
Suasana diruangan itu berubah menjadi tegang ketika Azka sedang berhadapan dengan Izami.
Izami menatap tajam dengan senyuman kecil diwajahnya.
"Ternyata kau tau niatku yang sebenarnya ya, Azka."
Azka lalu menoleh ke arah Tricia yang sedang ditahan oleh 3 orang Lancer. Ketiga Lancer yang sedang membawa Tricia sejak tadi terhenti ketika melihat Azka datang.
"Azka ...," lirih Tricia pelan.
Lalu Azka kembali menatap Izami dengan tajam.
"Aku sudah mendatangimu, kau bisa melepaskan gadis itu kan?"
Izami tersenyum kecil, "Tidak semudah itu bodoh ... aku tidak akan melepaskan gadis budak itu sebelum kau bisa mengalahkanku."
"Apa yang kau bicarakan? Dia tidak ada hubungannya dengan ini kan?!"
"Tentu saja ada ... dia adalah orang yang berharga bagimu kan?"
Azka hanya terdiam dengan menatap mata coklat Izami.
Raja Edric lalu berjalan mendekati Tricia dan mengelus wajahnya.
"Mungkin ... dia tidak harus diserahkan ke penjual budak. Aku berminat untuk menjadikannya budak pribadiku, hahaha." Raja Edric menatap Tricia dengan tatapan jahat.
"Jangan menyentuhku!" Tricia pasrah sambil memasang wajah kemarahan.
"Berani sekali kau beteriak kepada seorang raja sepertiku!" Edric menampar wajah Tricia dengan keras.
Azka geram ketika melihat perlakuan Raja Edric kepada Tricia. Dia lalu kembali menatap Izami.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Izami?!"
"Aku ingin bertarung denganmu tentu saja kalau kau menang kau bisa menyelamatkan gadis itu."
"Itu saja?"
"Dan tentu saja pertarungan ini akan berakhir sampai salah satu dari kita terbunuh." Izami hanya memasang senyuman kecil diwajahnya.
Azka sedikit terkejut mendengar peraturan yang diberikan. Ia memang sangat membenci Izami tapi, dia tidak ingin menjadi seorang pembunuh.
"Kau sangat menginginkan aku mati ya, Izami?"
"Tentu saja ... jika kau menolak aku akan kembali mengirimnya ke penjual budak."
"Oi, Izami aku berniat untuk menjadikannya budak pribadiku!" Raja Edric memotong pembicaraan mereka.
Izami menghela nafasnya, "Baiklah dia bisa menjadi milikmu, aku juga tidak peduli dengan gadis itu. Lalu, bagaimana Azka? Apa kau mau menerimanya?"
"Kamu tak usah menerimanya Azka! Aku mohon ... aku akan baik saja jadi kau tak perlu untuk menerima pertarungan ini!" Tricia beteriak kearah Azka dengan wajah panik.
Azka terdiam karena pilihan yang diberikan sangatlah sulit. Sebelumnya juga ia sudah berjanji kepada Yasue kalau ia akan membawa Tricia kembali.
"Baiklah ... aku terima penawaranmu."
Azka terpaksa menerimanya karena ia tidak ingin Tricia dibawa oleh Raja busuk itu. Dengan menerimanya mungkin ia bisa membuat Izami terpojok dan mengakui kekalahannya. Itu adalah satu satunya cara yang bisa ia lakukan saat ini.
"Jangan ... Azka ...." Tricia hanya bisa terdiam dari kejauhan.
"Bagus! Dan sepertinya mereka juga sudah datang."
Azka kebingungan dengan perkataan Izami.
Raja Edric lalu menepuk tangannya dan tiba tiba lampu dari ruangan itu menyala. Seketika terlihat banyak sekali pasukan Lancer yang sudah mengelilingi Azka dan Izami seakan membuat arena pertarungan.
Tricia yang masih dalam keadaan terikat dibawa oleh salah satu anak buah dari Izami ketempat pertarungan itu.
"Azka ...." Tricia memasang wajah murung.
Azka terkejut ketika seluruh anggota Lancer di Oleander ternyata sudah berada ditempat itu.
"Jadi kau sengaja mengundang mereka ...." Azka memasang tatapan tajam keseluruh pasukan Lancer.
Pasukan Lancer Oleander yang memenuhi ruangan itu hanya mengeluarkan senyuman kecil sambil memasang tatapan jahat ke arah Azka.
Izami mengeluarkan pedang putih dari sarungnya dan mengarahkannya ke wajah Azka.
"Kali ini kau akan mati ditanganku, Azka!"
Azka terus terdiam, ia tidak habis pikir ternyata Izami sudah merencanakannya sampai sejauh ini.
Izami benar benar ingin menunjukkan kalau ia benar benar layak menyandang Wakil Kapten dibandingkan Azka. Dengan pertarungan mereka dan disaksikan oleh seluruh anggota Lancer bisa menjadi pembuktian tentang siapa yang lebih kuat diantara mereka.
