
Setelah mendengar cerita yang sebenarnya dari Filia, Azka hanya bisa terdiam dengan tatapan datar. Bahkan langkah kaki Azka sampai terhenti.
“Kak Azka?” Filia berbalik ke arah Azka yang mulai tertinggal di belakangnya.
“Oh, maaf.” Setelah mengatakan itu, Azka menyusul dan kembali berjalan di samping Filia.
Mereka berdua terus berjalan dengan kesunyian melewati beberapa semak belukar. Meski Azka yakin kalau di hutan itu adalah tempat tinggalnya monster Wolfem, tapi dia dan Filia sama sekali belum menemukan tanda tanda dari monster itu.
Lalu, Azka mulai memecah suasana dan berkata.
“Kau gadis yang cukup hebat ya,” ucap Azka.
Mendengar perkataan itu, Filia lalu menatap Azka dengan kebingungan.
“Kenapa kak Azka berbicara seperti itu?”
Sambil memalingkan pandangannya, Azka sedikit tersenyum. “Tidak apa apa.”
Filia yang mulai kebingungan hanya bisa memandangi Azka yang berjalan di sampingnya. Fiiia masih tak menyangka kalau orang yang di sampingnya ini mempunyai sisi yang baik.
“Ngomong-ngomong,” lanjut Azka. “Nenek Alice bilang kalau kau salah satu pengguna Link tipe Vistia.”
“Jadi mama memberitahu ke kalian?” Filia bertanya untuk memastikan.
“Ya, aku juga dengar kalau kau tidak bisa mengendalikan kekuatanmu.”
“Mama memang pernah mengatakan seperti itu padaku, tapi setiap kali aku berlatih tetap tidak ada yang berubah.”
“Begitu ya,” ucap Azka. Dengan tatapan dinginnya, Azka kembali menambahkan. “Itulah kenapa aku mengajakmu ke sini.”
“Eh? Apa maksudnya?”
“Seperti yang sudah ku jelaskan, kami memang berniat untuk menolong teman temanmu. Tapi, aku sengaja membawamu untuk berburu Wolfem sekaligus melatih kekuatan Linkmu.”
Dari awal perencanaan, Azka memang berniat untuk melatih Filia mengendalikan kekuatan Linknya. Karena itulah, Azka sengaja membantu Filia mendapatkan uang dengan berburu Wolfem, sekaligus melatih pengendalian kekuatannya.
“Kakak … mau melatihku?” Filia mengernyit ketika mendengar penjelasan Azka.
“Mungkin bukan melatih, tapi aku hanya sedikit membantumu untuk mengendalikan kekuatan Link.”
“….”
Filia hanya terdiam lalu menurunkan pandangannya. Setelah penjelasan tadi, Filia mulai tersenyum dengan menitihkan air mata.
Menyadari hal itu, Azka hanya bisa terdiam menatapnya.
“Filia?”
FIlia lalu menggeleng sambil menyeka air matanya.
“Terima kasih ….” Filia mengatakan itu sambil melihat ke arah Azka.
Setelah menatap kedua mata Filia, Azka melanjutkan langkahnya sambil menyembunyikan senyumannya.
“Sudah kubilang kalau kau tidak perlu berterima kasih.” Azka mengatakan itu sambil berjalan meninggalkan Filia.
Dengan perasaan yang masih tak bisa berkata apa apa, Filia lalu berlari menyusul Azka sambil tersenyum.
***
Bagian timur kerajaan Hawthorn, Kota Hayate.
Sementara itu, Levin dan Tricia yang bertugas untuk menyelidiki markas Crimson Buster tempat mereka menahan Alan dan Cornelia akhirnya sampai di kota Hayate.
Karena tidak tau harus darimana, Levin dan Tricia memutuskan untuk mencari informasi tentang mereka di Kota itu. Tepatnya mereka sekarang berada di salah satu bar yang cukup ramai di Kota Hayate.
Levin yang sejak tadi sudah memesan banyak makanan, tampak memakai sebuah jubah untuk menutupi wajahnya.
“Tricia,” panggil Levin. “Kenapa aku harus memakai jubah ini?” Levin mulai mengeluh sambil memakan makanan di hadapannya.
“Tentu saja, apa kau tidak ingat kejadian kemarin?” keluh Tricia.
Sebelumnya, Tricia memang memaksa Levin untuk mengenakan jubah agar menutupi dirinya dari gerombolan Buster. Itu semua karena beberapa Buster yang ada di kota Hayate sedang mencari keberadaan Filia, Azka dan Levin.
Tricia memang sempat bergabung dengan Azka dan Levin, tapi wajahnya tidak terlalu di kenali karena hanya Azka dan Levin saja yang menyerang mereka saat menyelamatkan Filia.
“Lalu kenapa? Jika mereka mau memburuku, tinggal aku hajar saja.” Levin mengatakan itu dengan polos sambil memegang potongan daging.
