Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Tidak berhenti berdebat



Sementara itu, Brian memilih untuk tidak pergi ke kantor lagi. Karena dia bisa memastikan kalau Vania pasti masih keras kepala dan tetap datang ke kantor.


Selain itu, Brian juga yakin kalau dia ke kantor dia jug tidak akan bisa berkonsentrasi, dan yang ada semua pekerjaannya tidak akan ada yang benar.


Pria itupun akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.


"Dion, tolong kamu sampaikan pada HRD untuk membuat lowongan mencari sekretaris, menggantikan Vania!" titah Brian pada seorang pemuda yang dia tahu merupakan asisten yang sudah disiapkan papanya sebelum dia pulang ke Indonesia.


"Emm, kenapa harus diganti Pak? Emangnya Ibu Vania kemana?" bukannya langsung mengiyakan, pria bernama Doni itu justru balik bertanya.


"Kamu tidak perlu tahu dan jangan banyak tanya. Kamu lakukan saja sesuai yang aku perintahkan!" ucap Brian, tegas.


"Ba-baik, Pak Brian!" sahut Doni dengan suara bergetar.


"Oh ya, tolong sampaikan pada karyawan d iaan security, agar tidak mengizinkan Vania memasuki area kantor lagi! Begitu dia datang, langsung usir!" titah Brian lagi.


"Baik, Pak!" pria bernama Dion itu sepertinya tidak mau bertanya lagi apa alasan Vania diusir, karena dia tidak mau kena semprot oleh Brian lagi.


Setelah selesai dengan perintahnya, Brian pun memutuskan panggilan dan meletakkan handphonenya di atas meja. Kemudian ia menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa sembari memejamkan matanya.


"Bukannya, menurutmu hukuman kamu pada Vania itu tidak terlalu kejam, Nak?" tiba-tiba Ayunda sudah duduk di samping Brian.


Brian sedikit terjengkit kaget dan membuka matanya.


"Kenapa Mama bicara seperti itu?" Brian mengernyitkan keningnya.


Ayunda menghela napasnya dengan sekali hentakan,lalu mengulas seulas senyuman.


"Ya, karena bagaimana pun itu tidak mutlak kesalahannya. Kamu juga bersalah karena bisa-bisanya menyimpulkan tanpa bertanya lebih dulu. Apalagi kalau yang dikatakan Vania itu benar, yang dia sama sekali juga tidak tahu kalau Reza itu adik papanya Ayesha. Tujuan dia baik saat itu, Sayang. Dia sepertinya hanya tidak ingin kamu terluka dan dibohongi oleh wanita yang kamu cintai," tutur Ayunda, panjang lebar.


"Mama apa-apaan sih? masih bisa-bisanya mama membela wanita munafik itu!" Brianna yang ternyata juga memilih untuk pulang, tiba-tiba menyeletuk menimpali ucapan mamanya.


"Nak, mama bukan membelanya. Mama hanya mencoba melihat dari sisi positifnya. Bagaimanapun dia itu sudah berniat baik," sahut Ayunda.


"Dari mana mama tahu dia benar-benar berniat baik? Mama sama sekali tidak mengenalnya. Dia itu manipulatif dan mudah membuat orang percaya padanya. Contohnya Mama dan Brian. Dengan mudahnya kalian bisa percaya kalau dia itu orangnya tidak punya maksud lain dekat dengan Brian. Sayangnya aku sama sekali tidak seperti kalian yang mudah terpedaya dengan mulut manisnya," ucap Brianna dengan raut wajah kesal.


Ayunda akhirnya memilih untuk diam, karena dia tahu kalau dia masih membantah ucapan putrinya itu, pasti ujung-ujungnya akan berdebat dan dia tidak mau kalau nantinya dia dan putrinya itu akan bersitegang hanya karena dia terkesan memihak Vania.


"Ma, bukannya aku sepenuhnya menyalahkan Vania dengan apa yang terjadi. Aku cukup sadar dan tahu benar kalau aku juga salah. Aku meminta Vania berhenti bekerja di perusahaan kita, dan memintanya juga untuk menjauhiku bukan karena aku melimpahkan semua kesalahan padanya. Aku melakukan ini semua karena aku tidak ingin dia berharap terlalu banyak padaku yang akhirnya bisa melakukan cara licik karena merasa apa yang dia lakukan selama ini tidak kunjung mendapatkan hasil. Aku hanya meminimalisir apa yang bisa saja terjadi, Ma. Karena kita sama sekali tidak bisa tahu apa yang ada dipikiran orang. Jadi kita sendirilah yang bisa mencegahnya dari awal," tutur Brian, menjelaskan panjang lebar tanpa jeda.


Ayunda mengangguk-anggukkan kepalanya, akhirnya mengerti dengan tujuan putranya.


"Ya, kamu benar, Nak. Karena Mama juga merasa kalau Vania bisa saja nekad, misalnya dia bisa saja menjebakmu," pungkas Ayunda, akhirnya benar-benar mengerti.


"Bagaimana, Brian? Apa yang aku ucapkan benar kan? Aku pernah memintamu untuk bertanya lebih dulu, supaya kamu tidak menyesal. See ... sekarang kamu benar-benar menyesal kan? Kamu sih tidak mau mendengarkan aku dulu!" celetuk Brianna yang mulai mengungkit kekeraskepalaan adiknya itu. Sumpah, dia benar-benar greget dengan adiknya itu.


