Black Buster

Black Buster
Chapter 51 "Combination Attack: Triumph Explosion"



Sementara itu, di tempat Azka dan Filia.


Setelah berjalan cukup lama di dalam hutan, Azka dan Filia memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon.


Sudah hampir sejam mereka berdua berjalan tapi tidak ada satupun tanda tanda kedatangan Wolfem di hutan dekat perbukitan desa Kitara.


“… sepertinya untuk mencari Wolfem benar benar sulit.” Sambil bergumam, Azka memandangi area sekitar.


Filia yang menunjukkan wajah lelah, hanya bisa terdiam di bawah pohon dekat Azka beristirahat.


“Anu … kak,” panggil Filia.


Karena di panggil, Azka menoleh ke arahnya.


“Ada apa?”


“Sementara kita di sini, apa Kak Levin dan Kak Tricia baik baik saja?”


Mendengar itu, Azka mulai memejamkan matanya.


“Ya, aku yakin mereka baik baik saja.” Azka lalu membuka matanya sambil tersenyum kecil. “Lagipula, aku percaya pada mereka.”


Filia yang sejak tadi terdiam, perlahan tersenyum.


“Aku masih tidak menyangka kalau aku bisa bertemu dengan Buster yang baik. Ma-maksudku, padahal aku sempat mencuri uang kalian tapi kalian semua malah membantuku ….”


Filia menurunkan wajahnya dengan suara yang perlahan mulai menghilang.


Sempat di landa kesunyian, Azka menghembuskan nafasnya.


“Aku bahkan tidak pernah merasa diriku adalah orang baik ….”


Filia menggeleng sambil tersenyum.


“Aku pikir, Kak Azka itu orang yang sangat baik.” Filia mulai melihat ke arah langit. “Bahkan ketika melihatmu, aku sangat ingin menjadi Buster seperti kalian. Pasti rasanya menyenangkan melihat luasnya dunia yang belum pernah kulihat. Pasti banyak tempat tempat indah yang belum pernah kulihat.”


Mendengar Filia yang begitu antusias, Azka hanya bisa terdiam melihatnya.


“Mungkin suatu hari nanti …,” gumam Azka.


“Ya!” Filia mengangguk dengan senyuman lebar.


Tapi Filia tiba tiba mulai menatap Azka dengan ekspresi tanda tanya.


“Kalau boleh tau, kenapa Kak Azka ingin menjadi Buster?”


Seperti tak merespon pertanyaan Filia, Azka melihat ke arah langit dan menghembuskan nafasnya.


“Tujuanku adalah Final Valley ….”


“Final Valley?”


“Ya, aku sudah berjanji pada seseorang untuk menemukan tempat itu ….”


Filia terdiam melihat Azka yang tiba tiba seperti teringat dengan masa lalunya. Meski dia tidak mengerti dengan maksud perkataan Azka, Filia hanya bisa tersenyum dengan tatapan kagum.


Percakapan mereka tiba tiba terhenti ketika Azka menyadari ada suara yang mencurigakan dari balik perbukitan. Ketika Azka memandangi perbukitan itu, ternyata suara misterius itu terdengar sangat keras.


“Itu mereka!”


Filia semakin kebingungan dengan maksud Azka. Filia lalu ikut memandangi perbukitan itu dan menyadari ada beberapa Monster Srigala berukuran cukup besar dengan bulu yang berwarna hijau gelap.


Meski jaraknya sangat jauh, Filia bisa melihat mereka dengan jelas berkat kemampuan Link tipe Vistianya.


“Itu Wolfem ….”


Seakan sudah menyadari sejak tadi, Azka lalu berdiri dan mengeluarkan kedua belatinya. Tiba tiba salah satu Wolfem yang menyadari keberadaan mereka tiba tiba melompat cukup jauh ke hadapan Azka dan Filia.


“Mereka menyadari kedatangan kita ya ….” Sambil menggumam, Azka menatap Wolfem itu dengan tatapan tajam.


Tidak lama setelah kedatangan seekor Wolfem, tiba tiba Wolfem lainnya ikut melompat ke hadapan Azka dan Filia.


Sekarang, Azka dan Filia sudah di kelilingi belasan Wolfem yang tampak ganas dengan liur yang menetes.


Karena kedatangan Wolfem yang begitu banyak, Filia mulai gemetar sambil memegang jubah panjang Azka.


“Jangan khawatir, Filia.”


“Ta-tapi mereka sebanyak ini ….”


“Kau bisa bertarung bukan? Anggap saja ini latihan untuk mengendalikan kekuatanmu.”


“Ta-tapi aku tidak yakin bisa mengalahkan semuanya.” Filia terdengar sedikit ragu.


Seakan tak mendengarnya, Azka bersiap untuk mengeluarkan tebasan dengan aura hitam yang mulai menyelimuti kedua belatinya.


