
“Bawa anak-anak itu kemari!” teriak Parviz.
“Ba-baik ketua!” Setelah menunduk, anggota Crimson Buster itu langsung berlari ke salah satu ruangan markas mereka.
Sebelumnya, Parviz memerintahkan salah satu anak buahnya untuk membawa Alan dan Cornelia ke hadapannya. Karena rencana menangkap Filia telah gagal, dia mulai membuat pergerakan.
Perasaan Parviz sekarang ini sedang tidak bagus akibat gagalnya Chyntia dan Kazel. Di tambah para penganggu yang sekarang ikut campur dan menghalanginya.
Sedangkan Chyntia hanya berdiri diam dengan wajah menunduk. Dia tidak tahu harus berbuat apa selain menyimpan perasaan khawatir pada Kazel.
Sudah lama Chyntia tidak melihat Kazel hilang kendali seperti waktu itu. Dia tahu kalau Kazel memiliki masa lalu kelam yang membuatnya seperti itu.
Entah kenapa rasanya sangat hampa ketika Kazel tidak ada di sisinya.
“Kenapa kau diam saja, Chyntia?”
Suara dari Parviz membuat Chyntia terbangun dari lamunannya.
“….” Chyntia tak mengatakan apapun dengan ekspresi murung.
Parviz memsang tatapan tajam, dia tahu kalau wanita berambut hitam di depannya ini sekarang sedang mengkhawatirkan Kazel.
“Berhenti menghkhawatirkan orang itu!”
“Ta-tapi ….” Chyntia berusaha menjelaskan dengan menurunkan wajahnya.
“Anggap saja itu hukuman untuknya. Kalau dia memang bisa bertahan, berarti aku memang tidak merekrutnya menjadi anggotaku.”
Bahu Chyntia menurun mendengar jawaban itu. Memang terdengar tidak mustahil, tapi selama ini Kazel tidak pernah bisa bertahan dari Link rantainya yang sering hilang kendali. Kecuali, Parviz dan Mirio yang biasa menghentikannya dengan cara kasar.
Chyntia sudah menganggap Kazel lebih dari sekedar anggota Crimson Buster. Oleh karena itu, dia berniat menghentikannya. Tapi … dia mulai merasakan aura membunuh dari belakangnya.
“Jangan coba-coba menentang perintahku, Chyntia … atau aku akan membunuhmu ...."
Kedua mata Chyntia terbelalak, bibir dan bahunya mulai bergetar mendengar ancaman itu.
Tatapan Parviz saat ini menujukkan kalau ancaman itu benar-benar serius. Tidak, memang seperti itu sifat Parviz Benedict, pemimpin Crimson Buster. Bahkan Chyntia tidak bisa berkata apa-apa.
“Sebaiknya kau tetap di sini dan mematuhi perintahku ….”
Mengatur nafasnya, Chyntia berusaha menenangkan dirinya. “Ba-baik … maafkan aku Parviz-san.”
Jawaban itu membuat Parviz tersenyum kecil. Sedangkan Chyntia hanya menurunkan wajahnya. Melawan orang yang mendapat julukan sang penebas api sama saja bunuh diri, dan Chyntia sangat mengetahui itu.
Meski dia tidak memiliki kekuatan Link, tapi dia sangat kuat dan di takuti. Itulah Parviz Benedict.
“Ketua, aku sudah membawa mereka ….” Salah satu anggota Crimson Buster yang sempat di perintah Parviz akhirnya kembali, tentu saja dengan membawa Alan dan Cornelia yang dalam keadaan terikat.
Orang itu sempat kebingungan dengan suasana ruangan itu. Pura-pura tak peduli, orang itu lalu menjatuhkan Alan dan Cornelia di hadapan mereka.
Mereka berdua terlihat sangat berantakan dengan mata setengah terbuka. Alan mencoba membuka matanya, dan diapun mulai gemetar melihat Parviz ada di hadapannya. Sedangkan Cornelia terus memejamkan mata saking ketakutannya.
Reaksi Parviz hanya datar melihat tatapan Alan yang ketakutan.
“Teman kalian sepertinya beruntung kali ini ….”
