Black Buster

Black Buster
Chapter 24 "Remains"



“Kedainya ….” Tricia terdiam menatap kedai yang masih terbakar.


Tricia bersama Levin akhirnya datang ke kedai itu. Ia sebelumnya mendengar suara ledakan yang berasal dari tempat itu.


Api masih terlihat membakar diseluruh kedai milik Vina. Hampir seluruh isi kedai itu telah hangus terbakar.


Levin hanya bisa menatap kedai itu dengan tatapan murung. Ia merasa sangat gagal karena telah membiarkan kedainya hancur.


Levin lalu menatap kakek Hardy dengan Vina yang masih tidak sadarkan diri. Tatapan mereka berdua sama sama memasang wajah murung.


Tricia lalu mendekat kearah Hardy dan Vina.


“Apa dia baik baik saja, kek?” Tanya Tricia dengan khawatir.


Hardy terdiam menatap gadis berambut hijau muda yang mendekatinya. Ia sama sekali tidak mengenal gadis itu.


“O-oh … dia baik baik saja.”


“Syukurlah.”


“Ngomong-ngomong kau ini siapa? Kenapa kau kenal dengan Vina?”


“Oh, iya namaku Tricia, aku kebetulan berada didesa ini. Aku mengenalnya karena kami sempat makan dikedainya.”


“Kami?” Hardy terdiam.


Hardy menaikkan alisnya karena teringat dengan Azka.


“Apa kau teman dari bocah pengguna dagger hitam itu?”


“Ya dia temanku, aku datang kesini bersamanya. Apa kau dia ada dimana kek?” Tanya Tricia dengan khawatir.


Tricia khawatir karena sejak terpisah, ia sama sekali belum melihat Azka. Apalagi sejak tadi banyak sekali ledakan dan bangunan hancur.


“Aku tidak tau. Dia tiba tiba pergi ….”


“Pergi?!” potong Levin sambil menaikkan alis.


Vina lalu terbangun secara tiba tiba. Ia terdiam saat melihat orang orang yang dikenalinya.


“Kedai kakek!” Teriak Vina sambil menangis.


Vina hanya menangis melihat kobaran api yang menyelimuti kedainya. Ia berusaha untuk pergi ke kedai itu tapi ditahan oleh Hardy.


“Lepaskan aku!”


“Hentikan itu Vina! Disana berbahaya.” Hardy terus menahan Vina untuk tidak pergi.


“Aku harus memadamkan apinya!”


“Percuma saja. Kedaimu sudah hancur.”


“Tidak … tidak … tidak!” Vina terus berusaha untuk pergi.


Dia kemudian menangis dengan kencang karena tidak bisa melakukan apa apa.


“Kakek … maafkan aku ….”


Tricia hanya terdiam melihat kesedihan Vina. Ia sekarang mengerti kenapa Vina sangat ingin melindungi kedai itu.


Levin yang melihat itu juga hanya bisa tertunduk, ia masih merasa bersalah karena Vina terus berjuang melindungi kedai itu.


Vina lalu menatap Tricia dengan wajah kemarahan.


“Kau … kau adalah Buster kan?! Kenapa … kenapa kalian melakukan ini?!” Isak tangis Vina terus terdengar kencang.


Tricia hanya bisa terdiam.


“Aku … aku tidak akan memaafkan kalian!”


“Tenanglah, Vina!”


Hardy menahan gadis kecil itu dengan sabar. Vina terlihat sangat marah karena tau kalua Azka dan Tricia adalah Buster.


Disaat Vina terus berteriak, tiba tiba Azka datang sambil membawa kantung berisi makanan dan wine yang dicuri oleh Fidel.


Azka berjalan mendekati kedai yang sedang terbakar itu dengan tatapan datar.


Tricia melihatnya kebinungan, “Azka ….”


Vina menatap Azka dengan wajah yang sangat marah. Bahkan ia berhasil lepas dari Hardy dan berlari menuju Azka.


“Apa yang kau lakukan Vina?!” Tanya Hardy dengan panik.


“Kau … kau adalah monster! Kau, clint dan semua Buster adalah penjahat!” Vina mendekatinya dengan wajah kemarahan.


“Buster ini atau buster itu semuanya saja! Kau pasti akan sesuatu yang berharga tanpa memikirkan perasaan orang lain!”


Hardy, Tricia dan Levin hanya bisa terdiam melihat amukan Vina.


“Sebelum kau pergi dari sini, aku akan membunuhmu!”


“Vina!” Teriak Hardy.


Ia memukul kaki Azka dengan keras berkali kali. Tapi, Azka sama sekali tak merasakan sakit oleh pukulan Vina.


“Kenapa … kenapa ….” Vina menghentikan pukulannya dan kembali menangis.


Azka hanya terdiam melihat kedai itu. Ia kemudian duduk sambil menatap kedai itu dengan datar.


Dia lalu memberikan kantung berisi makanan dan minuman yang dibawa oleh Fidel sebelumnya.


“Aku cuma bisa membawa ini.”


“Ini ….”


Vina menaikkan alisnya saat mengambil kantung itu. Sebelumnya Fidel telah mencuri beberapa makanan dan minuman dikedainya.


Jadi … dia pergi mengambil ini dari orang itu? Pikir Vina.


Padahal ia yakin kalau dia sama seperti Buster lainnya. Dimata Vina Buster pasti akan terus menghancurkan semuanya tanpa pernah berpikir. Apalagi ia melihat Azka mengalahkan seluruh anggota Clint Buster dengan mudah.


