
Hari berganti hari, tidak terasa sudah satu bulan lamanya pernikahan Brian dan Ayesha berlalu. Mulai dari hari itu, Vania sudah semakin dekat dengan Ayesha, Retha dan Brianna. Seperti sekarang, empat wanita itu janjian untuk makan siang di sebuah restoran milik Vania sendiri.
"Bagaimana rasanya menikah, Sha?" tanya Vania, setelah mereka melewatkan banyak pembicaraan.
"Emm, kamu menikah saja biar tahu bagaimana rasanya," bukannya menjawab, justru Ayesha memberikan tantangan.
Vania sontak mengerucutkan bibirnya, kesal sementara Retha dan Brianna terbahak merasa lucu melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan oleh Vania.
"Bagaimana mau nikah, pacar saja aku tidak punya," keluh Vania, memasang wajah kecut.
"Radit kan ada. Kalian sama-sama jomblo, kenapa tidak jadian saja?" sahut Ayesha lagi.
"Benar tuh! Kalian berdua juga terlihat cocok," Retha buka suara menimpali ucapan Ayesha.
"Kalian apa-apaan sih? Bukannya Kalian yang bilang kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan? kenapa sekarang kalian seakan-akan menjodohkanku dengan Radit? kalian kan tahu sendiri dia tidak mencintaiku,"tutur Vania, dengan wajah sendu.
"Tapi, kamu mencintainya kan?" tukas Ayesha, membuat Vania terkesiap kaget.
"Kamu jangan asal nuduh ah. Aku tidak mencintainya," Vania mencoba mengelak.
"Yakin, kamu tidak mencintainya?" goda Ayesha.
"Yakinlah!" sahut Vania, masih tetap berusaha untuk mengelak.
"Kenapa aku tidak yakin ya? Bagaimana menurut kalian berdua? Apa kalian yakin dengan pengakuan Vania?" tanya Ayesha meminta pendapat Retha dan Brianna.
"Maaf seribu maaf, aku tidak yakin!" sahut Retha menahan tawa.
"Aku juga!" kini giliran Brianna yang bersuara.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak!" pungkas Vania, dengan bibir yang kembali mengerucut, membuat tawa tiga wanita sahabatnya itu kembali pecah.
"Van, Kamu tidak bisa membohongi kami lagi, karena kami bisa membaca pikiranmu. Dari raut wajahmu kami tahu kalau kamu memiliki perasaan pada Radit. Kamu jangan mengelak lagi, Van!" Sekarang Ayesha sudah terlihat serius saat berbicara.
"Iya, Van. Kamu jangan menutupinya lagi. Kamu sudah menganggap kami sahabat kan? Kalau sudah, kenapa kamu masih mau menyembunyikannya? Kamu bisa cerita pada kami apa yang kamu rasakan," Brianna buka suara menimpali ucapan Ayesha.
Vania seketika bergeming, diam seribu bahasa, karena merasa tidak ada gunanya lagi untuk mengelak.
"Aku tidak menyangka kalian bisa melihatnya. Kalian benar ...aku memang merasa jatuh cinta pada Radit. Mungkin cinta itu timbul karena sebulan lamanya, setiap hari aku menghabiskan waktu bersamanya, saat mengurus pernikahanmu dengan Brian, Yesha. Tapi, aku sadar diri karena tidak mungkin Radit punya perasaan yang sama. Aku sudah berjanji dalam hati, kalau aku tidak mau seperti dulu lagi, yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan pria yang aku cintai. Pernikahanmu dan Brian, benar-benar menyadarkanku kalau melihat orang yang kita cintai bahagia walau tidak bersama kita, rasanya sangat bahagia," tutur Vania panjang lebar tanpa jeda.
Ayesha, Retha dan Brianna saling silang pandang dan tersenyum penuh makna.
"Dari mana kamu tahu kalau Radit tidak memiliki perasaan yang sama sepertimu? Tapi yang aku tahu dan sangat yakin, kalau dia juga punya perasaan khusus padamu," kali ini Retha yang buka suara, dan diiyakan oleh Ayesha dan Brianna.
"Kalian jangan mencoba menghiburku, karena akan sangat sakit rasanya kalau tidak sesuai kenyataan," ucap Vania.
"Siapa bilang kami sedang menghiburmu. Kami hanya menyampaikan apa yang benar-benar kami yakini. Kamu tahu kenapa kami bisa sangat yakin?" tanya Ayesha.
Vania pun menggelengkan kepalanya.
"Kamu tahu, kenapa kami bisa sangat yakin, ketika aku melihat bagaimana paniknya dia saat kamu hampir bunuh diri saat itu. Dia berlari dengan wajah penuh kekhawatiran dan penampilannya juga sangat kacau. Bahkan dia tidak bisa duduk tenang saat kepadamu masih diperiksa dokter saat itu," terang Ayesha.
