Black Buster

Black Buster
Chapter 70 "Darkness Point"



Di tengah lautan kegelapan, tetesan air berjatuhan membentuk ritme indah yang entah datang dari mana. Apa ini sebuah mimpi atau gerbang menuju alam baka?


Ini … sama seperti waktu itu ….


Dari gelapnya alam bawah sadar, tiba-tiba kegelapan itu menghilang begitu saja. Sekarang, Azka merasa dirinya sedang sekarat di hamparan padang rumput yang begitu luas dan indah. Azka mengedipkan matanya beberapa kali sambil memandangi langit yang berwarna abu-abu.


Aku ingat, ini tempat di mana aku hampir mati setelah pengkhianatan itu ….


Entah kenapa Azka merasa nyaman dengan hembusan angin tersebut meski dia berada di alam bawah sadarnya. Suasana hamparan rumput itu terasa berbeda dari yang di alaminya saat di khianati oleh pasukan Lancer.


Apa … aku sudah mati?


Jika ada pertanyaan di benak Azka, tentu pertanyaan itu yang ingin dia tanyakan. Ketika Azka mengedipkan matanya sekali, hamparan padang rumput yang begitu cantik menghilang begitu saja.


Sekarang, Azka kembali mengapung di tengah lautan kegelapan, tetesan air yang entah datang dari mana juga kembali menetes di sekitar tubuhnya.


Ritme yang stabil dari tetesan air, seakan mulai menenggelamkan Azka ke dalam lautan tersebut.


Apa yang terjadi? Apa ini? Tubuhnya seakan mati rasa.


Azka semakin tenggelam ke dalam lautan kegelapan, merenung tentang apa yang sudah dia alami selama ini.


Kenapa aku harus mati di saat seperti ini? Kenapa di saat aku bisa menemukan kembali orang-orang yang mempercayaiku?


Aku masih mempunyai teman yang—tunggu, apa aku benar-benar memilikinya? Apa aku mempercayai mereka?


Mungkin mereka begitu dekat, tapi … benarkah seperti itu?


Selama ini, aku selalu hidup sendirian, aku selalu di khianati, tidak ada satupun orang yang mau menyelamatkanku.


Tricia sangat mempercayaiku, Levin juga sangat baik dan sudah menganggapku teman.


Apa aku benar-benar memiliki seseorang yang di sebut teman?


Tidak, aku belum mempercayai mereka … tapi … kenapa aku tidak bisa melakukan itu?


Apa aku terlalu lama berjalan di kegelapan? Atau hanya aku yang tak memiliki perasaan itu?


Aku tak mengerti, apa sebaiknya aku harus mati?


Tidak, aku tidak boleh mati sekarang.


Masih ada satu alasanku untuk terus hidup.


Mia-san ... aku harus menepati janjiku padanya.


Ya, aku harus terus hidup sampai saat itu tiba. Sampai aku bisa menemukan Final Valley ….


Hanya itu satu-satunya aku terus bertahan hidup.


Azka terus melontarkan pertanyaan yang dia jawab sendiri di alam bawah sadarnya, seperti orang yang menyedihkan.


Di dalam realita, di siksa oleh mimpi dan kenangan buruk, seseorang yang kehilangaan pandangan hidup, dan seorang figur yang terus di telan kebimbangan.


Azka Endorphane, kembali ke dirinya yang dulu—tidak, lebih tepatnya dia masih seperti yang dulu.


Seorang figur yang sulit mempercayai siapapun.


Terjebak oleh banyak pertanyaan dan tenggelam di dalam lautan kegelapan, tiba-tiba—


“Kau beruntung masih bisa bertahan.”


Sebuah suara seakan merasuki pikiran Azka yang di terombang-ambing oleh lautan kegelapan.


Suara wanita yang begitu asing, namun terdengar lembut. Suara itu mampu menarik kesadaran Azka dalam gelapnya kematian.


“… agh.”


Seolah menyambut kembalinya kesadaran Azka, sebuah rasa sakit berkumpul di perut Azka yang bersimbah darah.


Matanya masih setengah terbuka, tapi Azka tertuju dengan sosok wanita yang tidak jauh dari tempatnya sekarat.


Wanita itu memiliki rambut pendek sekitar sebahu, biru gelap dari warna rambutnya juga tampak elegan terkena sinar rembulan.


Wajah wanita itu tak terlihat jelas dari pandangan Azka. Dia hanya berdiri memperlihatkan belakang tubuh rampingnya yang tertutup jubah putih.


