Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Ke Bali



Hari berlalu begitu cepat. Ujian kelulusan bahkan sudah selesai seminggu yang lalu.


Sekolah Brian dan Ayesha, dijadwalkan akan melakukan perpisahan di pulau Bali dan kebetulan jadwalnya itu besok. Ayesha sangat antusias untuk ikut, karena apa lagi? tentu saja karena dia membayangkan bisa memiliki waktu yang lama untuk berduaan dengan Brian sang kekasih.


Bagaimana dengan Brian? tentu saja pemuda itu tidak jalan antusias dengan Ayesha. Untuk pertama kalinya, pemuda itu bahagia melakukan perjalanan wisata dari sekolahnya. Kalau dulu, setiap ada perjalanan wisata, pemuda itu selalu malas-malasan.


"Ay, semua keperluanmu di Bali nanti benar-benar sudah siap kan?" tanya Ayesha, memastikan.


"Sudah, Ay. Kamu tenang saja. Kalau ada yang ketinggalan, kan aku bisa beli di sana. Jadi, kamu tidak perlu se khawatir itu!" di ujung telepon, Brian tersenyum manis, walaupun sang pacar tidak melihat senyumannya.


"Iya deh, yang bisa beli segalanya," Ayesha mengerucutkan bibirnya, tidak sadar kalau Brian pun tidak bisa melihat ekspresinya saat ini.


Terdengar kekehan ringan dari ujung telepon, membuat bibir Ayesa semakin mengerucut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari yang ditunggu sudah tiba. Pesawat yang membawa semua siswa kelas XII, SMA Pelita sudah mendarat dengan selamat di bandara I GustiNgurah Rai, Bali.


Mereka semua langsung masuk ke dalam sebuah bus jemputan yang sudah lebih dulu dipersiapkan sekolah, untuk membawa mereka ke sebuah Resort dekat dengan pantai Kuta.


Setelah 30 menit perjalanan, bus yang membawa semua siswa dan siswi SMA Pelita berhenti di depan sebuah penginapan yang sudah disewa sebelumnya.


Semua siswa langsung menuju kamar masing-masing. Kamar laki-laki di sengaja sedikit jauh terpisah dari kamar perempuan.


Pihak sekolah juga sudah menentukan satu kamar diisi 3 sampai 4 orang.


Ayesha, Retha dan Brianna dari awal sudah berjanji untuk satu kamar dan kini tiga orang itu sudah memegang kuncinya.


"Emm, Aisyah bisa tidak aku satu kamar dengan Kalian bertiga?" tiba-tiba Vania menghampiri mereka bertiga


"Maaf Vania, sama sekali tidak bisa!" tolak Brianna dengan tegas.


"Kenapa?" wajah Vania berubah memelas.


"Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau kamu itu tidak suka berteman dengan perempuan? kamu juga kan yang bilang kalau kamu itu beda dari perempuan-perempuan lain? jadi takutnya nanti kalau kamu dengan kamu, kamu akan risih, soalnya kami itu berisik," Kali ini Retha yang menjawab. Ucapannya benar menyelipkan sebuah sindiran.


Mendengar jawaban Retha membuat Vania terdiam. Tapi, diamnya dia, bukan berarti menyesali ucapannya yang dulu. Perempuan itu tetap saja merutuki Retha dalam hati.


"Ya udah sih kalau nggak mau. Nggak usah pakai ngomong seperti itu. Aku bisa kok dengan yang lain. Bahkan kalau aku sewa lagi untuk kamar sendiri aku juga sanggup," cetus Vania, kesal.


"Eits, kenapa harus sewa kamar sendiri? kamu kan bisa satu kamar dengan laki-laki? bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu itu lebih suka berteman dengan laki-laki, karena perempuan itu ribet? atau sekarang kamu sudah sadar kalau kamu itu perempuan?" Retha semalaman gencar menyindir Vania.


"Eh, brengsek! kalau tidak mau aku gabung, tidak usah banyak bacot. Tinggal bilang tidak mau saja, kan cukup!" suara Vania mulai meninggi.


"Lah kok jadi marah? tadi kan kami sudah nolak, tapi kamu sendiri yang tanya alasannya apa. Ya, kami kasih tahu lah alasannya. Kami hanya tidak mau nanti kamu merasa terganggu, dan tidak bisa tidur mendengar tawa kami. Maklumlah, kami ini perempuan yang suka nonton drakor, dracin, dan drama lainnya. Kamu tidak suka kan?" kini Ayesha yang buka suara.


Vania tidak menjawab sama sekali. Gadis itu akhirnya lebih memilih untuk beranjak pergi.


Belum terlalu jauh melangkah, Vania berpapasan dengan Brian dan ketiga sahabatnya, Arga, Kenjo dan Radit.


Senyum gadis itu tentu saja langsung mengembang sempurna.


"Vania, kenapa kamu masih di sini? kamu belum menemukan kamar?" tanya Brian basa-basi.


