Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Tidak memberikan kesempatan lagi



"Singkirkan tanganmu!" titah Brian dengan nada suara yang sangat dingin.


Vania terjangkit kaget dan menjauhkan tangannya.


"Ma-maaf!" desisnya lirih.


Kemudian Brian memutar tubuhnya, berbalik menatap Vania dengan tatapan membunuh. Hingga membuat wajah Vania berubah pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.


"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Vania!" nada bicara Brian terdengar semakin dingin, membuat orang yang mendengarnya bergidik. Karena auranya lebih menyeramkan daripada rumah kosong yang terkenal angker.


"A-apa yang harus dijelaskan?" suara Vania terdengar bergetar.


"Jangan pura-pura tidak tahu,Vania! Jelaskan sekarang!"suara Brian terdengar menggelegar membuat Vania mundur beberapa langkah, saking takutnya.


"Ma-maaf, Brian. Sumpah demi apapun, aku tidak tahu kalau laki-laki yang dipeluk Ayesha saat itu adalah Om-nya. Karena aku sama sekali tidak mendengar apa yang mereka bicarakan," sahut Vania, masih dengan suara bergetar.


"BOHONG!" bentak Brian. "Kamu saat itu memang ingin menghancurkan hubungan kami kan? kamu merasa kalau dengan cara memfitnah Ayesha, hubungan kami akan hancur, IYA KAN?" bentak Brian tepat di wajah Vania.


"Ti-tidak sama sekali, Brian! Aku memang benar-benar tidak tahu dan maksud aku baik. Saat itu, aku hanya tidak ingin kamu hancur karena dibohongi Ayesha, itu saja," Vania masih berusaha menyangkal tuduhan Brian.


Brian tersenyum smirk dan sinis. "Kamu masih berusaha untuk menyangkal, Vania. Selamat, usaha kamu berhasil menghancurkan hubunganku dengan Ayesha! Bravo untukmu!" Brian bertepuk tangan dengan senyuman yang semakin sinis.


Melihat ekspresi wajah Brian, membuat Vania semakin pucat. Sumpah demi apapun, wajah pria itu sekarang terlihat sangat menakutkan baginya.


"B-Brian, tolong maafkan aku! Tolong percayalah, kalau aku memang benar-benar tidak tahu!" mohon Vania.


"Maafmu sudah tidak ada artinya, Vania. Hubunganku sudah hancur, dan itu karena kebodohanku percaya padamu, sialan!" untuk pertama kalinya, Brian memaki seorang wanita dengan kasar.


"Sekarang, aku mau tanya, kenapa kamu ke sini hah? Bukannya aku memintamu kembali ke kantor? Asal kamu tahu, kedatanganmu semakin memperkeruh masalah. Jelaskan, apa tujuanmu ke sini, CEPAT!" Brian benar-benar sudah hilang kendali.


Vania semakin terlihat ketakutan. Jujur dia datang karena mendengar ucapan Deril yang mengatakan sahabat papanya Brian adalah papanya Ayesha. Tapi, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya pada pria murka di depannya itu.


"Jawab, Vania! Kenapa kamu datang hah? kenapa kamu selalu mengikutiku kemanapun? Apa benar karena kamu menyukaiku? Jawab!" tatapan Brian semakin tajam dan berkilat-kilat penuh amarah.


Vania terdiam dengan bibir yang bergetar. Bahkan kaki yang menopang tubuhnya ikut juga bergetar. Peluh kini sudah mulai merembes membasahi pelipis gadis itu.


"Jawab, Vania!" bentak Brian, lagi.


"IYA, AKU MENCINTAIMU BRIAN, PUAS!" kini Vania balik berteriak, tidak bisa menahan diri.


"Aku mencintaimu sudah cukup lama. Mulai kita kelas satu SMA. Aku berusaha menarik perhatianmu, tapi, kamu tidak pernah sekalipun mau melihatku Brian. Aku tidak punya cara lagi, selain mendekatimu dengan berpura-pura menjadi sahabatmu agar aku bisa dekat denganmu. Aku berusaha untuk menarik perhatianmu, dengan segala perhatian dan kebaikan yang aku lakukan padamu. Tapi, apa? Kamu sama sekali tetap tidak bisa melihat perasaanku, Brian!" Vania mulai meluapkan apa yang yang dia sembunyikan selama ini.


Brian tercenung untuk beberapa saat karena benar-benar shock mendengar pengakuan Vania.


"Vania, maaf kalau aku tidak pernah menyadari apa yang kamu rasakan. Terima kasih juga, atas segala kebaikan dan perhatianmu selama ini. Tapi, aku sama sekali tidak bisa membalas perasaanmu, karena aku sama sekali tidak ada perasaan apapun padamu," tutur Brian yang kali ini sudah merendahkan intonasi suaranya.


"Kenapa, Brian? Kenapa tidak bisa? Kamu sebenarnya bukan tidak bisa, tapi kamu hanya tidak mau mencoba. Please, Brian sekali saja kamu mencoba membuka hatimu padaku. Kamu pasti akan bisa merasakan betapa besar dan tulusnya cintaku padamu," Vania memohon dengan wajah memelas. Wanita itu, benar-benar sudah tidak peduli dengan harga dirinya lagi sebagai seorang perempuan.


Brian menarik napas dalam-dalam, membuangnya kembali, untuk menahan dirinya agar tidak melontarkan kalimat yang kasar lagi.


