
(Desa Masaya, 12 tahun yang lalu.)
Pagi telah menyingsing di desa Masaya yang damai. Masaya adalah desa inpenden tanpa naungan kerajaan manapun. Letaknya juga sangat jauh dari kerajaan kerajaan besar dan berdekatan dengan sebuah gunung berapi yang cukup aktif.
Desa Masaya adalah desa kecil yang penduduknya rata rata bekerja sebagai pedagang. Terlihat Azka dan Mia sedang berjalan sambil membawa beberapa hasil buruan untuk di jual.
Azka saat itu menjadi anak yang cukup ceria meskipun seluruh warga desa menganggapnya aib karena ia adalah anak buangan dan asal usulnya yang tidak jelas.
Tapi seorang wanita baik hati yang menemukannya sejak bayi bersedia merawatnya sampai sekarang. Ia adalah Mia Loritz wanita yang sekarang berumur 25 tahun dengan rambut hitam panjang dan mata coklatnya yang begitu menawan.
"Mia-san, apakah hari ini kita tidak menjual ditempat biasanya?" tanya Azka kebingungan.
"Sepertinya kita tidak bisa berjualan ditempat itu lagi, Azka." Mia tersenyum kecil.
Sebelumnya Mia selalu berjualan di pasar utama desa Masaya. Tapi sejak warga yang tidak menerimanya berjualan ditempat itu ia selalu berjualan di tempat terpencil.
Para warga mengusirnya karena tidak terima pelanggannya hanya mau membeli dari lapak miliknya. Sebenarnya para pelanggan itu hanya tertarik dengan kecantikan yang di miliki Mia dan itulah yang membuat dia diusir dari pasar.
"Jadi sejak kejadian kemarin itu ya ...." Azka terlihat murung mengingat penduduk desa mendatangi rumahnya.
"Kamu tak perlu cemas Azka. Lagipula kau harusnya tidak perlu untuk menemaniku."
"Mulai hari ini aku akan menemanimu Mia-san. Aku tidak ingin kau kenapa kenapa apalagi kalau orang orang itu kembali mendatangimu."
Mia tersenyum kecil mendengarnya, "Kau sepertinya akan tumbuh menjadi pria yang menawan."
Azka sedikit tersipu, "Jangan membuatku malu ...."
"Tapi dimataku kamu akan tetap menjadi adik kecilku."
"Aku bukanlah anak kecil."
"Iya iya ...." Mia mengelus kepala Azka yang kesal dianggap anak anak.
Mereka akhirnya sampai diujung desa untuk menjual dagangan mereka. Tempat itu terlihat sepi karena pembeli dari desa lain hanya akan mengunjungi pasar utama Masaya.
"Apa kau yakin kita akan berjualan disini Mia-san?" Azka melihat sekelilingnya.
"Kita hanya bisa menjualnya disini. Jika kita masih berada didekat pasar, mungkin mereka akan kembali mengusir kita."
"Mereka itu ...." Azka sangat kesal dengan perlakuan para warga terhadap Mia.
"Tenanglah, apapun yang terjadi kau tidak boleh membenci mereka."
"Ini semua salahku, Mia-san. Mereka yang sejak awal tidak menerimaku melampiaskan kebencian mereka terhadapmu. Gara gara aku kau ju—"
"Hentikan ucapanmu, Azka." Potong Mia.
"Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu. Sejak awal mereka juga membenciku karena selalu merebut para pembeli."
"Tapi ...." Azka tertunduk dengan murung.
"Ingatlah kalau semua orang itu berhak untuk hidup. Termasuk dirimu, Azka. Bukannya kau sudah berjanji untuk menemukan Final Valley?"
"Ya, tentu saja! Suatu saat nanti aku akan menemukan tempat legendaris itu. Jika saat itu tiba aku akan mengajakmu kesana, Mia-san!" Azka kembali bersemangat saat ditenangkan oleh Mia.
