
“Kau masih bisa bangkit rupanya.” Parviz tersenyum kecil melihat Azka berdiri menghalanginya.
Saling menatap satu sama lain, Azka tediam sambil mengatur nafas. Memang tebasan tadi sangatlah mengerikan, bahkan hampir membunuh Azka, jika tidak cepat-cepat menghindar sesaat sebelum menebasnya.
Darah mulai menetes dari dagunya, tapi Azka tetap berdiri tegak menghalangi mereka.
“Aku tidak akan mati semudah itu,” kata Azka.
“Mau sampai kapan kau akan bertahan seperti itu?” Parviz mengamati seluruh tubuh Azka yang di penuhi banyak sayatan. Kemudian, Parviz memegang gagang pedangnya secara perlahan dengan tatapan tajam.
“Entahlah, hanya kedua belati hitamku yang bisa menjawabnya.”
Azka mulai mengeluarkan aura hitam dari ujung kedua belatinya. Melihat kemampuan Parviz sejauh ini, tidak di ragukan lagi kalau Parviz orang yang sangat kuat.
Apalagi, harus menahan Chyntia dan Parviz kesempatan menangnya akan semakin kecil. Jadi tidak ada cara lain selain menahan mereka selama mungkin, setidaknya sampai Tricia dan Filia tiba di desa Kitara.
“Buster pemula yang cukup menarik.” Parviz menarik keluar pedang panjangnya yang berwarna perak itu.
“Parviz-san, biar aku saja yang melawannya,” potong Chyntia dengan rambutnya yang sudah memanjang.
“Hm?” Parviz melirik ke Chyntia yang berada di sampingnya.
“Aku akan menahan orang itu.”
Parviz diam melihat tatapan Chyntia yang tampak serius. Dia tahu apa yang sebenarnya di pikirkan wanita itu saat ini.
“Jika kau berpikir membalaskan kematian Kazel, itu hanya akan buang-buang waktu.”
“Tapi … dia yang membunuh Kazel!” Raut wajah Chyntia gelisah sekaligus berusaha menjelaskan.
“Aku memang membolehkanmu bertarung. Tapi … prioritas utamaku adalah menangkap monster kecil itu.”
Chyntia terdiam melihat tatapan tajam Parviz. Sejak awal, Chyntia sedikit di telan kemarahan saat pertama kali melihat Azka. Tapi dia tidak bisa melawan dengan tatapan Parviz yang seperti itu.
“Baiklah, Parviz-san.” Chyntia terpaksa mengikuti perintah Parviz. Kalau dia sampai mengabaikannya, Chyntia bisa terbunuh kapan saja oleh Parviz.
Setelah mendengar jawaban Chyntia, Parviz menatap ke Azka dengan senyuman kecil.
“Mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan.”
“Selama itu bisa menghambat kalian, aku tidak akan kalah.”
“Kalau begitu … Crimson Wolf Fang!”
Tebasan merah yang begitu besar di ayunkan oleh pedang Parviz. Azka cukup panik melihat serangan itu kembali.
“Nightfall Slash!” Tebasan hitam yang berukuran cukup besar melesat keluar dari bawah tanah mengarah ke tebasan Parviz.
Blarr!
Terjadi ledakan yang sangat besar ketika dua tebasan itu saling bertabrakan.
Gumpalan asap dari sisa-sisa ledakan tercipta, tapi segera hilang sesaat Azka melewatinya yang sudah siap menebaskan kedua belatinya.
Parviz tidak menyangka kalau Azka menyerangnya dari jarak dekat. Parviz menangkisnya dengan pedang, namun Azka mendapatkan celah di belati kanannya.
Melihat celahnya terbuka, Parviz reflek menendang Azka hingga terpental beberapa meter. Sebelum Azka berhenti berguling, Parviz langsung menyambarnya dengan pedang. Azka langsung berdiri dan menahan pedang itu dengan belati hitamnya.
Kekuatan berpedang Parviz jauh lebih unggul di bandingkan Azka, dan Parviz langsung memberi tekanan ke pedangnya yang memaksa Azka melompat ke belakang.
Selagi melompat, Azka menyempatkan mengeluarkan beberapa tebasan hitam kecil. Tentu saja, Parviz menangkis serangan itu tanpa kesulitan.
Murka karena mulai kerepotan, Parviz membalasnya dengan sebuah tebasan merah yang sangat cepat. Azka yang masih mengatur nafasnya cukup terkejut melihat tebasan itu.
“Twin Slash!” Segera Azka mengeluarkan beberapa tebasan dan—percikan ledakan pun tercipta setelah tebasan mereka bertemu.
Setelah semua usahanya tadi, tidak ada satupun serangan Azka yang mampu melukai Parviz. Azka hanya bisa terduduk lemas di tanah dengan nafas terengah-engah.
“… sial,” gumam Azka.
“Sepertinya luka-luka itu menghambat pergerakanmu ya.” Parviz memandangi Azka dengan senyum sindiran.
