Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Rencana Brian



"Lho, Nak, kenapa kamu sudah pulang? Bukannya tiga hari ya?" Ayunda mengrenyitkan keningnya, bingung melihat kepulangan Brian yang tiba-tiba.


"Acaranya membosankan, Ma," sahut Brian sembari menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


"Membosankan? Kenapa bisa? bukannya seharusnya menyenangkan karena ada pacarnya?" tanya Ayunda, semakin bingung. Mengingat bagaimana antusiasnya sang anak saat ingin berangkat tadi pagi.


"Lagian, kenapa pulangnya malam-malam? Kenapa tidak menunggu pagi dulu? dan koper kamu mana?" tanya Ayunda lagi dengan beruntun, sembari melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu Indonesia bagian Barat.


Brian memilih untuk tidak menjawab sama sekali, karena pikirannya masih kalut.


"Brian, mamamu ajak kamu bicara, kenapa kamu diam saja?" tegur Bima yang selalu merasa tidak suka kalau melihat istrinya diabaikan, terlebih yang mengabaikan itu putranya sendiri.


"Ma, Pa, aku capek, aku mau ke kamar dulu. Masalah koper nanti Kenjo yang bawain. Aku ke kamar dulu ya!" Brian bangkit berdiri dan langsung beranjak pergi.


"Brian, kenapa kamu tidak sopan seperti itu, hah? Papa sama sekali tidak suka, kalau kamu tidak sopan pada mamamu!" bentak Bima dengan lemparan tatapan yang sangat tajam ke arah Brian.


Kaki Brian yang nyaris menapak di anak tangga, sontak menghentikan langkahnya dan berbalik lagi.


"Maaf, Pa, Ma. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi please, ngertiin aku untuk saat ini," Brian memasang wajah memelas.


"Sudahlah, Pah. Biarkan saja dia istirahat dulu!" Ayunda buka suara. Wanita yang merupakan ibu dari dua remaja itu sepertinya cukup paham kalau putranya yang masih remaja itu, sedang ada masalah, dan Ayunda yakin kalau masalahnya tidak jauh dari masalah asmara.


"Ya udah, kamu naik dan istirahat!" pungkas Bima akhirnya.


Brian menganggukkan kepalanya, kemudian melangkah menaiki undakan anak tangga menuju kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi kini kembali menjelang dan jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


Bima dan Ayunda baru saja selesai dengan sarapan mereka. Kali ini pasangan suami istri itu sama sekali tidak ditemani oleh dua anak mereka.


"Sayang, kenapa Brian belum juga turun untuk sarapan? dia masih tidur atau sudah mati?" tanya Bima eksplisit.


"Hush, kamu apa-apaan sih? Masa nanyanya begitu? Kamu senang anak kamu mati?" protes Ayunda, memasang wajah tidak suka.


"Kali aja kan, Sayang. Tadi malam kamu lihat sendiri kan, kalau dia seperti orang yang frustasi. Aku yakin kalau dia pasti patah hati," ujar Bima sembari terkekeh ringan.


"Iya juga ya, Sayang. Aku lihat dulu deh!" Ayunda sepertinya membawa ke hati perkataan suaminya. Wanita itu seketika langsung panik. Ia pun berdiri dari tempat dia duduk dan beranjak pergi untuk melihat kondisi putranya.


Baru saja melangkah beberapa langkah, tiba-tiba Brian sudah berdiri di depannya dengan wajah yang kusut.


"Nak, kamu tidak apa-apa kan? Kamu tidak berpikiran pendek kan?" cecar Ayunda sembari menyentuh pipi Brian.


Brian mengrenyitkan keningnya, bingung dengan sikap mamanya.


"Mama kenapa sih? Aku tidak apa-apa. Maksud Mama berpikiran pendek apa?" mata Brian memicing.


"Mama rasa kalau kamu itu sedang patah hati, Nak. Jadi Mama khawatir, kamu berpikiran pendek, sampai ...." Ayunda menggantung ucapannya, karena merasa tidak sanggup mengatakan kalimat yang tergantung di tenggorokannya itu.


"Ma, aku tidak seperti itu. Aku masih waras, jadi mama tenang saja!" ucap Brian sembari berjalan ke arah meja makan.


Ayunda menyusul kembali dari belakang dan langsung mendaratkan tubuhnya, duduk di samping putranya


"Jadi, benar kamu patah hati, Nak? kamu putus dengan pacarmu? Tapi kenapa kamu bisa putus?" tanya Ayunda berturut-turut. Sepertinya DNA kecerewetan masih mendarah daging sampai sekarang.