"Bisa tidak berhenti mengungkit itu? Apa untungnya kamu mengungkitnya? Kamu mau buat aku semakin merasa menyesal dan meminta maaf padamu karena sudah tidak mengindahkan saranmu?" Brian menatap Brianna dengan kesal.


"Apaan sih? Kenapa kamu jadi nyolot? Lagian apa susahnya mengakui kalau yang aku katakan dulu benar, dan meminta maaf karena sudah mengabaikan saranku? Kamu tidak merasa rugi kan?" Brianna balas menatap tajam adiknya itu.


"Oke, kalau itu yang kamu mau, aku minta maaf, Puas?" Brian mulai hilang sabar.


"Eh, santai dong. Nggak usah pakai otot kali ngomong maafnya!" Brianna benar-benar tidak mau kalah.


"Cukup! Kenapa kalian jadi berantem seperti ini? Harusnya kalian itu harus saling mendukung dan saling membantu mencari solusi agar Ayesha bisa menerima Brian kembali!" pekik Ayunda, menghentikan perdebatan kedua anak kembarnya itu.


Brianna dan Brian sontak terdiam, tidak ada yang berani buka suara lagi. Karena kalau mamanya sudah mengeluarkan suara tinggi, itu merupakan alarm pertanda mamanya itu tidak mau didebat lagi.


"Sekarang, sebaiknya kalian berdua masuk ke kamar masing-masing dan istirahat!" pungkas Ayunda, tegas.


Baru saja Brian dan Brianna hendak beranjak pergi, tiba-tiba terdengar salam dari pintu masuk, hingga membuat keduanya menyurutkan langkah mereka dan dengan bersamaan menoleh ke arah pintu.


Ternyata yang baru saja datang adalah Radit dan Kenjo. Mereka berdua datang karena merasa khawatir dengan Brian yang sama sekali tidak menjawab panggilan dan juga tidak membalas pesan yang mereka kirimkan.


"Lho, Nak Radit dan Kenjo? Ayo masuk, Sayang!" seperti biasa Ayunda akan menyambut kedatangan sahabat-sahabat putranya dengan ramah.


"Terima kasih, Tante!" sahut keduanya, sopan dengan dibarengi dengan senyuman lebar.


"Hai, Brianna!" sapa Radit seraya melemparkan senyum yang sangat manis.


Brianna sama sekali tidak menjawab sapaan Radit, karena matanya kini menatap Kenjo yang juga menatapnya.


Sumpah demi apapun, ini adalah kali pertama keduanya kembali bertemu setelah kejadian di mana Kenjo menolak ungkapan cintanya dulu.


Melihat kehadiran Kenjo, Brianna sama sekali tidak bisa menampik, kalau hatinya masih merasakan debaran yang sama seperti dulu. Ternyata tidak ada yang berubah sama sekali dengan perasaannya.


"Hai, Anna, apa kabar?" Kenjo juga yang merasa grogi, mencoba memberanikan diri menyapa gadis yang dulu pernah dia tolak itu.


"Aku baik," sahut Brianna singkat.


"Tadi aku menyapamu, tapi kamu tidak membalas sapaanku, Anna. Tapi, begitu Kenjo yang menyapa, kamu langsung membalasnya


Kamu benar-benar tidak adil," Radit berpura-pura protes.


"Oh, Maaf, Dit. Kamu apa kabar?" Brianna mencoba untuk tersenyum.


"Seperti yang kamu lihat aku __"


"Ya, tanpa kamu jawabpun aku sudah tahu kalau kamu itu baik-baik saja,"belum selesai Radit bicara, Brianna dengan sengaja langsung menyela lebih dulu.


"Kamu memang tidak pernah berubah,Anna. Satu-satunya yang berubah, kamu itu semakin cantik!" puji Radit.


"Dari dulu aku kan memang sudah cantik. Mata kamu saja yang buta!" cetus Brianna dengan ekor mata yang melirik ke arah Kenjo.


Sementara itu, wajah Kenjo berubah merah dan dia terlihat gelisah. Entah apa yang membuat pria itu gelisah, hanya dia yang tahu.


"Iya, iya, aku akui dari dulu kamu memang cantik, tapi sekarang kamu dua kali lebih cantik dari yang dulu," Radit masih gencar memuji Brianna.


"Cih, bisa saja kamu gombalnya. Kamu kira aku akan langsung melompat kegirangan kamu puji begitu. Maaf ya ... Pujian yang lebih dari kamu, aku sudah sering mendengarnya," cetus Brianna.


"Iya, iya aku percaya deh!" pungkas Radit akhirnya mengalah.


"Kalian berdua sebenarnya tujuannya apa ke sini? Mau ketemu Brian atau mau basa-basi denganku?" Brianna akhirnya mengalihkan pembicaraan.


"Emm, sebenarnya mau bertemu Brian. Tapi, sekalian mau melihatmu," sahut Radit, yang diselipi dengan kerlingan mata yang menggoda.


"Cih, najis! Udah ah, aku mau ke kamar dulu! Malas meladenimu!" pungkas Brianna, yang tanpa permisi lagi langsung melangkah pergi.


"Anna, kalau kamu tertidur, jangan lupa mimpikan aku ya, Beb!" Radit masih menyempatkan diri untuk berteriak, menggoda kakak sahabatnya itu.


Brianna yang mendengar itu, berbalik dan menjulurkan lidahnya ke arah Radit. Sontak saja tawa Radit pecah melihat sikap Brianna. Sementara Ayunda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putri dengan sahabat putranya itu.


Sementara itu wajah Kenjo terlihat semakin memerah dan tanpa sadar mengepalkan tangannya.


Tbc