Black Buster

Black Buster
Chapter 62 "Drowned in Compliment"



Meski Azka sekarang berdiri membelakanginya, Levin memasang tatapan seakan tak percaya. Apalagi dia sampai repot-repot datang ke kota Hayate.


Tapi bagaimanapun, kedatangannya membuat Levin tersenyum lega.


“Siapa juga yang tiduran di sini … aku hanya kelaparan saja.”


Azka tersenyum kecil, “Hm, ternyata kau memang Levin. Aku kira aku sudah menolong Levin yang salah.”


Tepat setelah mengatakan itu, Azka menghempas belatinya untuk mendorong mundur Kazel.


Rantai-rantai yang sempat mengikat Levin akhirnya terlepas. Dengan uluran tangan Azka, Levin kembali berdiri dengan beberapa darah di lukanya.


“Kenapa kau bisa terluka seperti itu?” Azka mengatakan itu dengan kesan menyindir.


Levin menggaruk kepalanya dengan ekspresi polos. “Hahaha, aku juga tidak mengira bisa terluka seperti ini.”


“Kurasa isi kepalamu itu semakin terluka ….”


Diam sambil menurunkan wajahnya, Kazel sedikit terkejut dengan kehadiran Azka yang tiba-tiba. Tapi tidak lama dia mulai tersenyum sinis.


“Sepertinya aku harus membunuh satu orang lagi ….”


Ketika mendengar itu, Azka mulai terdiam sambil mengenggam kedua belatinya.


Melihatnya siap bertarung, tatapan Kazel berubah menjadi bersemangat. “Kali ini aku aku membawakan dua korban untuk kalian … Ayah, Ibu, hehehaha!”


Menghadapi cara bicara Kazel, Azka hanya bisa mengernyit. Menilai dari kata-katanya, dia adalah pria yang cukup aneh. Apalagi dia mengucapkan sesuatu tentang Ayah dan Ibu,


“Jadi, kau salah satu anggota Crimson Buster?” tanya Azka.


Kazel tersenyum kecil sebelum berbicara, “Kau adalah Buster yang mengacau kemarin bukan? Aku cukup beruntung bisa bertemu kalian berdua sekaligus.”


Tentu Kazel masih ingat dengan rumor kalau ada dua Buster yang membuat kekacauan demi menyelamatkan FIlia. Dia bisa tahu kalau orang itu adalah Azka di lihat dari belati hitamnya.


“Karena kau sudah ikut campur, jangan harap kau bisa lolos dari jeratan rantaiku!” Bola mata Kazel membesar sambil menjilat rantainya.


Di belakang, Levin hanya diam sambil mengepalkan tangannya. Sedangkan Azka hanya memasang ekspresi datar. Ketika Kazel bersiap menyerang, Azka kembali berbicara ke Levin.


“Levin, kau keberatan aku membantumu?”


“Sebenarnya iya, tapi aku sudah kelaparan,” jawab Levin sambil mengelus perut kosongnya,


Serangan rantai yang tiba-tiba, langsung mengakhiri percakapan Azka dan Levin. Dengan reflek cepat, mereka berdua menghindar ke sisi berlawanan arah.


“Sesuai ucapan Tricia … dia memang pengguna Link Rantai.” Ketika menggumamkan itu, Azka teringat dengan penjelasan Tricia sebelumnya di desa Kitara.


Sebelum tiba ke kota Hayate, Azka sudah mendengar semua cerita dari Tricia. Termasuk rencana Parviz, dan letak markas mereka.


“Aku akan membunuh kalian berdua! Chain Destruction!” Kazel membagi serangan rantainya menjadi dua arah, masing-masing ke Azka dan Levin.


Sedikit kesulitan untuk menghindar, Azka sedikit panik menghadapi rantai yang melayang itu. Kemudian, dia melirik Levin yang juga berhasil menghindar dengan mudah.


Bukan tanpa alasan Azka melirik ke Levin, apalagi dia sudah terluka cukup parah. Memang agak sedikit lancang jika dia ikut campur dengan pertarungan Levin. Di tambah, berandalan berambut pirang itu adalah tipe orang yang sangat menyukai bertarung atau bisa di bilang nekat.