"Aku tidak sabar menantikan hal itu." Mia tersenyum kecil.
"Ya! Tunggu saja Mia-san. Aku akan terus menjadi kuat hingga mencapai tempat itu!"
"Yang penting kamu jangan terlalu memaksakan diri. Ingat, kita datang kesini untuk berjualan bukan?"
"Mia-san, aku akan pergi mencarikan pembeli untukmu!" Seru Azka saat berlari menuju desa dengan bersemangat.
"Tunggu, Azka--" Mia hanya bisa pasrah karena Azka sudah jauh dari jangkauannya.
Setelah menunggu beberapa lama Azka berhasil membawa beberapa orang menuju dagangan Mia. Azka menuntun jalan mereka sambil berusaha mengatur nafasnya karena kelelahan.
Mia hanya bisa tersenyum melihat usaha dari Azka.
"Aku membawa beberapa orang, Mia-san."
"Kamu ini ...."
"Wah itu dia!"
"Ternyata wanita cantik itu berdagang di tempat ini!"
Teriakan beberapa pembeli terngiang ditelinga Mia. Ia sangat senang ketika Azka berjuang untuk mencarikannya pembeli.
"Terima kasih banyak, Azka." Mia memasang senyum manis sambil membelai kepalanya.
"Tak masalah."
***
Matahari hampir terbenam, waktu hampir memasuki malam.
Azka dan Mia yang telah berdagang sejak pagi akhirnya sampai di rumah kecil mereka yang sedikit tua.
Ketika waktu telah memasuki malam, terlihat Azka sedang berlatih dengan Twin Daggernya di perkarangan rumah. Ia memiliki Twin Dagger itu sejak ia masih bayi saat Mia pertama kali menemukannya.
Bisa di bilang dua pisau belati berwarna hitam itu adalah satu satunya peninggalan dari orang tuanya. Ia sama sekali tidak mengetahui tentang asal asul mereka, tapi Azka tidak terlalu peduli dengan mereka.
"Huft ... huft ... Black Slash!" Tebasan hitam berukuran kecil dikeluarkan oleh Azka.
Ia sedikit kecewa karena tebasan yang dimilikinya begitu kecil. Bahkan untuk menggores sebuah pohon harus dilakukan secara berkali kali.
Disaat bersamaan Gunung Berapi yang berada di dekat desa Masaya mengeluarkan getaran kecil. Azka terdiam mengamati gunung yang terlihat aktif akhir akhir ini.
Mia yang melihat Azka sedang latihan dari kejauhan memasang wajah khawatir ketika ia merasakan getaran itu.
"Azka, ayo kita makan malam."
"Sebentar lagi, Mia-san."
"Jangan terlalu memaksakan diri, Azka. Kamu bisa berlatih besok kan?"
"Baiklah ...." Azka menghentikan latihannya dan mendekat ke arah Mia.
Lalu terlihat beberapa warga desa mendatangi rumah mereka dengan wajah mendekati kemarahan. Azka sedikit ketakutan melihat wajah mereka sambil memeluk Mia.
"Mia! Kau ... berani beraninya masih merebut pembeli dari kami!"
Mia terkejut ketika tuduhan itu dilayangkan.
"Apa ... yang kalian bicarakan? Aku sudah berjualan ditempat yang ja—"
"Hentikan omong kosongmu!" salah satu warga memotong.
"Gara gara anak ini mengatakan kau sedang berjualan di ujung desa. Para pelanggan yang ada di pasar berniat untuk membeli ditempatmu!" Warga menunjuk ke arah Azka dengan kemarahan.
"Tapi aku tidak mengatakan hal itu ke mereka!" Azka berusaha menjelaskan.
"Diam kau anak sialan! Sejak awal kedatanganmu kau hanya bisa membuat sial. Anak buangan sepertimu harusnya mati saja!" Orang itu melayangkan sebuah pukulan.
