
“Jadi … ini tempat tinggalmu?” Azka mengernyit ketika mengamati sebuah rumah tua di hadapannya.
“Ya!” Filia menjawab dengan senyuman lebar.
Karena sudah sampai, Azka menurunkan Filia dari gendongan di pundaknya.
Setelah pergi dari hutan, Azka dan rombongan berangkat menuju desa sesuai dengan arahan Filia. Dan akhirnya mereka semua terhenti di depan sebuah mansion tua yang cukup besar dan gelap.
Desa Kitara atau begitulah yang dikatakan Filia sebelumnya, adalah desa yang cukup terpencil dari arah timur Kerajaan Hawthorn.
Keadaan desa Kitara sangatlah miskin dengan beberapa rumah tua yang sudah lama tidak di tempati. Bahkan banyak sekali rumah yang sudah rubuh karena sudah lapuk dimakan usia. Sepertinya hanya Filia seorang yang tinggal di desa kecil seperti itu.
“Ngomong ngomong … tempat ini seperti desa hantu ya? hahaha!” Levin tertawa cukup keras di samping Tricia.
“He-hentikan itu!” Bentak Tricia dengan wajah gemetar ketakutan.
“Ada apa Tricia? Oh … jangan jangan kau takut dengan hantu ya? hahaha!” Levin tampak santai sekaligus berniat menakuti Tricia.
“Berhenti mengatakan hal seperti itu!”
Ekspresi Tricia yang begitu ketakutan sangat terlihat jelas meskipun ia berusaha mentupinya. Bahkan ia terus menempel di samping Levin agar menghilangkan rasa takutnya.
Wajar saja Tricia bersikap seperti itu. Desa kitara memang sangat sepi dan gelap bahkan lebih cocok disebut desa berhantu.
“Apa yang sebenarnya kalian lakukan?” Azka menatap Levin dan Tricia dengan tatapan masam.
“Ti-tidak ada apa apa.” Jawab Tricia ketakutan sambil bersembunyi di belakang Levin.
“Tidak perlu khawatir kak.” Filia menoleh ke Tricia dengan sepasang mata biru mudanya. “Memang desa ini sangat sepi tapi tidak ada yang perlu ditakutkan.”
Filia menatap Tricia seakan ingin menenangkannya. Bahkan tatapan matanya seakan berkata tidak ada yang perlu di takutkan.
“Ayo kak kita masuk.” Filia mulai memimpin jalan ke dalam Mansion tua.
Mereka bertiga terdiam sejenak melihat Filia memimpin jalan. Mereka sedikit ragu memasukinya karena Mansion tua itu sangatlah mencurigakan. Tapi karena sudah sejauh ini mereka akhirnya mengikuti Filia dari belakang.
Suara deritan pintu yang cukup menganggu terdengar ketika Filia membuka pintu.
“Aku pulang ….”
Tepat setelah mengatakan itu, tidak ada satupun suara yang menjawab kecuali suara tikus yang berlarian di lantai. Mansion tua itu hanya memiliki satu ruangan besar yang sedikit berantakan dengan beberapa tumpukan kursi dan buku-buku.
Mereka bertiga yang mengikuti Filia dari belakang cukup terkejut melihat seisi ruangan itu. Walaupun dari luar Mansion itu terlihat sangat tua tapi ruangan di dalamnya cukup layak untuk ditinggali.
“Halo … apa ada orang? Oi ….” Suara Levin cukup keras hingga menggema ke seluruh ruangan.
“Oi Levin jangan keras keras.” Ucap Tricia yang terus menempel dibelakangnya.
“Tenang saja, tidak ada yang menyeramkan disini.”
Tiba tiba sinar rembulan muncul dari atap yang sudah hancur dan menerangi sosok wanita tua di hadapan mereka. “Siapa … kalian?” Suara wanita tua yang sangat khas pun terdengar di telinga mereka.
Levin dan Tricia yang mendengar itu langsung bergedik gemetaran ketika melihat sosok nenek di hadapan mereka.
“Ne-nenek sihir!” Teriak Levin dengan wajah ketakutan.
“Mama!” Filia dengan ceria lalu mendekat ke sosok wanita tua itu.
Wanita tua yang di panggil mama oleh Filia memiliki penampilan yang sedikit menakutkan. Tapi setelah melihat baik baik, dia hanyalah wanita tua biasa berusia sekitar 60 tahun dengan rambut putih panjang yang hampir menutupi seluruh wajahnya.
“Filia ya?” Tanya nenek itu ketika melihat Filia mendatanginya dengan ceria. “Aku sudah menunggumu sejak tadi.” Nenek itu mengelus rambut perak milik Filia dengan lembut.
