
Waktu berlalu begitu cepat tidak terasa sudah tiga tahun berlalu, dan itu berarti sudah 5 tahun Brian dan Ayesha tidak pernah bertemu sama sekali. Pria itu kini sudah menginjak usia hampir 24 tahun.
Oh ya, Brian juga sekarang sudah menyelesaikan pendidikan S2 nya dan berniat akan kembali ke Indonesia, untuk membantu Bima papanya mengelola perusahaan.
Selama ini tidak bisa dipungkiri, walaupun pemuda itu berada di luar negri, ia tetap membantu perusahaan papanya dari Amerika.
Bagaimana dengan tiga sahabatnya? Arga dan Radit sudah lebih dulu pulang ke Indonesia, dan sudah terjun langsung di perusahaan papa mereka masing-masing. Sementara Kenjo kini sudah bekerja di perusahaan asing, sembari merintis usaha yang dia bangun mulai dari nol.
Sementara Vania ... Wanita itu juga sudah kembali ke Indonesia lebih dulu, dan memilih untuk bekerja di perusahaan Brian, sebagai sekretaris. Jadi, Brian selalu berhubungan dengan Vania, yang tentunya tentang masalah pekerjaan.
Pesawat yang membawa Brian, mendarat sempurna di Bandara Internasional Soekarno Hatta Tangerang Banten. Pria itu mengulas sebuah senyuman lalu menghirup udara Indonesia dalam-dalam. Hari sudah gelap karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Indonesia, i am back!" gumam pria yang sekarang terlihat semakin tampan, berisi dan gagah itu.
Ia pun kemudian mengayunkan kakinya melangkah menuju tempat pengambilan bagasi.
Di tempat pengambilan bagasi maskapai lain, tampak juga seorang wanita yang tidak lain adalah Ayesha.
Ya, wanita itu juga kini memutuskan kembali ke Indonesia. Kalau bukan karena orang tuanya yang memohon, dia belum punya niat untuk kembali ke Indonesia. Namun, karena mamanya memohon sampai menangis, mau tidak mau dia pun patuh untuk pulang.
"Nah, itu dia koperku!" Ayesha mengembuskan napas lega ketika sudah melihat koper yang sudah 10 menit dia tunggu.
Setelah kopernya sudah dekat, ia pun meraihnya dan langsung menggeretnya keluar.
"Pak, kamu di mana?" tanya Ayesha melalui telepon seluler yang sedang menempel di telinganya.
"Maaf, Non. Mobilnya tiba-tiba mogok, entah kenapa. Aku sedang berusaha memperbaikinya," sahut seorang pria yang bisa dipastikan adalah supir yang diminta untuk menjemput Ayesha ke Bandara.
"Aduh, jadi gimana dong? Masa aku harus menunggu lama?" keluh Ayesha.
"Emm, ya udah Pak. Aku naik taksi saja. Nanti kalau mobilnya sudah bagus, Bapak langsung pulang saja!" pungkas Ayesha, akhirnya.
Setelah panggilan terputus, Ayesha akhirnya memutuskan untuk mencegat taksi yang sengaja sudah parkir di area bandara.
Ayesha pun kemudian masuk. Setelah menyebutkan alamatnya, supir taksi itu pun langsung menjalankan taksinya.
Baru saja taksi yang membawa Ayesha pergi, Brian pun keluar dari dalam sembari menggeret kopernya.
"Den Brian, ayo mobilnya ada di sana!" seorang pria paruh baya yang merupakan supir keluarga Brian, langsung menghampiri pria itu.
Brian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ayo, Pak!" supir itu mengambil alih koper tuan mudanya, lalu melangkah lebih dulu dan Brian pun mengekor dari belakang.
Jalanan sudah mulai sedikit sepi, jadi perjalanan sangat lancar. Inilah alasan kenapa Brian memilih untuk tiba di Indonesia malam. Apalagi kalau tidak ingin menghindari macet.
Baru saja menempuh perjalanan lebihnya kurang 30 menitan, di depan sana tampak sebuah taksi yang berhenti di tengah jalan yang lumayan sepi. Kap taksi itu terlihat terbuka, yang menandakan kalau taksi itu mengalami kerusakan.
Di samping taksi itu tampak seorang wanita yang duduk di trotoar. Sepertinya wanita itu sedang menunggu supir itu selesai memperbaiki taksinya.
"Den, di depan ada taksi rusak, bisa tidak aku bantu sebentar?" tanya supir Brian dengan sopan.
"Ya udah, boleh!" sahut Brian, singkat.
Supir itu kemudian menepikan mobilnya tepat di depan taksi yang mogok itu. Lalu ia turun dan langsung menghampiri sang supir taksi.