Azka hanya diam menatapnya. Sekarang dia benar-benar bingung dengan kekuatan Parviz. Setelah semua serangannya tadi, Parviz masih bisa menahan semua itu.
Azka menduga kalau Parviz bukanlah pengguna kekuatan Link. Tapi kemampuan pedangnya sangat luar biasa, bahkan melebihi Izami saat di kerajaan Oleander.
“Chyntia,” panggil Parviz. “Kau pergilah duluan mengejar mereka. Aku tidak mau mereka semakin menjauh.”
“Parviz-san ….” Chyntia sedikit tercengang melihat tatapan Parviz yang sedang menatap Azka. Entah kenapa dia merasakan ekspresi Parviz saat ini begitu serius.
“Ingatlah priotas utamaku adalah menangkap bocah itu, pergilah!”
“Ba-baiklah!” Chyntia segera berlari ke dalam hutan untuk mengejar Filia dan Tricia.
Langkah Chyntia terhenti, ternyata beberapa tebasan melesat hampir mengenainya.
Berdiri sambil menahan rasa sakit, Azka menghentikan langkah Chyntia dengan tebasannya.
“Dasar keras kepala!” Setelah berteriak, Parviz kembali menyambar Azka dengan cepat.
Dengan sisa-sisa tenaga, Azka menahan tekanan dari pedang Parviz. Sedangkan Chyntia yang sempat terhenti kembali melanjutkan langkahnya.
“Berhenti, sialan ….” Azka mendesah pelan sambil mencoba lepas dari tekanan Parviz.
“Aku paling benci orang yang mengabaikan lawan di depannya!” Parviz semakin memberi tekanan hingga Azka terdorong mundur. Kemudian Parviz mengayunkan pedangnya, seketika kedua belati Azka terlempar dari genggaman.
Chyntia memalingkan pandagannya dan berlari semakin cepat tapi—sebuah tebasan hitam kembali menghalanginya.
Ternyata, Azka mengeluarkan tebasan dari tangannya dan itu membuat Parviz sangat terkejut.
“Kau— kurang ajar!” Parviz menendang perut Azka hingga terjatuh, kemudian menginjak kepala Azka sampai tak bisa menggerakkan tubuhnya.
“Sialan ….” Azka berusaha lepas dari injakan Parviz. Namun, Parviz semakin menguatkan injakannya yang membuat Azka mulai kesakitan.
Sementara itu, Chyntia sudah berlari sangat jauh sampai tak terlihat lagi dari jangakauan Azka. Setelah semua usahanya untuk menghentikan Chyntia, Azka mulai kesal mebiarkan wanita berhasil mengejar Tricia dan Filia.
Azka membalas tatapan itu dengan tajam tanpa berkata apapun.
“Link tebasan? Aku sempat terkejut kau bisa mengeluarkan tebasan dari tanganmu. Tapi, kau itu tidak lebih dari Buster rendahan!”
“Ugh!” Azka merintih kesakitan, setelah Parviz memukul wajahnya hingga terpental beberapa meter ke belakang.
Parviz melangkah pelan mendekati tempat Azka terkapar. Di tangannya, dia sudah memegang pedang perak panjang bergagang merah tua.
“Aku akan menunjukkan padamu, kekuatan Buster yang sebenarnya!” Dengan murka, Parviz mengayunkan pedangnya ke Azka.
Sesaat Azka menyadari serangan itu, dia menggulingkan badannya dan terhindar dari ayunan pedang tersebut.
Kesadaran Azka sempat memudar. Pukulan Parviz tadi masih terasa menyakitkan, membuat wajahnya berdarah. Azka kesulitan mengatur nafasnya, tapi dia tetap berdiri dengan lutut gemetaran.
Seakan tak peduli dengan kehadiran Parviz, Azka berjalan sempoyongan mengambil kedua belatinya yang tergeletak beberapa meter dari tempatnya berdiri.
“Oi,” panggil Parviz. “Kenapa kau mau menjadi Buster?”
Untuk sesaat, Azka menghiraukan pertanyaan Parviz. Setelah dia mengenggam kedua belati hitamnya, dia menatap Parviz dengan tatapan tajam.
“Untuk sebuah janji.”
“Janji? bodoh sekali. Kau adalah Buster yang banyak bermimpi, kau harusnya sadar dunia ini sangatlah kejam.”
“Ya, aku tahu akan hal itu.”
“Hm, kau sudah siap mati rupanya. Baiklah, kali ini aku akan serius melawanmu.”
Menanggapi kata-kata itu, Azka diam tak berkata. Setelah semua serangan dan luka di tubuhnya, Azka cukup terkejut mengetahui Parviz belum bertarung secara serius.
Tetapi, jika bisa mengalahkannya sekarang, Filia dan yang lain akan langsung terselamatkan sekaligus mengakhiri semua ini.
Memikikan itu, Azka memegang erat kedua belatinya. Aura hitam yang keluar dari tangan Azka, menyelimuti bilah belatinya.
“Nightfall … Slash.” Azka mengayunkan belatinya secara vertikal, menciptakan tebasan hitam yang melesat kencang.
