
Matahari yang semakin meninggi seperti tidak mempan ketika sinarnya tidak mampu menembus ke dalam hutan.
Dengan suasana rindang, Azka masih menggendong Filia yang kakinya terluka akibat pertarungan sebelumnya. Hutan tempat mereka bertarung melawan Wolfen dan Hornwolf masih cukup jauh untuk bisa sampai ke desa Kitara.
“Ma-maaf, aku merepotkan kak.” Filia bergumam dengan ekspresi malu.
“Tak apa.”
“Kira-kira kalau inti Monster itu di jual, bisa mendapat berapa?”
“Mungkin ini sudah lumayan.”
“Aku benar benar berterima kasih, kak.”
“Seharusnya kau tidak perlu mengucapkan itu. Kau juga sudah berjuang keras.”
Filia mengangguk dengan wajah ceria.
“Apa kau merasa sudah bisa mengendalikan kekuatanmu?” tanya Azka dengan nada datar.
“Ta-tapi aku tidak merasakan apa-apa”
“Begitu ya ….” Azka menggumamkan itu karena sudah menduga kalau Filia belum bisa mengendalikan kekuatannya.
Sebenarnya Azka juga tidak tahu bagaimana menentukan pengguna Link tipe Vistia sudah bisa mengendalikan kekuatannya atau tidak. Azka hanya menduga kalau tubuh Filia yang masih setengah hewan adalah bukti kalau dia belum bisa mengendalikan kekuatannya.
Azka teringat ketika FIlia menceritakan kondisi fisiknya. Saat itu, Filia terlihat berkaca-kaca menceritakan kondisinya.
Entah kenapa, Azka merasa kalau Filia sedikit mirip dengannya. Apalagi dia berharap untuk berteman dengan manusia pada umumnya, persis seperti keinginannya ketika kecil.
“Filia, apa kau dari kecil sudah tinggal di panti asuhan itu?”
Mendengar pertanyaan itu, Filia hanya menganggukkan wajahnya sambil berkata, “Umm.”
“Sepertinya kau melalui masa kecil yang berat ya.”
Ucapan Azka itu membuat Filia terdiam sambil menaikkan alisnya. Filia di penuhi ekspresi tanda tanya saat menatap Azka dari belakang.
“A-anu, apa Kak Azka juga mengalami hal yang sama?”
Azka hanya diam sambil melanjutkan langkah kakinya.
“Ya, tapi itu dulu,” gumam Azka.
“Eh?”
“Dulu aku sempat berpikir kalau semua orang akan mengkhianatiku tapi, aku salah. Ternyata aku masih punya teman-teman yang sangat berharga.”
“Apa mereka itu, kak Tricia dan kak Levin?” Filia penasaran dengan wajah ceria.
“Ya, mereka berdua sangat berharga bagiku.”
FIlia mengangguk. “Benarkan? lagipula kalian bertiga itu sangat akrab! aku benar benar kagum loh melihat kalian.”
“Ya, oleh karena itu, aku tidak mau kehilangan mereka.”
Filia kembali terdiam setelah mendengar kata-kata barusan. Dia tiba tiba teringat dengan keadaan Alan dan Cornelia sekarang.
Mengingat hal itu, membuat Filia sedikit murung.
“Tak perlu khawatir, mereka berdua pasti baik-baik saja. Mereka sampai melakukan itu karena kau adalah orang yang berharga bagi mereka kan?”
Seperti sadar dengan perasaan Filia, Azka mengatakan itu untuk menenangkan Filia.
“Ya, aku sangat bersyukur bisa berteman dengan mereka.” Setelah mengatakan itu, Filia menganggukan kepalanya.
Azka terdiam sambil memikirkan rencana Tricia dan Levin.
Apa mereka berdua berhasil menemukannya? benak Azka.
Dengan suasana hutan yang begitu damai, Azka dan Filia terus berjalan pulang menuju panti asuhan.
***
Sementara itu, di perbatasan kota Hayate.
“Em, permisi apa kalian tahu sesuatu tentang Crimson Buster?”
Tricia sedang bertanya ke salah satu Buster yang sejak tadi sudah melarikan diri hingga ke perbatasan kota.