Spontan tatapan Alan melebar. “Filia?! apa yang sebenarnya kalian rencanakan?!”
Senyuman kecil yang mencurigakan keluar dari wajah Parviz. “… kau tak perlu khawatir, sebentar lagi monster kecil itu bisa bergabung bersama kalian.”
“Dia bukanlah monster ….”
“Ya itu benar, dia bukanlah Monster, tapi sebentar lagi dia akan menjadi seekor budak.”
“… apa maksudmu?! Kalian sudah membuat perjanjian bukan?! Filia pasti memenuhi perjanjian itu!”
“… heheheh tenang saja, akan kupastikan dia memenuhi permintaanku … tentu saja termasuk dia sendiri.”
Mata Alan melebar mendengar jawaban itu. “Jangan bilang kau ….”
“Apa kau pikir temanmu itu bisa lolos dariku?!” Parviz mulai meninggikan suaranya. “Harusnya kalian tahu sedang berurusan dengan siapa!”
Karena begitu menakutkan, Cornelia hanya diam memejamkan mata sambil mendesah ketakutan. Sedangkan Alan sama sekali tak bergeming dengan tatapan Parviz.
“Jadi kau membohonginya?!”
“Tutup mulutmu bocah tengik!” bentak Parviz. “Sekarang, beri tahu aku di mana teman kalian bersembunyi?!”
***
“… yang benar saja ….” Sambil menggumam, Levin memasang ekspresi mengeluh dan membuang nafas berat.
Harapannya untuk makan malam harus di tunda. Kazel sekarang mengayunkan rantai yang melayang di udara. Padahal dia sudah membayangkan makanan enak, tapi pertarungannya masih belum selesai.
“Tunggulah sebentar lagi … Ayah … Ibu ….” Dengan tatapan kosong, Kazel melesatkan rantainya secara cepat.
Serangan itu sudah terbaca oleh Levin, dan mudah untuk di hindari. Gerakannya memang melambat, selama dia bisa membaca gerakan rantai miliknya, itu bukanlah masalah besar.
Misi utama Levin sekarang hanya satu, yaitu menghajarnya.
“Aku akan membanggakan kalian … kumohon tunggulah sebentar lagi ….”
Kata-kata itu terus di gumamkan Kazel setiap dia ingin menyerang. Dan itu membuat Levin semakin kesal, lebih tepatnya kesal karena dia sama sekali tak mengerti dengan kata-kata yang terus di ucapkan lelaki berambut coklat itu.
“Chain Destruction!”
Sesuai dugaan, Levin melompat menghindari serangan itu dengan mudah. Rantai itu terus menyerangnya dengan gerakan yang sama secara berulang-ulang.
Hal itu membuat Levin sedikit di unggulkan.
Tapi tetap dia tidak mudah di dekati, karena rantai-rantai besi itu terus mengelilingi Kazel seakan melindunginya.
“Bloody Chain: Scorpio Dance!” Seluruh rantai yang berjumlah belasan itu menggeliat seperti ular dan menyerang secara agresif ke Levin.
“Gawat ….”
Familiar dengan serangan itu, Levin langsung berlari ke belakang rumah-rumah kota Hayate. Rencananya berhasil, rantai-rantai itu menabrak dinding rumah yang terbuat dari beton batu.
Untuk sesaat Levin merasa lega, tapi perasaan lega seketika memudar saat rantai-rantai itu mampu menghancurkan dinding rumah dan menyergapnya seperti seekor tikus.
Hantaman dari rantai itupun menggema di sebagian kota Hayate.
“… tadi itu berbahaya sekali.”
Pecahan beton ternyata masih melindungi Levin dari serangan Kazel. Dia sudah sempat befirasat buruk jika serangan itu benar-benar mengenainya.
Beton yang melindunginya terjatuh.
Sekarang, Levin memasang tatapan intens ke Kazel sambil mengepalkan tangannya. Ketika menyiapkan serangan balik, Levin kembali mengernyit.
Terlihat air mata kembali membasahi pipi Kazel. Tapi anehnya, dia menangis sambil tertawa dengan suara yang terdengar menakutkan.
