
Gracia, Vitto dan anggota Lancer lainnya akhirnya pergi meninggalkan desa Corael. Itu terbukti dengan keberadaan mereka yang sudah tak terlihat oleh Azka dan yang lainnya.
Sementara itu, Azka, Levin dan Tricia sejak tadi hanya terdiam mengiringi kepergian mereka.
“Wanita itu sebenarnya kenapa? Padahal dia menyerangmu duluan sekarang dia malah pergi, benar benar orang aneh.” Ucap Levin polos.
“Mungkin karena aku tidak ada dalam daftar pencarian Buster.”
Alasan itu memang masuk akal mengingat Azka dan Tricia baru saja menjadi Buster. Dan tentu saja Lancer lebih mengutamakan Buster yang termasuk dalam daftar buruan mereka. Apalagi jika Buster itu memiliki nilai Threat Power yang tinggi.
“Apa maksudmu gulungan yang ditunjukkan tadi?” Tanya Tricia sedikit bingung dengan apa yang dikeluarkan Gracia sebelumnya.
“Ya. Pada dasarnya tiap Buster memiliki daftar Threat Power masing masing anggota. Semakin tinggi Threat Power orang itu maka dia semakin berbahaya.”
“Aku beberapa kali pernah melihatnya. Itu mirip seperti poster buronan kan?”
“Setauku itu sedikit berbeda karena daftar Threat Power dibuat oleh Lancer hanya untuk memberitau semua orang kalau Buster tersebut berbahaya. Sedangkan Threat Power hanyalah nilai untuk mengukur tingkat ancaman seseorang.”
Karena pernah menjadi Lancer, Azka sangat mengerti dengan sistem Threat Power yang dibuat oleh petinggi Lancer. Threat Power sendiri hanyalah nilai ukur seberapa berbahaya orang itu, berbeda dengan Poster Buronan para bandit.
Poster Buronan sendiri hanya dibuat oleh orang orang yang sedang membutuhkan jasa menangkap bandit atau penjahat tertentu sesuai dengan imbalan yang ditawarkan.
“Ah aku mengerti. Berarti intinya semakin tinggi nilai yang kau bilang maka dia akan semakin kuat kan?!” Seru Levin.
“Tidak, menurutku seseorang itu bisa berbahaya tidak hanya dari segi kekuatan. Bisa saja dia berbahaya karena mengadu domba kerajaan atau apapun yang mengancam orang orang sekitar.”
“Begitu ya, orang bodoh juga tau akan hal itu.”
“Kau yang barusan tanya itu brengsek!”
Tricia yang berdiri disamping mereka berdua hanya bisa tertawa.
Azka menghela nafas lalu menatap Tricia, “Ayo kita pergi Tricia.”
“Oh, kau benar!”
Karena kejadian yang tidak terduga sebelumnya, Tricia sampai lupa dengan tujuan awal mereka.
Azka lalu berjalan untuk mengambil tasnya yang ia letakkan saat bertarung dengan Vitto dan Gracia.
“Tunggu dulu nak!” Hardy tiba tiba mengejar Azka dengan wajah risau.
Setelah memakai tasnya, Azka lalu berbalik menatap Hardy, “Ada apa kek?”
Sebuah kantung berisi uang dikeluarkan oleh Hardy dari balik pakaiannya.
“Kau sebelumnya bilang jika ingin berterima kasih maka kami harus memberimu uang. Jadi ini … uang yang kami bisa berikan padamu.” Hardy memberikan kantung itu dengan tatapan ramah.
“Apa kau yakin?”
Padahal ia tidak serius mengatakan itu, tapi sepertinya Hardy dan penduduk desa menganggap sebaliknya. Atau mungkin saja mereka terpaksa karena merasa di ancam olehnya.
Memikirkan semua itu hanya membuatnya pusing, tanpa pikir panjang Azka berniat mengambil kantung berisi uang itu.
“Azka!” Seru Tricia menghampiri Azka dan Hardy.
Terkejut oleh seruan Tricia, Azka menghentikan niatnya sejenak.
“Kenapa?”
“Kau tak perlu menerimanya, Azka.” Tricia lalu menutup tangan Hardy yang masih memegang kantung berisi uang.
“Maafkan dia kek. Dia hanya bercanda kok.” Senyuman sungkan pun keluar dari wajah Tricia.
Perasaannya benar benar tak enak karena Hardy sampai memberikan imbalan yang diminta Azka. Padahal dia mengira kalau Azka tidak serius meminta imbalan ke penduduk desa.
Memang Azka memiliki kenangan buruk terhadap warga yang membencinya. Apalagi dia pernah melihatnya memeras pedagang tua saat di kota Olasia beberapa waktu lalu.
