Black Buster

Black Buster
Chapter 42 "Filia Lucette"



“Filia, ya?” Tanya Azka untuk memastikan.


Kemudian, tatapannya berusaha untuk ramah dan melanjutkan, “Baru kali ini aku melihat manusia binatang sepertimu.”


Filia Lucette, gadis kecil berusia sekitar yang memiliki tubuh setengah binatang hanya bisa terdiam dengan perasaan murung.


“Tapi meskipun begitu dia sangat lucu!” Seru Tricia ketika mendekat dan mengelus kepala Filia dengan lembut.


Karena elusan itu, Filia hanya bisa senang sekaligus tersipu malu. Bahkan perasaan Filia sama sekali tidak ketakutan ketika bersama mereka.


“A-anu ….”


Perkataan dari Filia tak bisa keluar ketika Tricia terus mengelusnya hingga membuatnya tersipu.


“Oh iya namaku Tricia.” Ucap Tricia dengan senyuman lembut.


“Ma-maaf aku sempat mencuri uang kalian ….”


Dengan perasaan gugup, Filia mengeluarkan kantung uang dari balik jubah hitamnya dan diberikan ke Tricia.


Melihat wajahnya yang begitu manis, Tricia hanya bisa tersenyum mengambil uang itu dan berkata, “Tak apa ….”


“Se-sekali lagi aku sangat berterima kasih karena kakak kakak sudah menolongku.” Filia menunduk dengan perasaan gugup kearah Azka dan Levin.


“Tak masalah.” Ucap Levin dengan senyuman lebar.


Sifat Filia yang begitu polos seperti gadis kecil pada umumnya membuat Azka sedikit bertanya tanya. Kenapa bisa gadis kecil ini bisa dipanggil monster meskipun ia tidak seseram seperti yang dikatakan orang orang.


Tapi satu hal yang pasti, kejadian Filia tadi mengingatkannya saat ia dibenci oleh penduduk Oleander.


“Aku memang berterima kasih tapi, sebaiknya aku pergi.” Filia tampak murung ketika melangkah kakinya.


“Tunggu dulu.” Ucap Azka saat menatap Filia dengan tatapan dingin.


Seketika Filia menghentikan langkahnya dan menoleh dengan perasaan gugup ke mereka bertiga.


“Aku punya beberapa pertanyaan untukmu.”


Karena Filia tampak cemas, Azka berusaha memasang tatapan ramah dan menambahkan, “Jujur baru kali ini aku melihat manusia setengah binatang sepertimu, tapi apa sebenarnya alasanmu mencuri?”


Azka merasa curiga karena Filia terlihat seperti gadis kecil pada umumnya. Entah apa yang membuat Azka yakin jika Filia sedang menyembunyikan sesuatu.


Filia terdiam sejenak dengan tubuh sedikit gemetar, “A-aku ….”


“Aku?” Tanya Levin polos melihat Filia yang mulai bersikap aneh.


 “Se-sebenarnya ….”


Melihat Filia terbata bata saat menjelaskan, Azka hanya menghembus nafas berat, “Katakan saja.”


“Se-sebenarnya aku mencuri karena terpaksa melakukannya.” Ucap Filia meski enggan.


“Terpaksa?” Tanya Tricia sambil menaikkan alisnya.


“Aku harus mengumpulkan 10 juta Nam agar bisa menyelamatkan teman temanku.” Filia tertunduk murung.


“10 juta Nam itu uang yang sangat banyak ….” Ucap Tricia menaikkan alisnya.


Azka, Tricia dan Levin terdiam ketika menatap Filia yang sedang sedih. Mereka sedikit menduga kalau Filia memiliki masalah yang cukup berat.


Tapi meskipun begitu, mereka masih tak mengerti kenapa Filia sempat ketakutan saat mengatakan alasan yang sebenarnya.


Kemudian, Filia mengangkat wajahnya dan memasang senyuman tegar, “Aku tahu itu tapi, aku harus menyelamatkan teman temanku!”


Sebuah keyakinan terlihat jelas didalam tatapan Filia hingga membuat Azka terdiam sekaligus takjub. Ia tidak mampu berkata kata ketika melihat seorang gadis kecil memiliki keyakinan yang besar.


