Black Buster

Black Buster
Chapter 60 "Chains and Blood, Part 2"



“Sudah cukup, anak tidak berguna!” Kali ini Kalifa berteriak sambil menyeret Kazel keluar dari ruangan itu.


“Ibu … aku tidak mau membunuh siapapun ….” Meski memohon adalah hal yang sia-sia, Kazel masih berharap kalau Ibunya bisa mengerti.


“Kau harus melakukannya! Ayahmu dan juga aku, kita adalah keluarga pembunuh bayaran. Membunuh adalah keahlian keluarga kita, kau harus mengerti itu Kazel!”


“Tidak … tidak … aku tidak mau itu ….”


Tetap, Kalifa tidak peduli dengan ucapan Kazel dengan terus menariknya menemui kelompok Buster yang mengepung tempat mereka. Sedangkan Koza hanya mengikuti mereka berdua dari belakang dengan wajah geram.


“Keluarlah kalian! Kami tahu kalian ada di dalam!”


“Kami tidak akan bisa tidur tenang sebelum membawa kepala kalian Raychain!”


Beberapa dari mereka berteriak dengan amarah sekaligus penuh dendam. Tempat yang di tinggali oleh keluarga Raychain sekarang memang sudah di kepung di arah depan, dan masing-masing memegang senjata tajam.


Tidak lama kemudian, Koza dan Kalifa keluar dengan pedang mereka masing-masing. Tentu juga ada Kazel yang di seret keluar oleh Kalifa.


Tangisan telah mengering di pipinya, Kazel mulai gemetar ketakutan melihat kelompok Buster di hadapannya.


“Kukira kalian sudah melarikan diri,” ucap salah satu dari mereka. “Apa kalian berdua mau menyerahkan diri?!”


“Menyerah? Jangan bercanda.” Koza mengatakan itu kemudian menoleh ke Kazel dengan senyuman mencurigakan.


Tangan dari Koza lalu memegang baju Kazel, kemudian melemparnya ke hadapan kelompok Buster itu.


Meski dia menangis, Koza maupun Kalifa seakan tak peduli dengan keadaan anak mereka. Koza sengaja melakukan itu agar Kazel mau tidak mau harus membunuh mereka semua agar dia tidak terbunuh.


Gerombolan Buster itu sempat kebingungan dengan adanya anak kecil di hadapan mereka. Tapi, amarah dan kebencian tetap menguasai mereka.


“Jadi kau melempar anakmu sendiri?! Apa yang kau rencanakan sialan?!”


“Dia adalah pengguna Link Rantai, sebaiknya kalian berhati-hati.”


“Apa?! jangan bilang kalau dia adalah penerus Link Rantai dari keluargamu?!”


Melihat mereka mulai ketakutan, Koza dan Kalifa hanya tersenyum seakan kemenangan sudah di tangan mereka. Sedangkan Kazel di telan kebingungan sekaligus ketakutan dengan sikap orang tuanya.


Apa mereka benar ingin membunuhnya?


Emosinya terguncang, Kazel hanya bisa melihat suasana di depannya dengan tatapan kosong.


“Jadi … anak kecil ini penerus kekuatan Link keluarga kalian ya … kalau begitu, aku akan membawa kepala anak ini bersama kalian berdua!”


Pemimpin dari Buster itu kemudian berlari memimpin anak buahnya untuk menyerang Kazel. Lututnya bergetar, Kazel hanya bisa berdiri menoleh ke kedua orang tuanya.


“Tolong … Ayah … Ibu ….”


“Apa yang kau katakan Kazel?! Jika kau tidak membunuh mereka maka kau yang akan terbunuh!” Koza hanya melipat tangannya sambil tersenyum tajam.


Sedangkan Kalifa hanya diam tak peduli selain menunggu Kazel membunuh mereka semua.


Kazel terdiam gemetaran dan tiba-tiba salah satu dari mereka melukainya hingga terjatuh mengeluarkan darah. Dia mengusap lukanya, lalu kedua matanya melebar ketika melihat darah yang ada di telapak tangannya.


Dia berharap orang tuanya membantu, tapi mereka hanya menonton seperti tak peduli.


Sekarang apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus membunuh sesuai keinginan orang tuanya?


Jawaban itu tak bisa ia temukan dalam pikirannya.


Tapi, sebuah rantai tiba-tiba keluar dari punggung Kazel tanpa dia sadari. Kazel terkejut, begitu juga Koza dan Kalifa.


Rantai itu seperti melayang tak terkendali dan melukai Buster satu-persatu secara cepat.


“Gawat … Rantai itu ….” Salah satu dari mereka mengambil langkah mundur karena ketakutan.


Tidak hanya orang itu, seluruh Buster itu mulai melangkah mundur dengan keringat dingin.


“Hentikan … hentikan ….” Bibir Kazel bergetar, dan menurunkan wajahnya. Dia mencoba untuk menghentikan itu, tapi Rantainya terus bergerak seperti tidak terkendali. Rantai besi dan tajam itu hanya bisa menusuk mereka satu persatu seperti sepotong daging.


