
Mustahil. Hanya dua orang, mereka mampu mengalahkan mereka yang berjumlah 50 orang?! Siapa mereka sebenarnya?!
Mirio mengatakan itu dalam hati dengan ekspresi tercengang. DI hadapannya sekarang, Azka dan Levin berdiri dengan tubuh terkena cipratan darah setelah menghabisi para Buster Crimson Buster yang berjaga di kota Hayate.
Alan dan Cornelia memasang eskpresi yang sama. Mereka hanya bisa diam menatap dua orang asing berdiri di hadapan mereka.
“Sepertinya, kalian bukanlah Buster sembarangan,” ucap Mirio datar.
Mengingat wajah Mirio, Levin terkaget sambil menunjuknya. “Ka-kau si pria gorilla!”
“Siapa yang kau panggil gorilla?!”
“Kau mengenalnya?” tanya Azka.
“Ya, dia salah satu orang yang mengejarku dan Tricia.”
“Begitu ya … jadi kau yang bernama Parviz?” tanya Azka sambil menatap Mirio.
“Sayang sekali, dia sudah pergi memburu kalian. Tapi tak kusangka, kalian sendiri yang datang kemari.”
“Pergi?” Azka mengernyit.
“Seharusnya kau tahu dia pergi kemana ….”
Mendengar itu, Azka terdiam sejenak. “Apa mungkin ….”
Di samping itu, Levin baru menyadari Alan dan Cornelia yang sejak tadi terbaring di hadapannya
“Kalian berdua … anak-anak dari panti asuhan kan?”
Sejak tadi, Alan dan Cornelia hanya diam dengan perasaan tanda tanya melihat dua Buster asing di hadapannya. Mereka berdua sedikit ketakutan karena dua orang itu sudah mengalahkan banyak Buster di sekitar kota dan tubuh mereka juga terciprat oleh darah.
“Kakak … siapa?” tanya Alan.
“Oh, benar juga, namaku Levin dan orang ini Azka. Tenang saja, kami datang kesini menyelamatkan kalian ….”
“Eh?” Alan dan Cornelia merespon secara bersamaan.
“Kalian teman-temannya Filia kan?”
“Kakak mengenalnya?” Seketika Alan menatap mereka dengan perasaan penuh harap.
“Tentu saja. Tunggu, aku akan melepaskan tali ini ….” Dengan wajah polos, Levin mendekatkan tangannya untuk membuka tali yang mengikat mereka.
“Levin!” Azka berteriak memperingatkannya, tapi saat itu juga, Levin terlempar jauh dari sebuah pukulan yang sangat keras.
Spontan, Alan dan Cornelia ketakutan melihat itu. Sedangkan Azka hanya diam dengan mata melebar.
“Takkan kubiarkan kalian menyentuh mereka. Tentu saja sebelum kalian mengalahkanku.” Orang yang mengatakan itu adalah Mirio. Dia mengepalkan kedua tangannya setelah memukul Levin dengan kuat.
Berdiri sambil memegang kedua belatinya dengan erat, Azka mengeluarkan tatapan tajam. Dia sangat cepat, benaknya.
Azka dan Mirio sekarang menatap satu sama lain. Belum sempat mengedipkan mata, sebuah tendangan menghantam perut Azka hingga menerbangkannya ke udara.
“Sebaiknya kau fokus dengan lawanmu ….”
Tepat Mirio menggumamkan itu, ternyata Levin sudah berada di sampingnya dan mendaratkan sebuah pukulan. Namun, dia mampu menahan hanya menggunakan lengannya.
“Pukulanmu tadi sangat menyakitkan sialan.” Suara Levin menajam.
“Tentu saja, di bandingkan dengan pukulanmu yang lemah itu.”
Kemudian, Mirio menendangnya tapi Levin ternyata berhasil menghindar dengan tendangan balasan.
Seakan tak berpengaruh, Mirio hanya menahan tendangan itu dan hanya membuatnya mundur beberapa senti.
Sementara itu, Azka yang masih terpental di udara, mengeluarkan beberapa tebasan. “Levin!” teriaknya.
“Aku mengerti!” Dengan cepat, Levin langsung membawa Alan dan Cornelia menghindar. Itu bersamaan dengan bunyi ledakan beberapa tebasan yang mengenai Mirio.
Levin berhasil memindahkan Alan dan Cornelia dari tebasan Azka. Jika dia sedikit terlambat, mungkin mereka berdua akan ikut terluka. Meski begitu, Levin yakin kalau serangan seperti tadi masih belum cukup mengalahkan Mirio.
Dari gumpalan asap, ternyata Mirio hanya menahan serangan itu dengan kedua menutup kedua lengannya.
“Menarik juga, kau pengguna pisau belati rupanya ….” Ekspresi Mirio begitu tenang, meski kedua lengannya sedikit tersayat. itu tidak terlalu menimbulkan rasa sakit.