Buster itu menggaruk wajahnya seakan ragu ragu untuk menjawab.
“Tu-tunggu, bukannya kalian berdua yang habis bertarung di alun alun kota?” Wajah Buster itu berubah menjadi ketakutan.
Tricia dan Levin terdiam sambil menatap satu sama lain.
“Ya, itu benar hehehe.” Levin menjawab dengan santai.
Orang itu semakin ketakutan ketika mendengar jawaban Levin barusan. Bahkan dia berniat untuk lari tapi di hentikan oleh Tricia.
“Tunggu dulu, apa kau tahu di mana markas Crimson Buster?”
Orang itu terdiam, lalu menoleh ke Tricia dan Levin.
“A-apa yang kalian rencanakan?”
“Cepatlah, kami punya urusan dengan mereka,” kata Levin.
Orang itu merasa terdesak dengan sikap Levin. Dengan perasaan ragu, Orang itu akhirnya menjawab.
“Me-mereka mempunyai markas di Kota Hawlic.”
“Hawlic?” tanya Levin dan Tricia.
“Y-ya, kota itu tidak jauh dari sini.”
“Kalau begitu, kemana arahnya?” tanya Tricia.
Orang itu menunjukkan arah dengan jari telunjuknya. “Kalian bisa menemuinya ketika keluar dari perbatasan kota. Letaknya ada di sebelah timur.”
“Begitu ya, terima kasih ya orang asing.”
Setelah Levin mengatakan itu, mereka berdua akhirnya pergi sesuai arahan salah satu Buster itu.
Tapi langkah mereka terhenti ketika orang itu mengatakan sesuatu.
“Ji-jika aku jadi kalian, aku tidak akan mau berurusan dengan mereka. Apalagi pemimpin mereka, Parviz. Percayalah orang itu sangat menakutkan.”
Levin dan Tricia hanya diam sambil menoleh ke orang itu.
“Ya, jangan khawatir.” Levin tersenyum lebar sambil melanjutkan perjalanannya bersama Tricia.
“Sebaiknya aku harus meninggalkan kota ini ….” Orang itu bergumam sambil melihat kepergian mereka berdua.
***
Setelah kepergian mereka, rambut hitam Chyntia menunjukkan tanda tanda bergerak. Dengan tubuh yang tidak di penuhi banyak luka, Chyntia tiba tiba berdiri sambil memasang tatapan tajam.
“Dua bocah sialan …,” gumam Chyntia.
Chyntia mengatur kembali rambutnya untuk di kuncir, lalu memandangi tempat sekitar yang hancur berantakan.
“Kalau saja aku tidak menahan serangan gadis tadi dengan rambutku, mungkin aku sudah terluka parah.”
Tatapan Chyntia tertuju ke arah Kazel yang masih terkapar tak sadarkan diri. Chyntia lalu berjalan ke arahnya. Dengan wajah datar, Chyntia menendangi Kazel untuk bangun.
“Oi Kazel bangun!” Chyntia berteriak dengan tatapan kesal.
Setelah cukup lama, Kazel pun membuka matanya secara perlahan dan menatap Chyntia.
“O-oh, selamat pagi Chyntia.” Kazel tersenyum seperti tak terjadi apa apa.
“Selamat pagi kepalamu! bangunlah dasar bodoh.”
“Kenapa kau marah marah? nanti wajahmu keriput loh.”
Dengan cepat, Chyntia menggerakkan rambutnya ke hadapan Kazel.
Kazel seketika mulai sedikit ketakutan. “Baiklah, jangan marah begitu. Aku hanya bercanda.” Dengan tubuh yang masih di penuhi luka akibat pertarungan sebelumnya, Kazel lalu berdiri sambil mengeluarkan suara menahan sakit.
“Kelihatannya luka di tubuhku ini cukup fatal ya.”
“Ya aku tidak menyangka kalau aku bisa hilang kendali hehehe.” Kazel tertawa seperti berusaha mengelak.
Chyntia menghembus nafasnya dengan wajah masam.
“Kita harus pergi dari sini, Kazel.”
