
“Kenapa mereka berdua lama sekali?!”
Sambil mengatakan itu, Parviz Benedict sedang duduk sambil menenggak sebotol anggur dengan nikmat.
Di depannya, ada Mirio sekaligus salah satu anggota terkuat di Crimson Buster. Wajah yang begitu tenang dan tubuh besar, sudah menjadi bukti kalau dia seorang petarung yang cukup di takuti.
“Entah kenapa aku tidak yakin dengan mereka berdua ….” Mirio mengatakan itu sambil menatap Parviz dengan datar.
“Seharusnya ini tugas yang sangat mudah, lagipula monster kecil itu masih tidak tahu kalau kita tidak akan menepati penawaran itu.”
“Mungkin kau benar, tapi seharusnya mereka sudah membawa gadis itu bersama uangnya. Mereka berdua juga sudah pergi sejak pagi tadi.”
“Santai saja, Mirio. Aku yakin kalau gadis itu tidak akan kemana-mana.” Parviz memasang senyuman yang mencurigakan.
“Bagaimana dengan kedua anak kecil itu?”
“Mereka ya? aku sampai lupa. Apa kedua anak itu masih hidup?”
“Sepertinya begitu, tapi keadaan mereka sudah sangat lemah.”
“Akan sangat merepotkan kalau mereka mati. Jika mereka di jual sebagai budak, harganya sudah lumayan.”
“Tenang saja, aku sudah menyuruh beberapa orang untuk memberi mereka makanan.”
Mendengar hal itu, Parviz tampak puas sambil menenggak minumannya kembali.
Di ruangan Mansion itu, tiba-tiba ada salah satu anak buahnya yang berlari ke arah Parviz dan Mirio. Wajahnya terlihat panik dengan nafas yang terengah-engah.
Melihat kedatangan orang itu, Parviz memasang wajah seakan tidak senang.
“Ada apa?” tanya Mirio.
“Ke-ketua! Mirio-san! aku dengar ada pertarungan yang terjadi di kota Hayate.”
“Lalu kenapa kau panik begitu?” tanya Mirio.
“A-aku melihat kalau orang yang bertarung itu adalah Tuan Kazel dan Nona Chyntia.”
“Apa?!” Parviz mengernyit dengan suara yang mulai geram.
“Apa yang terjadi?” Mirio bertanya untuk mendapatkan jawaban pasti.
“A-aku tidak tahu pasti, tapi mereka berdua sedang bertarung melawan satu pria dan satu wanita yang tak di kenal.”
“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Mirio.
Orang itu semakin gemetar sebelum menambahkan, “Tuan Kazel dan Nona Chyntia di kalahkan oleh mereka.”
Seketika suara beling dari botol anggur terdengar sangat keras. Parviz meremas botol itu seakan di ujung kemarahan. Bahkan tetesan anggur itu sampai menyelimuti remasan tangannya.
“Apa kau bilang?!”
Orang itu hanya diam sambil gemetar ketakutan ketika melihat kemarahan bosnya.
“Oi, apa kau yakin kalau mereka berdua sudah di kalahkan?” Mirio bertanya dengan wajah tak percaya.
“A-aku tidak tahu, tapi ketika aku pergi dari tempat itu, mereka berdua masih tak sadarkan diri.”
“Pantas saja mereka berdua tidak memberikan kabar apapun!” Amarah dari Parviz seperti tidak terbendung.
Mirio yang melihat itu berusaha untuk menenangkan suasana.
“Hei, apa kau tahu siapa kedua orang itu?”
Orang itu berusaha menjelaskan meski gemetar. “Aku tidak tahu pasti tapi, pria itu adalah orang yang sama saat membuat kekacauan di Kota Hayate kemarin.”
Seketika, Parviz dan Mirio mengernyit ketika menatap orang itu. Suasana di ruangan Crimson Buster seperti di telan kesunyian.
“Apa itu benar?” Parviz bertanya dengan suara yang dingin.
“Ke-kemungkinan besar seperti itu, dia adalah pria berambut pirang yang sama ketika kekacauan di kota Hayate kemarin.”
“Bukannya kekacauan kemarin itu dua orang pria?” tanya Mirio.
