
Mobil yang dikemudikan oleh Reza, melaju dengan kecepatan sedang, menelusuri jalanan menuju hotel tempat Reza dan asistennya menginap.
Sesekali Reza melirik ke belakang melalui kaca spoon yang berada di atas kepalanya. Sementara di belakang sana, tampak Ayesha yang diam saja, dengan air mata yang masih menetes membasahi pipinya.
"Aku benci kamu Brian! Kamu benar-benar brengsek!" dari tadi Ayesha masih belum berhenti merutuki Brian, di dalam hatinya.
Berbeda dengan Retha. Gadis itu terlihat merogoh ponselnya, berniat mengirimkan pesan pada Arga, untuk memberitahukan di mana dia sekarang, dengan tujuan agar kekasihnya itu tidak khawatir. Namun, baru saja ia ingin mengetik pesan, dia melihat kalau kekasihnya itu sedang online dan posisi sedang mengetik.
"Ah, aku tunggu dulu saja! Sepertinya Arga mau mengirim pesan," Retha memilih mengurungkan niatnya, dan menunggu pesan kekasihnya itu.
Retha mengrenyitkan keningnya, karena dirinya cukup lama menunggu pesan dari kekasihnya itu.
"Kenapa dari tadi Arga masih mengetik juga? Sepanjang apa sih. Pesannya?" batin Retha.
Tidak menunggu beberapa lama, akhirnya pesan yang ditunggu Retha akhirnya masuk juga, dan Gadis itu pun langsung membacanya.
"Retha, aku tidak menyangka kalau kamu ternyata tidak sebaik yang aku kira. Aku menyesal sudah jatuh cinta dengan perempuan sepertimu. Kita putus saja!"
Retha terkesiap kaget membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh Arga.
"Apa maksud kamu? Kenapa tiba-tiba seperti ini?" balas Retha.
Retha menggigit bibirnya, menunggu balasan dari Arga.
"Kamu penghianat! Intinya kita putus dan jangan pernah muncul di depanku lagi!" lagi-lagi, Retha semakin bingung sekaligus sakit hati membaca balasan dari pemuda yang dicintainya itu.
"Maksud kamu apa sih? Siapa yang penghianat? aku merasa tidak pernah menghianatimu," Retha menekan tanda send dan kembali menunggu balasan.
"Jangan sok polos dan stop berpura-pura! Aku sudah tahu dan juga lihat dengan mata kepala sendiri. Selamat ya, semoga kamu bahagia! tolong jangan muncul lagi di depanku, karena aku tidak mau mengenalimu lagi!" balasan Arga kembali masuk, dibarengi dengan photo sewaktu dia masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh Reza.
Mata Retha sontak membesar, dengan sempurna melihat photo yang dikirimkan oleh Arga. Wanita itu, langsung sadar kalau kekasihnya itu sedang salah paham.
"Beb, kamu salah paham! Aku tidak ada hubungan sama sekali dengan salah satu dari pria-pria itu. Aku hanya tidak tega membiarkan Ayesha sendiri, Beb. Dia sedang patah hati karena ulah sahabatmu yang brengsek itu. Lagian salah satu pria itu omnya Ayesha. Adik dari papanya Ayesha yang baru tiba dari Amerika dan kebetulan ada pekerjaan di Bali. Dan yang satu lagi itu asisten Om nya. Aku aja baru bertemu mereka hari ini," Retha menekan tanda send kembali. Namun Kali ini tidak terkirim. Itu terlihat dari tanda centang satu.
"Sial, aku diblokir!" gumam Retha, sembari menggigit bibirnya.
"Diblokir? Siapa yang blokir kamu?" celetuk Ayesha yang ternyata mendengar apa yang baru digumamkan sahabatnya itu.
"Em, A ...." Retha menggantung ucapannya, karena tiba-tiba terpikir akan sesuatu.