“Hm? apa kita kembali untuk menangkap gadis kecil itu?”
“Tidak, sepertinya dua bocah yang melawan kita sedang menuju ke kota Hawlic. Akan jadi masalah kalau ada yang sampai tahu rencana kita. Aku juga tidak mau melihat Parviz marah, jadi kita harus kembali Kazel.”
“Begitu ya, aku juga berniat untuk membunuh bocah petarung itu. Dia cukup menarik sampai membuatku lupa diri.”
“Jangan melakukan hal yang bodoh lagi, Kazel.”
“Berisik, aku mengerti itu. Aku hanya terlalu bersemangat.”
Mereka berdua berjalan menuju ke kota Hawlic. Tapi Chyntia memasang tatapan kesal saat berjalan.
“Aku akan memberi pelajaran ke gadis sialan itu.”
Kazel yang melihat itu memasang ekspresi tanda tanya.
“Eh? jangan marah begitu Chyntia. Nanti wajahmu cepat tua loh.”
“Diam kau!”
***
“Jadi ini kota Hawlic?” tanya Tricia.
Setelah berjalan cukup lama, Tricia dan Levin sampai di kota Hawlic sesuai informasi dari salah satu Buster. Mereka berdua berjalan sambil memandangi sekitar kota dengan perasaan bingung.
Terlihat beberapa rumah dan kedai yang sudah lama tidak tinggali. Keadaan kota Hawlic juga sangat sepi seperti tidak ada penduduk yang tinggal.
“Apa ini benar tempatnya?” Levin sedikit ragu dengan keadaaan kota Hawlic.
“Entahlah, tapi seharusnya di sini.”
“Membosankan, apa tidak ada restoran di sekitar sini? aku kelaparan.” Levin memegang perutnya yang keroncongan sambil berjalan.
“Kita datang kesini bukan untuk mencari makanan.” Sambil mengatakan itu, Tricia menahan tatapan kesalnya.
“Aku lapar Tricia ….”
“Sabarlah sedikit, setidaknya kita harus mencari tahu di mana markasnya.”
“Mungkin kita bisa bertanya seseorang di sini.”
“Tapi kota ini sedikit aneh, sejak tadi tidak ada satupun orang yang terlihat.” Tricia memasang tatapan curiga sambil memandangi tempat di sekitarnya.
“Bukannya ini mirip di desa panti asuhan?”
“Memang sih, tapi aneh rasanya kalau sebuah kota bisa di tinggalkan seperti ini. Apalagi kota ini adalah bagian dari kerajaan.”
Levin memasang wajah seperti kebingungan. “Aku tidak mengerti sih, tapi itu terdengar keren.”
Tricia hanya menghembus nafas panjang sambil berjalan tanpa tujuan bersama Levin. Tidak lama setelah mereka menyusuri kota Hawlic, mereka berdua terhenti ketika melihat sebuah mansion besar yang cukup mencolok.
Mansion besar itu memiliki bangunan yang sedikit tua dan tidak terawat. Tapi, mereka terfokus ketika melihat beberapa orang yang di duga adalah Buster sedang berlalu lalang di depannya.
Menyadari hal itu, Tricia dengan cepat menarik Levin untuk bersembunyi di salah satu gang sempit.
“Kenapa kau menarikku tiba tiba?”
“Levin lihat!” Tricia mendorong kepala Levin untuk mengintip mansion besar itu.
“Kenapa memangnya? kita harusnya bertanya ke mereka kan?”
“Apa kau tidak mengerti? sepertinya itu adalah markas Crimson Buster!”
“Ha?!” Levin terkejut dengan mata membesar. “Kalau begitu tunggu apalagi, ayo kita selamatkan anak anak itu.”
“Tunggu dulu!” Tricia menahan Levin yang hendak pergi. “Ingat, kita kesini hanya perlu mencari tahu di mana mereka menyembunyikan anak-anak panti asuhan.”
“Eh? bukannya lebih bagus kita menyelamatkan mereka sekarang?”
“Itu memang benar, tapi lihat di tempat itu banyak sekali Buster yang berkeliaran. Kita juga masih terluka akibat pertarungan tadi.”
