Black Buster

Black Buster
Chapter 35 "Gracia Lilac"



Jangan lupa like dan votenya ya\~


-----------------------------------------------


Suasana menjadi sedikit memanas sejak kedatangan Gracia. Kedua mata para penduduk termasuk Tricia dan Levin tertuju kearah Lancer wanita yang memakai katana itu.


Sebelumnya Tricia begitu kaget ketika wanita bersamurai itu sempat memanggil Azka dengan nama lengkapnya. Tapi setelah dipikir pikir mungkin wanita itu pernah bekerja sama dengan Azka saat ia masih menjadi Lancer.


“Siapa wanita itu?” Tanya Tricia.


Disamping Tricia, kedua mata Levin begitu berbinar dengan kemunculan Gracia yang tiba tiba ditengah alun alun.


“Wah … apa dia punya kekuatan Link?!” Seru Levin tampak antusias.


Lalu, Levin dan Tricia memandangi Azka dan Gracia secara bergantian dan menyadari kalau Azka terlihat waspada dengan mengeluarkan kedua belatinya.


Ketika Gracia memanggilnya, Azka sama sekali tak kaget jika wanita itu mengenalnya. Saat masih menjadi Lancer, Azka pernah bertemu dengannya beberapa kali.


“Kenapa kau datang kemari?”


Kedua belati hitam erat digenggamnya, Azka sengaja melakukan itu karena tatapan Gracia mulai mengintimidasinya.


Senyuman kecil langsung terlukis di Gracia saat Azka melakukan pergerakan yang mencurigakan untuknya.


Suasana yang awalnya sedikit tegang mencair seketika saat Gracia tersenyum. Bahkan para penduduk Corael sampai terkesima melihat senyuman wanita berambut pendek merah muda itu.


“Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Azka.” Gracia memasang tatapan ramah kearah Azka.


Tatapan ramahnya sedikit membuat Azka kebinngungan. Ia tak pernah menyangka kalau dia adalah Lancer wanita yang bisa berbicara dengan ramah padanya. Saat masih menjadi Lancer, Azka mengira kalau wanita berambut pendek itu cukup dingin pada siapapun.


Gracia memperhatikan sekitar lalu menatap Vitto dengan tatapan masam.


“Keributan apa yang sebenarnya kau lakukan?!”


“Ka-kapten Gracia. Dia adalah Clint si manusia proyektil yang selama ini kita cari!” Vitto sedikit gugup saat menjelaskan.


“Ha?” Gracia terdiam lalu melihat Azka yang ditunjuk oleh Vitto.


Wajah Azka tampak masam ketika Vitto masih saja menuduhnya adalah Clint saat Gracia jelas jelas memanggilnya Azka Endorphane. Kebodohan orang itu sama sekali tak menunjukkan kalau dia adalah Wakil Lancer.


“Dasar bodoh!” Gracia memukul kepala Vitto dengan kuat.


“Sakit … kapten Gracia.” Vitto kesakitan dengan mata menggenang sambil memegang kepalanya.


“Dari penampilannya saja dia jelas jelas bukanlah Clint. Apa kau tidak memperhatikan daftar pencarian Clint Buster?!”


Gracia mengeluarkan sebuah gulungan kertas lalu membukanya. Kertas coklat yang dibukanya berisi foto wajah Clint yang cukup besar dan kedua anak buahnya yaitu Clive dan Fidel yang ukuran fotonya lebih kecil dari Clint.


Di tengah atas kertas itu bertuliskan ‘Dangerous Clint Buster’ yang menujukkan kalau mereka adalah Buster yang cukup berbahaya. Tepat di wajah ketiga orang itu terdapat tulisan angka dibawahnya.


Tulisan itu berisi Clint si Manusia Proyektil 1.200 Threat Power, Clive sang Penampil 800 Threat Power dan Fidel si penyambuk 500 Threat Power.


Threat Power atau orang orang menyebutnya nilai ancaman Buster adalah ukuran kekuatan seseorang berdasarkan ancaman atau tindakan kejahatan yang mereka lakukan. Semakin tinggi nilai Threat Power seseorang maka semakin berbahaya orang itu bagi kedamaian dunia.