Ya, sejak tadi Levin terus penasaran dengan sikap Kazel yang berubah drastis sejak pertama kali bertemu. Awalnya gila, kemudian hilang kendali, dan sekarang dia menangis sambil tertawa.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan orang itu?
“Aku pasti akan membanggakan kalian … heeheheheh ….”
Terus tertawa dengan menitihkan air mata, Levin semakin di buat kebingungan dengan sikap Kazel.
“Biarkan sajalah.” Levin mulai bersiap untuk menyerang balik. “Sekarang aku harus mengalahkannya sebelum perutku semakin keroncongan.”
Tepat setelah mengatakan itu, Levin berlari secara cepat dengan mengepal kedua tangannya. Rantai-rantai itu mencoba menghentikannya, tapi tidak ada satupun terkena karena Levin mampu menghindarinya.
“Tunggulah sebentar lagi … Ayah … Ibu ….” Terus menggumam dengan rantainya, Kazel melihat pergerakan Levin dengan tatapan kosong.
“Aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapanmu!, jadi hentikan itu sialan!” Mulai kesal, Levin meneriakkan itu dengan risih.
Teriakan Levin terdengar di telinga Kazel. Ketika dia melihat asal suara Levin, alisnya menaik. Jelas dia terkejut dengan kehadiran Levin yang sudah berada di hadapannya.
“Ayah? Ibu? aku sudah bosan mendengarnya!” Levin menumpahkan kekesalannya sebelum mendaratkan pukulan. “Death Blow!”
Sesaat cahaya kuning terpancar dari tangan Levin ketika menghantam perut Kazel dan membuatnya terlempar. Kali ini Levin sudah mengeluarkan sisa kekuatannya di Death Blow tadi.
Kedua kakinya mulai lemas, Levin berlutut seakan kehabisan tenaga. Sambil mengatur nafasnya, dia melihat Kazel terbaring di reruntuhan bangunan.
Levin tidak yakin kalau dia sudah mengalahkannya. Itu semua karena asap di sekitar Kazel terbaring menghalangi pandangannya.
“Kau ….”
Mengernyit, itulah reaksi Levin ketika mendengar Kazel bergumam. Ternyata dugaannya benar kalau Kazel masih bisa berdiri.
“Kau … tahu apa tentang diriku?!” Teriakan Kazel mulai di penuhi amarah.
Melihat itu, Levin sedikit merasa senang dengan senyuman kecil. Entah karena pukulannya atau apa, Kazel tampak kembali ke dirinya seperti saat pertama kali bertemu.
“Hahaha, sepertinya kau sudah kembali ke dirimu,” ucap Levin.
Alasan Levin merasa senang hanya satu, dia ingin bertarung melawan pria itu dengan kesadarannya sendiri.
“Aku akan membunuhmu! Spiked Swing!”
“Yosh, sepertinya pertarungan ini kembali menarik.”
Rantai berduri Kazel lalu berayun dengan cepat ke Levin. Merasa bersemangat, Levin menghindar dengan cepat dan mendekat ke Kazel.
“Ayah … Ibu … lihatlah ini! aku pasti akan membanggakan kalian!” Sambil berteriak, Kazel terus mengayunkan rantainya secara agresif.
Pikiran dan tatapannya tidak lagi kosong. Kazel sudah bisa mengendalikan dirinya kembali, mungkin itu akibat pukulan Levin yang di terimanya.
“Bangga? Aku sama sekali dengan ucapanmu!” Dengan polos Levin menanyakan itu sambil berlari menghindar dari hujan rantai tersebut.
Kazel mulai menggumam sambil menurunkan wajahnya. “Membunuh … jika aku terus membunuh mereka akan bangga padaku ….”
Perlahan emosinya mulai di selimuti kemarahan. Kazel lalu menaikkan wajahnya dan memasang tatapan tajam.
“Oleh karena itu … aku akan membunuhmu!”
“Apa maksudnya itu?” Levin menggumam pada dirinya sendiri. Dia masih di landa kebingungan dengan ucapan itu.
Membunuh? Membuat bangga? Memikirkan pertanyaan itu membuat Levin pusing.
“Sudah kukatakan kau tidak tahu apa-apa tentangku!”
