Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Turunkan egomu



Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah 6 bulan berlalu. Itu berarti usia kandungan Ayesha sudah memasuki usia tujuh bulan. Pipi wanita itu sudah terlihat semakin chubby dengan perut besar.


Hari ini wajah Ayesha terlihat berbinar-binar. Bagaimana tidak? hari ini adalah hari syukuran 7 bulan kehamilannya. Di mana dalam usia 7 bulan, akan banyak doa dan harapan buat ibu dan anak yang dikandungnya, diantaranya agar bayi yang dikandungnya lahir dengan lancar, sehat, tidak kurang suatu apapun dan dijauhkan dari segala marabahaya, serta calon ibu sehat dan selamat dalam proses persalinan nantinya.


Mansion keluarga Bima sudah terlihat sangat ramai, didatangi oleh banyak tamu, dari berbagai kalangan. Tampak juga di antar para tamu itu, hadir sahabat-sahabat Brian dan Ayesha. Perut Vania juga terlihat sudah mulai membuncit Karena kandungan wanita itu sudah memasuki usia 4 bulan. Sementara Retha sama sekali belum terlihat adanya tanda-tanda kehamilan.


Ya, sebulan setelah pernikahan Vania dan Radit, Arga dan Retha pun melangsungkan pernikahan mereka. Sekarang usia pernikahan Retha dengan Arga sudah 5 bulan. Bukan bermaksud menunda untuk memiliki momongan, tapi mungkin memang belum saatnya.


 Selain Radit dan Arga serta pasangan mereka, tampak juga Kenjo hadir, namun tidak tampak Brianna menemani pria itu dan sepertinya wanita itu juga tidak ada niat untuk menyapa pria yang dicintainya itu. Brianna lebih memilih berbaur dengan putri-putri dari para kolega papanya daripada menghampiri Kenjo. Apalagi masalahnya kalau bukan, karena sampai sekarang Kenjo belum memberikannya kepastian.


"Masalah kamu sama Brianna masih belum selesai ya, Sob?" tanya Arga menatap penuh tanya pada, Kenjo.


"Hmm," sahut Kenjo singkat, seperti tanpa beban, dan sepertinya tidak berniat untuk menghampiri Brianna


"Sampai kapan kamu menggantungnya? Apa kamu masih belum bisa terima mengetahui kalau kemajuan perusahaanmu karena bantuan Om Bima? Please turunkan ego kamu sebelum kamu nanti benar-benar kehilangan Anna, Ken!" Ucap Arga.


"Benar kata Arga, Ken. Aku rasa Om Bima membantumu bukan karena takut kalau putrinya nanti akan hidup sengsara denganmu. Tapi, justru karena dia percaya kalau kamu mampu. Om Bima bukan tipe orang yang mudah memberikan bantuan, sekalipun itu orang yang sangat dia kenal. Om Bima tidak sebodoh itu. Dia itu selalu profesional. Perusahaan kami juga tidak lepas dari bantuan Om Bima kok," Radit buka suara, menimpali ucapan Arga.


"Lagian, setiap usaha itu, kita tidak boleh terlalu mengandalkan diri sendiri. Semua butuh kerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain. Jangankan perusahaan, negara-negara besar saja selalu butuh kerjasama dengan negara-negara lain," sambung Arga lagi.


Ya, Kenjo akhirnya tahu kalau di balik maju pesatnya perusahaan yang dia bangun dari awal itu, tidak lepas dari bantuan Bima papanya Brianna. Kenyataan itu, membuat harga dirinya terluka. Entah kenapa dia merasa kalau cara Bima membantunya yang diam-diam itu karena tidak percaya kalau dirinya nanti bisa membahagiakan Brianna.


"Sudahlah, kalian berdua jangan terlalu memikirkan hal itu. Ini hanyalah masalah sepele," jawab Kenjo, masih berusaha untuk tetap santai.