Hardy hanya diam kebingungan menatap Tricia.
“Kalian tak perlu sungkan. Kami memang berniat untuk memberi kalian sesuatu karena sudah menyelamatkan desa ini.”
“Tapi ….”
“Aku mohon terimalah uang ini.”
Ucapan Tricia terhenti ketika Hardy memohon tulus padanya untuk mengambil imbalan tersebut. Dengan perasaan bimbang, Tricia menoleh ke Azka seakan menyerahkan keputusan padanya.
“Baiklah kek, akan aku ambil.”
Sekali lagi, Azka tanpa berpikir panjang mengambil kantung uang itu dari tangan Hardy.
“Azka ….”
Dengan perasaan bingung, Tricia terdiam sambil menatap Azka yang tiba tiba pergi mendekati kerumunan warga.
Levin yang menyaksikan itu dari kejauhan sama sekali tak mengerti dengan pembicaraan mereka. Apalagi Azka tiba tiba menghampiri warga dengan tatapan mencurigakan.
Dengan tatapan datar, Azka menatap kerumunan warga satu persatu. Lalu dia mendekati salah satu pria tua warga Corael.
“Ambil lah uang ini.” Azka memberikan uang itu kepada orang dihadapannya.
Orang itu hanya kebingungan ketika menatap kantung berisi uang dan menatap Azka secara bergantian.
“Apa maksudnya ini?”
“Kalian lebih membutuhkannya kan?”
“Tapi kami benar benar berniat untuk memberikannya padamu.”
Kerumunan warga dibelakangnya juga mengangguk sebagai tanda setuju dengan perkataan orang itu.
“Tak apa, kalian membutuhkannya untuk perbaikan desa kan?” Azka mengambil tangan orang itu untuk menerima pemberian uangnya.
“Lagipula kalian sudah memberiku makan gratis saat festival kemarin. Itu sudah lebih dari cukup.”
Tanpa menunggu jawaban pria itu, Azka langsung berbalik meninggalkan mereka.
Pria itu terdiam sejenak melihat Azka meninggalkannya bersama warga.
“Terima kasih ….” Wajah orang itu tampak kebingungan di ikuti penduduk desa yang berdiri dibelakangnya.
Mereka sebenarnya masih tak menyangka kalau Azka yang terlihat seperti penjahat memiliki sifat yang sangat baik. Rasanya sangat kontras jika dibandingkan dengan sorot matanya yang begitu dingin.
Di samping Tricia berdiri, Hardy kebingungan dengan menaikkan alisnya. Padahal ia benar benar ikhlas untuk memberikan uang yang sudah dikumpulkan oleh penduduk desa padanya.
Merasa tatapan orang orang tertuju padanya, Azka hanya menghembus nafas pelan. Ia sebenarnya ingin menerima uang mereka karena dia sendiri tidak mempunyai perbekalan dalam perjalanan nanti.
Tapi tentu saja dia tau kalau penduduk desa lebih membutuhkannya untuk membangun kembali desa mereka.
“Kau selalu mengejutkanku Azka, hahaha!” Seru Levin ke arah Azka yang membelakanginya.
“Aku hanya melakukan apa yang kuinginkan.” Azka melanjutkan langkah kakinya.
Tidak lama kemudian, Langkah kaki Azka kembali terhenti dan terdiam sejenak.
“Oi, kenapa kau masih berdiri disana?”
“Apa maksudmu?” Kebingungan terlihat jelas di raut wajah Levin.
“Aku dan Tricia akan pergi, apa kau tak mengerti?”
Berpikir sejenak lalu kedua tangannya menepuk seakan mengerti, “Oh aku mengerti. Aku belum mengucapkan selamat tinggal ya, hahaha!”
“Kau ini bodoh ya? Apa kau tak mau ikut?”
Levin terdiam sejenak dengan mulutnya yang sedikit menganga.
“Apa yang kau bicarakan Azka? Aku sudah bilang kan kalau aku tidak akan memaksamu untuk mengajakku. Lagipula aku tidak bisa meninggalkan mereka.” Levin menggaruk kepalanya sambil tertawa karena ia merasa Azka sedang bercanda padanya.
“Apa yang kau katakan itu Levin?!”
Teriakan para warga pun bermunculan meneriaki Levin dengan senyuman lebar.
Menyadari itu, Levin pun menoleh kearah mereka. “Kalian ….”
“Pergilah Levin!”
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami!”
Raut wajahnnya semakin kebingungan ketika melihat warga desa yang tampak senang sekaligus bangga.