“Y-ya itulah yang di katakan beberapa Buster di sana.”
“Sekarang ada lagi seorang gadis yang ikut campur.” Parviz mengatakan itu dengan wajah kecewa.
“Ma-maaf ketua, hanya itu yang aku tahu.” Orang itu meminta maaf seperti takut kemarahan dari Parviz akan di lampiaskan padanya.
“Siapa sebenarnya mereka?!” Teriakan dari Parviz menggema ke seluruh ruangan hingga membuat orang itu bergidik gemetaran.
Mirio menoleh ke arahnya seperti hendak menenangkan suasana.
“Aku mohon tenanglah Parviz, kita masih belum tahu kenapa mereka sampai ikut campur.”
Mendengar itu, Parviz mengambil nafas lalu menenangkan diri.
“Apa yang sebenarnya mereka rencanakan? aku tidak melihat adanya motif apapun dalam hal ini.” Tatapan mata Parviz kembali tajam.
Mirio mengangkat tangannya di dagu seakan berpikir.
“Tapi, kalau mereka sudah sampai mengalahkan Kazel dan Chyntia, mereka bukanlah lawan yang sembarangan.”
Parviz hanya tersenyum dengan wajah mencurigakan sebelum berkata.
“Tapi mereka sepertinya cukup menarik ….”
Melihat itu, Mirio terdiam seakan bingung dengan perkataan Parviz.
***
Sementara itu, Levin dan Tricia masih bersembunyi hampir setengah jam di gang sempit dekat Markas Crimson Buster.
“Tricia … sampai kapan kita harus menunggu?”
Dari wajah Tricia terlihat jelas kalau dirinya sangat lelah. “Entahlah ….”
Mendengar hal itu, Levin mulai mengeluarkan suara seakan mengeluh.
“Aku sudah tidak tahan, aku akan masuk kesana sendirian!”
“Tunggu dulu!” Tricia menarik lengan Levin, tapi dia berusaha keras untuk tetap pergi.
“Aku ini kelaparan Tricia, kau tidak akan mengerti.”
“Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Apa kau tidak lihat ada banyak sekali Buster di sana? Aku juga yakin kalau pemimpin Crimson Buster juga ada di sana.”
“Tenang saja, aku bisa menghajar mereka.”
“Dasar keras kepala, kalau sejak awal ingin bertarung harusnya Azka sudah ikut dengan kita.”
Levin sempat terdiam mendengar perkataan Tricia yang masuk akal. Sambil menahan tangan Levin, Tricia kembali menjelaskan.
“Kita hanya perlu memastikan kalau—”
“Oi orang itu kan?!”
Perkataan Tricia sebelumnya terpotong karena teriakan seseorang. Mendengar itu, Levin baru sadar kalau ia sudah terlihat oleh beberapa orang dari Crimson Buster sambil menunjuk ke arahnya.
“Wah … ternyata aku sudah ketahuan, ehehe.”
“Bodoh, ayo kita lari!” Ketika Tricia menarik Levin untuk pergi, tapi Levin hanya diam sambil menatap gerombolan orang itu dengan datar. “Apa yang kau lakukan?”
“Mungkin aku bisa memaksa mereka kalau anak-anak itu memang ada di sana kan?” Levin memasang senyuman mencurigakan.
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
Beberapa Buster perlahan mulai berdatangan di depan Mansion dan menatap Levin dengan kemarahan.
“Kalau begitu ayo serang dia!”
Beberapa Buster itu berlari untuk menyerang Levin sambil membawa pedang dan senjata. Sedangkan Levin hanya diam sambil mengikat gelang talinya dengan kuat.
Dari dalam ruangan, Parviz dan Mirio memasang ekspresi kebingungan ketika mendengar keributan di luar.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Mirio.
Lalu, salah satu Buster mendatangi mereka dengan wajah panik.
“Ke-ketua, orang yang di mengalahkan Nona Chyntia dan Tuan Kazel berada di luar!”
“Apa?!” Parviz dan Mirio mengernyit secara serempak.
“Y-ya, beberapa dari kami sedang menyerangnya.”