“Tenang saja, aku juga akan membantumu.”


“Y-ya ….”


Meski ragu, Filia mengeluarkan cakar tajamnya dan mulai bersiap menyerang belasan Wolfem itu.


Setelah merasa yakin, Filia lalu melompat dan menyerang ke salah satu Wolfem itu.


“Snow Scratch!”


Monster Wolfem yang terkena serangan itu berhasil mendapatkan luka cakaran yang begitu dingin dari Filia.


“Jadi kekuatan macan tutul salju bisa menimbulkan efek dingin seperti salju ya.” Azka sedikit kebingungan melihat serangan Filia di tubuh Wolfem itu.


Snow Scratch adalah serangan cakar dari Filia dengan efek serangan yang di terima mendapat luka cakar dengan sensasi dingin seperti salju. Itu bisa terjadi karena Filia mempunyai kekuatan Link jenis Macan Tutul Salju.


Tapi serangan tadi belum cukup untuk mengalahkan Wolfem itu. Bahkan belasan Wolfem yang ada di situ mulai mengaum dan menatap ke arah Filia dengan kemarahan.


Menyadari hal itu, Azka mengeluarkan beberapa tebasan kepada beberapa Wolfem itu.


“Hati hati Filia!”


Setelah mencakar Monster Wolfem tadi, Filia dengan panik melompat mundur ke samping Azka.


“Te-terima kasih.” Filia kembali bersiap untuk menyerang dengan cakarnya.


Melihat Filia yang tampak serius, Azka sedikit tersenyum ke arah Filia.


“Jika bertarung dengan monster ini, kau mungkin bisa mengendalikan kekuatan Linkmu sepenuhnya.”


Setelah mengatakan itu, Azka kembali menatap belasan Wolfem itu dengan tatapan tajam. Sedangkan Filia mengangguk dengan dan bersiap untuk menyerang mereka.


***


Sementara itu, Alun alun kota Hayate.


Pertarungan antara Levin dan Tricia melawan Kazel dan Chyntia berlangsung cukup lama.


Mereka berempat terus menyerang satu sama lain, hingga membuat Levin dan Tricia cukup kelelahan setelah menerima beberapa serangan.


“… Tricia, sepertinya ini akan berlangsung lama.” Levin mengatakan itu dengan nafas terengah-engah.


Tricia yang mendengar itu sama sekali tak meresponnya, karena fokus untuk terus memanah ke arah Chyntia yang sejak tadi berhasil menghindar.


“Ayo, kita selesaikan pertarungan ini, hahahaha!”


Belasan rantai berduri yang di kendalikan Kazel mulai melayang dan secara cepat menyerang ke arah Levin dan Tricia.


Tapi, Levin berhasil mendorong Tricia untuk menghindar dari serangan tersebut. Chyntia yang menyadari mereka sedang lengah mulai mendekat.


Rambut milik Chyntia tiba tiba memanjang dengan cepat dan menyerang ke arah mereka berdua.


“Soft Bang Crusher!”


Hantaman dari rambut Chyntia menyebabkan retakan yang cukup dalam di tempat Levin dan Tricia yang berhasil menghindar dari serangan itu.


Levin yang melihat retakan di tanah itu terlihat panik.


“Hanya dengan rambut dia bisa membuat lubang sedalam itu?!”


Chyntia yang melihat mereka berdua berhasil menghindar hanya tersenyum dengan santai.


“Sampai kapan kalian akan terus menghindar?”


Dengan nafas yang masih terengah engah, Levin dan Tricia mulai sedikit tersudut dengan pertarungan mereka.


Lalu, Levin dan Tricia mulai bergumam.


“… Levin,” panggil Tricia.


“Ada apa?”


“Kita sebaiknya fokus terhadap salah satu dari mereka.”


“Apa maksudmu?”


“Maksudku, kita harus mengalahkan salah satu dari mereka terlebih dahulu.”


“Mungkin ada benarnya … wanita dengan rambut monster itu cukup menganggu.”


“Dia memang cukup menganggu, tapi aku pikir kalau orang pengguna rantai itu yang harus kita hentikan terlebih dahulu.”


Mendengar saran dari Tricia, Levin menatap ke arah Kazel dengan nafas terengah engah. Kazel yang sejak tadi menyerang secara membabi buta, tubuhnya memang sudah di penuhi luka akibat pertarungan sebelumnya.


Seakan terpikir oleh sesuatu, Levin menatap Tricia dengan senyuman mencurigakan.


“Aku memiliki ide bagus, Tricia.” Levin tertawa kecil hingga kedua mata menyipit.


“Huh?” Tricia terdiam dengan ekspresi tanda tanya.


Di hadapan mereka, Chyntia yang sejak tadi berdiri menoleh ke arah Kazel.