“Sialan aku akan merindukanmu dasar berandalan!” Teriak salah satu yang berusaha mengusap air matanya.
“Awas saja kalau kau tidak mewujudkan impianmu dasar bodoh!” Seru salah warga yang membiarkan matanya mengalir.
Penduduk desa kali ini tidak bisa membohongi perasaan mereka. Wajah mereka semua kompak tersenyum haru hingga ada beberapa yang menangis.
Setelah sekian lama bersikap kasar mereka akhirnya bisa menunjukkan perasaan yang sebenarnya pada pria berambut pirang itu. Harapan mereka yang sejak lama ingin mendukung Levin mencapai tujuannya mungkin bisa dimulai bersama Azka dan Tricia.
Bagi Levin Fullbright, ini adalah pertama kalinya ia merasakan kehangatan orang orang disekitarnya hingga membuatnya menitihkan air mata.
“Kalian semua ….”
“Kenapa diam saja? kita sudah menjadi teman kan?” Azka menoleh kearah Levin dengan senyuman kecil.
Mendengar penyataan yang keluar dari mulutnya, Levin hanya bisa terdiam. Ia tak menyangka Azka telah menganggapnya sebagai teman apalagi setelah mendengar cerita yang sebenarnya dari Tricia.
Awalnya ia sengaja untuk tetap tinggal didesa Corael karena melindungi warga desa yang sudah ia anggap keluarga.
Tapi setelah melihat harapan warga yang mendukungnya. Levin hanya bisa tersenyum sekaligus terharu dengan mata menggenang.
“Tentu saja kita adalah teman hahahaha!”
Mendengar itu, Azka hanya bisa memejamkan matanya dengan perasaan senang. Masih di tempat yang sama, Hardy dan Vina pun menghampiri Levin.
“Berhati hatilah Levin.” Ucap Hardy dengan tatapan lembut.
“Bukankah ini bagus Levin? kau pergi bersama Azka dan juga Tricia!” Seru Vina dengan antusias. “Oh iya, aku sudah menaruh barang barangmu didalam tas ini.”
Levin lalu mengambil tas berukuran sedang itu dari tangan Vina.
“Kakek tua desa, Vina, Terima kasih atas semuanya!” Rasa senang terlihat jelas dari wajah Levin.
“Apa yang kau bicarakan? Seharusnya kami semua yang berterima kasih karena kau selalu berjuang melindungi desa ini.”
Tatapan Hardy seakan bangga dengan Levin sekarang. Itu kembali mengingatkannya dengan Levin kecil yang selalu berteriak ingin menjadi petarung terkuat hingga meresahkan semua orang.
“Terima kasih banyak Levin!”
“Ya! Serahkan saja desa ini pada kami!”
Teriakan antusias dari para warga pun terngiang ditelinga Levin. Selama ini, dia tak pernah mendapatkan ucapan terima kasih oleh penduduk desa.
“Ayo kita pergi, Azka! Levin!” Seru Tricia sambil melambaikan tangannya dengan senyuman lebar.
Tricia ikut senang akhirnya Azka menganggap Levin sebagai temannya. Ia awalnya sempat pesimis karena Azka tidak memberitahu tentang itu sebelumnya. Karena mau dilihat dari manapun mereka berdua sangatlah akrab meskipun Azka sendiri belum mau mengakuinya.
“Kau dengar itu kan? Ayo kita pergi.” Ucap Azka datar.
“Ya!”
Akhirnya setelah bertahun tahun menetap didesa Corael, Levin mulai berjalan meninggalkan desa untuk mewujudkan ambisinya. Tentu saja bersama kedua temannya, Azka dan Tricia.
“Berhati hatilah!”
“Sering seringlah mampir ke desa kami ya!”
Seruan dari penduduk desa terus mengiringi kepergian mereka. Setelah berjalan cukup jauh menuju gerbang desa, Azka, Levin dan Tricia berbalik menatap kerumunan warga yang melihat kepergian mereka dari alun alun.
“Aku pergi dulu semuanya!” Seru Levin melambaikan tangan ke arah mereka.
Tatapan senang sekaligus bangga terlihat dari sorot mata seluruh penduduk desa Corael ketika melihat kepergian Levin bersama Azka dan Tricia.
Azka bersama Tricia dan Levin pun akhirnya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dengan bergabungnya Levin, kali ini kelompok Buster mereka telah berjumlah tiga orang.
Sebenarnya Azka sejak awal sudah berencana mengajak Levin walaupun ia belum mengatakan itu pada Tricia.
Entah bergabungnya Levin jauh lebih baik atau tidak, mereka akan menghadapi masalah itu bersama.
Tentu saja sebagai teman…
To be Continued …