Vitto memperhatikan ketiga wajah orang itu hingga menyipitkan matanya.


“Be-berarti aku salah orang …” Vitto sedikit berkeringat menyadari kalau dia menuduh orang yang salah.


“Gawat, gawat, gawat!” Seru Fidel yang masih terbaring dengan keadaan terikat.


Menyadari identitas dirinya dan Clint telah terbongkar, Fidel semakin ketakutan apalagi sejak kehadiran Gracia. Ia sejak tadi mencoba menutupi wajahnya karena tau Gracia selama ini mengincar kelompoknya.


“Ta-tapi, aku sudah menangkap salah satu anak buahnya yaitu Fidel si penyambuk!” Seru Vitto.


Tatapan tajam Gracia langsung mengarah kearah Fidel yang semakin ketakutan. Yang awalnya sedikit kesal karena kelakuan bodoh wakilnya, Gracia pun sedikit memaafkan kelakuan Vitto.


“Jadi kau menangkap salah satu anak buahnya ya.”


“Aku mohon jangan memukulku lagi kapten …”


“Aku memukulmu agar kau tidak mengulangi kebodohanmu!”


“Tapi itu menyakitkan kapten …”


Terlihat dari percakapan mereka sangat jelas kalau keduanya sudah lama mengenal satu sama lain. Mungkin lebih tepatnya, Gracia seperti senior yang galak dan tegas kepada pria berambut pirang dan mata berwarna coklat itu.


Vitto masih mengelus kepalanya akibat pukulan dari Gracia. Dengan sedikit kesakitan ia lalu menatap Azka beserta Tricia dan Levin. Jika mereka bukanlah Clint yang selama ini dicari lalu siapa mereka sebenarnya.


“Aku dengar kau menjadi Buster ya, Azka?” Gracia berbalik menatap Azka sambil memegang katananya.


“Apa orang itu yang mengatakannya?”


Gracia tersenyum kecil, “Aku bertemu dengan Yuga beberapa hari yang lalu. Aku sedikit terkejut saat ia membawa mantan wakil Izami kepenjara.”


“Izami dipenjara?!”


“Aku baru tau kalau dia adalah dalang yang membuatmu dikeluarkan dari pasukan Lancer.”


Ternyata Yuga memiliki sisi keadilan yang cukup tinggi dibalik sifatnya yang sering meremehkan orang lain.


“Jadi orang itu adalah Buster?!” Vitto kaget sambil menunjuk Azka ketika tau dia adalah Buster.


“Apa dia dari tidak sadar?” Tricia memasang wajah masam.


“Dia itu bodoh ya?” Tanya Levin dengan polos.


Tricia lalu menoleh kearah Levin dengan wajah malas, “Harusnya kau sadar diri.”


“Kau benar benar bodoh.” Ucap Gracia.


Setelah mengetahuinya, Vitto akhirnya paham kenapa Azka tetap menyerang anak buahnya. Tapi ia tak mengerti kenapa penduduk Corael seperti melindungi mereka.


“Berhubung kau adalah Buster ….”


Gracia tiba tiba menghilang dengan cepat hingga membuat semua orang terkejut.


Menyadari Gracia yang tiba tiba menghilang, Azka mengeluarkan kedua belatinya dan menahan serangan katana dari Gracia yang tiba tiba sudah berada dihadapannya.


“… aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja, Azka.” Gracia melanjutkan dengan raut wajah serius.


“Sudah kuduga kau akan menyerangku.” Azka menatap tajam kedua mata Gracia yang berwarna hijau tua sama seperti warna matanya.


Semua orang semakin terkejut termasuk Levin dan Tricia ketika Gracia tiba tiba menyerang Azka dengan cepat. Kecepatan Gracia bahkan sampai tidak menimbulkan suara apapun.


“Cepatnya!” Levin terkejut karena kecepatannya jauh melebihi dirinya. Ia bahkan tak pernah melihat manusia yang mampu bergerak secepat itu.