"Baiklah pertarungan antara Wakil Kapten Oleander melawan seorang Buster menjijikkan bisa dimulai!" Raja Edric yang sedang duduk dilantai dua memberi tanda.
Azka kesal, bahkan disaat seperti ini Raja Edric masih sempat untuk merendahkannya,
Tricia menatap kearah Raja Edric dengan tatapan benci.
"Kenapa kau malah mendukung pertarrungan yang tidak adil seperti ini?! Kau bahkan tidak pantas disebut Raja!"
"Cih, diam saja kau budak! Sebaiknya kau tonton saja disitu dan setelah itu kau akan menjadi milikku!"
Azka melihat kearah Izami yang sudah terlihat siap menyerangnya.
"Black Slash!" Tebasan hitam yang cukup kuat langsung mengarah kearah Izami.
Tapi, dengan cukup mudah Izami dapat menangkisnya dengan pedang putih. Pedang putih yang digunakan oleh Izami sudah didesain khusus oleh keluarganya. Pedang itu telah ditempa dengan besi yang cukup langka dan juga sebuah batu Anti Link yang dapat menghalau segala jenis Link.
"Serangan seperti itu tidak ada apa apanya dibandingkan oleh Biel Sword milikku!" Izami lalu berlari kearah Azka dan menyerangnya secara membabi buta.
Azka dengan cepat mengeluarkan kedua Daggernya dan terjadilah adu Dagger dan Pedang yang cukup sengit. Tapi, tidak bertahan lama Azka dipukul mundur oleh serangan pedang yang sangat kuat dari Izami.
"Huft ... huft ...."
"Ada apa? Apakah hanya segini kemampuanmu?!"
Karena memiliki Anti Link didalam pedangnya, Azka sangat kesulitan ketika Daggernya menyentuh pedang dari Izami.
Anti Link sendiri adalah batu yang sangat langka dan biasa digunakan oleh petinggi petinggi Lancer.
Anti Link memiliki harga yang sangat mahal dan juga sangat sulit untuk didapatkan. Tapi, Izami adalah salah satu keluarga yang sangat kaya yaitu Glind.
Izami hanya tersenyum kecil ketika melihat Azka yang terlihat kesusahan.
"Kau sepertinya tidak menyangka ya jika aku mempunyai pedang yang dilengkapi oleh batu Anti Link."
"Twin Slash!"
Izami kembali menangkis kedua tebasan dari Azka dengan mudah.
"Aku bisa mendapatkan batu ini karena aku sendiri memiliki koneksi dengan penyedia batu Anti Link dari Lancer Pusat. Dan berkat keluargaku yang memliki seorang penempa handal, aku bisa menciptakan pedangku sendiri yang kuberi nama Biel Sword!"
Izami lalu kembali menyerang dengan cepat kearah Azka, "Aku akan mengalahkanmu disini sekarang juga, Azka!" Tebasan putih muncul dari ayunan pedang Izami.
Azka yang berusaha menangkis serangan itu sedikit terkena dibagian pipinya.
Izami terkenal karena ia adalah pengguna pedang terkuat yang ada dikeluarganya. Tebasan yang dihasilkan olehnya itu murni karena kemampuan pedangnya yang hebat. Jika dibandingkan oleh Link Slash milik Azka, Izami jauh diunggulkan karena Biel Sword miliknya memiliki batu Anti Link.
Izami yang melihat Azka sedikit kewalahan kembali menyerang Azka dengan cepat.
"Azka!" Tricia berteriak kearahnya dengan panik.
Azka yang menyadari itu dengan cepat menghindarinya. Disaat bersamaan juga Azka langsung menyerang dengan Daggernya tepat kearah wajah Izami. Tapi, serangan itu berhasil dihentikan oleh pedangnya.
Izami yang menahan serangan itu lalu mendorong Azka dengan sangat kuat.
"Apa kau sudah tau perbedaan kekuatan kita ... Azka?!"
Azka hanya melihatnya dengan tenang. Ia berusaha mengatur nafasnya karena sedikit kewalahan menghadapi pedang dari Izami.
Seluruh pasukan Lancer Oleander sejak tadi terus menyemangati Izami karena sangat yakin kalau dia yang berhasil membunuhnya.
"Kau benar benar tidak ragu untuk membunuhku ya, Izami ...."
"Tentu saja ... akan aku buktikan pada seluruh Lancer Oleander kalau aku jauh lebih kuat darimu!"
Izami lalu berlari kearah Azka untuk menyerangnya tapi, Azka hanya terdiam ketika Izami berusaha menyerangnya.
Azka merasa sangat marah karena sebenarnya apa yang membuat Izami sangat ingin membunuhnya.