"Emm, sebaiknya aku tidak perlu kasih tahu Ayesha kalau Arga memutuskan hubungan denganku, karena salah paham. Nanti dia akan merasa bersalah, merasa menjadi penyebab kandasnya hubunganku dengan Arga. Aku tidak mau menambah pikiran dia lagi," bisik Retha pada dirinya sendiri.
"Kenapa diam, Tha? Siapa yang memblokirmu?" Ayesha mengrenyitkan keningnya, di tengah matanya yang sembab.
"Emm, itu, Brian yang memblokirku. Aku tadinya ingin memaki-maki laki-laki brengsek itu, tapi ternyata aku sudah diblokir," sahut Retha, terpaksa berbohong.
"Biarkan saja. Kamu tidak perlu memaki dia lagi. Mulai sekarang, aku tidak mau mendengar nama dia lagi!" Ayesha kembali menyeka air matanya yang kembali menetes.
"Kamu sudah menghubungi Arga? kamu hubungi dia, biar dia tidak khawatir mencarimu," sambung Ayesha lagi.
"Oh, su-sudah kok. Dia cukup paham dan tidak marah! Kamu tenang saja!" ucap Retha, berusaha untuk tersenyum.
Ayesha, menganggukkan kepalanya, dan menatap Retha dengan sendu.
"Tha, maaf ya, sudah menghancurkan liburan yang kamu impikan," ucapnya.
Retha kembali tersenyum dan meraih tangan sahabatnya itu, lalu menggenggamnya erat.
"Ayesha, kamu jangan merasa bersalah. Justru aku tidak akan tenang menghabiskan liburan kalau mengingat kondisimu yang hancur. Kamu santai saja ya! Sekarang yang penting kamu tenangkan hati kamu dulu!" tutur Retha dengan senyum manis yang tidak dia tanggalkan dari bibirnya.
Mendengar ucapan Retha membuat Reza, tersenyum tipis dan kembali melirik ke kursi belakang melalui kaca spion di atas kepalanya.
"Benar-benar sahabat yang baik," bisik pria itu pada dirinya sendiri. Kagum pada sahabat keponakannya itu.
"Terima kasih, Tha. Kamu selalu ada setiap aku sedih," ucap Ayesha dengan tulus.
Retha menganggukkan kepalanya, sembari menyeka air mata di pipi Ayesha.
"Sudah, kamu jangan menangis lagi! Laki-laki brengsek itu tidak pantas untuk kamu tangisi!" pungkasnya.
"Apa aku harus kirim pesan ke Kenjo atau Radit ya? Iya, sebaiknya aku kirim pesan ke mereka saja," Retha mencari kontak dua sahabat Arga itu. Namun, sebelum mengetik, Retha mencoba untuk menghubungi lebih dulu, untuk mengetahui aktif atau tidaknya. Lagi-lagi gadis itu kecewa karena nomor dua sahabat Arga itu sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Apa aku juga sudah diblokir sama mereka?" batin Retha. "Arga benar-benar brengsek! Dia sama saja dengan Brian. Katanya mencintaiku dari dulu, tapi dia sama sekali tidak ada kepercayaan padaku. Aku kecewa padamu Arga. Baiklah, kalau ini mau kamu. Aku akan tidak menghubungimu lagi dan tidak akan menemuimu. Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan kalau tidak ada rasa percaya di dalamnya," Retha mengajak bicara hatinya sendiri. Retha sengaja menatap jalanan, dan menyeka air mata yang tiba-tiba turun membasahi pipinya.
Sikap gelisah yang ditunjukkan Retha, Tanpa disadari tidak luput dari perhatian Reza.
"Kenapa dengan dia? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?" batin pria itu, penasaran.
"Apa aku tanya saja ya? Tapi kalau aku tanya, nanti aku akan dikira terlalu ikut campur. Sebaiknya aku diam saja deh," batin Reza lagi.
"Om, besok Om benar-benar akan kembali ke America kan?" celetuk Ayesha, tiba-tiba.
"Iya. Kenapa?" tanya Reza singkat.
"Aku mau ikut Om ke America. Aku akan kuliah di sana!"