"Vania, yang kamu rasakan itu bukan cinta tapi obsesi. Kalau kamu memang mencintaiku, kamu seharusnya ingin melihatku bahagia walaupun bukan denganmu. Tapi, apa? Kamu melakukan hal yang benar-benar tidak bisa membuatku habis pikir. Kamu tahu, apa yang kamu lakukan selama ini justru membuatku takut. Karena aku yakin, kalau orang sepertimu pasti akan melakukan segala cara demi apa yang kamu inginkan dapatkan. Sekarang, agar kamu bisa menghilangkan perasaanmu, sebaiknya kamu berhenti bekerja di kantorku dan sebisa mungkin tidak muncul di depanku. Sekali lagi maaf. Dengan terpaksa aku mau bilang, kalau aku tidak mau melihatmu lagi!" pungkas Brian sembari beranjak pergi.


Vania sepertinya tidak bisa terima. Wanita itu kembali berlari mengejar Brian dan meraih tangan pria itu.


"Brian, please jangan perlakukan aku begini! tolong hargai perjuanganku sekali saja. Aku tidak masalah kamu tidak mencintaiku untuk sekarang, tapi izinkan aku untuk tetap bekerja di perusahaanmu dan izinkan aku untuk tetap bisa berjuang membuatmu jatuh cinta padaku," mohon Vania.


Brian menepis tangan Vania dan menggelengkan kepalanya. "Maaf, Vania! Aku tetap tidak bisa. Sekeras apapun usahamu, aku bisa pastikan kalau aku tidak mungkin bisa mencintaimu. Cintaku sudah habis pada Ayesha," tolak Brian dengan tegas.


"Brian, please kasih aku kesempatan untuk bisa masuk ke hatimu. Lagian, Ayesha tadi sudah menolakmu kan? apa lagi yang kamu harapkan?" Vania benar-benar tidak peduli dengan penolakan Brian.


"Vania, tolong jangan paksa aku untuk berbuat kasar padamu! Dari tadi aku sudah berusaha berbicara lembut padamu, tapi kamu masih keras kepala. Apa kamu memang mau dikasarin? Untuk masalah Ayesha yang menolakku, aku akan tetap berusaha untuk mengambil hatinya kembali. Dan walaupun nantinya dia tetap menolak, aku bisa pastikan, kalau aku tetap tidak akan memilihmu! Jadi, aku tekankan sekali lagi, berhentilah memohon, karena tidak akan ada gunanya," amarah Brian mulai terpancing lagi.


"Tidak! Aku tidak akan pernah berhenti untuk memohon padamu. Tolong tarik ucapanmu dulu yang memintaku untuk berhenti bekerja di perusahaanmu dan izinkan aku untuk tetap berjuang!" Rahang Brian kini terlihat sudah mulai mengeras. Tangan pria itu juga sudah terkepal kencang. Kalau bukan karena Vania itu seorang perempuan, bisa dipastikan tangan Brian sudah melayang memberikan bogem mentah ke pipi Vania.


"Vania, sekali lagi aku mau katakan. Keputusanku sudah tetap, tidak bisa diganggu gugat lagi. Sekalipun kamu memohon sampai merangkak aku tidak akan merubah keputusanku. Yang ada aku bisa mempermalukanmu di depan orang-orang!" pungkas Brian dengan sangat tegas tak terbantahkan.


"Kamu tega, Brian! tolong jelaskan apa kurangnya aku, dibandingkan Ayesha? Aku akan berusaha untuk berubah seperti Ayesha," urat malu Vania benar-benar sudah putus. Dia tetap saja tidak menyerah memohon kemurahan hati Brian.


"Kurangnya kamu itu ... kamu itu wanita paling munafik yang pernah aku kenal. Satu lagi, kamu itu tidak akan pernah bisa seperti Ayesha!" bukan Brian yang bicara, melainkan Brianna yang sebenarnya sudah dari tadi ada di tempat itu dan mendengar semuanya. Bukan hanya Brianna, bahkan kedua orangtuanya, kedua orang tua Ayesha serta Reza dan istrinya juga sudah ada di tempat itu.


Vania tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah datangnya suara. Wanita itu semakin kaget melihat kehadiran orang tua Brian yang selama ini berusaha dia ambil hatinya.


Wanita itu seketika merasa kalau harapannya untuk bisa tetap bekerja di perusahaan keluarga Brian sudah sangat tipis. Dia yakin, kalau kedua orang tua Brian terlebih Ayunda mama pria itu, pasti sudah ilfeel padanya.


Bukan hanya Vania yang kaget. Brian juga tidak kalah kagetnya. Apalagi ketika melihat tatapan Radit papanya Ayesha yang sangat tajam padanya. Bukan hanya papanya Ayesha, Reza selaku Om Ayesha juga melayangkan tatapan yang tidak kalah tajam untuknya.


"Vania, aku sarankan kamu pergi sekarang sebelum aku yang menyeretmu. Brian mungkin dari tadi tidak tega, mengingat kamu itu perempuan. Tapi, tidak dengan aku. Aku itu tidak akan sungkan-sungkan untuk bersikap kasar padamu!" ancam Brianna, membuat nyali Vania ciut. Wanita itu pun memutar tubuhnya dan langsung beranjak pergi.


tbc