"Sayang, nanyanya satu-satu. Gimana Brian bisa jawab, kalau kamu bertanya bertubi-tubi seperti itu?" tegur Bima, membuat Ayunda cengengesan.


"Aku pulang!" belum sempat Brian menjawab, sudah terdengar suara seseorang yang cukup familiar di telinga mereka.


Mereka bertiga sontak saling pandang, merasa kalau tidak mungkin si pemilik suara itu seperti yang ada di pikiran mereka, sudah pulang.


"Itu tidak mungkin, Anna kan? Dia kan masih di Bali?" ucap Ayunda.


"Kenapa tidak ada yang menyambutku?" kembali terdengar suara, dan kali ini sudah sangat dekat, hingga membuat ketiga orang yang ada di meja makan itu menoleh ke arah datangnya suara.


"Anna! jadi itu benar kamu?" seru Ayunda, dengan raut wajah yang masih kebingungan.


"Iya, Ma. Ini aku. Mama kirain siapa? Setan?" Briana mengerucutkan bibirnya, dan berjalan menghampiri keluarganya.


"Kenapa kamu juga pulang? bukannya harusnya tiga hari ya?" tanya Ayunda lagi.


"Aku malas di sana. Membosankan!" sahut Brianna dengan wajah kusut.


"Bilang saja, kamu ditolak Kenjo! kalau diterima, aku rasa tiga hari akan kurang lama," sindir Brian.


Brianna terdiam, tidak membantah sama sekali. Karena memang yang dikatakan adik kembarnya itu memang benar. Dia ditolak oleh Kenjo, dengan alasan kalau pria itu tidak memiliki perasaan apapun padanya. Sakit? Bohong kalau dikatakan tidak sakit. Tapi, tidak mungkin dia memaksa pria yang dicintainya itu untuk membalas cintanya, kan?


"Tunggu? Kalian bicara apa tadi? Anna ditolak oleh Kenjo? Jangan bilang kamu mengutarakan perasaanmu pada Nak Kenjo, Anna!" seru Ayunda dengan ekspresi menuntut penjelasan.


"Astaga, kamu itu perempuan, Anna! Jadi seharusnya kamu itu__"


"Ehem, ehem," Bima berdeham, membuat Ayunda menghentikan ucapannya.


"Kamu kenapa?" tanya Ayunda dengan alis bertaut.


"Apa kamu lupa, kalau dulu kamu juga yang sibuk mengejarku dan mengatakan cinta lebih dulu padaku?" ledek Bima, membuat wajah Ayunda memerah.


"Jadi, jangan salahkan putrimu kalau dia mengikuti jejakmu," lanjut Bima lagi.


"Kamu bisa diam nggak?" Ayunda melemparkan tatapan tajam ke arah suaminya itu.


"Justru karena aku tahu bagaimana malunya, aku tidak mau Anna seperti itu! "sambungnya lagi.


"Kalian para laki-laki mah memang belagu! Udah secantik ini masih ditolak. Aku kurang apa coba? Ini lagi si Brian, belum tahu jelasnya sudah main putusin saja. Harusnya tanya dulu kan? baru ambil keputusan," Brianna mulai mengoceh, melampiaskan kekesalannya.


"Kenapa kamu bawa-bawa aku? Kamu tidak tahu apa yang terjadi, jadi sebaiknya diam saja!" Brian mulai tersulut emosi.


"Oh ya? Sekarang aku mau tanya ke ke kamu? Emangnya kamu sudah tanya kejelasannya ke Ayesha nggak? nggak kan? ini main putusin segala lagi. Udah gitu cara mutusin kamu, gak jantan. Kamu itu pengecut!" Brianna juga sudah terlihat emosi.


"Hei, aku bilang diam ya diam! urusanku jangan kamu urusin. Aku yang lihat semuanya dan bagiku itu cukup membuktikan kalau dia itu penghianat!" suara Brian mulai meninggi. Saudara kembar itu sepertinya benar-benar mengabaikan kehadiran kedua orang tua mereka.


"Kamu yang diam! Aku kira kamu itu pintar ternyata kamu itu bodoh, Brian!" Brianna tidak mau kalah.


"Bukannya aku sudah katakan, Diam? Kamu mengerti bahasa manusia nggak sih?" Brian benar-benar tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi.


"DIAM! KALIAN BERDUA DIAM!" suara Bima akhirnya menggelegar, membuat perdebatan kakak beradik itu sontak berhenti.