“Kita tidak boleh membuat keributan di sini!” bentak Tricia. “Ingat, kita hanya perlu menyelidiki markas dari Crimson Buster.”
Walaupun Tricia berusaha menjelaskan itu, Levin seakan tak peduli sambil memakan makanannya.
Bar yang sekarang di kunjungi oleh Tricia dan Levin memang cukup ramai dengan beberapa gerombolan Buster. Sejak keributan yang melibatkan Azka dan Levin, beberapa kelompok Buster mulai menaruh perhatian lebih kepada Filia jika seandainya dia kembali untuk mencuri.
Lalu Tricia menghembus nafas berat setelah memandangi seisi Bar.
“Mereka sepertinya benar benar mengincar Filia.”
“Tentu saja, apalagi pas aku dan Azka membuat keributan di sini, hahahaha.” Levin tertawa dengan wajah polos.
“Itu bukanlah sesuatu yang harus di tertawakan!” Tricia membentaknya dengan wajah kesal.
“Tapi Tricia,” kata Levin. “Bagaimana kita bisa menemukan Crimson Buster di sini?”
“Sebenarnya bertanya ke salah satu dari mereka bukanlah ide yang cukup bagus. Tapi, kita tidak punya pilihan lain selain menunggu salah satu anggota Crimson Buster mengunjungi bar ini.”
“Eh? Membosankan.” Levin memasang wajah mengeluh.
“Setidaknya kita harus menunggu situasi yang tepat.” Sambil mengatakan itu, Tricia terus memperhatikan orang orang yang ada di Bar.
Setelah menghabiskan semua makanannya, Levin mulai mengelus perutnya karena kekenyangan.
“Kenyangnya!” ucapnya. Lalu, Levin mulai menatap Tricia dengan tatapan serius. “Hei Tricia, kau pernah mendengar tentang Crimson Buster kan?”
“Kurang lebih begitu,” jawab Tricia.
Levin memasang tatapan berbinar. “Apa mereka itu benar benar kuat?”
Tricia mulai mendesah. “Aku sebenarnya tidak tau banyak tentang mereka, tapi yang jelas mereka itu adalah salah satu kelompok Buster yang cukup di takuti. Bahkan empat orang terkuat di kelompok itu memiliki Threat Power di atas 1.000.” Tricia menjelaskan itu dengan tatapan serius.
Tapi seakan tak mengerti, Levin hanya memasang ekspresi antusias.
“Jadi intinya mereka adalah orang yang kuat kan?!”
Tricia menarik nafas panjang ketika melihat ekspresi Levin. “Ya, bisa di katakan begitu.”
Setelah berdiam diri di bar cukup lama, pandangan Tricia dan Levin mulai tertuju ketika ada seorang pria dan wanita yang membuka pintu bar dengan kasar.
Sepasang mata dari orang orang di kedai juga tampak ketakutan ketika kedatangan dua orang itu. Bahkan beberapa dari mereka mulai berpura pura untuk tak melihatnya.
Lalu pria yang berambut merah gelap itu mulai memasang senyuman merendahkan.
“Jadi ini Bar terbaik di kota Hayete?!” Pria yang mengatakan itu tidak lain adalah Kazel, salah satu anggota terkuat Crimson Buster.
Kazel kembali berbicara, “Tempat ini benar benar buruk!”
Di sebelahnya, Wanita berambut hitam panjang yang di kuncir berbentuk sanggul itu hanya memasang ekspresi kesal. “Kau ini berisik sekali, Kazel.”
Wanita yang barusan mengatakan itu adalah Chyntia, anggota wanita terkuat di Crimson Buster.
Beberapa pasang mata yang ada di bar terlihat semakin ketakutan sambil membisikkan sesuatu ke orang sebelahnya.
“Oi, mereka berdua itu kan ….”
“Ya, Kazel sang penjerat merah dan Chyntia sang wanita terkuat di Crimson Buster.”
“Kenapa mereka bisa berada di sini?”
Percakapan mereka yang di dengar oleh Kazel dan Chyntia langsung membuat suasana bar mencekam. Bahkan mereka bergidik ketakutan melihat tatapan Kazel yang mulai geram.
Menyadari hal itu, Levin hanya bisa memasang tatapan kebingungan.
“Siapa dua orang itu?” Levin bertanya sambil memakan sepotong roti dengan santai.
Dengan wajah panik, Tricia langung menutupi mulut Levin dengan tangannya. Lalu Tricia mulai berbisik, “Jangan keras keras, mereka berdua itu adalah anggota dari Crimson Buster!”
Levin langsung terkejut dan berusaha melepas tangan Tricia dari mulutnya.
“Oi, kalian ber—” Perkataan Levin terhenti ketika Tricia kembali menutup mulutnya.
Menyadari ada yang aneh, Kazel dan Chyntia mulai mengarahkan pandangannya ke Levin dan Tricia.
“Kenapa mereka berdua itu?! Mau cari mati ya?!” Kazel mengatakan itu sambil tersulut emosi.