“Kenapa?” Tanya Vina dengan mata menggenang.


Vina lalu terdiam menatap Azka.


“Kau mungkin kehilangan semua kenanganmu di kedai itu. Tapi, kau masih punya kenangan bersama kakekmu didesa ini kan?”


Vina tertunduk sedih karena apa yang diucapkan Azka benar. Kenangan saat bersama kakeknya bukan hanya ada dikedai itu. Ia masih punya banyak kenangan bersama kakeknya di desa Corael.


Mengingat semua itu, Vina hanya bisa menangis.


Azka lalu menatapnya dengan ramah.


“Kau gadis yang hebat, Vina. Kau sudah berjuang demi kedai ini.” Azka mengelus kepala Vina dengan lembut.


“Hm …,” Vina mengangguk pelan.


Vina merasa tertolong karena Azka mengembalikan barang kedai yang telah dicuri. Gadis kecil itu lalu menoleh ke kakek Hardy dan Levin. Ia tersenyum oleh perkataan Azka sebelumnya.


Tricia yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum manis. Ia tidak menyangka kalau Azka yang sifatnya dingin dan cuek bisa membuat Vina jauh lebih tenang.


“Ternyata dia anak yang baik …,” ucap Hardy.


Hardy sebelumnya sangat takut oleh Azka karena ia begitu menyeramkan.


“Begitu ya …,” ucap Levin sambil menggaruk hidungnya.


Levin tau kalau Azka telah bertarung dengan salah satu anak anak buah Clint demi Vina. Karena kejadian itu, ia semakin ingin mengajak Azka untuk bergabung kedalam Busternya.


***


“Apa senior Fidel masih hidup?” Tanya salah satu Buster Clint.


“Sepertinya iya. Tapi luka yang ada ditubuhnya benar benar parah,” ucap salah satu Buster.


Beberapa anggota Buster Clint sedang merawat Fidel yang terluka karena pertarungan melawan Azka. Mereka sedikit kebingungan karena luka yang ada ditubuhnya mirip seperti luka tebasan.


“Tebasan ya?” Tiba tiba Clive datang mengagetkan mereka.


Seluruh anak buah Clint Buster terkejut.


“Wa-wakil Clive kau mengagetkan kami!”


“Oh, maafn maaf hehehehe.” Clive tertawa sambil menggaruk wajahnya.


“Hm … tebasan? Tapi, bocah itu harusnya sudah mati.” Pikir Clint.


Clint teringat dengan seseorang yang sebelumnya bertarung dengan Fidel. Karena menggunakan dagger ia sangat yakin kalau orang itu yang mengalahkannya.


“Siapa yang kau bicarakan bos?” Tanya Clive.


“Hanya seekor tikus kecil. Tapi tidak salah lagi kalau orang itu yang mengalahkan Fidel.”


Clive hanya terdiam menatap Clint.


“Apa orang yang kau maksud si berandalan kuning itu?”


Clive merujuk kearah Levin. Ia tau kalau Clint sejak awal memburu Levin untuk ditangkap.


“Tidak. Sepertinya tikus kali ini sedikit merepotkan.”


“Hm?”


“Kurang ajar!”


Tangan Clint tiba tiba mengarah ke beberapa bangunan desa.


BOOM!


Clint yang mengamuk tiba tiba menembakkan meriam hingga menghancurkan setengah bagian desa. Ia kesal karena Azka sudah berani melukai anak buah kesayangannya yaitu Fidel.


Seluruh anggota Buster hanya terdiam gemetaran saat melihat serangan dahsyat dari Clint.


“Aku benar benar muak! Apa mereka tidak tau sedang berhadapan dengan siapa?!”


Clive lalu berjalan mendekati Clint. Ia memegang pundak seakan berusaha menenangkannya.


“Lalu apa yang akan kita lakukan, Bos?”


“Tentu saja. Memberi mereka pelajaran,” jawab Clint dengan senyuman kecil.


Clint lalu berbalik menghadap seluruh anak buahnya. Ia menatap mereka semua dengan tatapan mencurigakan.


“Bersiaplah kalian semua! Kita akan menghancurkan desa ini dan menyerang balik bocah bocah penganggu itu!”


“Yeahhh!!!”


Seluruh anggota Clint Buster begitu bersemangat saat mendengar perintah dari Clint.


“Hidup Clint Buster!”


“Hidup!”


Mereka menyoraki diri mereka sendiri karena merasa yakin dengan kekuatan mereka sekarang.


“Oi, aku juga dong!” Potong Clive.


“Oh baik! Hidup Clive sang penampil!”


“Hidup!”


Secara cepat mereka Kembali menyoraki Clive seperti yang diinginkan.


“Diam kalian semua!” Bentak Clint hingga membuat mereka terdiam.


“Aku jadi bersemangat mempertunjukkan penampilanku didepan mereka.” Wajahnya yang dicat setengah biru dan putih menambah kesan aneh disenyumannya.


“Ayo kita pergi!” Clint berjalan memimpin pasukannya.


Anggota Clint Buster sendiri berjumlah hampir 20 orang tidak termasuk Fidel, Clive dan 3 orang yang telah terbunuh sebelumnya.


Dengan tatapan jahat mereka semua pergi menuju ketempat Azka dan yang lainnya.


To be Continued …