
Acara resepsi pernikahan Ayesha dan Brian akhirnya berakhir dengan lancar. Kini keduanya sudah berada di dalam kamar pengantin yang juga sudah dihias dengan begitu indahnya.
Ayesha terlihat sibuk melepaskan setiap jepitan yang terpasang di kepalanya.
"Sini aku bantuin, Sayang!" Brian menyentuh kepala Ayesha, menurunkan tangan istrinya itu, lalu iya pun mulai melepaskan jepitan-jepitan di kepala wanita itu.
"Aku masih benar-benar tidak menyangka, kalau akhirnya kita bisa menikah, Sayang. Padahal aku sudah sempat melihat kalau kehidupanku nantinya akan selalu gelap," ucap Brian, di sela-sela kegiatannya.
"Ayesha tersenyum manis, menatap wajah suaminya melalui cermin.
"Aku juga merasakan seperti yang kamu rasakan, Sayang," sahut Ayesha.
Brian kini sudah selesai melepas semua jepitan dari rambut istrinya. Ia pun merangkul pundak Ayesha dan memberikan kecupan mesra.
"Sekarang aku mandi dulu ya? Atau kamu yang mandi lebih dulu?" Ayesha berdiri dari tempat duduknya.
Mendengar pertanyaan Ayesha, tiba-tiba pemikiran iseng muncul di pikiran pria itu.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama saja, biar lebih cepat? Kamu bisa gosok badan aku dan aku bisa gosok badan kamu?" Brian mengerlingkan matanya ke arah Ayesha.
"Cih, itu sih maunya kamu. Nggak ah, kita mandi sendiri-sendiri saja. Nanti kalau berdua bakal lama. Kamu pasti aneh-aneh nantinya," tolak Ayesha.
"Aneh-aneh sama istri sendiri kan gak pa-pa, Sayang? Kita mandi bersama aja ya!" Brian mulai merengek seperti anak kecil.
"Nggak, pokoknya nggak!" Ayesha mulai melangkah menuju kamar mandi. Namun, belum sampai di kamar mandi, dia memekik karena tiba-tiba tubuhnya seperti melayang. Ternyata, Brian menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke kamar mandi.
"Brian, turunin ah!" Ayesha berusaha melepaskan diri.
"Nggak, mau!" tolak Brian sembari tersenyum misterius.
Setelah berada di kamar mandi, Brian langsung membawa tubuh istrinya itu ke arah bath tub. Kemudian ia punmenurunkan Ayesha dengan sangat pelan.
"Ayo mandi bersama!" Brian pun ikut masuk ke dalam bathtub, lalu memutar kran untuk mengisi bathtub dengan air.
"Kenapa diam saja, ayo buka gaun kamu!" titah Brian dengan tatapan menggoda.
"Nggak mau!" Ayesha menyilangkan kedua tangannya ke dadanya.
Brian terkekeh melihat ekspresi istrinya itu sekarang. "Kenapa ditutup, Sayang? Sebentar lagi aku juga pasti akan melihatnya," Brian semakin gencar menggoda Ayesha.
"Aku tidak tahu kalau kamu se-me*sum ini, Brian!" Ayesha mengerucutkan bibirnya.
"Sekarang kamu bisa berpikir seperti itu, tapi lama-kelamaan, kalau aku tidak me*sum kamu pasti akan uring-uringan," ucap Brian masih dengan senyum menggodanya.
"Tidak akan!" sahut Ayesha, masih dengan bibir yang mengerucut.
"Yakin?" Brian mengerlingkan matanya dengan tangan yang sibuk membuka kancing kemeja yang dia pakai.
"Kamu serius mau mandi bersama, Brian?" tanya Ayesha dengan mata yang membola ketika melihat tubuh suaminya yang Shirtless.
Mata Ayesha semakin membesar ketika sang suami sudah mulai membuka celana yang dia pakai.
"Sa-Sayang, ke-kenapa semua dibuka?" tanya Ayesha dengan gugup
"Kan mau mandi? kalau mandi kan harus buka baju, Sayang. Sudahlah, Sayang. Sini aku bantu buka gaun kamu, biar nggak kelamaan kita di sini, Kalau kelamaan, nanti masuk angin," tanpa mengindahkan penolakan Ayesha, Brian langsung membalikkan tubuh sang istri memunggunginya, untuk mempermudah dirinya menarik resleting gaun istrinya itu.
Kulit punggung Ayesha kini terpampang jelas di mata Brian. Pria itu terpaku dengan darahnya yang berdesir dan detak jantung yang berdetak dengan sangat cepat.
"Sial, Aku tadi mau menggodanya, tapi kenapa jadi aku yang tergoda sih?" Brian mulai menggerutu dalam hatinya.