“Akan kutunjukkan padamu, kemampuan berpedang yang sesungguhnya, Sword Fang: Red Storm!”
Sebuah cahaya merah tua berkumpul dari ujung pedang Parviz. Kemudian, membentuk seperti gelombang merah layaknya badai, melesat dengan cepat membentur tebasan hitam Azka.
Syok sekaligus terkejut, reaksi Azka seperti menolak tebasan mengerikan itu.
Apa itu kekuatan dari seorang pengguna pedang?
Tetapi sesuai yang Azka takutkan, tebasan yang lebih mirip seperti badai merah itu sanggup melahap tebasan hitam miliknya. Dan sekarang, tebasan merah tua dengan percikan listrik itu, mengarah ke arahnya.
Tidak ada waktu untuk menghentikan serangan itu, Azka berlari ke samping untuk menghindar. Tapi, serangan yang sama segera di keluarkan Parviz. Setelah Azka baru menyadarinya, tebasan merah itu tepat berada di hadapannya, dia juga sempat melirik Parviz sedang tersenyum kecil.
Dan— BLARR!
Terjadi sebuah ledakan yang sangat besar menciptakan gumpalan asap yang begitu pekat di tempat Azka berdiri.
Parviz, memasang senyuman kecil. Kali ini dia sangat yakin kalau tebasan tadi sudah melenyapkan Azka, tetapi—
“—dia menghilang?!” Parviz mengernyit, gumpalan asap yang mulai memudar, Azka menghilang dari bekas ledakan barusan.
Untuk sesaat, Parviz kesulitan mencerna kenyataan di depannya dan mulai melihat ke atas. Benar saja, Azka menghindar dengan melompat ke udara.
Azka, berhasil menghindar dari tebasan merah itu di detik-detik terakhir. Kalau saja dia terlambat beberapa detik, mungkin Azka sudah mati tertebas saat ini.
Sekarang, Azka menatapnya tajam sebelum melesatkan beberapa tebasan hitam sebagai pengecoh. Parviz mampu menangkisnya seperti biasa, tapi Azka menyambar dari udara yang langsung di tahan oleh Parviz menggunakan pedang.
“Kau mulai membuatku kesal!” geram Parviz
“Kau juga!”
Mereka berdua saling memberikan tekanan melalui tatapan mata.
Azka kembali mengayunkan kedua belatinya secara bergantian, Parviz menerima ayunan belati itu dengan menangkisnya.
Untuk sesaat, pertemuan kedua bilah logam itu menimbulkan bunyi “trang” dan menciptakan percikan.
Tidak ada satupun tebasan Azka yang melukainya, begitu juga Parviz. Kali ini Azka sangat berhati-hati mengayunkan kedua belatinya. Azka berpikir kalau menyerang dari jarak dekat bisa mengalahkannya.
Akan sangat berbahaya kalau Parviz kembali mengeluarkan tebasan seperti badai merah mengerikan tadi. Selain itu, tebasan Azka sama sekali tidak ada apa-apanya di bandingkan tebasan Parviz.
Sebenarnya Azka merasa aneh sekaligus bingung. Dia tidak menduga kalau Link tebasannya masih kalah dalam segi kekuatan. Apalagi Parviz murni pengguna pedang tanpa kekuatan Link sama sekali.
“Kau masih bisa menyerangku dengan luka seperti itu, kau memang menarik,” ucap Parviz santai, menangkis semua serangan.
Azka hanya diam, terus mengayunkan kedua belatinya. Saat ini, Azka cukup memberikan tekanan ke Parviz, tapi itu tak bertahan lama. Dengan mudah, Parviz membalikkan keadaan dengan mengayunkan pedangnya secara cepat.
Seketika, Azka berada di posisi tertekan dan terpojok dengan tebasan pedang yang terus menghujaninya.
Azka mulai kehilangan keseimbangan, nafasnya semakin terengah-engah akibat stamina yang terus berkurang, kemudian—
“….” Azka terdiam.
Tanpa di sadari, sebuah pedang sudah menembus perut Azka. Lutut seketika melemas, mulutnya juga mengalirkan darah segar. Sedikit demi sedikit, darah merah menyembur keluar dari bagian perut, setelah Parviz mencabut pedangnya.
Pandangan Azka perlahan memudar, penglihatannya semakin samar-samar ketika melihat Parviz memasang ekspresi tajam.
Sebelum Azka terjatuh lemas, Parviz mencekiknya, mengangkat Azka hingga kehilangan pijakan kaki.
“Biar kuberi tahu satu hal padamu.” Nada bicara Parviz terdengar sangat tajam di temani tetesan darah yang menetes berirama dari pedangnya.
“Kau pikir aku ini siapa? Buster pecundang yang banyak bermimpi sepertimu sudah banyak kutemui, terutama di daratan North Land ini.”
Dengan ekspresi tajam, Parviz melepas cekikannya. Dalam sekejap, Azka terjatuh ke tanah dengan bersimbah darah.
Pandangannya yang masih samar-samar, telah di selimuti kegelapan.
To be Continued…