Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Brianna's wedding.



Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah dua bulan berlalu semenjak Kenjo melamar Brianna. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Kenjo dan Brianna, di mana hari ini dia dan Tasya disatukan dalam ikatan pernikahan sebagai suami istri. Pukul 10 pagi tadi, keduanya sudah melakukan sesi photo sambil memegang surat nikah mereka karena mereka berdua sudah sah menjadi suami istri.


Seperti biasa acara resepsi pernikahan dilangsungkan pada malam hari di gedung hotel milik Bima.


Kenjo tampak sudah sangat gagah dengan tuxedo pengantinnya.


Pria itu tampak santai sambil memainkan game yang ada di ponselnya sambil menunggu acara dimulai.


"Wih, pengantin kita sepertinya santai nih," celetuk Arga yang muncul tiba-tiba bersama dengan Brian dan Radit.


"Akhirnya sahabat paling keras kepala ini, nikah juga," Brian menimpali ucapan Arga. Jangan lupakan Kenjo yang bersikap cuek, dan tetap melanjutkan permainannya.


"Padahal, dulu aku sempet mengira kalau dia akan menikah setelah otongnya lapuk," sambung Radit yang disambut tawa dari yang lainnya.


"Sialan kalian semua!" Kenjo sontak bereaksi begitu mendengar kata lapuk, membuat tawa dari tiga pria lainnya semakin pecah.


"Tuan Kenjo, acara sebentar lagi akan dimulai. Anda sudah bisa menjemput istri anda sekarang!" tiba-tiba seorang pria yang mengatur semua rundown acara, muncul di depan pintu.


"Wih, ternyata aku sudah punya istri," ucap Kenjo yang sedikit merasa takjub ketika pria tadi menyebut kalimat istri anda.


Plak ... plak ... plak ... plak


Ketiga sahabatnya yang bersamanya di dalam ruangan itu sontak bergantian memberikan pukulan di kepala Kenjo. Mereka bertiga benar-benar jengah melihat sikap Kenjo yang menurut mereka berlebihan.


"Apa-apaan sih kalian! cetus Kenjo, kesal sambil membenarkan tatanan rambutnya. "Iri banget melihat orang bahagia," imbuhnya.


"Nggak usah banyak bicara lagi! kamu tadi dengarkan apa kata pria tadi? kamu harus jemput Brianna, sana, buruan!" Arga mendorong tubuh Kenjo dengan sedikit kencang.


"Ken, tunggu dulu!" Kenjo yang nyaris melangkah tiba-tiba menghentikan langkahnya mendengar Brian yang memanggilnya.


"Ada apa, Sob?" Kenjo mengernyitkan keningnya.


"Aku memang tidak pintar merangkai kata, tapi aku hanya meminta padamu, tolong jangan sakiti kakakku! Walaupun kami sering adu mulut, tapi aku tetap menyayanginya dan tidak akan pernah bisa terima kalau ada yang menyakitinya," ucap Brian dengan lugas dan tegas.


Kenjo tersenyum dan menepuk pundak Brian dengan pelan. "Aku janji, sob!" pungkasnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kenjo tercengang untuk beberapa saat melihat penampilan Briana yang sekarang tampak begitu cantik dengan gaun pengantin yang menjuntai sampai menyentuh lantai. Namun rasa kagumnya hanya berapa saat, berganti dengan rasa khawatir.


"Sayang, kamu kenapa pakai gaun seperti itu? apa tidak ada gaun yang menutupi lenganmu?" protes Kenjo setelah tersadar dari kekagumannya. Ya, Brianna saat ini memakai gaun yang sama memperlihatkan kulit punggungnya.


"Apaan sih? apa kamu mau bilang kalau ini jelek?" Brianna mengerucutkan bibirnya, kesal. Bagaimana tidak? bukannya mendapat pujian tapi, protes yang dia dapatkan.


"Bu-bukan seperti itu! mau pakai pakaian apapun kamu itu tetap cantik di mataku, tapi kali ini kamu sangat-sangat cantik, Sayang. Kulitmu terekspos dengan nyata. Harusnya hanya aku yang bisa melihatnya," tutur Kenjo.


"Kalau kulitku tidak bisa dilihat oleh orang lain, harusnya aku pakai selimut saja, supaya bisa menutupi seluruh tubuhku." cetus Briana masih dengan posisi bibir yang sama.


