Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Radit menemui Vania



Hari berganti hari. Tidak terasa, sudah tiga hari sejak Brian memutuskan untuk memenuhi permintaan Vania dan papanya. Namun, selama seminggu itu juga Vania tidak mendapatkan perhatian dari Brian seperti yang diharapkannya. Pria itu masih terkesan cuek. Bahkan pria itu sama sekali tidak menemaninya di rumah sakit dengan alasan sibuk.


Hari ini adalah hari terakhir wanita itu di rumah sakit. Ia berharap Brian akan menjemputnya dari rumah sakit dan mengantarkan pulang, sama seperti pasangan kekasih pada umumnya. Bahkan sebenarnya dia dari tadi sudah bisa pulang, tapi dia tetap kekeuh menunggu Brian datang.


"Sayang, kamu bisa jemput aku kan? aku dari tadi menunggu kamu lho," ucap Vania dengan nada yang sangat manja.


"Maaf, Van. Aku tidak bisa, karena aku sangat sibuk," tolak Brian yang sama sekali tidak pernah membalas balik panggilan sayang Vania.


"Kamu sibuk mulu perasaan. Kapan kamu punya waktu untukku?" Vania mengerucutkan bibirnya, tidak sadar kalau pria di ujung sana tidak bisa melihat ekspresi kekesalannya.


"Maaf, tolong jangan banyak maunya! Aku benar-benar sibuk!" terdengar jelas kalau Brian sedang kesal di ujung sana.


"Kamu lebih mentingin pekerjaanmu dibandingkan aku?" protes Vania.


"Iya," sahut Brian tanpa sadar.


"Oh, begitu ya?" desis Vania, lirih.


"Padahal aku hanya memintamu, untuk menjemputku dari rumah sakit, apa keinginanku itu berlebihan?" sambungnya kembali dengan lirih.


"Maaf, bukan bermaksud seperti itu. Aku memang sedang sangat sibuk sekarang! Aku minta supir saja menjemputmu,"


"Tapi, aku maunya kamu yang jemput aku, tidak mau yang lain," Vania mulai merajuk.


"Vania, please tolong ngertiin aku. Aku benar-benar tidak bisa. Aku matikan teleponnya ya," tanpa menunggu Vania menjawab, panggilan langsung diputuskan secara sepihak oleh Brian.


"Brian, Brian!" Vania mencoba untuk memanggil lagi, namun tidak ada jawaban lagi dari pria di ujung sana.


"Segitunya kamu, Brian! Apa kamu belum ikhlas menerimaku? bahkan kalau tidak aku yang menghubungi kamu lebih dulu, kamu tidak akan pernah menghubungiku. Bertanya, bagaimana kondisiku juga kamu tidak pernah," ucap Vania, dengan cairan bening yang mulai menetes membasahi pipinya.


Tidak ingin berlarut-larut dan merasa yakin kalau Brian tidak akan datang, Vania pun turun dari kasur, bersiap hendak keluar.


Baru saja wanita itu hendak berjalan keluar, tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang.


"Radit?" gumam Vania, dengan alis bertaut. Bertanya-tanya, kenapa pria itu tiba-tiba datang.


"Ya, ini aku. Kenapa? Kaget?" tanya Radit dengan lengkungan senyum sinis di sudut bibirnya.


"Kenapa kamu datang ke sini? Aku tidak pernah menduga kalau ternyata kamu itu sahabat yang munafik. Ternyata kamu menjalin hubungan dengan Ayesha kan?" ucap Vania. "Tapi, bagus deh. Setidaknya karena hubungan kalian, Brian bisa menerimaku," sambung Vania lagi.


Radit berdecih dan tersenyum smirk.


"Oh ya? tapi entah kenapa, aku yakin kalau cinta Brian masih ada tersisa banyak, dan aku pastikan sisa itu akan aku dapatkan," sahut Vania dengan penuh percaya diri.


"Percaya diri itu bagus, Van. Tapi jangan berlebihan, takut tidak sesuai dengan ekspektasi, malah akan semakin sakit," Radit melangkah menuju sofa, lalu mendaratkan tubuhnya duduk di atasnya.


Vania, menggeram lalu menata Radit dengan tatapan kesal. "Aku tidak berlebihan, Radit. Aku hanya yakin saja. Apalagi ditambah dia yang sakit hati karena penghianatanmu, aku semakin yakin kalau aku akan bisa membuat Brian jatuh cinta, padaku dengan perhatiannya yang kuberikan. Bahkan aku yakin kalau cintanya akan lebih besar ke padaku dibandingkan ke Ayesha," tutur Vania dengan berapi-api.