"Kamu bohong ya?" Vania berusaha untuk tidak yakin, karena dia benar-benar tidak ingin merasa sakit kalau nantinya tidak sesuai dengan kenyataan.
"Untuk urusan seperti ini, tidak mungkin aku bohong, Van. Aku benar-benar serius," tegas Ayesha, berusaha meyakinkan.
"Benar kata Ayesha, Van. Kami juga semakin yakin, melihat dia yang selalu menggandeng tanganmu di pesta pernikahan adikku dan Ayesha saat itu. Lirikan matanya juga berbeda," timpal Brianna.
"Mungkin saat ini, Radit masih mengira kalau kamu belum bisa mencintai laki-laki lain, selain Brian. Aku yakin kalau dia hanya ingin memberikan kamu waktu untuk bisa benar-benar melupakan Brian, dan membuka hati untuk pria lain," sahut Retha
Mendengar penjelasan tiga wanita sahabatnya itu, Vania tidak tahu mau senang atau tidak. Kalau dia senang, dia takut kalau ternyata tidak sesuai ekspektasi. Dia Takut kalau rasanya akan lebih sakit kalau dia sudah berharap lebih.
"Emm, jadi menurut kalian aku harus bagaimana? Apa aku yang berinisiatif untuk mengatakan perasaanku padanya, atau aku menunggu saja?" tanya Vania, dilema.
Tiga wanita itu sontak terdiam, seperti sedang berpikir keras.
"Emm, sebaiknya kamu tunggu saja, Van. Tapi, aku punya cara untuk bisa membuatnya jujur," celetuk Ayesha dengan wajah berbinar.
"Caranya bagaimana?" Vania mengernyitkan keningnya.
Sebelum menjawab, Ayesha tersenyum penuh makna lalu mengungkapkan rencananya.
"Bagus tuh, aku setuju!" celetuk Retha.
"Aku juga setuju!" sambung Brianna.
"Tapi ...." Vania menggantung ucapannya karena masih merasa ragu.
"Tidak ada tapi-tapi, Van! Kamu ikut saja! Yakin saja, kalau ini akan berhasil!" tegas Ayesha penuh penekanan.
"Baiklah, kalau begitu!" pungkas Vania akhirnya setuju.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vania melambaikan tangannya ke arah ketiga sahabatnya yang sudah dijemput oleh pasangan masing-masing. Setelah mobil yang membawa tiga sahabatnya itu benar-benar menghilang dari pandangan, Vania berbalik hendak masuk kembali ke dalam restorannya.
Namun, saat hendak membuka pintu, tiba-tiba ada seorang kurir pengantar bunga berdiri tepat di sampingnya, hendak masuk juga.
"Bang, cari siapa?" tanya Vania, dengan alis bertaut.
"Emm, maaf, Nona aku mau cari wanita bernama Vania. Katanya dia pemilik restoran ini," sahut kurir itu dengan sopan.
"Vania? Itu aku sendiri, Bang. Ada perlu apa ya?" tanya Vania dengan kening yang semakin berkerut.
"Oh, tenyata Nona ini, Vania. Ini, Nona ... Aku hanya ingin mengirimkan bunga ini pada Nona," Kurir itu memberikan sebuket bunga mawar merah ke arah Vania.
"Kalau boleh tahu dari siapa ya Bang?" tanya Vania dengan tangan yang meraih bunga itu dari tangan sang kurir.
"Kalau untuk itu, aku kurang tahu, Nona. Tugasku hanya mengantarkan saja. Coba cek saja, di dalam bunga itu, kali aja ada nama pengirimnya, Nona." ucap kurir itu.
"Oh, Oke!" sahut Vania, singkat.
"Tolong tanda tangan di sini!" Kurir itu memberikan sebuah kertas untuk ditandatangani sebagai tanda barang sudah diterima dengan baik.
"Kalau begitu, aku pamit dulu, Nona!" kurir itu pun melangkah pergi, setelah Vania selesai membubuhkan tanda tangannya.
Vania mencoba mencari-cari nama si pengirim. Ia pun menemukan sebuah kartu kecil dan ia langsung meraihnya. Namun tidak ada sama sekali nama pengirimnya, yang ada hanya kalimat-kalimat romantis yang ditujukan padanya.
"Siapa sih yang ngirim?" batin Vania sembari membawa bunga itu masuk ke dalam.
Tanpa, Vania sadari dari jarak yang tidak terlalu jauh, ada seorang pria yang tidak lain adalah Radit, menatapnya dari dalam mobil.
Tbc