"Kenapa, taksinya mogok Pak?" tanya supir Brian dengan sopan.
"Sepertinya dinamo starter dan akinya lagi bermasalah, Pak," sahut supir taksi itu dengan raut wajah capeknya.
"Coba sini aku lihat dulu!" supir Brian mencoba memeriksa dan benar saja, dinamo dan aki taksi itu sedang bermasalah. Supir Brian mencoba untuk membantu, namun ia mengalami kesulitan.
"Emmm, sebenarnya aku ingin bantu, tapi di dalam mobil sana ada majikanku, yang pasti lelah setelah penerbangannya yang lama. Bagaimana kalau aku panggil bengkel ke sini?" usul supir Brian itu.
"Tapi ...." supir taksi itu menggantung ucapannya. Ia sepertinya merasa berat untuk mengiyakan.
"Untuk biayanya, kamu pakai ini saja," supir Brian memberikan beberapa lembar uang ke tangan supir taksi. Sepertinya, pria itu benar-benar paham apa yang ditakutkan oleh supir taksi itu.
"terima kasih, Pak!" raut wajah supir taksi itu kembali semringah.
Supir Brian kemudian terlihat menghubungi bengkel langganan keluarga Bima, meminta untuk segera datang.
"Udah, Pak. Sebentar lagi montirnya akan datang. Aku pamit dulu ya!" supir Brian itu baru saja hendak pergi, tapi dia tiba-tiba berhenti melangkah, ketika supir taksi itu kembali memanggil.
"Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?" tanya supir Brian itu dengan alis bertaut.
"Emm, begini, Pak ... bisa tidak Bapak membawa penumpangku itu, minimal mencari taksi di depan sana? Soalnya tadi dia juga sudah memesan taksi online, tapi sama sekali tidak ada. Kasihan dia, Pak. Dia perempuan soalnya!"
Supir Brian tidak langsung mengiyakan. Ia terlihat berpikir sejenak.
"Emm, tunggu dulu ya, Pak. Aku izin majikanku dulu. Aku tidak mungkin bisa memasukkan orang lain ke dala mobil, tanpa izin dari majikanku,"
Supir Brian kemudian melangkah ke mobil.
"Sudah, Pak? Bagaimana?" tanya Brian, sebelum supirnya itu buka suara.
Supir itu kemudian menjawab dan kemudian mengungkapkan keinginannya.
"Baiklah, tidak apa-apa! Nanti kita antarkan wanita itu dulu!" sahut, Brian mengiyakan.
Supir taksi itu kemudian melangkah kembali menghampiri sang supir taksi.
"Kata majikanku, boleh Pak. Dia di mana?"
Supir taksi itu pun kemudian menunjukkan ke arah wanita yang terlihat sudah mulai bosan itu.
"Mbak, bisa ikut mobil Bapak ini dulu? Soalnya taksinya benar-benar tidak bisa jalan," ucap supir taksi itu.
Wanita itu sontak mengangkat kepalanya dan berpikir untuk sejenak.
"Apa tidak masalah, Pak?" tanya wanita itu memastikan.
"Katanya tidak masalah, Mbak. Dari pada Mbak semaki lama menunggu, jadi lebih baik Mbak ikut mobil Bapak ini dulu!" supir taksi itu menunjuk ke arah supir Brian.
Wanita itu sontak memicingkan matanya demikian juga dengan supir itu.
"Kenapa aku seperti pernah melihat gadis ini ya? Tapi di mana?" batin supir Brian itu, sembari menelisik wajah wanita di depannya.
"Ah, mungkin aku salah ingat orang. Yang dulu kan pakai kaca mata, yang ini tidak," bisik supir itu lagi pada dirinya sendiri.
Sementara itu wanita yang tidak lain adalah Ayesha itu, juga merasakan hal yang sama. Ia juga merasa seperti pernah melihat supir di depannya itu.Tapi, sumpah demi apapun, dia benar-benar lupa, siapa pria paruh baya itu dan di mana pernah bertemu.
"Ayo,Mbak!" tegur supir Brian itu dengan koper Ayesha yang sudah ada di tangannya.
Ayesha kemudian menganggukkan kepalanya dan akhirnya mengikuti langkah supir itu.
Setelah memasukkan kopernya ke dalam bagasi, Ayesha pun dibukakan pintu mobil oleh supir Brian.
"Silakan masuk, Mbak!"
"Terima kasih, Pak!" sahut Ayesha sembari tersenyum.
Baru saja Ayesha hendak masuk, pria di dalam sana yang tidak lain adalah Bria ,kebetulan juga menoleh ke arahnya.
Mata keduanya sontak membesar, terkesiap kaget melihat orang yang tidak ingin ditemui tepat berada di depan mata mereka sekarang.
Tbc