
Mobil yang membawa tiga anak remaja yang tidak lain Brian, Briana dan Ayesha, berhenti di depan sebuah rumah besar yang tidak lain adalah rumah Ayesha.
"Rumahnya sebesar ini, tapi kenapa penampilannya sederhana seperti orang tak punya?" batin Brian, sembari menatap ke arah rumah Ayesha.
"Anna, Brian, kalian mau singgah dulu nggak?" tanya Ayesha, sebelum gadis itu turun.
"Emm, kayanya lain kali aja deh, Yes. Tapi aku tidak tahu kalau Brian. Kali aja, dia mau bertemu calon Mertua," ledek Brianna, sembari melirik ke arah adiknya. Sementara itu, raut wajah Ayesha langsung berubah merah bak kepiting rebus.
"Apaan sih? stop bercanda yang tidak penting, aku tidak suka!" cetus Brian dengan raut wajah memerah menahan amarah.
"Iya, iya, maaf deh!" Brianna nyengir kuda, menahan rasa geli.
"Kalau begitu aku turun ya! terima kasih buat tumpangannya!" Ayesha membuka pintu mobil dan turun setelah mendengar Brianna menjawab iya. Sementara Brian, terlihat dia saja, dan bahkan tidak melihat ke arahnya saat dia turun.
"Bye, hati-hati di jalan!" Ayesha melambaikan tangannya ke arah Brianna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kalian kenapa bisa lama pulangnya?" tegur Ayunda, mama Brian dan Brianna, ketika kedua anaknya itu masuk ke dalam rumah.
"Tanya saja putri mama itu!" cetus Brian, memasang raut wajah sinis pada kakaknya.
"Kami tadi mengantarkan pacar Brian pulang dulu, Ma," sahut Brianna dengan riang seakan tidak ada beban.
"Pacar? emangnya adik kamu sudah punya pacar?" Ayunda mengrenyitkan keningnya.
"Apaan sih Kak? Ma jangan percaya sama Kakak, aku sama sekali belum punya pacar. Niat untuk punya pacar saja nggak!" sangkal Brian dengan cepat.
"Idih, belagu! sok gak mau pacaran," ledek Brianna.
"Ada apa ini? kenapa kalian ribut?" tiba-tiba Bima papa dari kakak beradik itu, muncul. Sepertinya pria paruh baya itu baru pulang dari kantor.
"Eh, papa sudah pulang," Brianna dengan sigap langsung mencium punggung tangan Bima, lalu disusul oleh Brian.
"Kalian belum menjawab, kalian tadi meributkan apa?" Bima kembali mengulangi pertanyaannya, sembari mendaratkan tubuhnya duduk di sofa.
"Tidak membicarakan apa-apa, Pa. Aku mau ke kamar dulu ya!" Brian mengayunkan kakinya, sengaja ingin menghindari pembicaraan.
"Kenapa kamu buru-buru pergi? kamu malu ya ketahuan sama papa kalau kamu sudah punya pacar?" dengan cepat Brianna buka suara untuk mencegah adiknya itu pergi.
"Oh, jadi kamu sudah punya pacar, Ian?" Bima tersenyum tipis.
Brian menghela napas dengan sekali hentakan untuk meredam rasa geram pada kembarannya itu
"Pa, jangan percaya pada Kak Brianna. Sumpah demi apapun, aku sama sekali tidak punya pacar dan bahkan juga tidak ingin punya pacar," sahut Brian dengan tegas.
"Kalau kamu memang tidak mau punya pacar, kenapa kamu tidak menyangkal berita yang beredar? kamu malah membiarkan dan menikmati rumor itu kan?" tantang Brianna.
"Itu karena kakak tidak tahu sama sekali alasanku. Asal Kakak tahu, aku tidak menikmatinya, tapi aku justru memanfaatkan rumor itu, untuk menghindari perempuan-perempuan yang berusaha mendekatiku. Jadi, please berhenti mengatakan kalau dia itu pacarku!" pungkas Brian lalu melanjutkan langkahnya naik menuju kamarnya.
"Cih, paling nanti sama kaya papa yang awalnya gak suka sama mama tapi ujung-ujungnya bucin. Karena yang aku lihat, Ayesha itu loveable," cetus Brianna sembari melihat ke arah Brian, sampai punggung adiknya itu hilang dari pandangannya.
"Lho, kenapa jadi bawa-bawa papa?" Bima mengrenyitkan keningnya.
"Lah iya kan? Papa dulu sok benci sama mama, tapi diam-diam suka. Kenapa sih, Brian ikut sifat Papa?" Brianna mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Lah, emangnya kenapa? kan keren kalau kaya Papa,"
"Keren dilihat dari mana? yang ada menyebalkan! eh, bukan , tapi sangat, sangat menyebalkan! au ah, aku mau ke kamar dulu!" Brianna akhirnya mengikuti jejak Brian, pergi meninggalkan papa dan mamanya.
Bima dan Ayunda saling silang pandang, kemudian menggeleng-gelengkan kepala, lalu terkikik melihat sikap dua anak mereka.
"Putrimu tidak sadar, kalau sifat yang kaya kamu juga sama menyebalkannya. Benar-benar sangat mengganggu," celetuk Bima tanpa sadar.
Ketika hendak menoleh ke arah Ayunda lagi, senyum di bibir Bima sontak meredup, ketika melihat tatapan membunuh dari Ayunda istrinya.