Azka sama sekali tidak mengenali wanita itu, bahkan dia belum pernah bertemu dengannya. Tapi …


“Aku tidak sengaja menemukanmu sekarat, kau cukup beruntung belum kehilangan banyak darah.” Setelah mengatakannya, wanita itu menoleh ke Azka.


Untuk sesaat, Azka terdiam melihat gadis itu. Berdiri di bawah sinar rembulan, gadis itu memiliki sepasang mata berwarna ungu terang yang begitu menawan sekaligus tajam.


“Siapa kau sebenarnya?” tanya Azka dengan tatapan intens.


“Sebaiknya kau tidak perlu tahu namaku.”


“Apa maksudmu?”


Sempat terdiam, gadis itu mulai mengalihkan pembicaraan.


“Ngomong-ngomong, Parviz telah pergi sejak tadi.”


Mendengar itu, Azka langsung teringat dengan pertarungan sebelumnya. Entah sudah berapa lama Azka tidak sadarkan diri, tapi selama itu juga Parviz pasti sedang menuju ke desa Kitara.


Azka mencoba untuk berdiri, tetapi tusukan pedang yang ada di perutnya masih terasa menyakitkan. Meskipun begitu, Azka memaksakan tubuhnya berdiri sambil memegangi luka di perut.


“Parviz adalah Buster yang sangat kuat. Aku tak mengerti kenapa kau sampai mempertaruhkan nyawa untuk bertarung dengannya? Kalian seorang Buster, sangat aneh rasanya jika harus kedua Buster seperti kalian untuk hal yang sepele.”


Untuk sesaat, Azka mengingat kembali apa yang dia renungkan saat di ambang kematiannya. Tapi—


“Aku juga tidak tahu ….”


“Konyol sekali. Tapi dari tatapanmu … aku cukup yakin kalau kita berdua mirip.”


Entah apa yang di maksud gadis itu, Azka sama sekali tak mengerti. Memang kalau berbicara tentang mirip, ekspresi datar dan tatapan dingin dari gadis itu sekilas sama persis seperti Azka.


Namun, Azka tidak yakin kalau itu yang di maksud.


“Namamu Azka bukan? Aku memang tidak tahu dengan pertempuran kalian, tapi dengan luka seperti itu aku tidak yakin kau bisa mengalahkannya,” lanjut gadis itu.


“Kau tahu namaku?”


“Aku tidak sengaja mendengarnya.”


“Itu berarti, kau melihat pertarungan kami?”


“Aku juga tidak sengaja melihatnya.”


Dengan kata-kata dingin yang terus di lontarkannya, gadis itu berbalik dan berjalan pergi.


“Tunggu.” Azka memanggil gadis itu yang kemudian berhenti. “Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa kau sebenarnya?”


Untuk sesaat, angin berhembus cukup kencang seakan menutupi kesunyian di antara mereka berdua.


Kemudian, adis itu menjawab tanpa menoleh ke arahnya.


“Kita akan bertemu lagi setelah ini.”


Tanpa menunggu respon dari Azka, gadis itu pergi mengarah ke jalan yang menuju kota Hawlic.


Azka menatap kepergian gadis itu dengan tatapan ekspresi datar. Entah apa yang di rencanakan gadis itu, Azka sama sekali tak mengerti.


Siapa sebenarnya gadis itu? tanya Azka dalam hati.


Di lihat darimana pun juga, gadis itu memang sangat mencurigakan. Tapi ada satu hal yang memungkinkan, gadis itu tidak mempunyai niat buruk.


Mungkin saja ….


Tanpa menunggu hilangnya jejak gadis itu, Azka berbalik memandangi hutan menuju desa Kitara. Sejenak, Azka kembali teringat dengan pikirannya saat tak sadarkan diri sekaligus menjadi pertanyaan dari gadis berambut pendek itu.


“Aku tak mengerti kenapa kau sampai mempertaruhkan nyawa untuk bertarung dengannya?”


Pertanyaan dari gadis itu sebelumnya memang membuat Azka cukup dilema sekaligus di selimuti keraguan.


“Apa … yang sebenarnya aku lakukan? Kenapa aku sampai mempertaruhkan nyawa demi seseorang? Aku tidak mengerti ….”


Tanpa di sadari, Azka kembali di serang beberapa pertanyaan. Namun, Azka teringat dengan ucapannya ke Filia.


“Benar juga … aku telah berjanji ke Filia. Ya … setidaknya aku harus menepati janjiku.”


Dengan penuh pertimbangan dan janji yang dia ucapkan, Azka bergegas pergi ke desa Kitara, di mana Parviz sudah pergi dulu.


To be Continued …