Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Kehebohan baru



Kantin kini sudah ramai oleh siswa SMA Pelita, termasuk Brian dan tiga sahabatnya dan tidak ketinggalan juga Vania.


"Tadi ngapain saja kamu di luar dengan Ayesha, Sob?" tanya Kenjo, setelah menelan makanan yang baru saja dikunyahnya.


"Kamu mau aku ngapain? ya hanya berdiri saja, sesuatu hukuman yang diberikan Pak Surya," sahut Brian seperti biasa dengan wajah datarnya.


"Kenapa kamu tadi memilih untuk dihukum dengan murid baru itu Brian? padahal aku sudah berusaha untuk membelamu di depan Pak Surya, harusnya kamu hargailah!" protes Vania dengan raut wajah kesal.


"Aku tidak memintamu melakukan itu!" sahut Brian.


"Iya, aku tahu! Tapi, sebagai sahabatmu aku hanya ingin__"


"Hei, lihat ini!" tiba-tiba Arga memekik, sembari menunjukkan sesuatu di layar ponselnya.


Vania sontak saja menggantung ucapannya dan penasaran dengan apa yang ada di layar ponsel Arga.


"Kalian lihat di I*G masing-masing deh! lihat postingan Brianna!" Arga menyebut sebuah aplikasi media sosial yang jaman sekarang digandrugi oleh pengguna internet.


Mereka semua kecuali Brian langsung mengeluarkan ponsel masing-masing, kemudian membuka media sosial masing-masing.


"Brian, tadi kamu bilang kamu hanya berdiri saja di depan kelas dengan Ayesha, tapi ini apa?" Radit menunjukkan photo di saat Ayesha menyuapkan coklat ke mulut Brian. Di bawah photo itu, Brianna menuliskan, 'Langgeng ya kalian berdua sampai menikah, punya anak dan cucu' lalu diakhiri dengan Amin dan emoji love.


"Kamu suka Ayesha ya?" sambung Radit lagi.


Mata Brian sontak membesar, terkesiap kaget melihat postingan itu. Ia pun buru-buru mengeluarkan ponselnya agar bisa melihat lebih jelas.


"Sial, sempat-sempatnya dia ambil photonya!" umpat Brian yang tentunya hanya di dalam hati.


"Hahahaha, tadi bilangnya gak suka sama Ayesha, tapi photo yang ini sudah menunjukkan kebenarannya," Kali ini Arga yang buka suara, sembari menunjukkan photo di saat Brian melirik Ayesha dengan caption, 'cantiknya calon adik iparku! sampai adikku tidak berhenti meliriknya'.


Brian menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya kembali dengan perlahan, berharap rasa kesalnya berkurang.


Sementara itu raut wajah Vania dari tadi sudah benar-benar memerah, tapi dia berusaha untuk menahan diri untuk tidak marah-marah. "Brengsek, sepertinya murid baru itu tidak bisa aku sepelekan," umpat Vania dalam hati.


"Ini tidak seperti yang kalian lihat. Aku dan Ayesha__"


"Wah, sepertinya Ayesha ini hebat! dia bisa cepat mencairkan es dan mengambil hati Brianna. Tidak seperti perempuan lain yang selama ini berusaha mengambil hati kakakmu, tapi tidak berhasil!" Arga kembali buka suara sembari terkekeh ringan.


"Kamu menyindirku ya?" cetus Vania dengan melemparkan tatapan tajam ke arah Arga.


"Lho siapa yang menyindirmu? kamu merasa tersindir ya?" Arga memicingkan matanya, menyelidik.


"Padahal banyak perempuan-perempuan di sekolah kita, yang selama ini berteman dengan Brianna demi tujuan tertentu? Dinar contohnya! tapi, kenapa kamu yang jadi tersinggung ya? biasanya nih ya ... kalau orang yang tersinggung dengan ucapan seseorang berarti dia merasa," imbuh Arga.


Wajah Vania kembali memerah, memilih untuk tidak menanggapi lagi ucapan Arga.


"Atau, memang benar kamu itu sebenarnya berharap lebih pada Brian?" tukas Arga lagi, ketika tidak mendapatkan tanggapan dari satu-satunya perempuan di antara mereka berempat.


"Ya nggaklah! kamu apaan sih? kan aku sudah bilang kalau aku hanya menganggap Brian sahabat, tidak lebih! kalau aku memang suka dia, dari dulu pasti aku udah ungkapkan. Kalian tahu kan kalau aku tuh tidak suka sembunyi-sembunyi? apa yang ada di dalam hatiku, langsung aku utarakan!" Vania kembali menyangkal, berusaha membuat yakin 4 pemuda itu.


"Oh, seperti itu? sekarang aku mau kamu jujur, sebenarnya yang kamu anggap sahabat hanya Brian atau kamu bertiga juga?" sudut alis kanan Arga sedikit naik ke atas menatap Vania dengan tatapan menyelidik.


"Tentu saja kalian bertiga juga aku anggap sahabatku!" Vania mulai gugup. "Atau jangan-jangan kalian bertigalah yang tidak pernah menganggapku sahabat?" Vania mulai playing victim.


"Tidak sama sekali. Hanya saja kami merasa kalau sebenarnya yang selalu kamu perhatikan itu Brian. Baik yang dia butuhkan saat tanding Basket, bahkan air minum saja hanya dia yang selalu kamu tawarkan. Sedangkan kami lebih sering ambil minum sendiri, kan aneh!" ucapan Arga semakin membuat Vania terdesak. Hal itu terlihat jelas di raut wajahnya .


"Itu hanya perasaanmu aja kali! Sudah ya, aku malas bicara denganmu, aku mau pergi ke toilet dulu!" Vania berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi. Bisa dipastikan kalau dia pergi hanya untuk menghindar bukan benar-benar ke toilet.


"Ga, kamu kenapa bicara terlalu eksplisit sih ke Vania?" Radit buka suara setelah memastikan gadis itu sudah tidak terlihat lagi.


"Aku itu bicara apa adanya kan? kalian berdua juga pasti berpikir sama kan sepertiku?" jawaban Arga membuat Radit dan Kenjo diam, karena sejujurnya mereka membenarkan ucapan sahabat mereka itu.


Sementara itu Brian terlihat hanya diam saja. Bukan tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan tiga sahabatnya itu, tapi karena saat ini rasa kesal yang besar pada ulah Brianna kembarannya, masih ada di hatinya.


"Brian, menurutmu kamu bagaimana? kamu juga merasakannya kan?" tanya Arga.


"Sudahlah, kalian jangan Su'udjon! yang kalian pikirkan itu, aku rasa tidak benar. Sekarang kita ke kembali ke kelas saja!" Brian memilih untuk berdiri dan berlalu pergi. Ketiga sahabatnya itu saling silang pandang dengan tatapan bingung. Namun, mereka akhirnya tetap menyusul sahabat mereka itu.


tbc