Buster itu semakin gemetaran ketika melihat beberapa temannya mati terbunuh. Kaki-kaki mereka sudah bersiap melarikan diri, tapi rantai-rantai itu seakan tahu niat mereka dan langsung melesat menembus tubuh mereka satu persatu tanpa pandang bulu.


Air mata terus berjatuhan dari wajah Kazel. Dia mencengkeram tangannya dengan kuat, teriakan ketakutan mereka sama sekali tidak terdengar di dalam kepalanya.


Satu-satunya kata yang dia dengar adalah, kata-katanya sendiri.


“Hentikan … hentikan … hentikan ….”


Melihat semua Buster itu terbunuh satu persatu, Koza dan Kalifa memasang senyuman puas sekaligus bangga ketika Link Rantai Kazel membunuh mereka tanpa ampun.


“Rantai itu … ya, ya … inilah yang sejak dulu kuharapkan Kazel! Ayah sekarang bangga padamu.”


“Akhirnya kau menuruti kata-kataku, Ibu juga bangga padamu.”


Perasaan Kazel semakin goyah. Tubuhnya bergetar hebat setelah mendengar kata-kata itu keluar dari mulut kedua orang tuanya.


Selama 12 tahun hidup dalam penyiksaan, baru kali ini orang tuanya mengatakan itu.


Apa ini rasanya di anggap?


Emosi Kazel semakin terombang-ambing, dia berusaha memahami apa yang sebenarnya dia lakukan. Menyadari kalau dia sudah membunuh mereka semua, hatinya terus menolak.


Kazel tidak pernah menginginkan ini. Oleh karena itu, dia hanya bisa menangis seakan tak berdaya.


Menyaksikan Kazel yang terus mengendalikan rantainya, Koza dan Kalifa mulai berjalan mendekatinya. Ekspresi mereka menunjukkan kepuasan, walau mereka tahu Kazel menolak akan hal itu.


“Kau benar-benar anakku Kazel.” kata Koza. “Sekarang kau bisa menjadi pembunuh bayaran terkuat dari keluarga kita.”


“… aku pembunuh?”


Mendengar pujian seperti itu, Kazel bertanya dengan pikiran kosong. Dia menatap kedua telapak tangannya yang di penuhi darah yang bergetar seakan mencari jawaban yang di cari.


Pikirannya terus menolak tapi rantai-rantai yang keluar dari punggungnya terus menggeliat tak terkendali.


“Ugh ….” Suara Kalifa menghilang ketika sebuah rantai menembus tubuhnya. Darah segar menyembur keluar dari perut dan mulutnya. Wanita 38 tahun itu tidak bisa menahan rasa sakit lebih lama dan akhirnya roboh ke tanah.


Ketika wajahnya menoleh ke belakang, Kazel terdiam dengan tatapan kosong. Bahkan dia tidak sanggup berkata apa-apa selain menjerit di sertai isak tangis.


Bahu dan bibirnya bergetar dengan wajah yang sudah di penuhi air mata. “Ibu … tidak, tidak, tidak, tidak!”


“Kalifa ….”


Di samping Kalifa yang sudah terbaring tak bernyawa, Kedua mata Koza melebar sekaligus kosong seakan menolak pemandangan di depannya. Tubuh Koza bergetar ketika dia mendekat ke Istrinya.


Kedua lututnya seakan lemas hingga membuat Koza jatuh berlutut di samping Kalifa.


Sedangkan Kazel hanya bisa terdiam sambil meremas kepalanya dengan kuat. Seperti menolak dari mimpi buruk, tatapan matanya seakan berteriak kabur dari mimpi yang sekarang dia alami.


Meski pikirannya menolak, itu tetaplah kenyataan. Fakta kalau dia sudah membunuh Ibunya sendiri.


Dirinya terus menolak, tapi rantainya tidak demikian. Rantainya terus bergerak sendiri seakan haus darah.


“Aku membunuh Ibu … aku membunuh Ibu ….” Kazel menggumamkan itu untuk menyalahkan dirinya.


Belahan jiwanya sekarang hilang, hati Koza terasa hampa dengan kematian Kalifa. Tapi itu segera tergantikan dengan amarah yang meluap-luap ketika menatap Kazel dengan tatapan tajam.


Harusnya ini menjadi hari yang di tunggu oleh Koza ketika melihat Kazel sudah membunuh seseorang. Tapi kenyataanya, Kalifa harus menjadi korban dan dia tidak terima akan hal itu.


“Kurang ajar … anak tidak berguna …,” ucap Koza geram. “Kenapa … kau membunuh Ibumu sendiri?!”


“Ta-tapi … aku tidak melakukannya ….” Kazel berusaha menjelaskan apa yang terjadi, tapi sepertinya itu adalah hal yang sia-sia.


Mau bagaimanapun juga, dialah yang sudah membunuh Ibunya.


