sempat mendengarmu saat meminta maaf kepada pengguna rantai itu.”


“Andai saja aku mengikuti kata hatiku, mungkin dia tidak akan mati dengan cara menyedihkan seperti itu.”


Tatapan penyesalan terlihat jelas di kedua mata Mirio. Levin yang mendengar itu akhirnya mengerti apa yang di pikirkan Mirio saat ini.


Levin tentu masih mengingat jelas bagaimana Kazel di tusuk oleh rantainya sendiri. Terutama dari tatapan matanya saat itu.


“Mungkin kau benar … aku memang mirip dengan pengguna rantai itu.” Levin seakan mengatakan itu dengan tatapan kosong.


Mirio yang mendengar itu hanya bisa terdiam sambil tersenyum kecil dengan maksud perkataan Levin. Lalu Mirio kembali pingsan setelah menahan rasa sakit di tubuhnya.


***


Sementara itu di tengah hutan menuju desa Kitara, Tricia berdiri dengan beberapa luka kecil di tubuhnya.


Tricia melihat ke dalam hutan tempat Chyntia terlempar dari tembakan panahnya. Dengan langkah tertatih-tatih, Tricia berjalan menuju tempat Chyntia.


Terlihat dari kejauhan, Chyntia masih setengah sadar menatap ke langit dengan perut bersimbah darah. Rambutnya juga sangat berantakan setelah menahan tembakan panah dari Tricia. Sepasang mata Chyntia juga tampak sembab seperti habis menangis.


Tiba-tiba Chyntia merasakan kehadiran seseorang, dan tentu orang itu adalah Tricia.


“Kenapa kau kemari? Apa kau ingin menghabisiku sekarang?” tanya Chyntia saat melirik ke arahnya.


Tricia mengabaikan pertanyaan itu dan menghampiri Chyntia. “Aku masih tidak mengerti … tentang temanmu yang terbunuh ….”


Chyntia hanya terdiam saat mendengar itu. Tatapan matanya tidak semarah seperti sebelumnya.


“Namamu Tricia, kan? Aku ingin bertanya padamu. Kenapa kau sangat mempercayai teman-temanmu?”


“Bukankah seorang teman itu harus mempercayai satu sama lain?”


Mendengar hal itu, Chyntia terdiam sejenak. Tapi kali ini tatapannya seakan terpikirkan oleh sesuatu.


“Aku masih tidak mengerti dengan semua itu. Apakah aku benar-benar mempercayai mereka?” Chyntia bergumam pada dirinya sendiri dengan tatapan kosong.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Tricia seakan memberi simpati.


“Tidak mungkin aku bisa baik-baik saja. Aku sudah kehilangan salah satu partnerku.”


“Aku sempat melihat tubuhnya di atas reruntuhan. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia bisa tertusuk oleh rantainya sendiri.”


“Kazel memang sudah seperti itu sejak dia bergabung ke Crimson Buster. Setiap kali Kazel melihat darah, dia sangat terobsesi dengan membunuh bahkan sampai kehilangan diri. Mungkin itu semua terjadi karena masa lalu yang di alaminya.”


Tricia yang mendengar itu hampir memahami apa yang menyebabkan pengguna rantai itu mati.


“Tapi aku yakin orang itu sangat mempercayaimu.”


Tiba-tiba saja, Chyntia menangis mendengar kata-kata itu. Chyntia menyadari kalau apa yang membuat Kazel terus menderita karena dirinya sendiri tak bisa melakukan apa-apa.


“Kazel … maafkan aku ….”


Dengan rasa simpati, Tricia mendekat ke Chyntia untuk menenangkannya.


“Aku … aku sadar, ternyata ini semua salahku. Andai saja aku berani melawan perintah orang itu, mungkin Kazel tidak akan mati seperti itu.”


“Kau tak perlu menyalahkan dirimu.”


“Aku benar-benar teman yang buruk ….”


Chyntia terus menangisi kematian Kazel seperti seorang anak kecil. Sejak mengetahui kematian Kazel, Chyntia memang belum meluapkan semua kesedihannya karena terfokus dengan amarah balas dendam.


Sementara itu Tricia hanya terdiam menatap wanita yang sudah di lawannya menangis tak berdaya. Tricia sangat mengerti bagaimana perasaan Chyntia saat ini.


***


Beberapa menit berlalu, dan Chyntia terlihat sudah merelakan kematian Kazel setelah Tricia mencoba menenangkannya.


“Tidak, aku hanya sedikit memahami apa yang kau rasakan.”


“Aku … hanya terlalu takut. Jika saja aku bisa mengabaikan perintah Parviz, mungkin aku tidak akan kehilangan Kazel saat ini.”


Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas di pikiran Tricia. “Kenapa kau bisa bergabung bersama orang itu?”


“10 tahun yang lalu, aku adalah satu-satunya korban selamat dari peperangan desaku. Sejak saat itu aku hidup sebagai anak yang tak punya tujuan hidup, dan berpikir tidak akan ada orang yang mau peduli denganku.” Chyntia menceritakan masa lalunya dengan ekspresi mendalam.


“Tapi, saat itu Parviz datang menyelamatkanku dari keterpurukan. Dia dulunya orang yang baik, dan sangat peduli pada gadis terlantar sepertiku. Sejak saat itu aku sangat mengaguminya, dan memutuskan untuk mengikuti kemanapun Parviz pergi,” lanjutnya.