Mendengar itu, Mirio memasang tatapan tajam dan berjalan menuju keluar seperti paham apa yang harus dia lakukan. Sedangkan Parviz hanya santai melihat Mirio dengan senyuman kecil.
“Jangan sampai membunuhnya.”
“Aku mengerti.”
***
Sementara itu, Levin menendang semua orang yang berusaha menyerangnya, bahkan beberapa Buster ragu-ragu untuk menyerang.
“Dia kuat ….”
“Apa yang kau bicarakan? tubuhnya masih terluka akibat pertarungan melawan tuan Kazel dan Nona Chyntia.”
“Ya! dia sudah mempermalukan nama Crimson Buster. Jadi jangan ragu-ragu, ayo serang dia!”
Beberapa Buster itu tiba-tiba di penuhi keberanian setelah melihat kondisi Levin yang masih terluka.
Levin yang melihat itu hanya tersenyum sambil bergerak dengan cepat dan memukul mereka secara cepat
Seketika mereka semua sudah terkapar dengan pukulan Levin tadi. Beberapa Buster yang baru berdatangan memasang wajah terkejut melihat anggota mereka sudah berjatuhan.
Sambil menepuk kedua kepalan tangannya, Levin menatap mereka semua dengan girang.
“Sebelum aku menghajar kalian semua, apa benar kalau anak-anak dari panti asuhan itu ada di sini?”
Mereka semua kebingungan sambil menatap satu sama lain.
“Apa yang dia bicarakan?”
“Apa maksudnya dua bocah itu?”
“Entahlah, mungkin dia hanya mengatakan hal yang bodoh.”
Tricia yang sedang bersembunyi mengernyit ketika mendengar percakapan mereka. Dia akhirnya mengerti dengan maksud Levin tentang memaksa mereka untuk mengatakan di mana Alan dan Cornelia di tahan.
Dengan percakapan itu, Tricia menyimpulkan kalau Alan dan Cornelia memang berada di markas Crimson Buster.
“Seharusnya ini sudah cukup, aku harus membawa Levin kembali ….” Tricia menggumamkan itu sambil melihat gerombolan Buster itu menyerang Levin.
Levin dengan mudahnya menangkis serangan mereka dan menendangnya sekaligus hingga membuat mereka terlempar. Meski begitu, jumlah anggota Crimson Buster yang sangat banyak terus berdatangan ke tempat Levin.
Melihat gerombolan Buster yang terus berdatangan, bibir Tricia bergetar.
“Apa kota ini benar benar sudah di kuasai oleh mereka?” Tricia bergumam sambil melihat Levin yang terus menghajar mereka satu persatu.
“Mereka ternyata banyak sekali ….” Levin melompat dengan mendaratkan beberapa pukulan ke mereka.
Terlihat dari jauh beberapa Buster sudah membidik Levin dengan pistol dan menembaknya. Levin sempat panik mendengar suara tembakan tapi berhasil di hindarinya dengan mudah. Meski begitu, Buster yang lain terus menyerangnya dengan senjata tajam.
“Gawat!” Levin masih bisa menghindar meski meninggalkan bekas sayatan di tubuhnya.
Karena Levin mulai lengah, beberapa Buster itu melompat dari belakang untuk menyerangnya. Ketika dia menyadari itu, tembakan beberapa panah dengan cepat menjatuhkan mereka.
Mengetahui itu, Levin menoleh ke Tricia dengan senyuman lebar.
“Aku lupa kalau kau masih ada di sini hahaha.”
“Kita harus pergi, lagipula kita sudah tahu di mana mereka menahannya.”
“Benarkah? aku rasa mereka belum mengatakan apapun.” Levin mengucapkan itu dengan wajah polos.
Tricia berusaha menahan kesabaran sambil menepuk jidatnya. “Mereka sudah mengatakannya tadi, ayo kita harus memberitahu tentang ini ke Azka dan Filia.”
Levin yang masih kebingungan akhirnya menurut dan bersiap untuk pergi dari kota Hawlic. Ketika baru melangkahkan kaki, tiba-tiba sebuah pukulan yang sangat kuat menghantam wajah Levin hingga mulutnya mengeluarkan darah. Levin terlempar sangat jauh sampai menabrak bangunan tua hingga hancur.