"Sudah selesai kan berdebatnya? Kalau sudah, kalian tenang dulu, dan dengarkan papa bicara!" Brianna dan Brian memang diam, tapi dari raut wajah keduanya, terlihat kalau kedua remaja itu, sepertinya masih diselimuti amarah yang amat sangat.


"Dari pertengkaran kalian, papa sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Papa tahu, kalau kalian berdua sedang patah hati. Tapi, tolong jangan saling menyalahkan. Harusnya sebagai kakak adik, kalian itu harus saling menguatkan, saling menyemangati satu sama lain. Jangan karena masalah asmara kalian berdua jadi bermusuhan. Coba pikirkan, apa ada keuntungannya kalau kalian bermusuhan?"


Brian dan Brianna terdiam dan sama-sama menundukkan kepala, mendengar pertanyaan sang papa.


"Apa ada untungnya?" tanya Bima lagi.


Brianna dan Brian dengan kompak menggelengkan kepalanya.


"Nah itu tahu." Bima tersenyum kalem.


"Papa tahu, kalau patah hati itu sangat menyiksa, tapi itu bukan akhir dari segalanya, Nak. Masa depan kalian itu masih panjang. Anggap saja kalian memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh dengan orang yang kalian cintai sekarang, tapi suatu saat mungkin kalian akan menemukan cinta sejati kalian. Paham kan, maksud Papa?" suara Bima Kali ini terdengar sangat lembut.


"Ngerti, Pa!" Jawab Brian dan Brianna, hampir bersamaan


Bima kemudian menoleh ke arah Brianna putrinya. "Anna, papa tahu kalau kamu sangat menyukai Ayesha dan berharap dia jadi adik iparmu. Kalau menurutmu apa yang dituduhkan Brian padanya tidak benar, yakinlah suatu saat semuanya pasti akan terungkap dengan sendirinya. Tapi, papa harap, kamu hargai keputusan adikmu ya,Nak. Bisa saja juga kan kalau tuduhan adik kamu itu benar? karena seperti yang dikatakan Brian tadi, kalau dia melihat sendiri dengan mata kepalanya," lanjut Bima lagi.


Briana kembali terdiam dan tidak berani membantah ucapan papanya itu lagi.


"Maaf, Brian!" pungkas Briana, akhirnya.


"Aku juga minta maaf!" sahut Brian.


"Nah, gitu dong! Sekarang kalian makan dulu. Kamu pasti belum sarapan kan, Anna?" Ayunda yang dari tadi diam saja, akhirnya buka suara lagi.


"Iya, Ma. Penerbanganku tadi jam 6 pagi waktu Bali. setelah sampai Bandara aku langsung ke pulang ke sini tanpa makan apapun. Aku lapar sekali!" sahut Brianna yang mulai tersenyum, walaupun memang masih tipis.


"Pa, besok aku mau ke London. Aku mau kuliah di sana. Masalah izasah, nanti bisa papa kirimkan ke sana kan?" celetuk Brian, setelah terdiam beberapa saat.


Bima sontak mengrenyitkan keningnya. "Kenapa ke London? Bukannya dulu kamu bilang kalau kamu mau kuliah di Amerika, di kampus yang sama dengan Papa?" tanya Bima, menyelidik.


"Itu pasti karena dia takut Ayesha juga ke America, Pa," bukan Brian yang menjawab, melainkan Brianna.


"Jangan sok tahu!" nada bicara Brian kembali ketus.


"Aku bukan sok tahu, Brian. Tapi aku memang tahu. Karena aku pernah dengar sendiri pembicaraan kalian berdua, kalau kalian berencana akan kuliah bersama di Amerika. Jadi, aku tidak asal bicara," sahut Brianna, membuat Brian terdiam, karena yang dikatakan kakaknya itu memang benar.


Bima sontak mengangguk-anggukan kepalanya, paham dengan apa yang terjadi.


"Brian, Papa tahu kalau kamu memang menghindari untuk bertemu dengan gadis itu. Tapi, jangan karena sedang patah hati dan karena tidak ingin bertemu dengannya, kamu jadi mengorbankan impianmu, Nak. Lagian, Amerika itu luas kan? dan kampus papa itu, jarang diminati gadis-gadis. Kalaupun kamu tidak ingin bertemu dengannya, kamu bisa menghindari kampus yang kamu yakini ada dia," tutur Bima, diplomatis.


Bima terdiam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang dikatakan papanya barusan.


"Papa benar! Aku tidak mau impianku hancur karena dia! Aku tidak boleh menghindar, justru aku harus buktikan, walaupun ada dia nanti, aku bisa tetap baik-baik saja!" pungkas Brian, penuh tekad.


Tbc