Black Buster

Black Buster
Chapter 12 "Sincere Smile"



Matahari terlihat meninggi di desa Torbe. Beberapa orang dari pasukan Lancer terlihat mendatangi desa yang masih dalam perbaikan.


Yuga yang memimpin para anak buahnya mendatangi kakek Buris dengan tatapan datar. Sejak kedatangannnya ia mengamati bahwa para penduduk berusaha untuk membangun kembali desa mereka yang telah hancur dari serangan Grant Wolf.


Kakek Buris terkejut ketika melihat Yuga dan pasukannya mendatangi mereka. Ia secara terburu buru mendatanginya dengan perasaan senang.


“Kapten Yuga, anda datang juga kesini,” ucap Buris berseri seri.


“Nampaknya masalah desa ini sudah beres ya.”


“Ya, terima kasih atas bantuan yang telah dikirimkan pada kami. Aku tidak tau harus membalas budi dengan apa.”


“Tak masalah, sebenarnya aku tidak tau dia akan pergi atau tidak. Tapi aku tau kalau dia pasti akan membantu kalian.”


Mereka membicarakan Azka yang telah menyelamatkan desa Torbe dari bayang bayang Grant Wolf. Yuga sebelumnya telah menawarkan pertolongan desa ini padanya tapi Azka menolaknya. Meskipun begitu Yuga tau kalau Azka akan tetap pergi menyelamatkannya.


“Begitu ya … dia orang yang sangat baik. Dia bahkan memberi Inti dari Grant Wolf itu untuk membantu pembangunan desa kami.”


Yuga tersenyum kecil mendengarnya, “Apa kau tau dia pergi kemana sekarang?”


“Entahlah … dia baru saja pergi beberapa jam yang lalu. Sebelumnya dia datang kesini bersama seorang gadis. Mungkin dia adalah


temannya.”


“Seorang gadis?”


Yuga kebingungan mengetahui Azka datang kedesa Torbe bersama seorang gadis. Ia berpikir mungkin orang yang di maksud Kakek Buris adalah anggota Busternya.


“Ya … mereka terlihat akrab.”


“Begitu ya … yang penting keadaan desa ini sudah terselesaikan. Kalau begitu saya permisi.”


Yuga bersama pasukannya berbalik untuk pergi dari desa Torbe.


“Terima kasih banyak,” ujar Buris memasang wajah cerah.


“Kapten, kita ada pertemuan dengan Raja Edric malam nanti.” Salah satu pasukannya mendekat ke arah Yuga.


Yuga menghela nafasnya, “Apa yang raja itu ingin bicarakan?”


“Saya kurang mengerti tentang hal itu.”


Yuga sebenarnya sedikit membenci Raja dari kerajaan Oleander itu. Dia membenci Edric karena orang itu terlalu menspesialkan Izami dan memandang rakyatnya dari status sosial hingga menyebabkan diskriminasi.


“Baiklah … kita pergi kesana sekarang.” Yuga menoleh ke mereka dengan tatapan datar.


“Baik!” Teriak seluruh pasukannya yang berjumlah 4 orang itu.


***


Matahari turun di bawah cakrawala, dan waktu telah memasuki malam. Azka dan Tricia tiba dikota Olean sejak meninggalkan desa Torbe. Azka merasa kelelahan setelah perjalanan cukup panjang dan berniat untuk istirahat di penginapan.


Ia juga tidak ingin Tricia kembali demam karena kurangnya perlengkapan saat berkemah di hutan.


Suasana kota Olean saat itu cukup ramai dengan berdirinya beberapa stan makanan ringan di sepanjang jalan.


Mata Tricia berbinar saat melihat jajanan yang di jual. “Wah … kota ini benar benar ramai saat malam.”


“Tentu saja, setiap minggu memang jalanan ini selalu mendirikan lapak jajanan.”


“Apa kau tidak ingin membelinya?”


Mereka sebelumnya telah menangkap beberapa monster kecil di perjalanan. Jadi, mereka tak perlu memikirkan soal uang.


Azka menatap Tricia yang terlihat berseri seri itu. Sepertinya Tricia ingin mencoba salah satu makanan yang di jual.


“Mungkin aku ingin mencobanya,” ucap Azka dengan tatapan datar.


Mereka berjalan melihat lihat beberapa lapak makanan yang di jual. Tatapan benci dari para warga di rasakan oleh Azka tapi dia tidak peduli.


“Sepertinya ini enak.” Tricia mendekat ke salah satu lapak yang menjual daging tusuk.


“Selamat datang.” Penjual itu berusaha memasang wajah ramah ketika Azka mendekatinya.


“Aku mau ini 2” Tricia menunjuk sambil tersenyum manis ke penjual itu.


“B-baik.” Penjual itu larut dalam senyuman Tricia.


Tricia menyadari kalau Azka tidak nyaman dengan tatapan penjual itu. Ia berusaha mencairkan suasana agar Azka ikut menikmati waktu senggangnya.


Penjual itu memberikan 2 tusuk daging kepada Tricia.


