Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Permohonan Vania



Sudah hampir seminggu Ayesha mendatangi kantor Brian, untuk mengantarkan makan siang seperti yang diminta pria itu.


Awalnya Ayesha berniat untuk mengirim melalui kurir, namun Brian memintanya untuk mengantarkan sendiri. Kalau tidak dia tidak akan makan.


Walaupun bercampur kesal, Ayesha tetap memenuhi permintaan Brian tersebut. Tapi, lagi-lagi Ayesha harus dibuat kesal lagi, karena pria itu memintanya untuk tetap di ruangannya sampai dia menghabiskan makanan yang dibawa olehnya.


"Nih, buka mulut kamu!" Brian menyodorkan sendok berisi makanan tepat ke mulut Ayesha.


"Aku masih kenyang," tolak Ayesha sembari memundurkan kepalanya.


"Kamu tidak akan mati kekenyangan kalau hanya makan satu suap atau dua suap saja, ayo buka mulutmu!" Brian tetap mendekatkan sendok ke mulut Ayesha.


"Brian, kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau! Itu sendok bekas kamu!" Kali ini Ayesha menutup mulutnya menggunakan tangan.


"Kenapa kalau sendok bekasku? apa kamu kira aku penyakitan, makanya kamu tidak mau?"


"Bu-bukan begitu ... Ahh baiklah!" Ayesha akhirnya membuka mulutnya dan dengan tersenyum Brian menyuapkan makanan ke dalam mulut gadis itu.


"Kamu ini benar-benar pemaksa!" umpat Ayesha seraya mengunyah makanannya.


"Jangan bicara kalau ada makanan di mulut!" tegor Brian, tidak peduli dengan protes yang diajukan Ayesha.


"Nih buka mulutmu lagi!" Brian kembali menyodorkan makanan ketika melihat mulut wanita yang dicintainya itu, kosong.


"Brian aku sudah ___" Ayesha kembali ingin menolak, namun Brian sudah memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Mau tidak mau, dia terpaksa mengunyah lagi.


Tidak perlu menunggu lama, akhirnya rantang makanan sudah habis, tidak tersisa. Ayesha pun tidak langsung membereskan semuanya.


"Sudahkan? Berarti aku bisa pulang!" Ayesha berdiri dari tempat duduknya dan bersiap hendak berlalu pergi.


"Kenapa sih kamu buru-buru mau pergi? Sebenci itu ya kamu padaku, makanya kamu ingin cepat-cepat pergi?"


Ayesha yang nyaris melangkah, seketika menyurutkan langkahnya, mendengar ucapan Brian yang terdengar sangat lirih.


Wanita itu pun kemudian berbalik dan menatap Brian dengan alis bertaut.


"Aku tidak membencimu, hanya tidak ingin terlalu dekat lagi," sahut Ayesha.


"Apa kamu benar-benar tidak mau memaafkanku lagi ya, Sha? apa kamu benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Brian dengan tatapan sendu.


"Aku sudah memaafkanmu, tapi kalau untuk bersama lagi, maaf aku masih butuh waktu untuk berpikir. Aku pamit ya!" Ayesha melanjutkan langkahnya, meninggalkan Brian yang lagi-lagi hanya bisa menghela napas kecewa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayesha baru saja turun dari mobilnya. Ia pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toko kuenya. Namun, alangkah kagetnya dia begitu masuk dia melihat seorang wanita yang sangat dia kenal, sedang duduk di sofa yang biasa digunakan pembeli saat menunggu pesanan mereka.


"Vania?" gumam Ayesha. Ya ... Wanita itu adalah Vania. Wanita yang selama ini selalu dekat dengan Brian.


Vania sontak berdiri setelah melihat Ayesha masuk.


"Maaf, Bu. Mbak ini sudah menunggu Ibu dari tadi," ucap salah satu karyawannya.


Ayesha tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu mempersilakan pegawainya itu untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Ada perlu apa kamu ke sini, Vania?" tanya Ayesha dengan nada dingin.


"Kamu apa kabar?" bukannya menjadi pertanyaan Ayesha, Vania malah balik bertanya.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," sahut Ayesha masib dengan sikap dinginnya.


"Ada urusan apa kamu ke sini?" Ayesha mengulang pertanyaannya.


"Aku mau bicara denganmu, boleh kan?"sahut Vania.


"Boleh saja. Kamu katakan saja di sini," ucap Ayesha tegas.


"Boleh tidak kita jangan bicara di sini? Apa kamu tidak ada ruangan pribadi?"


"Baiklah, kita ke ruanganku saja!" Ayesha mengayun kakinya melangkah menuju ruangannya. Sementara Vania menyusul dari belakang.


"Silakan duduk!" Ayesha mendarat tubuhnya duduk di atas sofa, sementara Vania melakukan hal yang sama.


"Ada apa? Langsung to the point saja! Soalnya masih banyak yang harus aku kerjakan," ucap Ayesha tanpa senyum sedikitpun di bibirnya.


"Apa kamu baru dari kantor Brian?" bukannya mengindahkan ucapan Ayesha, Vania malah memulai pembicaraan dengan basa-basi.


"Hmm," sahut Ayesha, singkat.


"Bagaimana kabar dia? Dia baik-baik saja kan?" Vania memasang wajah sendu.


"Vania, bukannya aku sudah mengatakan to the point saja? Kenapa kamu masih mau berbasa-basi? Lagian aku rasa kamu juga tahu keadaan Brian. Kamu pasti selalu memantau dari jauh kan? makanya kamu bisa tahu kalau aku baru saja dari sana," cecar Ayesha, lugas.