Ketika pikirannya terfokus ke Levin, Azka tidak sadar dengan beberapa rantai yang mendekat ke arahnya. Dengan panik, dia mengeluarkan beberapa tebasan terhadap rantai-rantai besi itu.


Seakan menarik perhatiannya, Azka mengernyit ketika serangannya tidak mampu menghentikan laju rantai itu. Tanpa pikir panjang, Azka langsung melompat menghindari serangan tersebut.


“Ternyata rantai itu bukan rantai biasa … dan juga, aku mencium bau seperti darah dari rantai itu.” Azka memfokuskan tatapannya ke rantai besi itu.


Melayang dan menggeliat, rantai-rantai besi itu seperti menari di udara. Tapi tarian itu sanggup menghancurkan sesuatu di sekitarnya.


“Hahaha! Akan kupersembahkan darah mereka untuk kalian ayah, ibu, lihatlah ini, lihat ini hahaha!”


Sambil mengerutkan dahinya, Azka merasa tidak nyaman dengan suara tawa itu. Tapi di saat bersamaan, dia merasakan sesuatu yang mendalam dari suara itu.


Sedangkan Levin yang jauh di sampingnya merasakan hal yang sama.


Perbedaannya, Azka sama sekali tidak tahu apa apa tentang pria berpakaian merah itu. Apalagi sejak tadi dia terus meneriakkan Ayah dan Ibu.


Dari gelagat Azka jelas kalau dia sedang kebingungan. Melihat hal itu, Levin berniat untuk menjelaskan apa yang terjadi. Ketika kata-kata itu mau keluar, sebuah rantai berukuran besar mendarat tepat di atasnya.


“Levin!”


Ekspresi cemas terpancar dari wajah Azka. Tapi itu tidak lama setelah melihat Levin berhasil menghindar.


“Huft, hampir saja ….” Sambil menyeka keringatnya, Levin menghembus nafas lega.


“Sepertinya luka-luka itu memperlambat kecepatanmu.”


“Aku tidak akan kalah dengan luka kecil seperti ini ….”


Mendengar kata-kata Levin, Azka merasa lega. Dari awal bertemu, dia tidak pernah ragu dengan kekuatan Levin. Bahkan bisa di bilang kalau kekuatan mereka berdua sama-sama kuat.


“Azka,” panggil Levin. “Apa kau juga mencium bau darah dari rantai itu?”


“Ya, apa ada sesuatu?”


“Rantai-rantai itu memang di lapisi darah … lebih tepatnya darah dari orang tuanya sendiri. Sungguh, orang itu sudah kehilangan akal sehat.”


“Begitu ya ….” Pertanyaan Azka sudah terjawab. Tapi yang membuatnya tercengang adalah, darah itu berasal dari orang tuanya sendiri.


Kesimpulannya, pria itu sudah membunuh kedua orang tuanya. Namun pertanyannya sekarang, kenapa dia sejak tadi berteriak tentang orang tuanya?


Mendengar percakapan mereka, Kazel tertawa dengan suara kejam.


“Hahaha! ya, ya! dan sebentar lagi aku akan membuat kalian bersimbah darah! Bloody Chain: Scorpio Sting!”


Dengan cepat, rantai-rantai itu menyatu menjadi dua rantai besar dan masing-masing ujungnya berbentuk tajam seperti capit kalajengking. Masing-masing rantai itu lalu menyerang Azka dan Levin secara agresif.


Dengan belatinya, Azka berusaha menghentikannya dengan beberapa tebasan sambil menghindar. Di sampingnya jauh, Levin melompat dan berlari dari kejaran rantai itu.


Mereka berdua sekarang berada di posisi yang tidak menguntungkan. Satu sisi, Azka tidak mempunyai kecepatan yang setara dengan Levin dan mengandalkan tebasan miliknya untuk menghindar.


Di sisi lain, Levin yang di penuhi luka masih bisa bergerak walau kecepatannya melambat.


Kota Hayate sekarang di penuhi suara ledakan dan benturan benda berat.


“Apa orang itu mau menghancurkan kota ini?!” keluh Levin. “Aku sendiri tidak masalah, tapi jangan hancurkan restorannya juga woi!”