Namun, basa-basi Brian itu ditanggapi lain oleh Vania. Dia begitu bahagia karena merasa kalau pertanyaan Brian barusan adalah bentuk perhatian untuknya.


"Kenapa bisa begitu?" Brian mengrenyitkan keningnya.


"Karena aku merasa kalau sekamar dengan perempuan-perempuan itu ribet mending sendiri," sahut Vania.


"Itu kamu sendiri yang merasa atau karena tidak ada yang mau sekamar denganmu," celetuk Arga, sengaja menyindir. Di antara tiga sahabat Brian, memang hanya Arga lah yang terlalu eksplisit kalau bicara.


"Apa sih kamu! itu benar yang aku rasakan lah! kamu kan sudah tahu selama ini, aku malas bergaul dengan perempuan. Yang pasti, aku tidak mau tidurku nanti terganggu, kalau sekamar dengan perempuan. Karena, nanti pasti akan berisik. Belum lagi kalau nonton drakor. Pasti akan ada drama-drama menangis. Pokoknya ribet ah," tutur Vania panjang lebar, berusaha meyakinkan ke empat pemuda di depannya itu.


"Oh, ya udah kalau memang begitu. Aku pura-pura percaya deh," sahut Arga, tersenyum sinis.


"Arga sialan! nih orang benar-benar menyebalkankan. Aku harus memikirkan cara untuk membuat dia, tidak selalu menyindirku lagi," bisik Vania pada dirinya sendiri.


"Udah ya, Vania. Kamu cari kamar kamu dulu. Kami mau pergi dulu!" Pungkas Brian sembari melangkahkan kakinya.


"Brian, kalian mau kemana? apa kalian tidak bisa menungguku?"


Brian dan yang lainnya, menghentikan langkahnya dan kemarin menoleh ke arah Vania.


"Emm, kami juga tidak kemana-mana, Vania. Aku hanya ingin menemui Ayesha. Tuh dia lagi menungguku di sana!" Brian menunjuk ke arah Ayesha yang berdiri dengan Retha dan Brianna.


"Sial, ternyata mereka dari tadi masih ada di sana? mereka pasti sengaja mau memastikan apa benar cari kamar sendiri atau tidak? benar-benar menyebalkan!" Vania menggerutu dalam hati.


"Lihat saja Ayesha, aku akan pastikan kalau hubunganmu dan Brian tidak akan berlangsung lama. Aku akan terus berada di dekat Brian, bagaimanapun caranya!" batin Vania, sembari menatap penuh kebencian ke arah Ayesha yang kini bergelayut mesra di lengan Brian.


"Ay, nanti malam, setelah acara ramah tamah, kamu temani aku main ke pantai ya?" ucap Ayesha, dan Brian mengangguk, mengiyakan.


"Aku juga mau, Beb main di pantai, kamu mau kan menemaniku?" Retha juga tidak mau ketinggalan.


"Tanpa kamu minta, aku justru tadinya mau ngajak kamu juga, Beb," sahut Arga.


Kenjo dan Radit memutar mata mereka, jengah melihat dua sahabat mereka yang tengah dilanda asmara itu.


Sementara itu, Brianna dari tadi curi-curi pandang ke arah Kenjo yang sebenarnya sudah mencuri hatinya dari dulu.


"Ken, kamu mau nggak menemaniku main di pantai nanti malam?" Brianna memberanikan diri, mengungkapkan keinginannya.


Mendapat ajakan dari Brianna, Kenjo seketika terkesiap kaget. Dia menoleh ke arah Radit, seperti minta pendapat.


"Kamu tidak mau ya, Ken?" raut wajah Brianna terlihat kecewa.


"Emm, boleh deh," sahut Kenjo akhirnya, mengiyakan.


"Semoga berhasil ya, Kak!" Bisik Brian, yang sebenarnya tahu kalau kakaknya itu berniat mengungkapkan perasaannya, malam ini.


Ya, Briana memang pernah curhat ke Brian kalau dia suka dengan Kenjo. Gadis itu juga pernah bertanya pada Brian, apakah sahabat adiknya itu juga punya perasaan kepadanya atau tidak. Tapi, sialnya, adiknya itu tidak tahu sama sekali.


Brianna akhirnya berniat akan mengungkapkan perasaannya ke Kenjo ketika di Bali, tidak peduli apapun hasilnya nanti. Memang, sangat jarang gadis mengungkapkan perasaannya lebih dulu pada seorang laki-laki, tapi Brianna mengabaikan hal itu, karna dia ingat, kalau dulu mamanya juga yang ngejar-ngejar papanya duluan.


"Kalau kalian semua pergi, aku sama siapa?" celetuk Radit, tiba-tiba.


"Kan masih ada Vania. Kamu dengan dia saja," Arga buka suara, yang langsung disambut dengan tawa dari yang lain.


tbc