“Maaf aku pulang terlambat, Mama.”
“Filia! Hati hati nenek sihir itu akan memakanmu! Cepat larilah!” Levin berteriak dengan wajah panik sambil menunjuk wanita itu.
“Oi yang benar saja?” Azka memasang wajah masam ketika Levin memanggilnya nenek sihir secara blak-blakkan. Tapi Azka sedikit setuju kalau fisik nenek itu sangat mirip dengan nenek sihir yang ada di buku cerita.
“Nenek sihir? Di mana?” tanya wanita tua itu polos.
“Tentu saja dirimu!” seru Levin kesal.
“Aku?” Wanita tua itu tampak bingung sambil menunjuk dirinya sendiri. “Oh, hahahaha maaf … sepertinya aku menakutimu.” Wanita itu tertawa setelah paham dengan ucapan Levin.
Kemudian nenek itu berdeham, “Ngomong ngomong jarang sekali aku bertemu dengan anak muda seperti kalian.” Nenek itu tersenyum ke mereka bertiga.
“Mereka adalah Buster, tapi mereka adalah orang yang sangat baik. Bahkan mereka mengantarku pulang karena aku sedikit terluka.” Filia yang berdiri di samping mamanya memasang senyuman lembut.
Nenek itu mengernyit, “Terluka?”
Filia mengangguk dengan senyuman, “Ya, tapi aku baik baik saja. Jadi mama tak perlu khawatir.”
“Begitu ya.”
Nenek itu sebelumnya terlihat khawatir, tapi ia mulai luluh ketika Filia menatapnya dengan senyuman manis. Ketika melihat senyumannya, nenek itu merasa yakin kalau Filia memang baik baik saja.
Tiba tiba Levin mulai mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Azka, “Oi … Azka!”
“Ada apa?” Azka ikut berbisik dengan wajah malas saat mendengarkan.
“Apa dia benar mamanya? Maksudku dia terlihat seperti nenek nenek.”
Di hadapan mereka, Nenek itu hanya tersenyum yang sejak tadi mendengar percakapan Azka dan Levin.
Nenek itu kembali berdeham hingga membuat Azka dan Levin berhenti berbicara.
“Aku belum memperkenalkan diri ya? perkenalkan namaku adalah Alice. Aku adalah pemilik tempat ini sekaligus orang tua asuh Filia.”
“Orang tua asuh?!” Azka, Levin dan Tricia serempak menaikkan alisnya ketika mendengar identias Alice yang sebenarnya.
Melihat reaksi mereka yang begitu terkejut, Alice hanya bisa tersenyum. “Sebenarnya yang kalian tempati sekarang adalah satu satunya panti asuhan kerajaan Hawthorn.”
“Tunggu dulu, nek.” Azka memotong penjelasan Alice dengan tatapan tajam. “Jadi ini satu satunya panti asuhan kerajaan Hawthorn?”
“Ya, kau benar ….”
Setelah mendengar jawaban dari Alice, Azka hanya pasrah dengan tatapan datar. Bahkan Levin dan Tricia juga ikut terdiam di samping Azka berdiri.
Sesuai perkataan Alice, Mansion tua tempat mereka masuki sekarang adalah satu satunya panti asuhan di kerajaan Hawthorn.
Tapi tetap saja, bangunan itu tidak layak di sebut panti asuhan dengan banyaknya bagian bagian yang sudah rusak. Bahkan sebagian atap dari bangunan itu sudah hancur hingga sinar rembulan mampu menerangi seisi ruangan.
“Aku adalah pemilik dan satu satunya pengasuh di panti asuhan ini sejak 30 tahun yang lalu.”
“Lalu kenapa tempat ini seperti di tinggalkan?” tanya Tricia penasaran.
“Karena Kerajaan Hawthorn sendiri tidak pernah memberikan apapun untuk panti asuhan ini. Bahkan kondisi semakin memburuk ketika orang orang mulai meninggalkan desa Kitara.”
“Oh iya, aku memang sedikit penasaran kenapa desa ini tidak ada orang.” Azka terlihat bingung ketika mengingat seisi desa yang begitu berantakan.
“Kalau itu ….” Perkataan Alice terhenti saat melihat reaksi Filia yang tiba tiba murung. “Kalau itu aku kurang mengerti, mungkin saja mereka ingin mencari kehidupan yang lebih baik di kota.” Alice kembali menatap mereka bertiga dengan senyuman lembut.