"Lho, bukannya kelulusan kamu belum diumumkan? Kamu sudah yakin lulus?" tanya Reza sembari melirik keponakan itu dari kaca spion.
"Aku yakin Om. Pokoknya aku mau ikut Om ke America besok!" tegas Ayesha.
Reza tidak langsung mengiyakan, tapi juga tidak menolak. Pria itu terlihat berpikir untuk beberapa saat dengan permintaan keponakannya itu.
"Baiklah! Kalau begitu, besok kita ke Jakarta dulu, baru kita berangkat dari sana!" pungkas Reza, akhirnya mengiyakan.
"Untuk apa ke Jakarta, Om. Kita langsung dari sini saja! Nanti aku akan hubungi mama dan papa. Mereka pasti mengizinkan," ucap Ayesha.
"Anak bodoh! Apa karena putus cinta, membuat kamu jadi bodoh seperti ini. Bagaimana kamu mau ke America, tanpa passport dan Visa? Kita ke Jakarta dulu untuk mengambilnya,"
Ayesha terdiam dan untuk pertama kalinya gadis itu tersenyum, merasa dirinya memang jadi bodoh.
"Sekarang kamu hubungi dulu mama dan papamu, minta mereka besok membawakan passport dan visamu, ke bandara. Jadi kita tidak perlu singgah ke rumah!" titah Reza lagi.
Ayesha kemudian, merogoh tasnya hendak mengambil ponselnya.
"Astaga, ponselku di mana?" Ayesha mulai panik mencari ponselnya yang tidak ada sama sekali di dalam tasnya.
"Lho, kenapa kamu jadi tanya kami? Kan kamu yang pegang ponsel kamu sendiri?" Reza lagi-lagi melirik melalui kaca spion.
Ayesha berusaha mengingat-ingat, kapan terakhir dia menggunakan ponsel itu. Setelah mengingat, gadis itu mengembuskan napasnya dengan berat.
"Sepertinya tertinggal di kursi tempat kami menunggu Om tadi. Aku ingat, aku meletakkannya begitu saja," ucap Ayesha dengan lirih.
"Jadi bagaimana? Apa mau kembali lagi ke sana?" tanya Reza memastikan.
"Tidak perlu, Om. Om kan banyak yang, jadi nanti Om beli saja yang baru," ucap Ayesha dengan santainya.
"Macam papamu tidak banyak uang. Kamu lupa, kalau Om ini mengelola perusahaan papamu?" ucap Reza sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sha, aku juga akan kuliah ke America denganmu. Tapi, kamu ke sana lebih dulu ya, nanti aku akan menyusul!" celetuk Retha tiba-tiba.
Ayesha sontak menatap Retha dengan alis bertaut. "Kenapa kamu tiba-tiba ingin ke America juga? Bukannya kamu tadinya ingin kuliah di Kanada dengan Arga?" tanya Ayesha.
"Emm, Papa dan mamaku tidak setuju aku ke sana. Mereka memang mau aku ke America. Aku juga sudah membicarakan ini dengan Arga dan dia tidak merasa keberatan. Lagian, tidak masalah kok kalau harus LDR-an," lagi-lagi Retha terpaksa berbohong.
"Kalau begitu kamu simpan nomorku. Kamu bisa menghubungiku kalau kamu sudah tiba di Amerika nanti," Reza buka suara, sembari memberikan sebuah kartu nama kepada Retha.
Mobil yang dikemudikan oleh Reza akhirnya berhenti di depan sebuah hotel tempat Reza dan Deril menginap.
Tanpa mereka sadari sebuah taksi yang ditumpangi oleh Brian dan Arga juga ikut berhenti dan melihat dua wanita yang mereka cintai masuk ke dalam hotel.
Melihat itu, kesalahpahaman dua pemuda itu semakin besar. Mereka menatap ke arah dua gadis itu dengan tatapan penuh amarah.
"Dasar wanita ular. Murahan!" umpat Brian dengan napas memburu.
Tbc