
Brian memasuki rumahnya dengan raut wajah kusut dan membawa sesuatu di tangannya. Bahkan pemuda berusia 18 tahun itu tidak membalas senyuman mamanya yang sudah berdiri di depannya. Entah dia menyadari kehadirannya mamanya itu, atau tidak, tidak ada yang tahu.
"Heh?" Ayunda mengrenyitkan keningnya, kebingungan melihat sikap putranya yang tidak seperti biasa.
Tidak menunggu beberapa lama, Briana juga melangkah masuk dengan membawa sesuatu di tangannya, sama persis dengan yang dibawa oleh Brian barusan.
"Anna, ada apa dengan adikmu? kenapa wajahnya kaya kain yang belum disetrika?" Ayunda akhirnya mencari jawaban dari putri sulungnya.
"Entahlah, Ma. Dia sudah dari tadi seperti itu. Aku tanya, dia malah suruh aku agar jangan berisik. Rese kan?" sahut Brianna dengan bibir yang mengerucut.
Ayunda kemudian mengembuskan napasnya lalu berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu melihat ke arah bawaan sang putri.
"Itu apa, Sayang? tadi adikmu sepertinya juga bawa seperti yang kamu bawa, " Ayunda menunjuk ke arah bawaan Brianna.
"Oh ini Muffin buatan Ayesha, Ma. Mama cobain deh, rasanya sangat enak," Briana menyerahkan apa yang dia bawa ke tangan mamanya.
Ayunda terlihat antusias dan langsung membuka kotak berisi muffin itu, lalu ia pun memakannya.
"Emm, rasanya sangat enak," Ayunda terlihat sangat menikmati setiap gigitan pada muffin itu.
"Oh ya, bukannya Ayesha itu gadis yang kamu bilang kekasih Brian ya? kapan sih kalian ajak dia ke rumah? mama pengen banget ketemu," ucap Ayunda setelah menelan gigitan terakhirnya.
"Emm, sebentar lagi kan ujian kelulusan ma. Jadi mungkin aku akan ajak dia ketemu mama setelah selesai ujian," sahut. Brianna
" Atau kalau dia tidak bisa datang, pas kelulusan, mama pasti hadir kan? nanti aku akan kenalin dia ke mama," sambung Brianna lagi.
"Ya udah deh! sekarang kamu istirahat aja dulu, mama mau ke dapur sebentar," Brianna menganggukkan kepalanya dan beranjak menaiki undakan anak tangga, menuju kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di kamar Brian tampak pemuda itu sedang terbaring terlentang dengan maya yang menerawang ke langit-langit kamarnya.
Pemuda itu bahkan belum melepas seragam sekolahnya dan tasnya tergeletak begitu saja di lantai dan dekat dengan kakinya.
Sebuah bayangan yang membuat dia begitu kesal hari ini kembali berkelebat ke pikirannya.
"Sialan, kenapa aku bisa sekesal ini sih? perasaan apa ini?" umpat Brian sembari menghentakkan tangannya memukul kasur.
Flashback On.
Brian terlihat sedang berlatih basket, karena akan ada pertandingan final melawan sekolah lain. Di saat dirinya sedang serius, tiba-tiba konsentrasinya pecah ketika melihat Ayesha yang berjalan dengan seorang laki-laki yang tidak lain adalah ketua osis, yang dulunya menang karena Brian mengundurkan diri sebagai kandidat. Jadi, Karna hanya dia calon, makanya mau tidak mau pria itupun menang mutlak
Pria itu dan Ayesha tampak sedang berbicara serius, dan bahkan Brian melihat Ayesha yang menggigit bibirnya.
Entah kenapa, mood Brian seketika berubah hancur dan tidak punya bersemangat untuk latihan lagi.
"Aku sudah selesai! aku capek, mau istirahat!" cetus Brian sembari meraih sebotol air mineral lalu menyiram seluruh tubuhnya setelah sebelumnya dia minun tiga teguk.
"Kenapa sudah selesai, Ian? kita itu harus meningkatkan durasi latihan kita, karena pertandingannya minggu depan. . Kamu jangan begitu dong!" protes Kenjo, dengan raut wajah yang sangat kesal.
"Aku bilang aku capek ya, capek! kamu ngerti nggak sih? kalau aku paksakan, bisa-bisa ada kepala yang pecah!" pungkas Brian, sembari berlalu pergi.