Dari atas, Azka mendarat untuk menusukkan belatinya, tentu Mirio dengan mudah menghindar dan langsung menendangnya jauh menabrak tembok markas yang terbuat dari beton itu. Suara hancur dari tembok itu bersamaan dengan terlemparnya Azka.
“Sebenarnya aku cukup kagum kalian mengalahkan semua anggota kami hanya dengan dua orang. Mungkin, aku saja yang berlebihan memuji kalian.”
“Berisik!” Seketika tatapan tajam Levin tepat di depan mata Mirio sebelum melepaskan sebuah pukulan.
Kepalan tangan kanannya berhasil di tahan, di susul tangan kirinya. Semua serangan itu hanya Mirio tahan dengan kedua tangannya.
Belum selesai sampai di situ, Levin menendang wajahnya dengan kaki kirinya. Tendangan itu cukup keras dan membuat Mirio sedikit terluka di bagian pipi.
“Dasar keras kepala!” Mirio berteriak sambil melemparnya dengan keras.
Beberapa tebasan hitam melesat begitu kencang. Menyadari itu, Mirio melompat ke udara dan berniat mendaratkan kedua kaki besarnya ke tempat Azka terbaring.
Menghindar dari benturan itu, Azka munggulingkan tubuhnya dan melompat ke belakang. Suara benturan yang sangat keras terjadi saat Mirio mendaratkan tubuhnya.
Kekuatan apa yang di miliki orang itu? Dia hampir mirip dengan Levin, benak Azka sambil mengatur nafasnya melihat retakan tanah yang di buat Mirio.
Sementara itu, Alan dan Cornelia yang masih dalam keadaan terikat memasang ekspresi tercengang.
“Kakak-kakak itu bahkan tidak sanggup mengimbanginya …,” gumam Alan mengernyit. “Dia sudah seperti Monster ….”
Sedangkan Cornelia, dia terfokus ke tempat terlemparnya Levin. Tampak Levin kembali berdiri setelah tertumpuk puing-puing batu.
“Sial, lukaku kembali terbuka ….” Levin menggumam sambil membersihkan puing-puing bekas terlemparnya.
“Hm, kau masih bisa berdiri ternyata setelah mendapatkan luka seperti itu.” kata Mirio menatap ke Levin dengan tatapan datar.
“Sebelum itu,” potong Azka di belakangnya. “Apa benar orang yang bernama Parviz itu pergi mencari Filia?”
“Seharusnya kau bisa menebak dia pergi kemana,” jawab Mirio tanpa menoleh kearahnya.
Seketika Azka mengernyit, “Jadi orang itu menuju ke Kitara ya ….”
“Sudah kuduga kau pasti mengetahuinya.”
Azka terdiam, entah kenapa dia mempunyai firasat buruk akan hal ini.
“Kakak, aku mohon hentikan orang itu … dia pasti mengincar Filia dan juga Mama!” Alan berteriak ke Azka dengan tatapan memohon.
Melihat tatapan itu, pikiran Azka mulai di selimuti keraguan.
Seharusnya Filia dan Tricia sudah tiba di kota ini, jangan-jangan?!
Ketika Azka memikirkan itu, Levin berteriak padanya. “Pergilah Azka! Biar aku saja yang menahan orang ini dan membawa anak-anak itu pulang.”
“Levin ….”
Mirio menaikkan sudut bibirnya, “… jadi kau berniat menyusulnya? Baiklah.”
“Apa maksudmu?” Azka merasa kebingungan dengan jawaban Mirio.
Azka berusaha untuk mencerna maksud perkataan Mirio. Dia tidak tahu apa yang dia rencanakan, mungkin ini juga sebuah jebakan.
“Kau tidak perlu khawatir, aku tidak merencanakan apapun,” lanjut Mirio yang menyadari kebingunan Azka.
Mendengar gaya bicara Mirio, Azka mulai yakin kalau orang itu memang tidak merencanakan apa-apa. Tapi apa yang sebenarnya di pikirkan orang itu?
“Hehehe, kebetulan sekali aku juga ingin bertarung melawanmu satu lawan satu, pria gorilla!” seru Levin dengan senyuman kecil. “Azka, tenang saja. Aku janji akan menyelamatkan anak-anak ini, jadi pergilah,” lanjutnya kemudian.
“Ternyata kau bocah yang omong besar juga,” balas Mirio.
Melihat percakapan mereka, keraguan Azka meluntur. Sepertinya dia tahu kenapa orang itu mau membiarkannya pergi. Mengetahui itu, Azka langsung berbalik dan bersiap untuk pergi.
