Black Buster

Black Buster
Chapter 74 "Behind the Truth"



“Wajahmu sangatlah berbeda di banding kecil dulu.” Alice mengatakan itu sambil menatapnya dengan hangat.


Sambil melihat Alice terduduk di atas kasur, Parviz mendekat perlahan dan mengabaikan perkataan itu.


“Aku masih tidak percaya selama ini kau tinggal di desa yang sudah tinggalkan seperti ini.”


“Aku juga terkejut saat mengetahui kaulah yang menculik anak-anakku.”


Sambil mendekat, Parviz melihat-lihat seisi panti asuhan itu.


“Ternyata kau merawat anak-anak itu di tempat seperti ini ya. Kau benar-benar pengasuh yang buruk.”


“Setidaknya aku ingin mereka bisa merasakan kehidupan yang layak.”


“Kau selalu mengatakan itu sejak dulu.”


“Karena aku selalu menyayangi anak-anakku, sama seperti dirimu, Parviz.”


“Kau hanyalah seorang pengasuh yang sudah menjadi nenek tua. Sekarang katakan, di mana anak itu?”


Alice menatap Parviz dengan senyuman lembut.


“Aku tidak tahu kemana Filia pergi. Meski aku mengetahuinya aku tidak mungkin mengatakannya padamu.”


“Kau terlalu membanyak membual dasar nenek tua!”


“Lagipula kau datang ke sini tidak hanya menanyakan keberadaan Filia bukan?”


Parviz menyeringai dengan tatapan mencurigakan.


“Tentu saja. Aku juga ingin memastikan sesuatu padamu.”


“Kau masih membenciku karena kejadian itu, ya.”


Tanpa mengatakan apapun, Parviz langsung saja mengarahkan pedangnya menghadap Alice.


“Kau harusnya sudah tahu kenapa aku melakukan hal ini.”


Alice memejamkan matanya dengan tulus, seakan menerima apa yang akan terjadi padanya.


“Meski tidak akan mengubah apapun, aku ingin meminta maaf padamu dari lubuk hatiku yang paling dalam.”


“Aku sudah tidak membutuhkan maaf darimu.” Parviz memberikan tatapan tajam, sambil mendekatkan pedangnya tepat di hadapan Alice.


“Kalau memang membunuhku bisa membuatmu memaafkanku, aku sama sekali tidak keberatan.”


“Memang itu yang ingin kulakukan.”


Tanpa menunggu waktu lama, Parviz mulai menghunuskan pedangnya namun—Trang!


Ayunan pedang Parviz akibat Filia yang datang tiba-tiba menahan pedang itu dengan cakarnya. Lalu dengan cepat, Filia menarik Alice pergi dari tempat itu.


Tapi karena badannya yang kecil, di tambah keadaan Alice yang memburuk membuat nenek itu terjatuh.


“Mama!” Filia berteriak dengan tatapan melebar.


Alice yang dalam keadaan tersungkur mencoba membangunkan dirinya, namun Parviz telah menancapkan pedangnya tepat di hadapan Alice.


“Kau sangat berani menunjukkan dirimu di sini, monster kecil.”


“Lepaskan Mama!” Kedua cakar Filia tampak menajam, dengan raut wajah kemarahan.


“Kau sangat menyayangi nenek ini rupanya.”


“Sudah kubilang lepaskan dia!”


Tanpa memperdulikan rasa takutnya, Filia langsung menyerang tapi di tendang oleh Parviz hingga membuatnya menabrak beberapa meja tua.


“Filia!” teriak Alice dengan wajah khawatir.


“Hentikan saja, Monster kecil. Aku tidak ingin melukaimu lebih dari ini. Jika kau sampai terluka harga jualmu akan turun di pasaran.”


Dengan mata berkaca-kaca, Filia mencoba membangunkan tubuh mungilnya. Seluruh tubuhnya tidak bisa berhenti gemetaran, namun Filia lebih ketakutan jika harus kehilangan mama tercintanya.


“Hentikan itu ….” Alice yang tidak sanggup melihat anak tercintanya terluka, hanya bisa memejamkan mata sambil memalingkan pandangan.


“Aku mohon … biarkan mama pergi ….”


“Kau memang anak yang keras kepala. Begini saja, biar kuceritakan masa lalu Mama tercintamu ini.”


“Apa maksudmu ….”


“Asal kau tahu saja, aku dulu sama seperti kalian. Saat aku masih kecil, aku juga di asuh olehnya.”


“Lalu kenapa kau melakukan ini padanya? Padahal Mama adalah orang yang sangat baik ….”