“Tenang saja Tricia, aku masih sanggup menghajar mereka semua hahaha.”
“Kau ini benar benar bodoh.”
“Terus kita sekarang harus apa?”
Tricia hanya diam dengan pertanyaan Levin. Dia sebenarnya bingung apa yang harus di lakukan selanjutnya. Tricia juga masih belum yakin kalau Alan dan Cornelia berada di tempat itu.
“Sebaiknya kita bersembunyi dulu.” Tricia mengatakan itu dengan ragu-ragu.
“Membosankan.” Levin seperti mengeluh menuruti perkataan Tricia.
“Menurut saja apa yang kukatakan!” Tricia menekan kepala Levin untuk bersembunyi.
***
Di suatu tempat yang tidak begitu jauh dari kerajaan Hawthorn.
Sebuah kereta perang milik pasukan Lancer sedang menyusuri jalan di dekat kerajaan Hawthorn. Bebarapa Lancer yang mengendarai kereta itu dengan cepat melintasi kerajaan itu seperti tak peduli.
Gracia Lilac, Kapten dari satuan Lancer memasang tatapan dingin ketika melihat kerajaan Hawthorn dari dalam kereta.
“Kerajaan Hawthorn ya ….” Gracia menggumamkan itu dengan tatapan mencurigakan.
Di dalam ruangan kereta itu ada pria berambut pirang yang merupakan Wakil Kapten Lancer, Vitto Higuchi.
Vitto memasang ekspresi tanda tanya ketika melihat kaptennya menggumamkan sesuatu.
“Ada apa Kapten Gracia? apa ada sesuatu di kerajaan itu?”
Gracia menatapnya dengan tajam hingga membuat Vitto sedikit ketakutan.
“Apa kau tidak tahu kerajaan Hawthorn?”
“I-itu kerajaan kudeta kan? kudengar kalau kerajaan itu sekarang sudah di ambang kemiskinan.”
“Yang kita lewati sekarang adalah kerajaan Hawthorn.”
Vitto yang terkejut langsung melihat ke kerajaan itu dari jendela. “Jadi itu kerajaan Hawthorn? kelihatannya kerajaan itu sudah benar benar di ambang kehancuran.”
Dari kejauhan, kerajaan Hawthorn memang terlihat berantakan dengan gedung istana yang tak terurus. Kerajaan Hawthorn adalah salah satu kerajaan miskin sejak perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan.
“Aku dengar dari beberapa Lancer kalau salah satu kota di sana ada kelompok Crimson Buster.” Sambil mengatakan itu, Gracia menatap kerajaan itu dengan datar.
“Crimson Buster?!” Tatapan Vitto menjadi terkejut. “Kalau tidak salah Crimson Buster itu pemimpinnya adalah Parviz si penebas api kan?!”
“Berhenti berteriak padaku!”
“Ma-maaf kapten ….” Vitto menurunkan bahunya setelah di bentak Gracia.
“Aku juga tahu tentang itu. Tapi ….” Gracia menghentikan ucapannya sambil meremas sebuah kertas pencarian Buster.
“Ka-kapten Gracia?” Vitto terdam dengan ekspresi tanda tanya melihat Gracia yang bertingkah aneh.
“Kita tidak perlu memburu kelompok itu.”
Vitto menghembuskan nafasnya seperti lega. Tapi Gracia tiba tiba memberikan sebuah kertas pencarian Buster pada Vitto.
Dengan raut wajah kebingungan, Vitto melihat isi kertas itu. Wajahnya tiba tiba terkejut seakan ketakutan setelah melihat wajah seorang gadis di kertas itu.
“Ka-kapten, gadis ini kan?”
“Dialah orang yang harus kita cari. Aku juga yakin kalau dia tidak akan muncul di kerajaan itu.” Dari gaya bicaranya, Gracia terdengar meyakinkan.
“Ta-tapi Kapten, orang ini kan ….” Vitto berusaha untuk mencerna isi kertas itu.
Gracia menoleh dan menatap Vitto dengan tajam.
“Salah satu Buster yang paling di cari di daratan North Land, Celine Natania.”
To be Continued…