“Tunda dulu nafsu makanmu sialan!” Dengan nada kesal, Azka tiba-tiba muncul di belakangnya.


Mendengar itu, Levin menoleh ke belakang dengan ekspresi santai. “Sejak kapan kau di sini?”


“Sejak tadi ...,” jawab Azka. “… sial, orang itu mengendalikan rantainya secara membabi buta. Tebasanku juga tidak bisa memotong rantainya, kita hanya membuang waktu.”


Levin menaikkan sudut bibirnya dan tertawa kecil. “Hihihi … sayang sekali Azka. Aku sudah tahu itu, dan aku juga sudah hafal arah serangan rantai itu.”


Gaya tertawa Levin yang terkesan menyebalkan itu membuat Azka jengkel. “Sadar diri kampret, kau sendiri sudah terluka parah!”


Seakan tak mendengar ocehan Azka, Levin masih tertawa dengan kesan membanggakan diri dan membuat dia semakin kesal.


Tahu kalau sifat Levin selalu menyebalkan, Azka membuang nafas pendek dan kembali ke topik pembicaraan.


“… ngomong-ngomong, dia terus berteriak bunuh dan memanggil orang tuanya. Itu terdengar sangat aneh.”


“Yah, sejak tadi aku tidak mengerti dengan semua hubungan itu.” Nada bicar Levin seakan sudah menyerah untuk berpikir.


“Bukankah itu sudah jelas?”


Ketika Azka mengatakan itu, Levin membuka setengah mulutnya dengan ekspresi bertanya-tanya.


Sebenarnya Azka sudah memikirkan itu sejak tadi di pikirannya, tentang darah, teriakan membunuh dan kedua orang tuanya. Mungkin dia bisa saja salah, tapi ini asumsi terkuat yang bisa dia simpulkan. Dan itu adalah …


“Mungkin dengan membunuh, itu mengingatkannya pada orang tuanya ….”


“Eh?” Untuk sejenak, Levin berusaha mencerna kesimpulan itu dan melanjutkan kata-katanya. “.. aku sudah mengerti sekarang, ternyata dia orang yang bodoh.”


“Kau juga bodoh.” Azka berusaha mengingatkan Levin untuk sadar diri, tapi dia tak mendengarkan.


Menghadapi sifat Levin yang seperti itu, Azka terpaksa menyerah dan kembali fokus untuk mengalahkan Kazel. Dia lalu menggengam kedua belatinya dan memasang tatapan tajam ke Levin.


“Kau masih bisa bergerak kan? kalau begitu, aku akan mengalihkan rantai-rantai itu agar kau bisa menyerang.”


Mendengar ide tersebut, Levin tersenyum kecil. “Aku kira kau akan mengambil musuhku hehe.”


Sesuai perkataannya, akan sangat menghina kalau Azka sampai ikut campur mengalahkan Kazel, terutama untuk sesama pria. Kecuali, orang itu sudah kalah atau memang meminta bantuan.


Meskipun begitu, pasti Levin bukanlah orang yang meminta tolong atau kalah. Jika dia seperti itu, mimpinya menjadi petarung terkuat hanya sekedar omong besar.


“Yosh, kalau begitu, aku akan menyesaikan semuanya dengan satu pukulan.” Levin mengatakannya sambil membunyikan jari-jarinya.


“Awas saja kalau kau tidak berhasil. Kita masih harus melawan banyak musuh selain orang itu.”


“Baiklah, baiklah, lagipula … aku punya beberapa kata yang ingin kusampaikan padanya.” Di akhir kata, suara Levin terdengar tajam.


Mendengar ucapan itu, Azka terdiam sejenak. Entah kenapa Azka masih kebingungan kenapa dia bisa berteman dengan orang nekat dan bodoh seperti Levin. Bahkan dia tidak tahu sejak kapan Levin menjadi temannya.


“Terserah kau saja ….” sambil mengatakan itu, tatapan Azka segera ke Kazel yang sejak tadi menghancurkan bangunan di sekitar dengan rantainya.


Tanpa berlama-lama, Azka langsung bergerak dari balik dinding persembunyiannya sambil melesatkan beberapa tebasan. Mendengar sesuatu yang mendekat, Kazel dengan cepat menghalangi serangan itu menggunakan rantainya.