“Lalu kenapa dia sangat berniat untuk menjual anak-anak panti asuhan?”


“Entahlah. Aku sudah lama menyadari niat jahatnya yang sering menghancurkan desa demi menculik anak-anak yatim untuk di jual kepada penjual budak. Tapi aku tidak ingin melarangnya, karena dialah orang yang menyelamatkanku. Sejak saat itu aku selalu membantu Parviz, dan membunuh banyak orang-orang tak bersalah.”


Tricia hanya diam saat merasakan penyesalan yang besar dari tatapan Chyntia.


“Jadi kalian bertiga mengikuti orang itu karena dialah yang menyelamatkan kalian?”


“Kami merekrut Mirio karena saat itu dia adalah petarung terkuat di salah satu desa, dan akhirnya bergabung bersama kami. Kazel bergabung dengan kami dua tahun kemudian, karena dia seorang pembunuh bayaran yang cukup terkenal saat itu.


Kami bertiga memang tidak memiliki hubungan pertemanan seperti yang kau tunjukkan. Tapi, aku sudah menganggap Kazel dan Mirio sebagai sebuah keluarga.”


Setelah mendengarkan cerita itu, Tricia tidak bisa bekata apa-apa. Tricia sendiri sudah pernah merasakan masa kecil Chyntia yang sama sepertinya dulu.


Dengan tatapan lemah, Chyntia melirik ke Tricia dan berkata, “Percayalah padaku, Parviz adalah orang yang sangat berbahaya.”


Tricia terdiam, kedua matanya seakan menolak mentah-mentah pernyataan itu.


“Aku percaya, Azka dan Levin bisa mengalahkannya.”


Seketika Chyntia mengernyit, melihat Tricia mengatakan itu dengan senyuman percaya diri.


Tapi tiba-tiba saja, mereka berdua mendengar seseorang yang berlari dari dalam hutan dan—


Wush!


Tricia sangat terkejut melihat Azka berlari menuju ke ujung hutan tanpa memperdulikannya sedikitpun. Tatapan Azka begitu tajam, dan terus berlari hingga tak terlihat lagi oleh Tricia dan Chyntia.


“Syukurlah Azka baik-baik saja.” Tricia tersenyum senang mengetahui Azka masih baik-baik saja.


“Dia masih hidup ….” Chyntia mengernyit mengetahui keadaan Azka yang sebelumnya bertarung melawan Parviz. Tentu hal itu cukup mengagetkannya, karena selama ini Chyntia tahu tidak akan ada orang yang bisa bertahan dari serangan Parviz.


Melihat Azka yang sudah menjauh hingga tak terlihat lagi, Tricia teringat dengan Filia yang telah berlari duluan menuju panti asuhan. Tapi saat Tricia ingin berlari, dia terjatuh akibat cedera di kakinya.


Selagi terjatuh, Tricia merintih kesakitan melihat keadaan kaki-kaki mulusnya itu.


“Kakimu masih terluka.” Chyntia menatap kaki Tricia yang terluka dengan rasa khawatir.


“Aku harus memeriksa keadaan di sana ….”


“Tidak bisa, kau harus berisitirahat sebentar ….” Sambil menahan rasa sakitnya, Chyntia mencoba bangun untuk memeriksa keadaan Tricia.


“Aku akan mencoba mengobati lukamu.”


Chyntia lalu menggerakan rambut hitamnya dan melilit kaki Tricia yang terluka. Lalu rambut itu terpotong dengan sendirinya, dan menjadikan itu sebagai perban.


“Terima kasih ….”


“Aku masih tidak menyangka akan melakukan ini kepada musuhku.”


“Sebenarnya aku sudah tahu kau orang yang baik.”


“Kau memang gadis yang sangat polos.”


Mereka berdua lalu tersenyum menatap satu sama lain layaknya seorang teman.


***


Kegelapan di desa Kitara membuat suasana di sana semakin tidak mengenakkan. Kesunyian juga semakin terasa di setiap sudut desa.


Namun kesunyian itu segera memudar saat terdengar suara langkah kaki. Suara itu sedang menuju ke satu bangunan tua yang tidak lain adalah, panti asuhan Alice.


Seorang pria bertubuh kekar, sambil membawa pedang panjang di punggungya itu lalu membuka pintu tersebut. Pria itu tentunya adalah Parviz Benedict.


Terlihat dari pintu itu, Alice sedang terduduk diam di atas kasur. Dia lalu membuka matanya saat Parviz membuka pintu itu.


“Aku sudah menunggumu, Parviz.”


Mendengar hal itu, Parviz menaikkan sudut bibirnya dengan tatapan mencurigakan.


“Sudah lama kita tidak bertemu, Mama.”


To be Continued...


Note Author:


Sementara ini Black Buster masih slow update ya, maaf kalo ada yang kecewa.


Tapi sambil menunggu, kalian bisa baca karya baruku ya, judulnya "Bloody Dawn" dan "Life is Not as Beautiful as Imagined" klik aja di profil nanti ada.


Kedua novel itu updatenya tiap hari kok, tapi gue usahain Black Buster bakal update normal seperti biasa.


Terima kasih ya yang udah setia nungguin Black Buster. Gua bakal update normal lagi secepatnya.