Karena serangan yang tiba-tiba, Tricia mengernyit melihat sosok yang menyerang Levin. Kedua mata mereka bertemu, dan di tempat itu ada pria yang bertubuh besar dengan tatapan tajam.
“….”
Tricia memalingkan tatapanya dan melihat ke arah Levin yang terkapar di tengah-tengah bangunan yang sudah hancur.
“Jangan harap kalian berdua bisa kabur dari sini.”
Suaranya terdengar tajam, bahkan tatapan matanya masih menatap Tricia dengan dingin. Orang itu adalah Mirio sekaligus tangan kanan dari Crimson Buster.
Sementara itu, Levin masih bisa bangun sambil menyeka darah yang ada di mulutnya. Sambil menahan sakit, Levin kebingungan melihat seseorang yang memukulnya dengan keras.
“… baru kali ini aku mendapatkan pukulan seperti ini ….”
Levin berusaha memfokuskan tatapannya dengan nafas terengah-engah. Dia terkejut ketika Mirio sedang berhadapan Tricia.
“Gawat … Tricia!”
Beberapa Buster yang ada di tempat itu kembali di selimuti keberanian karena kedatangan Mirio. Bahkan mereka sampai mengeluarkan senjata masing-masing untuk membantu Mirio.
Tricia masih mengernyit ketika Mirio menatapnya dengan tajam. Bahkan Mirio masih mengepalkan tangannya seakan berniat untuk menyerang Tricia.
Ketika Mirio hampir melepaskan pukulannya, Levin dengan cepat menahan pukulan itu dengan tendangannya. Tapi tendangannya sama sekali tidak menimbulkan luka apa-apa selain hanya menghentikan pukulannya.
Karena pukulannya di tahan olehnya, Mirio menoleh ke Levin dengan tajam. “Ternyata kau masih bisa bergerak ya ….”
“Aku tidak akan membiarkanmu melukai seorang perempuan.” Levin membalasnya dengan tajam. Setelah itu, Levin kembali menendang Mirio tapi di tahan dengan mudah oleh lengan Mirio. Bahkan ia kembali memukul Levin dengan keras hingga membuatnya terlempar.
Tricia mengernyit ketika melihat Levin terlempar dengan mudahnya oleh Mirio. “Bahkan pukulannya Levin tidak berpengaruh padanya ….”
Mirio kembali menoleh ke Tricia dengan tatapan tajam. Bahkan tatapanya membuat Tricia terdiam dengan gemetar ketakutan.
“Lari Tricia!” Levin tiba tiba berteriak dari kejauhan hingga menyadarkan Tricia dari ketakutannya.
Dengan gemetar, Tricia menoleh ke tempat Levin dan mulai bergumam. “Levin ….”
Tatapan Tricia melebar ketika Levin masih bisa bangkit dari reruntuhan bangunan. Meski tubuhnya sudah di penuhi banyak luka, Levin masih memasang senyuman seperti bersemangat.
Nafas yang masih terengah-engah, Levin berkata, “… pukulanmu benar-benar menyakitkan ya, pria besar ….” Sambil mengatakan itu, Levin tersenyum seperti menikmati.
“Ternyata benar, kau bukanlah lawan yang sembarangan.” Mirio menanggapinya dengan wajah serius.
Tiba-tiba ada sebuah rantai yang cukup besar menghantam di tengah tengah tempat itu hingga menimbulkan gumpalan asap. Melihat itu, Tricia tiba-tiba terkejut dan melihat ke asal serangan itu.
Sambil tertawa dengan suara menganggu, Kazel baru saja mendaratkan sebuah rantai yang cukup besar. Di samping itu, ada Chyntia dengan rambut yang sudah memanjang seperti siap untuk menyerang.
Mereka berdua tiba tiba muncul dan berdiri di atas bangunan dekat Levin terlempar.
“Ternyata kita bertemu lagi ya, bocah petarung!” Kazel tersenyum dengan tajam.
Sedangkan Chyntia memasang tatapan dingin ketika melihat Tricia dari atas. “Aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini.”
To be Continued ….