"Azka!" Mia terkena pukulan dari orang itu karena berusaha melindungi Azka.
Azka marah ketika ia melihat luka lebam di wajah Mia. "Apa ... yang kalian lakukan sialan!?"
"Azka, hentikan!" Mia menahannya saat ia mau berlari memukul mereka.
Getaran di seluruh Desa Masaya begitu terasa diseluruh tempat. Azka menatap mereka dengan wajah kemarahan.
"Apa apaan tatapan itu bocah sialan! Aku akan membunuhmu dasar anak sampah!"
"Lepaskan aku Mia-san, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu!"
Getaran dari gunung berapi itu semakin terasa hingga menyebabkan seluruh desa mulai panik. Hampir seluruh warga desa mulai mengemas barang barang dan berusaha menyelamatkan diri.
"Berani beraninya kalian menyakiti Mia ... aku ... aku akan membunuh kalian semua!" Azka dengan penuh kemarahan berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Mia.
"Azka ... hentikan ...." Mata Mia mulai menggenang.
"Oi, hentikan saja. Kita harus menyelamatkan diri ...." Salah satu warga itu menarik temannya yang sedang marah.
Dari kejauhan gunung berapi itu mulai mengeluarkan lahar panas di sekelilingnya. Getaran yang terus terasa menyebabkan lahar dari gunung itu menyemprot keluar.
Warga yang awalnya emosi ke mereka berdua mulai menunjukkan wajah panik ketika melihat gunung berapi itu. Tanpa berkata apa apa ia langsung melarikan diri bersama beberapa orang lainnya.
Azka mengatur nafasnya karena ia terpancing dengan kemarahannya. Ia terdiam ketika melihat Mia mulai menangis.
"Kamu tidak boleh sampai melukai mereka ...."
"Tapi mereka melukaimu! Kau harusnya tidak perlu menahan pukulan mereka, Mia-san."
"Ini hanya luka kecil, kamu tidak perlu semarah itu ...."
Tiba tiba suara letusan gunung berapi terdengar begitu keras oleh seluruh desa. Mia yang mendengar itu tiba tiba terdiam dan langsung mendorong Azka untuk menjauh dari rumah.
"Azka!"
**Duar! **
"Mia ... san?" Kedua matanya mulai membesar ketika melihat bongkahan lahar terjatuh di rumah mereka.
Seketika rumah mereka hancur dan terbakar oleh bongkahan panas gunung berapi. Ia terdiam sejenak karena Mia sempat mendorongnya untuk menghindar dari bongkahan itu.
"Mia-san!!!"
Dengan teriakan panik, Azka begitu kaget ketika melihat Mia yang terluka parah oleh reruntuhan itu. Ia berlari dan terkejut ketika menyadari kedua kaki Mia tertimpa oleh reruntuhan panas.
"Oi, Mia-san ... bertahanlah ...." Mata Azka menggenang sambil berusaha mengangkat reruntuhan itu. Ia menahan panas hingga membuat tangannya terluka, tapi reruntuhan itu sama sekali tidak bergerak.
Meskipun tangannya mulai terbakar, Azka sama sekali tidak mengendurkan tenaganya untuk mengangkat reruntuhan itu.
"Azka ...." Mia hanya tersenyum kecil melihat kegigihannya.
"Bertahanlah sebentar lagi ...."
Duar!
Suara letusan terus terdengar dengan keras. Terlihat juga lahar dari gunung berapi itu mulai menghanguskan seluruh benda yang dilewatinya.
Dengan rasa ketakutan sekaligus pank, Azka masih berusaha untuk mengangkat reruntuhan itu. Dan rasa kepanikannya pun semakin bertambah ketika lahar panas perlahan mendekati mereka.
"Azka ... lupakan saja ...."
"Hentikan omong kosongmu! Aku akan menyelamatkanmu apapun yang terjadi!"