“Cobalah Azka,” ucap Tricia sambil menawarkan daging tusuk.


Azka terdiam melihat Tricia karena ia terlihat senang saat bersamanya. Padahal tatapan kebencian dari warga bisa saja membuatnya tidak nyaman.


“Terima kasih.” Azka mengambil daging tusuk itu.


“Enak!” Tricia terlihat menikmati makanannya.


Azka melihat daging tusuknya dengan tatapan datar. Ia lalu memakan makanannya secara perlahan.


“Bagaimana rasanya?” ucap Tricia dengan mata berbinar.


“Enak.” Azka berbohong dengan mengatakan enak. Padahal ia sama sekali tidak bisa merasakan rasa dari makanannya.


Setelah membayar makanan, mereka berjalan menuju penginapan di kota Olean. Mereka memasuki penginapan yang cukup besar.


Pemilik penginapan itu memasang wajah mendekati kemarahan saat melihat Azka. Tapi setelah Tricia mendekati konternya pemilik itu memasang senyum ramah. Tricia sepertinya ahli dalam mengendalikan orang orang yang benci terhadap Azka.


“Selamat datang, mau pesan berapa kamar?”


“Aku pesan dua kamar.”


“Apa kau yakin kita pesan dua, Azka?”


Azka terdiam kebingungan.


“Kita pesan satu kamar yang punya dua kasur, apakah ada?” sambung Tricia.


“Baiklah, silahkan.” Pemilik penginapan itu memberi kunci kamar ke Tricia.


“Terima kasih.”


Mereka naik ke lantai 2 penginapan menuju kamar mereka. Lalu mereka membuka pintu dan melihat kamar yang cukup besar dengan 2 kasur yang nyaman.


“Kenapa kau hanya memesan 1?” ucap Azka dengan kebingungan.


“Kita harus berhemat kan? Lagipula kamar dengan 2 kasur jauh lebih murah.”


Tricia memang ada benarnya tapi, Azka sebenarnya hanya ingin berisitarahat sendirian.


“Entah kenapa rasanya benar benar nyaman ketika telah melakukan perjalanan panjang.” Tricia berbaring di salah satu kasur.


Azka mengeluarkan daggernya dan duduk disebuah kursi. Ia membersihkan dagger dan melihat uang yang didapatkan sebelumnya.


“Terima kasih, Azka,” ucap Tricia tersenyum kecil.


“Untuk apa?”


“Saat melawan Monster itu kau sampai terluka karena melindungiku. Aku benar benar berterima kasih.”


“Entahlah … saat itu tubuhku bergerak sendiri.”


Tricia tersenyum kecil melihat Azka, “Kau tau Azka, kau harusnya bisa lebih terbuka padaku.”


“Maksudnya?”


Azka terdiam tanpa berbalik ke arah Tricia.


“Aku memiliki masa lalu yang membuatku takut untuk melukai musuh. Dan karena itulah aku sampai kehilangan kedua orang tuaku ….”


“Kenapa … saat itu kau tidak melarikan diri?"


“Aku tidak ingin kejadian yang sama kembali terulang, karena aku … tidak mau kehilangan seseorang yang berharga bagiku.” Tricia tertunduk murung.


"Berharga …?”


Azka terkejut mendengar perkataannya. Kenapa Tricia menganggapnya seseorang yang berharga?


“Aku sudah tidak memiliki siapa siapa, bahkan aku tidak memiliki tempat untuk kembali. Dan saat bersamamu aku tau kalau kita sebenarnya mirip. Jadi aku harap … kau bisa lebih terbuka padaku.” Tricia tersenyum kecil ke arah Azka.


“Kenapa … kenapa setelah kau mengalami hal itu semua, kau bisa tersenyum dengan mudah?!”


Azka mulai kesal karena tak mengerti dengan sikap Tricia selama ini. Setelah melewati masa kelamnya, kenapa dia masih tetap tersenyum?


Tricia tersenyum hingga menyipitkan matanya, “Karena … dengan tersenyum kau bisa menghilangkan semua bebanmu kan?”


Azka terdiam dan terkejut mendengar ucapan dari Tricia. Ia teringat dengan perkataan Mia yang persis dikatakan oleh Tricia sebelum ia meninggal.


Kenapa … kenapa dia mengatakan hal itu


dengan mudah?! Azka semakin kebingungan dengan maksud perkataan Tricia.


Suasana kamar menjadi sedikit canggung. Tapi Tricia selalu mencairkan suasananya dengan senyuman. Tricia bersyukur kalau ia benar benar bisa berteman dengan Azka.


Azka hanya menatap Tricia dengan tatapan kosong. Ia sampai sekarang tidak tau kenapa Tricia menganggap dirinya berharga.


***


Pagi telah menyinari seluruh kerajaan Oleander.


Azka berjalan di jalanan kota menuju tempat Yasue sendirian, ia sejak semalam tidak bisa tidur nyenyak karena terus kepikiran ucapan Tricia.


Dia meninggalkan Tricia di penginapan karena sepertinya dia belum tidur nyenyak sejak dari desa Torbe.