Selama ini Azka selalu menerima semua cacian dan siksaan dari semua orang. Tapi, Azka sama sekali tidak berniat untuk membenci mereka semua sesuai yang Mia katakan padanya saat ia masih kecil.
Maaf ... Mia-san ... aku sangat menghormatimu tapi, aku juga adalah manusia yang bisa membenci musuh musuhku ..., batin Azka terdiam.
Selama ini ia selalu menahan semua kebencian dari semua orang. Azka sudah muak, ketika melihat tatapan Izami yang sangat ingin membunuhnya. Kali ini dia tidak lagi mau memojokkan Izami tapi, Azka berniat untuk membunuhnya dan memberi pelajaran kepada semua orang.
"Rasakan ini, Azka!"
Azka dengan cepat mengeluarkan daggernya dan menahan serangan dari Izami. Ia lalu melompat mundur dan menatap Izami dengan tatapan menyeramkan.
Izami sedikit terkejut ketika pertama kali melihat Azka dengan tatapan seperti itu.
"Ada apa? Apa kau benar benar ingin membunuhku sekarang?!"
Kedua tangan Azka yang memegang Twin Daggernya diselimuti oleh aura hitam.
"Aku tidak akan ragu lagi, Izami ...."
"Ya! Dari awal aku sama sekali tidak ragu untuk membunuhmu!"
Aura hitam yang dikeluarkan oleh kedua tangan Azka telah menyelimuti kedua Daggernya.
"Nightfall Slash!" Tebasan dari aura hitam yang sangat besar itu langsung mengenai Izami dengan telak.
Izami yang berusaha menahan serangan tebasan itu sampai terjatuh karena tebasan Azka yang sangat kuat. Ia kesakitan karena serangan itu berhasil membuatnya terluka.
Raja Edric dan seluruh anggota Lancer yang menyaksikan itu benar benar terkejut dengan serangan yang mengerikan itu. Mereka seakan tidak menyangka kalau Izami bisa sampai terluka gara gara serangan itu.
Azka berjalan mendekati Izami yang sedang terkapar. Ia memasang tatapan penuh kebencian terhadap seluruh orang diruangan itu.
Izami sedikit ketakutan ketika Azka mendekatinya seakan benar benar ingin membunuhnya.
"Kurang ajar kau, Azka!" Izami terdiam ketika melihat ujung dagger Azka telah berada dihadapannya.
"Kau harus menyesali perbuatanmu, Izami!"
Izami yang menundukkan kepalanya tiba tiba mengeluarkan senyuman kecil.
"Aaarghhh!!!" Tiba tiba teriakan kesakitan dari Tricia terdengar ditelinga Azka.
"Tricia?!" Azka dengan cepat menoleh kearah Tricia.
Tricia ternyata sedang di setrum dengan batu sihir oleh satu anak buah dari Izami. Trica terlihat sangat kesakitan ketika menerima serangan dari batu sihir itu.
Ketiga orang yang sedang mengelilingi Tricia itu memasang senyuman kecil di wajah mereka.
"Apa yang kalian lakukan brengsek?!"
Izami yang masih tersenyum itu langsung mengambil pedangnya dan menusuk perut Azka dengan cepat.
Mulut Azka seketika mengeluarkan banyak darah ketika menerima tusukan diperutnya.
"Azka!!!" Tricia memasang wajah kesakitan dengan mata menggenang.
Izami hanya tertawa kecil karena ia sejak awal sudah merencanakan semuanya. Ia lalu menendang wajah Azka hingga membuatnya terlempar.
"Hahahahaha! Kau harusnya tidak boleh lengah, Azka!" Tertawa Izami semakin kencang seakan puas dengan niat yang sudah ia persiapkan pada anak buahnya. Dengan menyakiti Tricia, Izami tau kalau Azka akan mengalihkan perhatiannya.
Azka tersungkur sambil menahan sakit yang ada diperutnya. Ia menoleh kearah Izami dengan tatapan kebencian karena sengaja menyakiti Tricia. Azka terus mengeluarkan darah dari mulutnya karena luka diperutnya cukup dalam.
"Azka ... maaf ...." Air mata telah membasahi wajah Tricia.
Tricia sangat merasa bersalah karena gara gara dia, Azka sampai terkena serangan yang cukup fatal.
Izami lalu berdiri dan berniat untuk kembali menyerang Azka yang sudah terluka cukup parah.
"Sudah kubilang kan ... kalau aku pasti akan membunuhmu disini!" Izami mengeluarkan senyuman jahat padanya.
"Brengsek ... kau, Izami!" Azka mulai tidak berdaya sambil menahan sakit.
"Kau bilang aku harusnya menyesal dengan perbuatanku? Jangan bercanda! Justru penyesalan terbesarku adalah masih melihatmu bernafas!" Izami mengangkat pedangnya dan bersiap untuk menyerang Azka yang sudah tidak berdaya.
To be Continued...