"Kau hanya membuat tanganmu terluka ... walaupun kau berhasil, aku tidak akan bisa berlari untuk menyelamatkan diri."
"Aku akan menggendongmu! tunggu sebentar Mia-san aku akan memanggil bantuan untuk menyelamatkanmu!" Azka berlari dengan memasang wajah panik.
Tidak lama kemudian terlihat orang orang yang terlihat begitu panik sambil berusaha menyelamatkan diri. Seakan menemukan sebuah harapan, Azka lalu berlari mendekati salah satu pria desa.
"Oi ... tolong selamatkan dia ...." Azka berusaha menarik salah satu pria di desa itu.
"Apa yang kau katakan anak sialan! Aku tidak punya waktu untuk itu." Pria itu mendorong Azka hingga terjatuh.
Dengan tatapan risih, Pria itu kembali menyelamatkan diri dan membawa barang barangnya. Ia bahkan tak menoleh kebelakang untuk melihat situasi sulit yang dialami Azka.
"Tolong ... siapapun ... tolong selamatkan Mia-san ...." Azka terus meminta tolong di tengah warga yang berusaha menyelamatkan diri. Tapi, tidak ada satupun orang yang menoleh ke arahnya.
Para warga memang menyadari kehadiran Azka, tapi mereka sama sekali tidak berniat untuk menolongnya. Selain tidak menganggapnya mereka hanya fokus untuk menyelamatkan diri masing masing.
"Kenapa ... kenapa ...." Azka berlutut ketanah dengan rasa kekecewaan.
Ia benar benar bingung kenapa seluruh orang tidak peduli dengan keadaannya.
Dengan rasa kesedihan yang mulai memuncak, Azka kembali ke tempat Mia dan terlihat lahar panas dari gunung berapi mulai mendekat menuju tempatnya.
"Maaf ... Mia-san ...." Azka tertunduk sambil menahan tangis.
Menyadari raut wajah Azka yang begitu sedih, Mia berusaha tersenyum untuk menguatkannya. Ia juga sudah menduga kalau penduduk desa tidak akan datang menolongnya.
"Azka ... dengarkan aku baik baik ... kamu tidak boleh membenci mereka."
Mendengar perkataan itu, Azka menatapnya dengan mata menggenang.
"Apa ... yang kau katakan ...."
"Tinggalkan saja aku ... kamu harus menyelamatkan diri."
"Tidak ... tidak ...."
"Kamu harus terus hidup ...."
"Hentikan ucapanmu itu!" Bibir Azka bergetar sambil menitihkan air mata.
"Selama kau masih bisa hidup ... itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi kau akan--"
Memotong perkataan Azka, dengan lembut Mia memegang dan memeluknya, "Aku tahu setelah ini perjalananmu pasti akan sangat berat."
Setelah memeluknya, Mia mengangkat wajah Azka yang telah dibanjiri air mata. Kemudian, tangannya yang ramping mulai membelai rambut hijau tuanya.
"Percayalah suatu saat nanti kamu akan menemukan teman teman yang baik."
"Mia-san ...."
Air mata yang terus berkumpul di kedua matanya, Azka hanya terdiam mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Mungkin setelah ini aku hanya bisa melihatmu dari tempat yang sangat jauh. Padahal, aku ingin sekali melihatmu pergi ke Final Valley." Dengan air mata yang sejak tadi berkumpul, Mia tersenyum dengan menitihkan air mata.
"Apa yang akan kamu lakukan, yang kamu rasakan, dan seberapa berat bebanmu nanti aku ingin sekali berada disampingmu."
Dengan kedua mata Azka yang menggenang, Mia terus membelai kepalanya dan menambahkan, "Habisnya aku ingin sekali menghabiskan waktu bersamamu."
Meski perlahan Mia pun mulai menitihkan air matanya dan melanjutkan, "Karena aku sangat menyayangimu."
To be Continued...