“Aku memang tidak tahu apa-apa tentangmu!” balas Levin. “Membunuh untuk di banggakan? aku belum pernah mendengar tentang itu. Apa mereka memang berada di sini? aku sama sekali tidak melihatnya loh.”
“Ayah, Ibu, mereka semua melihatku. Tentu saja karena darah mereka sudah menyatu bersama rantaiku!” Selesai berteriak, Kazel mempercepat serangan rantainya.
Sebaliknya, gerakan Levin semakin melambat saat menghindarinya. Alisnya mengernyit, mendengar kebenaran dari rantai besi itu.
Dugaan Levin ternyata benar, ternyata rantai yang berwarna hitam itu adalah darah yang sudah lama mengering. Tapi dia semakin terkejut mengetahui darah itu milik orang tuanya sendiri.
Orang itu sudah kehilangan akal sehat. Itulah kesan Levin terhadap Kazel.
“Jadi … darah itu milik orang tuamu hah?!” Levin meninggikan suaranya sambil tersenyum. Dan Levin melanjutkan kata-katanya. “Kau benar-benar mengerikan.”
Berbicara itu, Levin tidak sadar kalau dia sudah terkena beberapa goresan rantai besi. Lukanya terbuka dengan darah yang mulai menetes. Meski begitu Levin sama sekali tak bergeming dan mempercepat gerakannya.
“Itu bukanlah urusanmu!” Tanpa memberi ampun, Kazel terus menyerang secara membabi buta.
“Masa lalu apa yang sudah kau alami, aku sama sekali tidak tahu dan tidak peduli.” Levin mengatakannya sambil terus menghindar. “Tapi … caramu benar-benar salah!”
“DIAM KAU!”
Belum sempat mengatakan apapun, Levin terkena salah satu serangan Kazel hingga menerbangkannya.
“Ugh ….” Kesadaran Levin belum hilang, meski darah terus mengalir dari luka sayatnya.
Tersenyum, Levin hanya mengeluarkan ekspresi itu. Dia sudah mengatakan beberapa kalimat pada Kazel, dan itu membuatnya sedikit lega.
Tentu perasaan itu tidak bertahan lama ketika sudah di hadapkan beberapa rantai. Kazel, ternyata sudah berdiri di samping tubuhnya yang terbaring lemah.
Tatapan Kazel sekarang di penuhi amarah yang meluap. Dia mengangkat tangannya seakan bersiap memberi tanda pada rantainya untuk menyerang.
“… sial … aku tidak boleh mati di sini ….” Levin menggumam, tapi Kazel tak peduli.
Kazel terus menatapnya dengan tajam. “Kau tidak tahu apa apa tentangku … dan kali ini akan kupastikan Ayah dan Ibu melihatku membunuhmu!”
Levin mulai panik sambil menggerakkan tangan dan kakinya, tapi semua itu sia-sia. Ternyata kaki dan tangannya sudah terikat oleh rantai besi. Sekarang dia sudah terpojok seperti seekor kelinci.
Yang benar saja?!
Dengan berat hati, Levin memejamkan mata ketika Kazel mulai mengayunkan rantai itu.
Maaf … Azka, Tricia … aku tidak bisa menyusul kalian ….
Saat membenakkan itu dalam hati, tiba-tiba terdengar suara percikan. Tidak, mungkin lebih tepatnya suara besi yang bertabrakan.
Levin perlahan membuka matanya, dan mulai mengernyit.
“Azka ….”
Pria yang sudah tidak asing baginya datang menangkis semua rantai milik Kazel dengan belati hitamnya. Azka hanya berdiri membelakanginya, tatapan tajam terlihat dari matanya. Sedangkan Kazel hanya bisa terdiam dengan mata terbelalak.
Ketika Levin tenggelam dengan kebingungan, Azka mulai membuka mulutnya dan berbicara.
“Aku sempat bingung kenapa kau begitu lama.” Sebelum melanjutkan ucapannya, Azka menoleh ke belakang. “Ternyata kau hanya tidur-tiduran saja di sini, Levin sialan!”
Selesai mengatakan itu, Azka tersenyum kecil pada Levin.
To be Continued…