“Kau memang orang yang selalu waspada ya, Azka.”


Desikan katana dan kedua belati Azka semakin menguat saat Gracia terus menekannya.


“Jadi ini ya kekuatan Quick Link.”


Setelah menyerangnya, Gracia lalu mundur dengan cepat. Kecepatan dari kekuatan Quick Link bahkan sulit untuk dibaca oleh mata telanjang.


“Kau tau banyak tentangku ya.”


Katana yang begitu tajam dengan gagang yang serba putih sangat kontras dengan pakaiannya yang berwarna pink keunguan.


Bagi Gracia Lilac, kekuatan Quick Link saja tidaklah cukup untuk menjadi kuat. Jadi dia berlatih untuk menggunakan katana sejak kecil dan berhasil menjadi Kapten yang cukup ditakuti oleh Buster.


Selain mengetahui Link milik Gracia, Azka memang sering mengamati siapapun entah itu rekan apa lawan. Karena ia tak pernah tau kalau mereka akan menjadi musuhnya suatu saat nanti. Dan semua itu terbukti sejak menjadi Buster dengan Gracia yang baru saja menyerangnya.


“Apa kau akan menangkapku disini?”


“Tergantung apa yang kau lakukan, Azka Endorphane.” Gracia tersenyum seakan merencanakan sesuatu.


Dan benar saja, Gracia kembali bergerak dengan cepat dan menyerang Azka secara beruntun. Beruntung Azka menyadari pergerakannya dan menahan seluruh serangannya.


Menyerangnya secara tiba tiba, Azka sama sekali tak mengerti dengan isi pikiran wanita itu. Selain itu, kecepatan serangannya juga sangat merepotkan. Bahkan ia tak bisa melihat kemana wanita itu menyerang.


Azka hanya mengandalkan insting dan suara ayunan katana dari Gracia untuk menahan semua serangannya.


Sementara itu, Levin yang dari kejauhan melihat keduanya bertarung malah semakin antusias.


“Oi! Aku juga ingin bertarung dengannya!” Levin merasa tersaingi karena dia sangat tertarik dengan kecepatan wanita itu. Mungkin dengan mengalahkannya bisa membuatnya jadi lebih kuat.


Disamping Levin berdiri, Tricia hanya terdiam melihat pertarungan Azka dan Gracia. Dia sama sekali tak mengerti kenapa wanita berambut pendek berwarna pink keunguan itu menyerang Azka secara tiba tiba.


Mungkin saja Gracia menyerangnya karena masalah pribadi, mengingat Azka yang dulunya sangat dibenci oleh orang orang.


“Black Slash!”


Setelah cukup lama terdesak oleh serangan beruntun dari Gracia, Azka mulai geram dengan mengeluarkan tebasan hitamnya.


Menyadari itu, Gracia dengan cepat menangkis serangan itu karena ia tak ingin tebasan Azka meleset dan menghancurkan bangunan yang masih dibangun penduduk desa.


Azka terdiam sejenak, ia tau kalau menebasnya secara gegabah akan mengenai bangunan desa yang sudah dibangun siang malam oleh penduduk Corael. Tapi ia juga tau kalau Gracia akan menghentikan serangannya.


“Kau sengaja melakukan itu ya?”


“Aku tau kau akan menghentikan tebasanku.”


Setelah percakapan singkat, mereka mengenggam senjatanya masing masing untuk kembali bertarung.


Penduduk desa yang melihat dari kejauhan tampak ketakutan dengan kekuatan mereka berdua. Selain mereka yang akan bertarung habis habisan, penduduk desa juga risau jika pertarungan kedua orang itu bisa menghancurkan beberapa bangunan.


“Aku mohon hentikan!” Tiba tiba Hardy menampakkan wajahnya dan berdiri ditengah tengah pertarungan mereka. Mata kakek tua itu tampak tajam ketika melihat Azka dan Gracia secara bergantian.


Merasa tatapan Hardy benar benar serius, Azka dan Gracia kompak menurunkan senjatanya dengan perasaan bingung.


To be Continued …