“Baik?! Orang yang kau panggil mama ini tidaklah sesuci yang kau pikirkan selama ini!”


Filia merasakan tatapan kebencian dari raut wajah Parviz. Tentu Filia masih tak mengerti apa yang sebenarnya Parviz maksud.


“22 tahun yang lalu, orang yang kau panggil Mama ini sengaja mengasuhku untuk di jadikan bahan penelitian”


“Penelitian?”


“Kau pasti tahu kan, kalau nenek tua ini dulunya adalah seorang peneliti. Tapi aku yakin kalau dia tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hingga dia berhenti menjadi peneliti.”


Lalu, Parviz menaruh pedangnya ke lantai dan perlahan melepas bajunya satu persatu. Filia sontak saja terkejut dengan apa yang ada di tubuh Parviz.


Terlihat banyak sekali luka sayatan dan tusukan yang sangat membekas. Bahkan itu terlihat jelas meski di tengah gelapnya ruangan.


“Luka yang ada di tubuhku ini. Semuanya adalah perbuatan orang kau sebut Mama itu.”


“Tidak mungkin ….”


Raut wajah Filia menjadi kosong. Tentu dia tidak percaya jika semua luka itu adalah perbuatan Alice. Tapi ketika dia kembali melihat luka-luka itu, Filia merasa kalau apa yang di katakan Parviz bisa di percya.


Pikiran gadis kecil itu mulai di serang kebimbangan. Dengan alis mengernyit, Filia menatap ke Alice yang sejak tadi tersungkur dan memejam matanya seakan tak ingin melihat keadaan tubuh Parviz.


Parviz lalu menaikkan sudut bibirnya dan berkata. “Wajahmu jelas menunjukkan kalau kau mulai ragu dengan nenek itu—tidak, mungkin lebih tepatnya, orang tua kita.”


Tatapan Filia semakin melebar, pikirannya mulai seperti di penuhi rasa keraguan.


“Kalau kau masih ragu, aku akan menceritakan sedikit tentang bagaimana aku mendapatkan luka ini.”


***


POV 1 Parviz Benedict.


22 tahun yang lalu.


Di depanku sekarang ada beberapa orang yang sama sekali tidak kukenal. Kecuali satu orang, namanya adalah Alice Lucette, sekaligus Mamaku.


Mereka semua memakai jas putih sambil memegang sebuah kertas yang entah bertuliskan apa.


“Anak itu memiliki fisik yang bagus,” kata seorang pria misterius sambil mengecek selembar kertas itu.


“Kau benar-benar membawa sampel yang sangat bagus, Alice.”


Mama tidak mengatakan apapun, selain menurunkan wajahnya. Aku masih tidak mengerti kenapa melakukan ini padaku.


Aku masih bertanya-tanya, dan berharap dia akan menyelamatkanku.


Ini sudah hari ketiga aku berada di ruangan ini. Tanpa udara segar, makanan ataupun minuman. Aku hanya bisa terikat di belenggu besi tanpa bisa bergerak sedikitpun.


“Baiklah inilah saatnya.”


Pria itu sepertinya mengatakan sesuatu. Benar saja, dia bersama seorang temannya sekarang menuju ke ruanganku. Sementara Mama, dia masih saja terdiam berusaha memalingkan wajahnya.


Kenapa … kenapa kau melakukan ini padaku?!


Kedua orang itu lalu masuk ke dalam dan membawa semacam alat berbentuk suntikan yang sangat besar.


“Kau beruntung, bocah. Jika penelitian ini berhasil, kau akan mendapatkan kekuatan Link.”


“Link?”


Apa yang mereka bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti! Apa selama ini aku di jadikan penelitian untuk itu?


“Kau benar-benar di bodohi oleh ibumu, ya? Hehehehe.”


“Apa … yang kau bicarakan?”


“Apa kau tidak sadar?! kalau selama ini dia hanya merawatmu untuk di jadikan kelinci percobaan.”


“Kelinci percobaan? aku? Bohong … kau pasti berbohong.”


“Hahaha, berbohong? Kalau kami berbohong padamu, kenapa dia sampai ingin membawamu kemari?!”


Tidak mungkin, Mama tidak mungkin berbohong. Mama sangat menyayangiku, ini pasti sebuah mimpi. Tapi entah kenapa, aku tidak bisa menahan air mataku keluar…


“Percayalah, dia itu hanyalah wanita berhati busuk untuk mencari anak yang tidak memiliki kekuatan Link. Dan di jadikan bahan eksperimen di tempat ini.”