Gadis setengah binatang itu berbalik sebelum menambahkan, “Aku sangat berterima kasih tapi aku harus per ... gi.”


Ucapan Filia terputus karena ia tiba tiba terjatuh pingsan. Azka dan yang lainnya pun reflek mendekati Filia dengan tatapan khawatir.


“Oi, apa kau tidak apa apa?!” Tanya Levin cemas.


“Levin, lihat lukanya ….” Ucap Azka ketika melihat luka yang ada di tubuh Filia.


“Dia kehilangan banyak darah.” Tricia menambahkan.


Saat pengepungan Buster di kota Hayate, Filia memang sempat tertembak ketika ia melarikan diri. Karena tembakan itu sepertinya Filia cukup kehilangan banyak darah hingga membuatnya pingsan.


***


Karena Filia yang tiba tiba pingsan, Azka dan yang lainnya membangun sebuah tenda di dalam hutan dan membiarkan Filia untuk istirahat.


Mereka sebenarnya ingin membawa Filia ke kota Hayate, tapi mereka tidak bisa karena khawatir masih ada kerumunan Buster yang masih mengejarnya.


Sementara itu didalam tenda, Tricia telah selesai membalut luka di lengan Filia. Dia pun keluar mendekati Azka dan Levin yang sedang duduk di depan api unggun.


“Apa dia baik baik saja Tricia?” Tanya Levin ketika melihat Tricia mendekatinya.


“Ya, dia baik baik saja.”


Kemudian, Tricia duduk didepan api unggun dan mengambil ikan yang telah dibakar mereka berdua, “Aku sedikit bingung karena luka yang ada di lengannya bisa pulih cukup cepat bahkan melebihi manusia normal.”


“Mungkin karena dia adalah manusia setengah binatang.” Ucap Azka.


Azka pun mengambil ikan yang sudah dibakarnya sebelum melanjutkan, “Aku memang belum pernah melihat manusia setengah binatang sebelumnya tapi, binatang memang memiliki kemampuan fisik yang cukup kuat.”


“Mungkin kau benar.” Ujar Tricia seakan yakin dengan penjelasan Azka.


Jika di pikir pikir memang jawaban itu masuk akal mengingat Filia adalah manusia setengah binatang. Dan pastinya dia memiliki kemampuan memulihkan diri yang lebih cepat dari manusia.


Hari semakin malam ketika rembulan menerangi mereka. Karena situasi yang sangat tenang, Levin pun bertanya untuk memecah suasana.


“Ngomong ngomong … setelah ini apa yang akan kita lakukan?”


“Yang pasti kita harus mencari informasi mengenai Mid Land.” Jawab Tricia.


“Lalu bagaimana dengan Filia?” Tanya Levin polos sambil memakan ikan bakar.


“Aku tidak terlalu peduli ….”


Mendengar jawaban singkat dari Azka membuat Levin dan Tricia terdiam sambil memakan makanan mereka.


Sebenarnya Azka masih teringat dengan tatapan penuh keyakinan dari Filia. Tapi karena ia baru mengenalnya, Azka merasa tidak berhak untuk ikut campur dengan masalah yang dialami Filia.


Setelah mereka bertiga cukup lama berdiam diri, tiba tiba Filia keluar dari tenda dengan keadaan lemah.


“Filia!” Seru Tricia.


Kemudian, Tricia mendekat ke samping Filia untuk menopangnya berjalan, “Kau harus istirahat, lukamu masih belum pulih kan?”


“A-aku harus pergi ….” Ucap Filia sambil melangkah pelan.


“Filia ….”


“A-aku tidak bisa meninggalkan mama sendirian ….” Filia melanjutkan dengan tatapan lemah sekaligus khawatir.


“Mama?” Tanya Azka dan Levin secara bersamaan.


Mereka berdua beserta Tricia terdiam ketika melihat Filia berusaha untuk pergi dengan keadaan yang masih lemah. Mereka bertanya tanya kenapa ia bersikeras dengan kondisi seperti itu.


“Apa tempatmu jauh dari sini?” Tanya Azka.


“Ti-tidak ….”


Mendengar jawaban Filia, Azka menghembus nafas berat dan berkata, “Ayo kita antar dia.”


“Oke.” Ucap Levin santai.