Tebasan Azka berhasil di hentikan, tapi membuat rantai-rantai itu sedikit kerepotan dengan banyaknya tebasan Azka.


Suara ledakan menghiasi langit malam, dan Levin yang melihat itu hanya bisa terpukau.


“Hebat juga,” gumam Levin. “Ternyata Azka bisa mengalihkan rantai-rantai sialan itu ….”


Di sisi Azka, dia mulai sedikit kerepotan dengan banyaknya rantai yang membuatnya terpojok. Dengan ekspresi kesal, dia melirik ke belakang bangunan tempat awal mereka bersembunyi.


Kemana perginya si bodoh itu?!


“Hahaha! kau pikir tebasanmu itu mampu menghancurkan rantaiku?! Bloody Chain: Scorpion Dance!”


Seperti menari di udara, rantai-rantai itu menyerang secara agresif satu persatu. Azka mampu menghindar, tapi lengan jubahnya tergores dari beberapa rantai itu hingga mengucurkan darah.


“Lihat betapa cantiknya darah itu keluar … Ayah, Ibu, apa kalian melihatnya juga?! Hahaha!” Ketika darah mengalir dari lengan Azka, Kazel tertawa dengan suara menakutkan.


Azka melihat itu, dan dia setengah tersenyum. Sepertinya Kazel tidak sadar dengan hilangnya Levin. Memanfaatkan itu, Azka hanya perlu meneruskan rencana awalnya untuk memberikan celah kepada Levin.


“Kalau darah memang membuatmu senang, aku akan memberikannya secara suka rela untukmu. Tapi yang kumaksud itu darahmu sendiri.”


“Darahku? Kau tidak akan bisa membunuhku!” Sambil berteriak, Kazel mengayunkan rantai-rantainya secara brutal.


Azka menghindar sambil mengeluarkan beberapa tebasan. Sedangkan Kazel yang meliihat Azka terpojok, matanya terbakar oleh nafsu membunuh.


“Larilah, teruslah berlari … dan sebentar lagi, aku akan mencuci rantai-rantaiku dengan darah segar dari setiap anggota tubuhmu, hahaha!”


Sambil menghindar, Azka menurunkan wajah dan tersenyum kecil, orang yang sudah dia tunggu akhirnya bergerak menyerang.


“Ya! sebaiknya kau cuci saja rantai itu di sungai!”


Sebuah teriakan memenuhi pendengaran Kazel.


“Dia masih hidup?!” Kedua mata Kazel melebar melihat orang itu melompat dengan cepat ke arahnya.


“Kalau bisa cuci saja yang bersih, bau darah itu membuat nafsu makanku hilang!” Sambil melanjutkan teriakannya, wajah Levin menyala-nyala sebelum melepaskan tendangan kaki kirinya.


“Fatal Kick!”


Seluruh wajah Kazel rusak dan bersimbah darah dari hidungnya sebelum terlempar jauh menabrak beberapa rumah.


Sedangkan Azka memasang senyuman kecut, dan bergumam. “Lama sekali ….”


Tendangannya masih belum cukup membuat Levin bernafas lega. Oleh karena itu, dia segera mendarat di tempat Kazel terbaring dengan penuh luka.


Terkena tendangan menyakitkan itu, Kazel masih bisa membuka matanya. Kemudian dia mengernyit, mengetahui Levin sudah berdiri di hadapannya.


Sambil mengepalkan tangannya, Levin tiba-tiba memasang tatapan tajam.


“Oi kau ….” Kata-kata yang sejak tadi ingin di ucapkannya pun keluar. “Aku memang tidak tahu siapa dirimu, dan apa masalahmu, aku sama sekali tidak peduli. Tapi … apa kau pikir dengan ini, kau bisa mendapatkan pujian dari orang tuamu?!”


Mendengar kata-kata itu, Kazel mengigit bibirnya dan berbicara. “… kau, kau tidak tahu apa-apa tentangku! Aku … aku akan terus membunuh demi mereka!”


“Lalu apa? mereka tidak akan bisa memujimu lagi!”


“Diam!”


“Jika memang bisa, apa kau merasa senang dengan hal itu?! Setiap kali kau mengayunkan rantaimu, kau selalu menitihkan air mata!”