“Kazel! Berhentilah menyerang secara sembarangan dasar bodoh!” Chyntia menatapnya dengan kesal.


Tapi, Kazel sama sekali tak peduli sambil tertawa semakin kencang. Bahkan belasan rantainya itu kembali menyerang bangunan di sekitar.


“Huh? Jadi … kau sudah haus darah ya? Hmm, tenang saja setelah ini kalian bisa mencicipi darah dari orang orang itu, ehehehe.”


Kazel yang pikirannya sudah tidak terkendali mulai berhalusinasi dengan berbicara sendiri ke rantai rantainya.


Chyntia yang melihat itu hanya memasang raut wajah malas.


“Bodoh … sebaiknya aku sendiri yang akan melawan dua bocah itu.” Setelah mengatakan itu, Chyntia berbalik menatap Levin dan Tricia.


Tapi dia terkejut ketika hanya Tricia yang ada di tempat tadi.


Kemudian, Chyntia tersenyum seakan merendahkan. “Oh, jadi pria yang bersamamu itu tadi melarikan diri ya. Sepertinya kamu sudah salah memilih pacar hehehe.”


Mendengar perkataan itu, Tricia memiringkan kepalanya dengan perasaan tanda tanya.


“Apa maksudmu dengan pacar? Juga, kau harusnya jangan meremehkanku.” Tricia yang tersenyum itu mulai menyerang Chyntia dengan beberapa tembakan panah.


“Oh, jadi yang kau maksud jangan meremehkanmu itu hanya serangan panah yang tidak berguna ini?” Chyntia terlihat santai sambil menangkis serangan Tricia dengan rambutnya.


Tricia tiba tiba memasang senyuman yang mencurigakan.


“Yang aku maksud bukan kamu loh,” kata Tricia.


Chyntia terdiam melihat ekspresi Tricia yang begitu tenang. Tiba tiba tanpa di sadari, Levin sudah berlari menuju ke tempat Kazel.


“Anak itu?! Apa yang dia lakukan?” Chyntia terkejut melihat Levin yang tiba tiba ada di hadapan Kazel.


Kazel yang terus mengayunkan rantainya tertawa semakin keras ketika melihat Levin berlari kearahnya.


“Ya, ya, kemarilah bocah tengik! Hahaha!” Dengan belasan rantai yang begitu tajam, Kazel mulai menyerang Levin secara bertubi tubi.


Tapi, Levin yang terus berlari berhasil menghindari serangan itu secara satu persatu.


“Kali ini aku akan menghajarmu pengguna rantai bodoh!” Levin tersenyum seperti meledek kepada Kazel.


“Hahahaha! Aku sudah tidak sabar!” Kazel semakin menggila dengan rantai rantainya yang seperti tak terkendali.


Dengan kecepatan tinggi, Levin yang terus menghindari serangan Kazel, sudah berdiri di hadapannya.


Tanpa pikir panjang, Levin mendaratkan beberapa pukulan di wajah dan perut Kazel. Meski sedang di hajar oleh Levin, rantai rantai dari Kazel masih berusaha untuk menyerangnya.


Levin yang menghindar dari itu, kembali menendang dan menghajar Kazel berkali kali.


Chyntia yang melihat itu hanya terdiam dengan ekspresi terkejut.


“Jadi, mereka sengaja mengincar Kazel karena dia mulai kehilangan kendali …,” gumam Chyntia.


Ketika Chyntia fokus melihat itu, dia tersadar dengan Tricia yang di belakangnya siap untuk menembak.


“Sudah kubilang jangan meremehkanku, Shining Burst!”


“Celaka!” teriak Chyntia dengan panik.


Panah yang melesat dengan cepat berhasil mengenai Chyntia hingga membuat ledakan yang cukup besar.


Sementara itu, Levin sejak tadi mendaratkan beberapa pukulan ke Kazel.


“Inilah pukulan terakhirku!” Levin mengepalkan salah satu tangannya dengan kuat.


“Triumph ….” Levin memukul tepat di dagu Kazel hingga membuatnya terlempar ke atas.


Tapi, itu masih belum selesai karena Tricia terlihat sedang membidik ke arah Kazel.


“… Explosion!” Tricia melanjutkan nama serangan mereka, sambil melepaskan sebuah tembakan bercahaya hijau muda dengan cepat.


Akhirnya sebuah ledakan yang cukup besar tercipta ketika tembakan dari Tricia tepat mengenai Kazel. Bahkan serangan itu membuat orang orang di kota Hayate menjadi terdiam melihat asal suara itu.


Kazel yang terkena serangan terakhir dari Tricia juga terjatuh menghantam tanah dengan keadaan tak sadarkan diri.


Dengan nafas yang terengah engah, Levin berbalik menatap Tricia.


“Kerja bagus, Tricia!” Levin mengacungkan jempol sambil tertawa.


To be Continued…