Kenjo sontak terkekeh mendengar jawaban yang terlontar dari mulut wanita yang sudah jadi istrinya itu. Dia ingin sekali menyambar bibir sang istri yang menurutnya sangat menggoda sekarang. Namun, pria itu mengurungkannya, karena takut nantinya tidak bisa menahan diri. Kan aneh, kalau acara berlangsung, tapi pengantinnya tidak ada. Dan yang lebih menakutkan, kalau istrinya itu nanti akan memusuhinya dalam jangka waktu yang lama, karena tidak bisa hadir di acara resepsi pernikahan yang sudah diimpikannya sejak dulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka berdua kini sudah berdiri di depan pintu masuk. Mulut Brianna terbuka sedikit karena terpukau dengan ballroom yang disulap menjadi sangat indah seperti di negeri dongeng sesuai dengan apa yang dia impikan selama ini.


"Kamu suka?" bisik Kenjo dan Brianna mengangguk dengan cepat.


"Ini semua untukmu, Sayang dan ini sama sekali tidak gratis." ucap Kenjo, ambigu.


"Maksudmu?" Brianna mengrenyitkan keningnya.


"Kamu harus membayarnya nanti malam," Kenjo mengerlingkan matanya, menggoda sang istri.


Semburat merah seketika langsung muncul di pipinya. Karena bagaimanapun sebagai wanita dewasa, dia paham apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Wanita itu benar-benar tidak menyangka kalau pria yang selama tidak terlalu banyak bicara itu, bisa berbicara vul*gar.


"Tapi, sepertinya aku belum bisa membayarnya malam ini, Sayang," Brianna berbisik dengan sangat hati-hati.


"Kenapa tidak bisa?"


"Karena aku sedang datang bulan,"


"Kamu jangan bohong! kamu pasti mau menghindarkan? 'Oh, tidak bisa! aku tahu kamu itu tidak datang bulan sama sekali,"


"Kok kamu bisa tahu?" alis Brianna bertaut tajam.


"Kamu lupa, kalau aku tahu jadwal datang bulanmu? Kamu akan datang bulan seminggu lagi," goda Kenjo sembari mengerlingkan matanya.


"Ihh, kamu ya ..." ingin rasanya Kenjo mencekik suaminya itu, tapi dia urungkan karena ruangan sudah penuh dengan tamu undangan.


Acara akhirnya akan dimulai. Suara MC sudah terdengar meminta pengantin untuk masuk kedalam gedung.


Kenjo dan Brianna pun berjalan dengan tangan yang menggelayut di lengan Kenjo menuju pelaminan yang juga tidak kalah indah dengan tempat duduk para tamu undangan. Musik instrumen yang sangat romantis berjudul ' A Thousand years,' mengalun mengiringi langkah pasangan sejoli yang baru saja sah menjadi suami istri itu.


Dari arah meja keluarga tampak mata Bima berkaca-kaca menahan tangis, melihat Brianna putrinya terlihat bahagia karena sudah memiliki suami yang menurutnya sangat bertanggung jawab.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rentetan acara demi acara berjalan dengan lancar, sampai akhir. Ruangan ballroom pun mulai, berangsur-angsur sepi. Karena para tamu sudah hampir seluruhnya pulang.


Yang tersisa kini hanya para sahabat dan keluarga besar. Mereka sepertinya masih asik bercengkerama, menjalin kebersamaan agar semakin erat.


Tampak dari tadi Ayesha terlihat meringis sembari memegang perutnya. Sepertinya wanita itu sudah mengalami kontraksi. Bahkan wajah wanita itu sudah terlihat sangat pucat.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Brian, panik.


Pertanyaan Brian barusan sontak menarik perhatian yang lainnya. Mereka semua langsung datang menghampiri.


"Perutku sakit, Sayang!" desis Ayesha, lirih.


"Sa-sakit? Kenapa bisa?" tanya Brian di sela-sela bingungnya.


Plak ....


Kepala Brian sontak mendapat pukulan dari Bima. "Kenapa masih bertanya lagi? Istrimu sepertinya mau melahirkan. Cepat bawa ke rumah sakit!" titah Bima.


Tbc