“Diam ….”


“Sekarang biar kutanya, apa ini memang kemauanmu?!”


“Diam, diam, diam ….”


“Biar kuberitahu satu hal.” Nada Levin mulai mendalam sebelum melanjutkan kata-katanya. “Harusnya kau memikirkan tujuanmu sendiri ….”


Bahunya bergetar, penyataan Levin membuat Kazel seakan mati rasa. Tatapan matanya menjadi kosong, kemudian sebuah emosi tercampur dalam pikirannya.


Tujuanku? Kenapa, kenapa aku menjadi ragu? Ada apa ini? Tahu apa dia tentang diriku?!


Ketika pikirannya mulai ragu, rantai miliknya kembali bergerak. Tapi kali ini, rantai itu bergerak tidak sesuatu kehendaknya.


Ini … ini sama seperti waktu itu ….


Rantai ini … bergerak dengan sendirinya ….


Melihat dan mendengar semua itu, Kazel akhirnya tersadar dengan semua yang terjadi.


Aku tidak mau membunuh siapapun ….


Kata-kata itu kembali muncul dalam pikirannya. Kata yang begitu dalam, dari seorang tangisan anak kecil. Mengingat itu, secara tidak sadar matanya sudah tergenang air mata.


Melihat ekspresi Kazel saat ini, Levin hanya bisa menatapnya dengan datar. Tangan kanannya mengepal dengan kuat, Levin sadar dengan beberapa rantai besi nan tajam sudah berada di belakang seakan siap menyerangnya kapan saja.


Sedangkan Kazel semakin tenggelam dalam lautan kegelapan. Emosinya bercampur aduk, melihat rantainya bergerak dan bersiap menusuk orang itu tanpa kemauannya.


Merenungkan semua yang terjadi, Kazel akhirnya sadar dan menemukan jawaban dari semua kegelisahannya.


Rantai inilah yang sebenarnya menguasaiku ….


Selesai menyimpulkannya dalam hati, air mata membasahi pipi Kazel. Melihat itu, Levin menurunkan wajahnya dengan tangan mengepal.


Setelah semua yang terjadi, kematian orang tuanya, dan insiden waktu itu, semua hanyalah … rasa haus darah dari rantainya sendiri.


Demi sesuatu yang tak bisa kudapatkan lagi … aku di kuasai rantaiku sendiri.


“… pukul saja diriku sekeras mungkin ….” Suaranya bergetar, Kazel memasang tatapan yang mendalam saat memohon ke Levin,


“Ya ….” Levin menuruti permintaan itu dengan menurunkan pandangannya.


Mengingat betapa menyedihkan dirinya, Kazel mengeluarkan senyuman kecil. Senyuman yang terkesan tulus sekaligus menyimpan perasaan bersalah.


Dengan lapang dada, Kazel mempersilahkan Levin untuk memukulnya sekeras mungkin, sebagai hukuman atas semua kesalahannya.


Dia melihat rantainya tepat melayang di belakang Levin. Merasa tak sanggup, dia kembali memejamkan matanya.


Dengan tangan kotor ini, aku rela membunuh siapapun, dan melapisi rantaiku oleh darah mereka. Membunuh dan terus membunuh seperti yang mereka inginkan, aku membohongi diriku sendiri.


Pada akhirnya aku hanya ingin mereka memerhatikanku … aku hanya ingin mereka memujiku … tolong pujilah aku sekali lagi ….


Apa … aku salah menginginkan hal itu?


Semakin dia mengatakan itu dalam hati, air matanya semakin deras membasahi pipinya.


Berdiri di depan Kazel yang terbaring lemah, Levin semakin menguatkan kepalan tangannya.


Aku sama sekali tidak menyukai pertarungan seperti ini.


Dengan perasaan emosional, Levin menghantarkan sebuah pukulan yang sangat keras, tepat sebelum rantai-rantai di belakang menusuk dadanya.


Darah menyembur keluar dari mulutnya, tapi dari tatapan matanya, Kazel tersenyum. Melihat bulan menerangi langit malam, pandangannya mulai kabur. Atmosfer malam ini terasa sama seperti waktu itu.


Aku … sangat menyedihkan.


To be Continued…