
“Lalu, kemana perginya orang orang desa ini?” Tanya Tricia.
“Sebagian dari mereka membangun pengungsian ditempat lain. Tapi ada beberapa orang yang masih bersembunyi disekitar sini.”
Beberapa bangunan yang ada didesa Corael tidak semuanya hancur. Mungkin saja masih ada orang yang masih bersembunyi di balik bangunan itu.
“Kenapa kau tidak ikut bersembunyi? Disini berbahaya kan?”
“Tidak! Aku tidak akan pergi!”
Azka dan Tricia kebingungan.
“Aku harus melindungi kedai ini dari mereka!” Vina memasang wajah penuh keyakinan.
Tatapan dari gadis kecil itu membuat Azka terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang tidak ingin dibicarakan olehnya.
“Baiklah aku mengerti. Jadi, dia pergi menemui orang itu?” Tanya Azka.
Vina hanya tertunduk diam. Dia sebenarnya tau kalau Levin sedang pergi menemui Clint.
Dengan tatapan datar, Azka berdiri dari mejanya seakan ingin pergi.
“Azka?” Tanya Tricia kebingungan.
“Aku ingin melihat keadaan desa.”
“Kau yakin?!”
“Ya.” Azka melihat Tricia dengan tatapan serius.
Dari tatapan Azka, Tricia seakan tau kalau dia berniat untuk menyusul Levin. Tricia bisa paham karena sudah terbiasa dengan sikapnya.
Vina kebingungan melihat mereka berdua.
“Aku juga ingin pergi.”
“Kau tidak harusnya pergi kan?”
“Aku sedikit khawatir dengan orang itu.”
“Kau?”
Seakan pasrah, Azka hanya bisa menghembuskan nafas berat.
“Kalian mau menyusulnya?”
“Entahlah, mungkin aku hanya melihat lihat.”
Mereka berdua berjalan pergi menuju pintu keluar.
Gerombolan Buster yang sudah menunggu didepan kedai hanya bisa memasang tatapan jahat saat menemui Azka dan Tricia.
“Sudah kuduga kalau dia sedang berada disini!”
“Dimana berandalan itu bersembunyi?!”
Sambil mengeluarkan pedang, mereka berniat untuk mengancam Azka dan Tricia.
“Ternyata mereka masih mengejarnya.” Azka menatap mereka dengan datar.
Vina yang mendengar keributan berlari menuju keluar. Ia langsung ketakutan saat melihat gerombolan Buster sedang menghadang Azka dan Tricia.
“Kenapa kalian diam saja brengsek?! Dimana teman kalian bersembunyi.”
“Dia bukanlah temanku.”
“Tidak usah berbohong! Jelas jelas kami melihat kalau kalian ikut melarikan diri dengannya!”
Azka baru ingat kalau sebelumnya Levin telah menariknya dengan Tricia untuk melarikan diri.
“Sialan aku lupa akan hal itu.”
“Kalian tidak mau mengatakannya ya?!”
“Kalau begitu kami akan membuat kalian buka mulut!”
Mereka lalu menyerang dengan kemarahan. Tricia terlihat bersiap untuk menyerang dengan panahnya.
Tiba tiba Azka menahan panah Tricia.
“Serahkan saja padaku.”
Tricia hanya terdiam melihat Azka.
Dia lalu mengeluarkan salah satu daggernya untuk bertarung melawan mereka.
“Apa yang kau bisa lakukan seorang diri, ha?!”
“Kami adalah anggota dari Clint Buster!”
Aura hitam keluar dari genggaman daggernya.
“Terima kasih sudah mengingatkanku. Black Wave!” Azka mengeluarkan tatapan mengintimidasi.
Tebasan hitam berbentuk seperti ombak langsung mengarah kemereka dengan cepat.
Seluruh langkah kaki mereka seketika terhenti. Wajah gerombolan Buster itu begitu panik ketika melihat tebasan besar sedang mengarah ke mereka.
“A-apa itu?!”
“La-larii!!”
Tebasan itu langsung menyapu rata mereka semua hingga terjatuh tak sadarkan diri.
Vina yang melihat dari kejauhan memasang wajah ketakutan ketika melihat kekuatan dari Azka.
“Mo-monster …”
“Ayo pergi, Tricia.” Azka melanjutkan langkahnya.
“Ya. Apa … mereka sudah mati?”
“Mungkin saja. Mereka terlalu gegabah karena menyerang secara bersamaan.”
“Tu-tunggu!” Teriak Vina dari kedai.
Azka dan Tricia lalu menoleh kearah Vina.
“Si-siapa kau sebenarnya?!”
“Aku adalah … Buster,” ucap Azka sambil memalingkan pandangannya.