Tapi sebelum pergi, dia menoleh ke Levin dan mengucapkan beberapa kata. “Jangan sampai kalah, Levin.” Setelah itu, Azka pergi tanpa menunggu jawaban darinya.
Tentu Levin yang mendengar itu, memasang senyuman seperti biasanya. “Ya!” teriaknya.
***
Sekarang, di markas Crimson Buster hanya menyisakan Levin dan Mirio, beserta Alan dan Cornelia yang masih dalam keadaan terikat.
Meskipun begitu, dua bocah itu sedang duduk menyandar ke tembok dari jarak yang aman dari tempat Levin dan Mirio berdiri.
Tampak Levin mengikatkan kedua gelang talinya dengan erat di pergelangan tangannya.
“Kau punya kebiasaan yang cukup unik,” kata Mirio.
“Ya, aku memiliki persiapan khusus sebelum bertarung.” Levin selesai mengikat kedua gelang talinya dengan kuat. “Dan sekarang, adalah waktunya!”
Sambil berteriak, Levin melesat dengan cepat dan mendaratkan tinjunya ke bagian wajah. Mirio berhasil menahan dengan tangannya, tapi Levin belum menyerah dan mendaratkan sebuah tendangan.
Mirio sedikit kesakitan, dia lalu membalas tendangan itu dengan tangan kirinya tepat di perut Levin. Efek pukulan itu membuat Levin mengeluarkan banyak air liur sebelum Mirio kembali menendangnya hingga terpental ke belakang.
Levin terduduk lemas di antara tumpukan tembok yang sudah hancur. Dia menyeka mulutnya, dan sedikit tersenyum kecil.
“Aku tidak mengerti … kenapa pukulanmu sangat menyakitkan ….”
“Berbeda denganmu, aku tidak memiliki kekuatan Link. Aku hanya mengandalkan fisikku saja.”
Seketika Levin terkejut mendengar kenyataan itu. Mana mungkin?! Dia bisa memukulku sekuat itu hanya dengan kekuatan fisiknya?! benaknya.
“Aku tidak terlalu terkejut dengan ekspresimu. Memang mengandalkan kekuatan fisik belumlah cukup. Oleh karena itu aku menguasai ilmu Nagaretsu, salah satu ilmu untuk pertarungan kosong.”
“Nagaretsu? Aku belum pernah mendengar ilmu seperti itu.”
“Wajar kau tidak mengetahuinya, itu adalah ilmu yang di warisi secara turun temurun dari desa tempat tinggalku. Nagaretsu adalah salah satu ilmu untuk mencapa batas kemampuan fisik seseorang, dengan kata lain menjadi manusia dengan fisik di atas rata-rata.” Sambil menjelaskannya, Mirio membunyikan jari-jari tangannya.
Dia kembali melanjutkan, “Nagaretsu dapat di latih dengan banyak cara, salah satunya adalah meditasi di air tejun selama satu bulan tanpa makan dan minum. Jika semua latihannya terpenuhi, pembuluh darah, sel, dan darah yang ada di dalam tubuh, bisa meregenerasi dan memproduksi sel yang meningkatkan daya fisik seseorang. Itulah dasar dari ilmu Nagaretsu.”
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar itu, Levin mengeluarkan ekspresi sedikit kagum. “Mungkin aku akan mati kelaparan sebelum menguasai teknik itu ….”
Lalu dia berdiri dengan lemah, dan melanjutkan kata-katanya. “Tapi, kalau aku bisa mengalahkanmu di sini, secara tidak langsung aku sudah melampaui teknikmu.”
“Kau memang bocah yang banyak omong.” Mirio memasang raut wajah datar.
“Kalau begitu aku akan membuktikannya padamu sialan!” Levin bergerak dengan cepat dan mendaratkan beberapa pukulan.
Terjadi jual beli serangan antara Mirio dan Levin. Dengan ekpresi tenangnya, Mirio mampu menangkis semua serangan Levin dengan mudah. Bahkan pukulan Mirio beberapa kali berhasil mengenainya, tapi Levin sama sekali tidak mengendurkan serangannya.
“Apa ini yang kau sebut pukulan? Benar-benar memalukan,” jawab Mirio santai sambil menangkis semua serangan Levin.
“… sial ….” Terus menghujani Mirio dengan pukulan, Levin mulai kesulitan mengatur nafasnya. Dia juga mulai kesal karena tidak ada satupun serangan yang berhasil melukainya.
Tiba-tiba kaki besar Mirio menghantam sisi kiri Levin. Benturan yang cukup keras itu, berhasil di tahan oleh kedua lengan Levin dengan susah payah. Mirio tidak memberi ampun, dia kembali menghantamkan sebuah pukulan ke arah wajahnya.
Kedua lengannya tidak bisa dia gunakan untuk menahan. Oleh karena itu, Levin membungkukkan wajahnya ke belakang agar tidak mengenai serangan itu.