Ia membuka pintu toko secara perlahan dengan memasang wajah datar.


Yasue yang sedang merapikan tokonya tiba tiba kaget melihat Azka yang wajahnya terlihat berantakan.


“Oi … kau ini kurang tidur ya?”


“Bukan urusanmu pak tua.” Azka mendekat ke meja kasir.


“Cih, sikapmu itu masih belum berubah.”


Azka meletakkan panah Tricia yang terbelah dua sejak pertarungannya melawan Grant Wolf.


“Panah itu …?” Yasue mengamati panah milik Tricia yang dibawa Azka.


“Ada sedikit masalah saat di desa Torbe dan dia tidak sengaja merusak panahnya.”


“Desa Torbe? Kudengar desa itu sedang di serang oleh Monster saat malam hari,” ucap Yasue sambil memegang dagunya.


“Darimana kau mengetahuinya?”


“Aku mendengar dari beberapa warga. Tapi sekarang desa itu telah ditolong oleh Kapten Yuga.”


“Apa?!” Azka terkejut ketika mengetahui kalau Yuga yang menyelamatkannya.


Lalu dia menghela nafasnya dan menerima hasil itu. Ia sudah terbiasa menerima kabar seperti itu sejak Azka masih menjadi Lancer.


“Kenapa kau begitu terkejut, bocah?” Yasue kebingungan melihat reaksinya.


“Tak apa.”


“Lalu kemana pacarmu itu? kau harusnya tidak boleh meninggalkannya sendirian,” ucap Yasue sambil sedikit menggodanya.


“Sudah kubilang dia bukan pacarku pak tua! Dan aku memang meninggalkannya di penginapan. Dia sepertinya kelelahan saat perjalanan kemarin.”


“Begitu ya … lalu, panah ini kenapa?” Yasue menunjuk panah yang ada di mejanya.


“Apa kau bisa memperbaikinya jadi lebih kuat? Sepertinya panah itu terlalu mudah dihancurkan.”


“Kenapa permintaanmu banyak sekali? Kau pikir aku hanya bekerja untuk memperbaiki panah yang rusak?”


“Hanya kau yang bisa memperbaikinya.”


“Cih, jangan membuatku besar kepala bocah! Sepertinya kau sangat perhatian padanya hingga menyuruhku membuat panah yang lebih kuat. Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?” Yasue kembali menggodanya dengan mata


berkilat.


“Aku hanya tidak ingin dia menghambatku.”


“Alasan macam apa itu? Kalau begitu terus kau tidak akan mendapatkan wanita.


“Aku tidak ingin mendengar itu dari seseorang yang bahkan belum menikah.”


Yasue panik ketika Azka membalikkan ucapannya, “Ehem, kalau begitu serahkan saja padaku. Oh iya, sebelum kau kemari tadi Izami datang ketempatku.” Yasue memasang wajah serius.


“Lalu? Bukannya itu hal yang wajar? Tokomu tidak hanya terbuka untukku kan?”


“Bukan itu maksudku. Dia sepertinya mengetahui kalau Tricia adalah pelarian budak.”


“Apakah itu masalah yang besar?”


“Kau ini bodoh ya? Tentu saja itu masalah yang besar. Jika ia sampai tau gadismu itu akan di bawa oleh mereka. Mungkin sekarang dia menganggapmu sebagai penjual budak dan ingin merebut Tricia darimu.”


Yang di ucapkan oleh Yasue memang benar, tapi Azka menduga kalau Izami sedang merencanakan sesuatu. Dia juga yakin kalau Izami tidak terlalu tertarik dengan perdagangan budak seperti yang di lakukan Lancer lainnya.


“Begitu ya … kalau begitu aku pergi dulu.” Azka berjalan pergi menuju kepenginapan.


“Ya ….” Yasue hanya melihat Azka dengan tatapan khawatir.


***


Azka kepikiran dengan Izami yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Tapi saat ini ia yakin kalau Izami masih belum mengetahui keberadaannya.


Sesampainya di penginapan ia naik menuju lantai dua dan mendatangi kamarnya.


Tok! Tok! Tok!


“Tricia, apa kau sudah bangun?” Azka mengetuk pintu kamarnya karena tidak ingin menganggu Tricia yang sedang tidur.


Setelah beberapa lama menunggu jawaban, Azka lalu membuka pintu dan masuk kedalam.


Ia terdiam ketika melihat Tricia menghilang dari kamar. Tempat itu terlihat berantakan disertai barang barang yang ikut berceceran.


Ternyata ucapan dari Yasue benar, Izami sepertinya berniat mengincar Tricia.


Tapi, Azka memasang wajah tenang ketika mengetahui hal itu. Dia berpikir kalau Izami sedang membawanya ke tempat yang lebih layak.


Seharusnya memang begini, Tricia …, benak


Azka dengan tatapan datar.


Ia harusnya tau kalau Tricia memang tidak bisa terus bersamanya. Karena ia dari awal selalu sendirian. Dia lalu melihat keluar


jendela dan mengingat masa lalunya bersama Mia.


To be Continued…