"Sayang, kenapa diam? Apa ada yang salah?" Ayesha yang jantungnya juga berdebar tidak karuan, buka suara. Terdengar jelas kalau suara wanita itu bergetar, saking gugupnya.
Tidak menunggu lama, akhirnya tubuh sepasang pengantin baru itu kini hanya menempel pakaian yang khusus menutup area sensitif saja. Dengan menahan gejolak gai*rah, Brian menggosok punggung istrinya dengan lembut menggunakan sabun.
"Sudah, sekarang giliran aku!" Brian berbalik berganti memunggungi sang istri.
Tangan lembut Ayesha kini menggosok punggung Brian. Sentuhan tangan Ayesha sontak saja membuat tubuh Brian meremang, dan seakan ada yang menyetrum.
Brian kini sudah tidak bisa menahan diri lagi. Pria itupun berbalik dan tanpa menunggu lagi langsung menyambar bibir sang istri, hingga membuat mata Ayesha membesar saking kagetnya.
Untuk sepersekian detik, wanita itu tidak membalas sama sekali serangan, Brian. Namun detik berikutnya, wanita itupun mulai membalas walaupun masih terkesan kaku
"Ayesha, I love you! And I Miss you! Aku menginginkanmu saat ini, apa kamu mengizinkannya?" ucap Brian dengan sangat lembut dan dengan napas yang memburu.
Dengan tatapan sendu, Ayesha pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan.. Karena bohong kalau dirinya mengakui tidak menginginkan sentuhan suaminya itu.
Senyum Brian pun mengembang sempurna dan tanpa basa-basi, ia pun menyiram tubuhnya dan istrinya dengan air, lalu menggendong tubuh sang istri keluar dari bathtub kemudian membawa wanita itu ke atas ranjang.
Malam itu, Ayesha pun benar-benar memasrahkan dirinya pada Brian, pria yang sangat dia cintai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat lain, Radit menepikan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup mewah yang tidak lain adalah rumah Vania.
Ya, setelah acara resepsi Brian dan Ayesha selesai, Radit memutuskan untuk mengantarkan Vania pulang ke rumahnya. Awalnya, Vania tadi menolak karena tidak ingin merepotkan, walaupun penolakan itu tentu saja bukan dari hatinya. Namun, Radit bersikeras untuk tetap mengantarkannya pulang.
"Terima kasih ya, Dit. Maaf sudah merepotkanmu!" ucap Vania dengan tangan yang sibuk melepaskan sabuk pengamannya.
"Sudah, tidak masalah! Kan aku yang minta untuk mengantarkan kamu pulang, jadi tidak perlu sungkan!" sahut Radit tanpa menoleh ke arah Vania.
Tidak terdengar tanggapan sama sekali dari Vania, karena wanita itu masih tetap berusaha melepaskan sabuk pengaman yang entah kenapa tiba-tiba sulit untuk dilepaskan.
Merasa tidak ada jawaban, Radit pun menoleh dan seketika tersenyum geli melihat usaha Vania melepaskan sabuk pengaman.
"Kenapa tidak minta tolong sih? sini aku bantuin!" Radit melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya sendiri lalu beralih ke arah Vania.
Tubuh Radit kini sudah sangat dekat dengan Vania, hingga membuat wanita itu menahan napas. Jantungnya juga semakin tidak terkendali. "Ya, Tuhan, cobaan apa ini? kalaupun nanti aku memang jatuh cinta pada Radit, tolong jangan biarkan aku sampai terobsesi lagi," batin Vania sembari memejamkan matanya.
"Vania, kamu ngapain? Kenapa kamu menutup matamu?" pertanyaan Radit sontak membuat Vania terjengkit kaget.
"Su-sudah ya? Kenapa kamu tidak bilang?" suara Vania terdengar bergetar saking gugupnya.
"Kamu juga kenapa tutup mata? Lagian tanpa dikasih tahu, kamu kan bisa merasakan sabuk pengamannya sudah lepas atau tidak," ucap Radit dengan kening berkerut.
Wajah Vania sontak memerah bak kepiting rebus. "Em, tidak ada apa-apa! Aku turun dulu ya. Sekali lagi terima kasih!" Saking malunya, Vania ingin segera menghindar. Wanita itupun membuka pintu mobil lalu bersiap untuk turun.
"Vania, tunggu dulu!" baru saja salah satu kaki Vania menginjak ke tanah, tiba-tiba tangan Radit menahannya.
"Ada apa, Dit?" Vania kembali menoleh dan menatap Radit dengan tatapan penuh tanya.
"Emm, apa kamu mau __" Radit berhenti bicara sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Mau apa?" alis Vania bertaut, bingung.
"Emm, nggak ada! Kamu masuk saja. Sudah malam!" pungkas Radit sembari melepaskan tangannya dari punggung Vania.
Vania akhirnya turun dengan raut wajah kecewa.
Tbc