Namun, Mirio mengantisipasinya dengan menendang kedua kaki Levin hingga terjatuh. Dengan cepat, Mirio langsung mendaratkan pukulannya tepat setelah Levin terjatuh.
Seketika, terdengar suara benturan yang sangat keras.
Tak di sangka, Mirio sedikit terkejut karena Levin berhasil menahan pukulannya dengan pukulan balasan.
Tampak sebagian wajah Levin mengeluarkan banyak darah. Tatapan matanya setengah terbuka, tapi dia hanya tersenyum sambil mengatur nafasnya.
“Aku tidak akan kalah …,” jawabnya sambil berusaha mendorong mundur pukulan Mirio.
Tiba-tiba, sebuah tendangan kaki kiri Levin mengenai sisi perut Mirio hingga terpental ke samping menghantam tembok. Benturan itu membuat suara retakan yang cukup keras dengan timbulnya gumpalan asap dari puing-puing beton.
Dengan tubuh penuh luka, Levin berdiri sempoyongan sambil mengatur nafasnya. “Sepertinya … aku berhasil menendangmu ….”
Suara-suara mulai terdengar dari beberapa puing reruntuhan. Sebuah tangan yang besar muncul dari reruntuhan sebelum Mirio bangkit dari tumpukan beton.
Tubuhnya mulai mengeluarkan banyak luka, tapi itu masih sedikit di banding dengan Levin yang wajahnya yang sudah mengeluarkan darah.
“… akhirnya ada sesuatu yang menyakitkan dari seranganmu.” Mirio tetap mengatakannya dengan wajah tenang.
“Brengsek, wajahmu sama sekali tidak menunjukkan wajah kesakitan,” umpat Levin.
“Kau baru melukaiku sekali, jangan senang dulu bocah.” Setelah mengatakan itu, tatapan Mirio mengarah ke Alan dan Corneia yang sejak tadi duduk menonton pertarungan mereka.
Kedua bocah itu mulai kebingungan saat Mirio tiba-tiba berjalan mendekati mereka. Melihat itu, Levin spontan berteriak. “Apa yang mau kau lakukan gorilla sialan?!”
Tak peduli dengan teriakan itu, Mirio tetap mendekati mereka. Bahkan Alan dan Cornelia sampai memejamkan mata saking ketakutannya.
Namun, ketakutan yang di rasakan mereka seakan menghilang, dan Levin terkejut dengan apa yang di lakukan Mirio. Ternyata, dia membuka ikatan mereka berdua yang membuat Alan dan Cornelia sekarang terdiam dengan mulut setengah terbuka.
“Huh?” Alan dan Cornelia merespon secara bersamaan.
“Kau … melepaskan mereka?” tanya Levin kebingungan melihat Mirio.
Setelah melepaskan Alan dan Cornelia dengan ekspresi datar, dia menoleh ke Levin. Mirio tidak melakukan apa-apa selain membiarkan kedua bocah itu terdiam dengan kebingungan.
“Jangan salah paham, aku melepaskan mereka bukan berarti membiarkan mereka pergi begitu saja,” jawab Mirio dengan suara tajam.
“Aku tidak mengerti apa yang kau rencanakan.” Levin mulai mengeluarkan ekpresi curiga.
“Hm, aku tidak merencanakan apapun. Anak-anak itu bisa pergi, setelah kau bisa mengalahkanku di sini. Jujur saja, kau lawan yang cukup menarik, bocah.”
Mendengar penawaran dari Mirio, Levin tersenyum kecil menghormati keputusan itu. “Kau pria gorilla yang baik ya ….”
“Benarkah? aku tidaklah sebaik itu. Lagipula aku hanya di perintah untuk tetap membiarkan mereka di sini.”
“Begitu ya …,” ucap Levin sambil mengepal kedua tangannya.
Melihat gelagat mereka berdua yang menunjukkan tanda-tanda untuk bertarung, Alan dan Cornelia terdiam dengan ekspresi tanda tanya. Di satu sisi mereka merasa lega karena tali yang sudah mengikat mereka selama tiga minggu lebih telah di lepas.
Bahkan pergelangan tangan Cornelia yang sejak tadi memerah, tidak lagi harus merasakan sakit. Sedangkan Alan mulai menunjukkan ekspresi kagum dengan dua orang pria yang saling berhadapan.
“Dengan ini, kita bisa bertarung secara serius bukan?” tanya Mirio sambil membunyikan jari-jarinya.
“Ya … dan aku pasti akan mengalahkanmu.” Levin tertawa kecil dengan wajah tampak bersemangat.
Seketika, suasana di markas Crimson Buster mulai memanas. Tatapan serius antara Levin dan Mirio, seakan mengeluarkan aura ketegangan di sekitarnya.
To be Continued…