"Ma,Maaf, Sayang! bukan seperti itu maksudku!" Bima berusaha menghindar dengan berlari mengelilingi sofa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi kini sudah kembali. Kawasan sekolah kini sudah mulai ramai oleh siswa-siswi. Termasuk Brian yang terlihat sudah tiba dan langsung disambut oleh Vania dan tiga sahabat lainnya.
"Kamu sudah sarapan belum, Brian?" tanya Vania sembari melemparkan senyumnya yang paling manis.
"Sudah," sahut Brian singkat, padat dan jelas.
"Vania, dari tadi kita lebih dulu bersamamu, tapi kenapa kamu tidak menanyakan kami sudah sarapan atau belum? kenapa cuma Brian?" Kenjo buka suara dan langsung dibenarkan oleh Radit dan Arga.
"Apaan sih? itu karena aku yakin kalau kalian bertiga sudah sarapan. Sewot amat," sahut Vania.
"Kamu salah. Justru Brian itu tidak pernah tidak sarapan dari rumah, karena mamanya selalu menyiapkan sarapan. Kamu tahu jelas itu kan? kamu yakin kami sudah sarapan, yakin dari mana coba? justru aku dan Radit belum sarapan. Kamu dengar sendiri kan kalau tadi kami berdua mengeluh lapar? atau kamu nggak konsentrasi karena Brian belum datang, makanya nggak dengar yang kami bicarakan?" Arga buka suara.
Raut wajah Vania sontak memerah, menahan malu."Ti-tidak kok. Aku tadi memang tidak konsentrasi karena memikirkan tugas osis aja. Itu aja kok. Jadi, tidak mungkin karena memikirkan Brian yang belum datang. Kalian jangan berlebihan deh," Vania berusaha menyangkal. Walaupun bisa didengar jelas kalau suara perempuan itu bergetar saking gugupnya.
"Sudahlah, aku mau ke belakang dulu! kalian mau ikut?" Brian menatap ke arah Kenjo, Radit dan Arga. Dia dengan sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Kayanya kamu sendiri aja, Yan. Aku mau beli sarapan dulu!" tolak Radit.
"Aku juga," timpal Arga.
"Aku juga deh!" Kenjo tidak mau ketinggalan.
"Ya udah aku pergi dulu ya!" tanpa pamit lagi, Brian langsung beranjak pergi.
"Kamu nggak mau ikut Brian ke toilet kan, Van?" sentil Arga begitu melihat Vania yang hendak beranjak pergi juga.
"Ee, iya nggak lah. Kalian ini ada-ada aja! aku mau ke kantin ikut kalian bertiga," sahut Vania dengan ekor mata yang melirik ke arah perginya Brian.
"Ya, Kali aja kan. Soalnya selama ini kamu selalu bilang kalau kamu tidak seperti perempuan lain. Yang suka dandan lah, yang suka drama lah, dan banyak lagi. Mungkin saja kan kamu menganggap dirimu bukan perempuan dan mau ikut ke toilet laki-laki. Siapa tahu coba?" Radit ikut-ikutan menyindir yang langsung disambut tawa dari Kenjo dan Arga. Hanya Vania yang terlihat merengut, kesal dengan olok-olok tiga pemuda itu.
Waktu kini sudah berlalu dan sepertinya bel akan berbunyi. Benar saja, menit berikutnya bel sudah berbunyi. Brian yang tadi berdiam diri di belakang toilet akhirnya keluar dan siap untuk masuk.
Tiba-tiba kepalanya terkena benturan sebuah tas berwarna ungu. Sepertinya ada seseorang yang melemparkan tas itu dari luar tembok. Dan bisa dipastikan kalau orang itu adalah siswa yang terlambat dan sedang menghindari hukuman, dikarenakan pintu Pagar sudah ditutup 5 menit sebelum bel masuk berbunyi.
"Haish sakit sekali! siapa sih yang asal main lempar tas saja?" umpat Brian kesal.
"Tunggu dulu! kalau tidak salah, ini kan tasnya si Ayesha!" batin Brian setelah memperhatikan tas itu.
"Ah, tapi tidak mungkinlah! kan banyak yang punya tas seperti ini," Brian hendak melangkah meninggalkan tas itu. Namun, dia kembali lagi dan memperhatikan secara teliti.
"Iya, benar! tidak salah lagi kalau ini tas punya Ayesha. Itu berarti dia ada di luar sana!" Brian sontak berdiri hendak melihat ke luar tembok. Di saat bersamaan, wajah Ayesha juga muncul, hingga membuat kepala keduanya berbenturan, bahkan bibir keduanya hampir bersentuhan.
"Auh, apa-apa sih kamu?" Pekik Brian sembari memundurkan kepalanya.
"Aduh, nanti-nanti saja protesnya boleh? please tolong bantu aku masuk! aku kurang pintar memanjat tembok," mohon Ayesha yang kakinya masih menggantung.
"Ogah!" tolak Brian.
"Brian, please deh. Bantu aku, sekali ini lagi!" Ayesha lagi-lagi memohon.
"Aku bilang ogah ya ogah!" Brian hendak berlalu pergi, mengabaikan Ayesha.
"Ihh, dasar tega!" Ayesha hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan kembali berusaha memanjat tembok.
Brian yang merasa tidak tega akhirnya menghentikan langkahnya. Ia mengembuskan napasnya lalu kembali ke tempat semula untuk menolong Ayesha.
tbc