Ketika melihat senyuman Alice, Azka merasa ada sesuatu yang aneh apalagi raut wajah Alice sempat berubah ketika melihat Filia. Tapi Azka hanya diam karena ia tidak berhak memaksa seseorang untuk menceritakan semuanya.
“Tapi benar benar aneh ya … aku tidak melihat satupun anak anak di panti asuhan ini hahaha.” Levin tiba tiba tertawa dengan raut wajah polos.
“Kau anak muda yang menarik ya, heheheh.” Alice ikut tertawa sambil menutupi mulutnya. “Seperti yang kalian lihat, memang panti asuhan ini sudah lama tidak kedatangan anak.”
Apa yang dikatakan Alice sangat masuk akal. Selain terpencil, panti asuhan ini pasti tidak akan sanggup menerima anak anak lagi mengingat tidak ada bantuan apapun dari kerajaan Hawthorn.
“Yang tersisa di panti asuhan ini hanyalah 3 anak.” Alice mulai memasang tatapan murung meski ia berusaha menutupinya.
“3 anak?” tanya Tricia bingung.
Tricia lalu teringat dengan perkataan Filia tentang menyelamatkan teman temannya. Apa mungkin teman teman yang di maksud Filia adalah dua anak dari panti asuhan?
Sementara itu, Azka dan Levin memasang wajah serius ketika melihat Alice dan Filia yang sejak tadi tampak murung.
Setelah terdiam sejenak, Alice mengangkat wajahnya dan menatap mereka bertiga. “Dua anak sisanya sekarang … telah di tangkap oleh salah satu kelompok Buster.” Alice kembali murung dengan menurunkan pandangannya.
“Buster?” tanya Azka mengernyit.
“Jadi tujuan Filia mengumpulkan uang adalah ….” Tricia sangat terkejut hingga tak mampu meneruskan kata-katanya.
“Ya … kau benar nak.” Alice melanjutkan karena ia sudah tau apa yang di pikirkan oleh Tricia.
Di samping Alice berdiri, Filia hanya bisa menatapnya dengan tatapan sedih, “Mama ….”
Menyadari tatapan Filia, Alice mulai mengelus kepalanya. “Kau sudah berjuang sangat keras … Filia.” Alice tersenyum karena tidak ingin membuat Filia sedih.
Melihat senyuman nenek yang sudah merawatnya sejak kecil, Filia menggeleng dengan raut wajah optimis. “Sudah kubilang aku tidak apa apa.”
“Tapi ….”
“Tenang saja, ma. Uang 10 juta Nam yang sudah aku kumpulkan sedikit lagi bisa tercapai. Dan setelah itu, Alan dan Cornelia bisa bersama kita lagi.” Filia terlihat sangat ceria seakan tak mau membuat Alice khawatir.
Azka, Levin dan Tricia terdiam ketika melihat senyuman Filia. Mereka seperti ikut merasakan kesedihan Filia di balik senyuman manisnya. Mampu menyembunyikan perasaan seperti itu sangatlah luar biasa apalagi untuk gadis 12 tahun sepertinya.
“Aku seperti orang tua yang tidak berguna … membiarkan anak gadisnya terus terluka dari kejaran Buster.” Alice terus menatap Filia dengan tatapan sedih.
“Apa yang mama katakan?!” Filia sedikit marah sambil membelai tangan mamanya dengan lembut.
“Kau benar benar anak yang tegar ya, Filia.” Alice akhirnya tersenyum setelah Filia menyemangatinya.
Entah kenapa melihat mereka berdua, itu kembali mengingatkan Azka dengan masa lalunya bersama Mia. Dan itu membuat Azka sedikit tersenyum meski dengan sorot mata dingin.
Levin yang tidak sengaja melihat Azka tersenyum sedikit kebingungan ketika menatapnya. “Ada apa Azka?”
“Tidak apa apa.” Azka berusaha menutupi senyuman di wajahnya.
Kemudian, Azka kembali menatap Alice dan Filia dengan tatapan yang penuh pertanyaan.
“Jika boleh tau … siapa Buster yang di kalian maksud?”
Azka sedikit ragu ketika menanyakan hal itu ke mereka berdua. Karena Azka merasa tidak berhak mencampuri urusan Filia apalagi ia baru bertemu dengannya. Tapi ia memantapkan niatnya karena sedikit penasaran dengan Buster yang dimaksud.
Pertanyaan yang di lontarkan Azka membuat Alice dan Filia serempak terdiam.
Setelah terdiam sejenak dan berpikir, Alice lalu menatap Azka dengan tatapan serius. “Buster itu adalah … Parviz, ketua dari Crimson Buster.”
To be Continued …