"Dan kamu puas kalau sudah begitu? Kamu puas sudah memisahkan dua orang yang saling mencintai, dan menghancurkan persahabatan orang lain demi kebahagiaanmu? Bravo, Vania, kamu benar-benar hebat!" Radit bertepuk tangan. Senyuman sinis yang terukir di bibirnya sama sekali tidak pernah tanggal.


"Apa maksudmu? aku memisahkan dua orang yang saling mencintai? Tidak sama sekali! Justru kamu yang menusuk Brian dari belakang. Begitu juga dengan persahabatan kalian. Kamu sendiri yang memilih jadi penghianat, makanya persahabatan kalian hancur. Jadi, jangan salahkan aku dengan apa yang terjadi,"sangkal Vania, dengan napas memburu.


"Lagian, kenapa kamu datang lagi, seakan-akan menyudutkan ku? Bukannya seharusnya kamu senang, sudah berhasil mendapatkan gadis yang kamu cintai? apa karena persahabatan kalian yang hancur, jadi kamu tidak rela dan sibuk menyalahkanku seakan-akan ini semua karena aku?"


"Tapi semua ini karena kamu Vania!" suara Radit meninggi. "Gara-gara tindakan bodohmu, membuat hancur kebahagiaan orang lain!" Radit sepertinya sudah tidak bisa menahan diri lagi.


"Maksudmu apa?" desis Vania, lirih.


"Jangan bertindak seperti orang bodoh, Vania! Aku yakin, kamu cukup pintar bisa menangkap yang aku maksud?" napas Radit terlihat memburu. Wajah pria itu juga terlihat sudah memerah.


Vania tercenung, berusaha mencerna ucapan pria di depannya itu.


"Jangan bilang kalau ...."


"Iya, kamu benar! Kamu kira aku benar-benar menjalin hubungan dengan Ayesha? Tidak sama sekali, Vania!"Sambar Radit yang sepertinya tahu apa yang akan diucapkan oleh wanita itu.


"Asal kamu tahu, Ayesha yang memohon padaku agar aku mau berpura-pura menjalin hubungan dengannya. Karena apa? Karena dia tidak tega melihat papamu menangis. Dia juga tidak ingin kamu kenapa-napa. Ayesha membayangkan kalau seandainya dia ada di posisi kamu, pasti papanya juga akan melakukan hal yang sama. Betapa mulia hatinya kan? Dia rela berkorban sampai rela dibenci oleh Brian dan yang lainnya, demi kebahagiaanmu dan agar papamu tidak kehilangan putrinya! tidak seperti kamu yang demi kebahagiaanmu sendiri, sanggup menghalalkan segala cara!" tutur Radit, sengit. Dia sepertinya tidak bisa lagi merahasiakan kebenarannya.


"Kamu bohong kan, Dit?" Vania menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya.


"Apa tampangku terlihat berbohong di matamu?" tantang Radit.


Vania menatap intens ke arah mata Radit untuk mencari kejujuran di mata pria itu. Vania, menghela napas berat dan panjang, ketika dia melihat tidak adanya kebohongan di mata pria itu.


"Van, aku tahu kalau kamu itu sebenarnya gadis yang baik. Cintamu yang tidak berbalas selama ini lah yang membuatmu seperti ini. Tapi, aku mohon, please berhenti membuat orang lain terluka, hanya demi keinginanmu. Asal kamu tahu, tanpa sadar, kamu juga sudah membuat papamu kehilangan harga diri, sampai beliau rela berlutut di depan Brian dan Ayesha, demi agar kamu tidak bertindak bodoh. Betapa sayangnya beliau padamu, sampai dia hanya memikirkan dirimu. Apa ini balasanmu pada kasih sayang beliau?" Radit kembali buka suara, melihat Vania yang hanya diam saja.


"Tapi, aku mencintai Brian, Dit? Apa aku salah memperjuangkan cintaku?" Mata Vania mulai berkaca-kaca, hendak menangis.


"Tidak salah! Yang salah itu kalau terlalu memaksakan dan bahkan sampai membuat orang yang saling mencintai terpisah. Kalaupun nantinya kamu bisa mendapatkan Brian, tapi yakinlah kamu tidak akan pernah bahagia, karena setiap hari kamu akan merasakan sakit yang amat sangat. Setiap hari kamu akan makan hati,karena kamu hanya mendapatkan raganya, tapi tidak hatinya," ucap Radit lagi, berharap kali ini Vania bisa menerima penjelasannya.


Tbc