Vania tidak menyahut sama sekali, karena yang dikatakan wanita di depannya itu benar adanya. Wanita itu kemudian menarik napas dan mengembuskannya dengan cukup keras.


"Sha, aku tahu kalau kamu pasti membenciku, karena secara tidak langsung aku sudah menyebabkan Brian salah paham padamu. Tapi, sumpah demi apapun Yesha, aku tidak tahu kalau pria yang bersamamu itu adalah Om kamu sendiri. Apa kamu mau memaafkanku?"


Ayesha memicingkan matanya, menatap curiga ke arah manik mata Vania, untuk melihat apakah perempuan yang dia tahu sangat terobsesi pada Brian itu, tulus meminta maaf atau tidak.


"Iya, aku memaafkanmu," sahut Ayesha, masih dengan singkat.


"Terima kasih, Yesha!" ucap Vania seraya Tersenyum manis.


Keheningan kembali tercipta di antara dua wanitanya itu, sehingga membuat suasana di ruangan itu menjadi canggung.


"Apakah yang ingin kamu bicarakan sudah selesai? Boleh aku melanjutkan pekerjaanku?" celetuk Ayesha, yang di balik ucapannya terselip sebuah keinginan agar wanita di depannya itu,keluar dari ruangannya.


"Emm, a-ku masih ada yang mau disampaikan, Yesha. Kamu masih mau kan sabar mendengarku?" suara Vania terdengar bergetar.


"Baiklah, katakan saja!" Dari tadi, sedikitpun Ayesha tidak pernah tersenyum ke arah Vania.


Vania terlihat menggigil bibirnya, merasa gugup untuk mengucapkan apa yang dari tadi ingin dia katakan.


"Vania, kenapa masih diam? kamu masih mau bicara atau tidak lagi?" Ayesha terlihat sudah mulai tidak sabar.


"I-iya, aku akan bicara," sahut Vania dengan cepat.


"Sha, apa kamu dan Brian sudah kembali menjalin hubungan seperti dulu?" akhirnya tercetus juga apa yang mengganjal di hati Vania.


"Belum," sahut Ayesha, singkat.


"Belum? Apa itu berarti kamu masih akan memberikan kesempatan padanya suatu saat?"


"Bisa jadi. Emangnya kenapa?" alis Ayesha bertaut tajam.


"Emm, Sha, aku tahu kalau kamu pasti tahu apa yang aku rasakan pada Brian. Kalau bisa aku memohon padamu, agar kamu menjauhi Brian dan merelakannya padaku. Aku mohon Padamu,Sha!"


Mata Ayesha membulat sempurna, tidak menyangka kalau gadis itu bisa dengan berani datang memintanya untuk menjauhi Brian.


"Kenapa kamu bisa memintaku seperti itu? Apa kamu kira dengan aku menjauhinya, Brian tetap akan bersedia bersamamu? Kalau seandainya dia mau 5 tahun kamu bersama dengannya, tanpa adanya aku, tapi kamu tetap tidak bisa mendapatkan hatinya kan? Jadi, percuma saja kamu memintaku menjauhinya," tutur Ayesha, panjang lebar.


"Aku tahu itu. Tapi aku ingin kembali berusaha, Yesha. Kalau kamu benar-benar menolaknya dengan keras dan mengatakan kalau kamu sudah mencintai laki-laki lain, dia pasti akan mundur. Di saat itulah aku akan berusaha kembali untuk mendapatkan hatinya. Aku berjanji, sekali ini saja kamu memberikan aku kesempatan. Kalau Brian tetap tidak bisa menerimaku dalam waktu dekat ini, aku berjanji akan mundur," mohon Vania dengan wajah memelas.


"Maaf, aku tidak bisa!" sahut Ayesha dengan tegas.


"Aku mohon, Yesha! Tolong kasih aku kesempatan untuk mendapatkan hatinya! Kamu tahu,aku sudah menyimpan perasaanku padanya semenjak kelas satu SMA sampai sekarang. Aku sampai rela membuang semua hal yang kusuka demi dia. Aku sampai rela tidak punya teman perempuan supaya tetap bisa dekat dengan Brian. Padahal, aku sangat ingin sepertimu yang juga mempunyai sahabat wanita untuk berbagi keluh kesah, shopping ke mall, nonton drama bersama. Aku mengabaikan semua itu demi hanya bisa dekat Brian, Sha." air mata mulai mengalir turun membasahi pipi Vania.


"Kamu tahu, kenapa aku bisa sampai seperti itu, Sha? Itu karena aku tahu, kalau dia tidak suka dengan wanita yang terlalu ketara mengejarnya. Jadi, aku berpura-pura hanya ingin menjadi temannya saja, menunggu sampai dia sendiri yang jatuh cinta padaku. Tapi, usahaku benar-benar sia-sia, Sha. Kamu tiba-tiba muncul, dan lucunya tidak perlu menunggu lama, kamu berhasil membuat dia jatuh cinta padamu. Coba bayangkan bagaimana sakitnya hatiku, Sha," Vania mulai sesunggukan.


"Asal kamu tahu, aku bahkan mengikutinya kuliah di Amerika dan mengambil jurusan yang sama sekali tidak aku inginkan. Aku sangat ingin menjadi seorang dokter, tapi aku mengambil jurusan sekretaris, Sha. Demi apa? demi untuk bisa menjadi sekretaris Brian. Aku merelakan semua impianku,demi dia,Sha! Aku bahkan sampai rela menjadi orang yang munafik. Tidak kah kamu kasihan padaku, Sha? Aku mohon sekali, agar kamu bisa tegas menolak dia dan mengatakan kalau kamu tidak mencintainya lagi dan sudah mencintai pria lain," sambung Vania lagi, sembari terisak-isak.


Tbc