Azka dan Tricia lalu pergi menuju sebuah tenda dari kejauhan. Mereka cukup yakin kalau tenda itu adalah Markas sementara Clint Buster.
“Buster … katamu?” Vina hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan kosong.
***
Lalu, di sebuah tenda yang dijadikan markas Clint Buster.
Beberapa anak buah dari Clint terlihat sedang menyiapkan sebuah perayaan terhadap sesuatu. Mereka menyiapkan sebuah panggangan dan juga beberapa tong minuman kepada Clint.
Clint yang sedang duduk dihadapan anak buahnya, terlihat sangat menikmati birnya dengan rakus.
“Bawakan aku minuman lagi, anak anak bodoh!”
“Ba-baik!”
Setelah pergi, mereka akhirnya datang dengan membawa sebuah tong berisi minuman anggur.
Pria itu lalu mengambil tong itu dan meminumnya secara langsung. Karena seorang peminum berat dia dengan cepat menghabiskan anggur dalam tong itu.
“Keluar kau brengsek!” Tiba tiba terdengar suara Levin dari luar markas.
Wajah Clint begitu kesal dengan melempar tong kosong hingga hancur dihadapan anak buahnya.
“Anak itu!”
Dengan wajah panik, beberapa anak buahnya datang menghadap Clint.
“B-bos! Berandalan itu datang!” Ucap salah satu Buster sambil menunjuk keluar.
“Aku juga tau, dasar bodoh!”
Clint berdiri dari tempatnya untuk menemui Levin.
“Keluar kau Clint sialan! Kau sedang mencariku kan?! Oii, apa kau mendengarku?!” Levin terus berteriak dari luar.
“Kali ini aku tidak akan memaafkannya!” Clint memasang wajah kemarahan.
Levin yang sedang menunggunya dengan tatapan serius akhirnya bertemu dengan Clint.
“Berani juga kau datang kesini, bocah!”
“Aku akan menendang pantatmu keluar dari desa ini!”
Seluruh anak buah Clint kaget melihat kenekatan Levin.
“Sepertinya dia benar benar ingin mati!”
“Menendangku?! Hahahahaha, kalau begitu buktikanlah padaku!”
Tanpa basa basi Levin berlari untuk menghajarnnya.
Tapi, Clint dengan mudah menghentikan pukulan Levin.
“Kau itu harusnya sadar siapa lawanmu, berandalan busuk!” Clint berhasil mengunci pergerakannya.
“Lepaskan aku jelek!”
Clint membidiknya dengan jari telunjuk. “Index Bullet!”
Sebuah sihir yang berbentuk peluru keluar dari jari telunjuknya.
Dengan wajah panik, Levin berhasil menghindar dengan cara memeluk tangannya.
“Huft … hampir saja,” ucap Levin sambil mengusap keringatnya.
“Dasar bocah tengik! Index Bullet!” Clint menembaknya secara berkali kali.
Levin berhasil menghindari seluruh serangannya dengan cara bergelantung ditangan Clint. Ia lalu melompat kearah belakang secara cepat.
“Apa apaan jarimu itu brengsek! Jangan membuatku kaget dong!”
“Mati kau! Two Index!” Kedua tangan Clint menembak kearah Levin yang sedang berlarian.
“Apa apaan jarinya itu?! berbahaya sekali!” Levin memasang wajah panik.
“Larilah sepuasmu dasar tikus menjijikkan!” Clint terus menembakinya dengan kesal.
Seluruh anak buah Buster yang berada disana hanya bisa tertawa melihat Levin yang terus berlarian.
“Rasakan itu!”
“Itulah akibatnya macam macam dengan bos Clint!”
Levin kesulitan untuk mendekat karena orang itu terus menembaknya.
Saat berlari diantara kedua rumah warga ia menemukan sebuah papan besi yang tergeletak.
“Sepertinya aku punya ide.”
Dengan cepat ia mengambil papan besi itu dan mendekat kearah Clint.
“Oh, cerdik juga rupanya.”
Levin berlari mendekat sambil membawa papan besi itu. Ia menjadikan besi itu sebagai pelindung dari serangan Clint.
Meskipun sanggup menahan serangan, papan besi itu perlahan menjadi rusak oleh serangan beruntun Clint.
“Rasakan ini!” Levin berlari secara cepat.
Clint terkejut karena tiba tiba Levin telah berada dihadapannya. Pukulan Levin yang sangat keras langsung mengenai wajahnya hingga membuat ia terlempar. Tenda yang dibangun sebagai markasnya pun seketika hancur ketika Clint mendarat.
“Bos!!!”