“Tutup mulutmu! Mama tidak akan melakukan hal itu padaku!”


“Terserah kau mau mempercayai itu atau tidak, tapi yang pasti kau tidak akan bisa kembali ke pelukan wanita itu setelah semuanya selesai.”


“Jika eksperimen ini berhasil, kami akan terus menahanmu di tempat ini. Dan jika eksperimen ini gagal, kau akan mati di tempat ini, hehehahahaa!”


“Oi, kau terlalu banyak berbicara.”


“Tidak apa, lagipula tidak ada salahnya anak ini mengetahuinya.”


“Tapi jika dia memberontak akan bahaya.”


“Kau ini bicara apa? dia tidak akan bisa bergerak dari belenggu besi itu.”


Mereka seperti berseteru selagi aku melihat ke arah Mama dengan mata berkaca-kaca.


“Tolong … Mama ….” Tapi semuanya sia-sia. Kenapa Mama tidak melihat ke arahku?! Kenapa?!


“Percuma saja, ruangan ini kedap suara jadi orang yang berada di luar tidak akan mendengarmu.”


“Lepaskan aku!” Aku berusaha memberontak, menggerakkan sisa tenaga yang kupunya. Tapi semua ini sia-sia, belenggu besi yang mengikatku terlalu kuat. 


Kedua orang itu mengarahkan benda mengerikan itu dan—Arrghhh!


Aku berteriak kesakitan hingga air mataku berjatuhan. Kedua benda itu menusuk terlalu dalam ke dalam tubuhku. Bahkan aku bisa melihat darah segar yang menetes keluar dari perutku.


Dengan air mata yang berkumpul di bola mataku, aku terus memandangi Mama dan sekarang dia mulai melihatku. Tapi … dia hanya diam saja.


Ini … bohong kan? Kenapa Mama hanya menyaksikannya dari sana?! Aku butuh pertolongan ….


“Sial! Kemungkinan tubuhnya mengalami penolakan!”


“Jangan bercanda! Kita sudah melakukan penelitian ini bertahun-tahun.”


“Tapi … tidak muncul tanda-tanda aura yang kuat darinya.”


“Tidak akan kubiarkan hal ini terjadi!”


Aku yang masih setengah sadar bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Namun di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih berharap wanita yang ku panggil Mama itu akan menyelamatkanku.


“Baiklah sekarang waktunya percobaan terakhir!”


Saat aku mendengar orang itu berteriak, dia mengambil semacam pisau besar. Aku mulai bergidik ketakutan, tubuhku tak berhenti gemetar melihat tajamnya pisau tersebut.


Apa dia akan membunuhku?


“Jangan membunuhnya terlebih dahulu!”


“Aku mengerti itu!” Orang itu lalu mengayunkan pisaunya padaku dan—semburan darah tiba-tiba saja keluar.


Penglihatanku serasa memudar. Meski begitu aku masih bisa melihat pisau itu terus menyayat tubuhku. Aku tidak bisa berteriak kesakitan lagi—tidak, aku sudah tidak bisa menggerakkan mulutku.


“Ayo keluarlah kemampuan Link sialan!”


Dia terus menebaskan pisaunya bertubi-tubi. Tajamnya pisau itu bisa kurasakan di kulitku yang semakin terkoyak. Darah juga terus menyembur keluar dari bagian tubuhku hingga membuat pisau itu bermandikan darah.


Aku merasakan kesakitan yang luar biasa, tapi anehnya aku belum kehilangan kesadaranku.


Semakin lama dia menyiksa tubuhku, aku semakin tidak merasakan rasa sakit. Mungkin ini rasanya berada di ambang kematian.


Atau mungkin saja aku sudah mati? Tapi, kenapa aku bisa masih bisa mengatakan ini di pikiranku?


Hari-hari yang menyenangkan selama ini bersama Mama, pada akhirnya berakhir hanyalah sebuah kebohongan.


Lalu untuk apa selama ini dia memberiku harapan hidup? Lalu untuk apa selama ini dia memberikan senyuman hangat itu padaku?


Ya, tentu saja. Dia melakukan semua itu untuk hari ini. Hari di mana dia menunjukkan sifat aslinya.


Aku benar-benar membencimu! Benci, benci, benci, benci! Kau adalah monster! Aku bahkan tidak ingin memakai namamu belakang lagi!


Tapi, kurasa itu sudah terlambat ...


Oleh karena itu aku memohon kepada mereka …


Bunuh saja diriku.


To be Continued…