“Lupakan saja mereka,” potong Chyntia. “Ingat, kita di sini hanya menjalankan perintah dari Parviz.”
Sambil mengatakan itu, Chyntia mulai mendorong Kazel untuk berhenti menatap Levin dan Tricia, dan menyuruhnya untuk duduk di salah satu meja di bar.
Lalu, Levin yang mulutnya di tutupi tangan Tricia berusaha mengatakan sesuatu.
“Apa … yang kau lakukan. Tricia?!” tanya Levin gelisah. “Mumpung ada di sini, kita tinggal hajar saja mereka!”
“Apa kau ini bodoh?! Ingatlah mereka masih menyandra teman teman Filia!” Tricia berbisik dengan wajah kesal.
“Kita kan bisa menanyai mereka, jadi lepaskan tanganmu!” Levin mulai menarik tangan Tricia dari mulutnya tapi gagal.
“Mana mungkin mereka akan mengatakannya secara langsung!” Tricia semakin menaikkan suaranya karena kesal.
“Tapi aku tidak bisa bernafas!” keluh Levin.
Karena suara mereka berdua yang mulai mengeras, Kazel dan Chyntia yang sejak tadi duduk mulai menaruh rasa curiga di wajahnya.
“Apa yang sebenarnya mereka berdua lakukan?!” Kazel mulai berdiri dari kursinya dengan emosi.
“Mungkin mereka berdua sedang bermesraan, lupakan saja itu Kazel.” Chyntia berusaha untuk tetap tenang sambil berusaha membujuk Kazel.
“Bermesraan?!” tanya Kazel emosi. “Berani beraninya mereka berpacaran di hadapanku!”
Chyntia mulai memasang wajah masam sambil memegang keningnya. “Kenapa kau bisa marah dengan alasan seperti itu?”
“Apa mereka pikir Bar ini adalah tempat untuk bermesraan?!” Dengan nada yang semakin emosi, Kazel mulai mendekati meja Tricia dan Levin.
Menyadari kedatangn Kazel, Tricia mulai mengeluarkan ekspresi panik sambil bergumam.
Gawat, dia datang kemari!
Levin yang masih berusaha melepaskan tangan Tricia dari mulutnya akhirnya membuahkan hasil. Itu terjadi karena Tricia mulai terfokus dengan Kazel yang mulai mendekatinya.
Levin terengah engah sambil mengatakan sesuatu.
“Huft … huft … aku susah untuk bernafas woi!”
Tapi perkataan Levin terhenti ketika Kazel sudah berdiri dengan wajah kesal di depan meja mereka.
“Woi bocah bocah tengik! Jika kalian mau berpacaran bukan di sini tempatnya!”
Tricia yang mendengar hal itu mulai kehilangan kata kata.
Berpacaran? Apa maksud orang ini?! benak Tricia, sambil berusaha mencerna maksud perkataan Kazel.
Kazel melanjutkan perkataannya, “Woi kalian mendengarku kan?!” Tatapan Kazel mulai mengarah ke arah Levin karena penasaran dengan jubah yang di pakai.
“Lalu kenapa kau memakai jubah seperti itu!” Sambil meneriakan itu, Kazel membuka jubah yang di pakai Levin untuk menutupi wajahnya.
“Yo, halo.” Levin yang jubahnya di buka oleh Kazel hanya menyapanya dengan wajah polos.
Gerombolan Buster yang sejak tadi melihat Kazel, mulai menunjuk ke arah Levin sambil berteriak.
“Anak itu?!”
“Dia Buster yang bekerja sama dengan monster sialan itu!”
Seketika suasana Bar berubah menjadi teriakan amarah dari gerombolan Buster yang sempat menjadi korban dari Azka dan Levin.
Menyadari teriakan itu, Kazel mulai sedikit kebingungan.
“Hm? Buster yang bekerja sama dengan monster?” Kazel menaruh tangannya di dagu seperti memikirkan sesuatu.
Lalu Chyntia yang dari kejauhan mulai berteriak ke arahnya. “Kazel bodoh, dia adalah Buster yang membantu Filia!”
Mendengar hal itu, Kazel langsung memasang ekspresi terkejut. “Jadi kau salah satu orangnya ya?!” Tatapan Kazel berubah menjadi amarah.
Tricia yang sejak tadi terdiam mulai memasang tatapan pasrah. Sedangkan Levin hanya tersenyum seakan tak terjadi apa apa.
“Ya, itu benar! Akulah orangnya!” Levin mengatakan itu seakan membanggakan diri.
“Oh, lalu apa tujuanmu kemari?!” Kazel tampak bersemangat melihat tatapan Levin.
Suasana di Bar yang sempat hening, Levin mulai berdiri dari kursinya dan menatap ke arah Kazel dengan tatapan tajam.
“Sebelum aku menghajarmu, di mana kau menahan anak anak itu?!”
To be Continued…