Semua anggota Lancer terkejut ketika Clint
terlempar. Levin membunyikan kedua tangannya seakan siap untuk bertarung. Kedua lengannya memiliki sebuah gelang kain berwarna kuning yang sengaja ia pakai
sebagai ciri khasnya.
Tidak lama Clint kembali bangkit dengan wajah yang terlihat baik baik saja. Ia seakan tidak menerima rasa sakit dari pukulan Levin.
“Pukulanmu memang menyakitkan ya bocah!” ucap Clint sambil mengelap pipinya yang telah dihajar.
Levin terdiam ketika melihat wajah Clint. Ia begitu heran karena tidak ada bekas pukulan diwajahnya. Sebelumnya ia sangat yakin kalau sudah menghajarnya dengan sangat keras.
Mungkin tubuh yang sedikit kekar itu membuat kulitnya begitu keras.
“Kenapa berandalan sepertimu malah ingin melindungi desa ini?!”
“Tentu saja karena aku mencintai desa ini!”
“Jawaban yang menarik.” Clint memasang senyuman kecil.
Clint menunjuk salah satu anak buahnya dengan santai.
“Oi, cepat bawakan aku minuman!”
“Ta-tapi—”
“Cepatlah dasar bedebah!”
“Ba-baik!”
Anak buahnya lalu pergi mengambilkan minuman.
“Oi, kenapa kau malah ingin minum! Pertarungan kita belum selesai dasar jari yang mengeluarkan sihir aneh!” Levin membentaknya dengan wajah kesal.
“Apa maksudmu dengan jari yang mengeluarkan sihir aneh? Dasar bocah berisik! Tentu saja ini adalah kekuatan Linkku.”
“Oh … jadi itu termasuk kekuatan Link.” Levin memasang wajah seakan baru mengerti.
“Tenang saja aku juga belum lupa dengan pertarungan kita. Karena setelah ini kau pasti akan tamat.”
“Apa yang kau bicarakan?”
Tiba tiba Clint membidik kearah Levin dengan telapak tangannya. Seluruh Buster yang ada disana begitu panik saat melihat tangan Clint.
“Gawat! Bos akan mengeluarkan itu!”
“Ayo cepat lari sebelum kita terbunuh!”
Mereka berlari ketakutan untuk menjauh dari Clint.
“Matilah bocah! Arm Cannon!”
Lengannya tiba tiba membesar seperti membentuk bola. Secara perlahan gundukan bola itu bergerak dari lengan menuju ke tangannya.
Cahaya tiba tiba muncul dari telapak tangan Clint. Tiba tiba sebuah bola meriam keluar dari tangannya secara cepat.
“Apa itu?!”
Levin panik karena cahaya yang dikeluarkan Clint menghalangi pandangannya.
Boom!!!
Bola meriam itu menghasilkan ledakan yang cukup besar dari tempat Levin berdiri. Clint sangat yakin kalau serangan itu sudah membunuhnya.
Gumpalan asap yang perlahan menghilang menunjukkan kalau Levin berhasil menghindar dari serangan tadi. Tubuhnya dipenuhi luka lecet karena bekas ledakan tadi.
“Dia berhasil menghindar?!”
Wajahnya begitu kesal ketika tau Levin berhasil bertahan. Clint yang menyadari itu langsung menembaknya secara beruntun.
Karena sedikit lengah, Levin pun terkena salah satu serangan di lengannya. Sambil memegang lengannya ia berusaha untuk terus menghindar.
“Sial!”
Secara tak sadar, Levin tiba tiba terjatuh oleh luka tembak yang sudah menembus perutnya.
“Celaka ….” Levin terkapar tak sadarkan diri.
Clint memasang tatapan jahat sambil membidik Levin dengan jarinya.
“Kali ini aku akan mengincar jantungmu, bocah!” Sebuah peluru sihirpun keluar dari jari telunjuknya.
Tiba tiba Azka muncul dengan cepat dan menangkis serangan darinya.
“Apa?!” Clint memasang wajah kaget.
Tricia juga datang bersama dengan Azka. Ia membantu Levin untuk berdiri karena sedang tidak sadarkan diri.
“Sepertinya kita datang tepat waktu.” Ucap Tricia.
Tricia menoleh kearah Levin yang sedang terluka. Jika Azka sampai terlambat mungkin peluru tadi bisa membunuh Levin.
“Siapa kau?!” Clint menatap Azka dengan tatapan kesal.
Azka hanya memasang tatapan datar, “Aku hanya seorang Buster.”
To be Continued…
Note Author:
Black Wave \= Gelombang Hitam
Index Bullet \= Peluru Jari Telunjuk
Two Index \= Dua Jari Telunjuk
Arm Cannon \= Lengan Meriam