“Tidak berguna … kau akan kubunuh sialan!” teriak Koza.


Jika di suruh memilih, jawaban Koza sangat jelas memilih Kalifa di bandingkan anaknya sendiri. Dia juga sudah terbiasa menyiksanya, jadi itu bukanlah hal yang harus dia sesali.


Sarung pedang terbuka, Koza mengeluarkan pedangnya tanpa keraguan sedikitpun. Kazel hanya diam tak berdaya ketika pedang mulai di ayunkan.


“Ayah ….” Kazel melirih dengan tatapan kosong.


Seluruh tubuh Kazel tak bisa di gerakkan ketika rasa ketakutan menguasainya. Dia sering melihat kemarahan Ayahnya, tapi dia belum pernah merasakan amarah sekaligus kesedihan dari tatapan itu.


“Aku minta maaf ….” Hanya itu yang bisa di ucapkan Kazel.


Kazel menganggap kalau ini memang kesalahannya. Oleh karena itu, dia rela terbunuh jika itu kemauan Ayahnya.


Dia menutupi wajahnya dengan lengan seakan siap menghadapi kematian.


Ketika dia menutup mata, suara pedang jatuh terdengar. Hal yang tak dia inginkan kembali terjadi saat matanya melihat darah segar menyembur keluar dari dada Ayahnya.


Bahu Kazel kembali bergetar saat rantai besinya menembus dada Koza. Bahu Kazel bergetar melihat Ayahnya jatuh tak bernyawa.


“A-a-aghh ….” Teriakan Kazel tertahan dengan semua emosi yang bercampur. Dia hanya bisa berteriak tanpa suara sambil memegang kepalanya dengan gemetar.


“Kenapa … kenapa … kenapa ….” Wajahnya menunduk, Kazel terus menggumam dengan pikiran kosong.


Kemudian, Kazel menutupi mulutnya dengan telapak tangan, mencoba menahan suaranya yang tercampur dalam emosi.


Kazel sudah membunuh kedua orang tuanya.


Hatinya terus menolak, tapi kematian Koza dan Kalifa tak bisa di hindari


Kenapa dia harus memiliki kekuatan mengerikan ini? Kenapa rantai ini terus membunuh seseorang? Kazel tidak bisa menemukan jawaban itu. Dia hanyalah boneka yang di kendalikan oleh rantainya sendiri.


“Kekuatan ini … aku sama sekali tidak mengiginkannya ….” Air mata membasahi pipi Kazel ketika dia menatap rantai-rantai itu dengan pikiran kosong.


Malam terasa lebih dingin. Malam itu adalah bulan purnama.


Pandangan Kazel serasa kabur, nafasnya menjadi berat.


Di depan rumah tua itu, tersisa Kazel dengan tubuh orang-orang yang sudah menjadi mayat.


Kazel akhirnya paham.


Sejak awal dia yakin kalau rantai ini bukanlah kekuatan Link biasa. Ini adalah Link Rantai kematian yang dulunya


Nama Raychain dan kekuatan Link Rantai, jika di hubungkan mereka memiliki satu kesamaan. Yaitu, sifat haus darah.


“Rantai ini … aku … aku ….”


Pujian, itu adalah hal yang selama ini ingin Kazel dengar dari orang tuanya. Ketika dia sudah mendapatkan itu, mereka sudah mati.


Oleh karena itu, jawabannya sudah jelas.


“Aku akan terus membunuh. Ternyata benar, darah dari seseorang benar-benar terlihat cantik. Hehe … heheheh ….” Emosi dan perasaannya hancur, Kazel hanya bisa tertawa dengan suara mengerikan.


“Bunuh … bunuh … Tenang saja, Ayah, Ibu. Aku akan terus membunuh untuk membuat kalian senang.”


Semua yang terjadi, perasaan, emosi, semua menjadi satu dengan tawa. Kazel berjalan dengan pelan menuju tubuh kedua orang tuanya. Rantai-rantai besi itu yang masih melayang itu kembali menembus dada kedua orang tuanya.


Rantai itu menusuk dan menusuk berulang kali membuat darah segar bersimbur di wajah Kazel. Setelah puas, dia menurunkan badannya dan mengambil darah mereka.


Sambil menggosokkan darah mereka berdua ke rantainya, Kazel mengeluarkan senyuman kosong. Rantai yang awalnya berwarna abu-abu, sekarang berubah menjadi merah darah.


Rasa ketakutan seakan hilang dari pikirannya. Dengan mengoleskan darah mereka di rantainya, Kazel mulai merasa senang.


“Dengan ini aku bisa membanggakan kalian … hehee … hahahahaha!”


Rantai besi yang di penuhi darah itu melayang-layang seakan mengikuti suara tawanya. Kazel Raychain, dia harus terus membunuh untuk memenuhi keinginan Ayah dan Ibunya.


Karena sekarang, darah mereka berdua sudah menyatu bersama rantainya.


To be Continued…