“Jangan … aku hanya merepotkan kalian.” Filia memasang wajah sungkan.


“Apa kau yakin bisa berjalan dengan kondisi seperti itu?” Tanya Azka ragu melihat keadaan Filia yang begitu lemah.


“Aku sudah biasa mendapatkan luka seperti ini … jadi aku akan baik baik saja ….” Filia memasang senyuman tegar.


Azka terdiam sejenak dengan ucapan Filia. Dia mengatakan ia sudah sering mendapatkan luka seperti itu.


Kenapa gadis seusianya bisa setegar itu?


Kemudia, Azka mendekat kearah Filia dan menggendong tubuh mungilnya.


Reflek karena dirinya di gendong membuat Filia sedikit panik, “Tu-turunkan aku kak!”


“Dengan begini kau bisa sampai dengan cepat kan? Kau hanya perlu menunjukkan jalannya pada kami.”


Filia terdiam sejenak dengan pipi memerah, “Te-terima kasih ….”


Sebenarnya Filia tersipu tidak hanya di gendong oleh Azka. Tapi, ia mulai sadar karena pria berambut hijau gelap itu memiliki sisi yang baik di balik tatapan dinginnya.


Disamping itu, Tricia bergegas merapikan barang barang dan mendekat ke mereka bertiga dengan senyuman lembut.


Levin mulai memasang senyuman aneh, “Filia, kalau tak nyaman digendong orang ini, marahi saja dia.” Ucap Levin santai sambil menepuk Azka berkali kali.


“Berisik!” Azka tampak kesal ketika Levin mulai meledeknya.


“Baik!” Seru Filia tersenyum hingga menyipitkan matanya.


***


Sementara itu, sebelah barat dari kota Hayate. Terdapat sebuah kota yang sangat sepi dan juga gelap. Kota itu mirip seperti kota mati yang di tinggalkan oleh orang orang sejak lama.


Tapi dari semua rumah yang sangat tua dan gelap, terdapat sebuah rumah cukup besar yang sedikit terawat. Lalu …


“Ketua! Ketua!”


Teriak salah satu pria yang tiba tiba memasuki ruangan utama dari rumah itu dengan panik. Pria itu tampak hormat di hadapan pria misterius yang ditutupi siluet.


“Ada apa? apa peliharaan kecilku sudah datang?”


Pria yang di panggil dengan sebutan ketua itu lalu menatapnya dengan bola mata berwarna hitam.


“Be-belum … tapi aku barusan mendengar kalau dia sempat membuat keributan di kota Hayate.”


“Keributan?”


“Ya.” Pria itu tampak gugup dan melanjutkan, “Mereka juga mengatakan kalau dia dibantu oleh dua pria yang diduga adalah Buster.”


“Buster?!” Jidat dari pria yang di panggil ‘ketua’ itu langsung mengkerut.


Di dalam ruangan yang begitu gelap, terlihat jelas tatapan dari pria itu sangat geram.


“Apa maksud semua ini?! Apa monster kecilku itu mau berkhianat?!”


“A-aku tidak tau ….” Jawab pria itu yang diketahui adalah seorang Buster.


“Brengsek!” Teriak orang itu dan kembali melanjutkan, “Aku sudah muak menunggu monster itu mengumpulkan 10 juta Nam!”


Mendengar ketuanya sedang mengamuk, Buster itu hanya bisa terdiam ketakutan.


“Oi kau! Cepat panggil orang orang pemalas itu kemari!”


“Baik ketua!” Buster itu berlari meninggalkan ruangan dengan wajah panik.


Lalu, pria yang tidak lain adalah ketua dari Buster tadi hanya terdiam sambil memasang tatapan seakan merencanakan sesuatu yang jahat.


“Hahahaha! Sepertinya perngorbanan kalian berdua akan sia sia!” Pria itu tertawa dengan tatapan jahat ketika menatap kedua bocah yang berada di sudut gelap ruangannya.


Tidak jauh dari tempatnya, terlihat bocah laki laki dan perempuan dalam keadaan terikat dengan mulut ditutup kain hanya bisa pasrah tak berdaya.


Dengan keadaan tubuh yang sangat lemah dan juga berantakan, mereka terus menatap pria itu dengan tatapan kemarahan.


To be Continued…