"Hei, brengsek! kamu kira kamu saja yang capek, bangsat! kami juga capek!" teriak Kenjo yang benar-benar sudah mulai terpancing emosinya. Tidak bisa disalahkan, kalau Kenjo bisa seemosi itu. Itu terjadi karena kondisi tubuh yang lelah, panas, lalu ditambah dengan sikap ketus Brian, membuat hatinyamenjadi mudah terbakar. Sementara anggota team Basket lainnya, memilih untuk pergi juga, karena tidak mungkin mereka latihan tanpa adanya Brian sang kapten.
"Sabar, Kenjo! kamu jangan emosi dulu!" Arga menepuk-nepuk pundak Kenjo, berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Kenjo, Radit dan tidak ketinggalan Vania, dengan kompak menoleh ke arah jari Arga menunjuk.
Sebuah senyuman tipis bahkan terkesan samar, sontak menghiasi bibir Vania. Dia merasa kalau Brian pasti akan membenci Ayesha.
Emosi Kenjo yang tadinya masih tinggi, berangsur-angsur mulai turun, karena akhirnya dia bisa mengerti dengan kondisi sahabatnya itu sekarang.
"Fix, Brian sedang cemburu. Itu berarti dia memang menyukai Ayesha," celetuk Radit, membuat wajah Vania yang mendengarnya langsung masam.
"Bukan menyukai, lebih tepatnya cinta. Karena dia kata itu memiliki arti yang berbeda. Suka belum tentu cinta, tapi cinta sudah berarti suka," timpal Arga, bijak.
"Ya udah lah, sekarang kita susul dia saja ke toilet! dia pasti ganti pakaian di sana!" pungkas Kenjo yang langsung dipanggil Radit dan Arga.
Tanpa pamit pada Vania, atau mungkin lupa dengan keberadaan gadis itu, ketiga pria itu langsung beranjak pergi meninggalkan Vania.
"Sialan, mereka meninggalkanku begitu saja! apa mereka tidak sadar ada aku di sini?" Vania mulai menggerutu.
"Ah, bodo amatlah. Yang penting aku sekarang senang. Brian pasti patah hati sekarang, dan ini adalah kesempatanku untuk menghiburnya dan menunjukkan kalau aku akan selalu mendukungnya dan selalu ada saat dia butuhkan. Semangat, Vania!" Vania bersorak dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam pelajaran terakhir akan segera dimulai. Siswa dan siswi sudah standby menunggu guru masuk.
Brian tampak tidak seperti biasanya. Pemuda itu sama sekali tidak menoleh sedikitpun ke belakang, tepatnya ke arah tempat Ayesha duduk. Pandangan pemuda tampan berkulit putih itu juga terlihat lurus ke depan dan raut wajahnya sangatlah datar.
Sementara itu alis Ayesha terlihat bertaut, pertanda gadis itu sedang bingung dengan sikap dingin yang ditunjukkan Brian padanya.
"Brian kenapa ya? aku tadi senyum, dia sama sekali tidak balas senyumku. Dia ada masalah atau bagaimana?" rentetab pertanyaan secara beruntun muncul di pikiran Ayesha. Namun, sialnya dia tidak mendapatkan jawaban untuk semua pertanyaannya.
"Yesha, tadi kamu sama Aldi bicara apa?" bisik Retha, yang masih bisa didengar jelas oleh Brian. Pria yang dari tadi diam itu, sontak saja mulai memasang telinganya untuk mendengar jawaban Ayesha.
"Emm, apa ya? dia cuma bilang kalau dia sudah tahu kalau aku dan Brian sebenarnya tidak pacaran. Lalu tadi dia malah memintaku jadi pacarnya,"
Brakk ...
Saking kagetnya mendengar ucapan Ayesha, Brian hampir terjungkal dari kursinya.
"Brian, kamu tidak apa-apa?" Ayesha mencoba menyentuh lengan Brian yang langsung ditepis oleh pria itu.
"Sudah, sudah jangan pedulikan dia! kita lanjut aja yang tadi," ucap Retha sembari menarik tubuh Ayesha.
"Jadi tadi kamu jawab apa? kamu menerimanya nggak?" Retha terlihat begitu penasaran.
"Emm, bagaimana ya? tadi aku __"
"Selamat siang menjelang sore anak-anak!" belum sempat Ayesha menjawab, guru di jam terakhir tiba-tiba masuk, membuat Ayesha dan Retha pun menghentikan pembicaraan.
Flashback back end
"Arghhh!" Brian menggusak rambutnya dengan kasar sampai berantakan
"Kenapa tadi Bu Zahra langsung masuk sih? aku kan jadi tidak tahu, Ayesha jawab apa. Benar-benar sial hari ini! Brengsek!" umpat Brian sembari bangun dari tidurnya dan menendang tas yang sama sekali tidak bersalah itu, jauh-jauh.
tbc