"Sob, kamu jangan menganggap sepele semua masalah. Seringan apapun masalah yang kamu alami, kalau kamu menganggap sepele, itu bisa berubah menjadi masalah yang besar. Sebaiknya, seberat apapun masalahmu, kalau kamu yakin bisa menyelesaikannya, semua masalah pasti bisa kamu atasi, "ujar Arga diplomatis


"Iya, aku ngerti, Ga. Kamu tenang saja, aku pasti akan menyelesaikan masalahku secepatnya," sahut Kenjo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, masih di lokasi yang sama, tampak seorang anak kecil, yang merupakan anak dari salah satu undangan datang menghampiri, Briana dengan setangkai bunga mawar di tangannya.


"Tante, ini ada bunga buat, Tante," Brianna menerima bunga itu, dengan hati yang penuh tanda tanya. Namun, dia tetap memberikan senyuman pada anak itu, walaupun dia bingung.


"Hmm, makasih ya, Sayang! kamu imut banget deh! Kamu dapat dari mana bunga ini?" Brianna mencubit pipi anak kecil itu dengan gemas.


Brianna mengikuti ke arah mana jari anak itu menunjuk, dan dia sontak tersenyum kecut, begitu melihat Kenjo yang melambaikan tangannya dan tersenyum manis ke arahnya.


Dia sontak mengalihkan tatapannya tidak mau melihat ke arah Kenjo.


"Apa kamu masih marah padaku?" tiba-tiba Kenjo sudah berdiri di dekatnya, hingga membuat dirinya terjengkit kaget.


"Mau ngapain kamu datang mendekatiku? bukanya aku sudah bilang, kalau aku tidak mau berbicara lagi padamu, kalau kamu belum juga memberikan aku kepastian? Kalau kamu masih belum terima ketika tahu kalau perusahaanmu tidak lepas dari bantuan papa, silakan! Tapi jangan gantung aku! Agar aku bisa menentukan langkahku! Kamu kira hanya kamu saja laki-laki? asal kamu tahu, banyak laki-laki yang menginginkanku," ujar Brianna sembari memalingkan wajahnya.


"Tapi yang kamu cintai hanya aku. Seperti aku yang juga hanya mencintaimu," sahut Kenjo, percaya diri.


Brianna sontak menoleh ke arah Kenjo. Ia. Menatap pria itu dengan sinis. "Kamu jangan terlalu percaya diri! Kalau kamu begini terus dan kalau ada pria yang memberikan aku kepastian, bisa saja aku jatuh cinta pada pria itu," tegas Brianna. Ucapannya itu murni tulus dari hatinya atau hanya asal terlontar dari mulut saja, hanya dia yang tahu.


"Hmm, begitu ya? kalau begitu, baiklah. Aku akan pergi sekarang. Maaf kalau aku sudah membuat hari-harimu terbuang percuma," Kenjo memutar badannya, dan mengayunkan langkahnya, meninggalkan Brianna yang terpaku sambil meneteskan air mata. Dia memandang punggung Kenjo, sampai menghilang dari pandangannya.


"Brengsek! hanya sebatas itu jawabanmu! Kamu benar-benar pecundang Kenjo!" Briana berjongkok sembari menutup wajahnya.


Seketika, Brianna berdiri dan sedikit berlari untuk mengejar Kenjo sebelum pria itu benar-benar pergi.


"Kenapa mereka, Sayang?" tanya Vania pada Radit yang kebetulan melihat peristiwa yang terjadi di antara Kenjo dan Brianna


"Oh, mereka lagi latihan drama," sahut Radit, santai.


"Apaan sih? Becandanya nggak lucu ah!" Vania mengerucutkan bibirnya, membuat Radit tertawa.


"Mereka pasti masih bahas masalah yang sama kan?" tanya Vania lagi


"Tuh kamu tahu," sahut Radit Masib tetap santai.


"Kenjo kenapa bisa sekeras kepala itu sih? Egonya terlalu tinggi. Kalau tidak mau dianggap rendah sih, bagus seperti itu. Tapi, Om Bima tidak mungkin memandang rendah dia kan?" Vania mulai menggerutu tidak jelas. Dia benar-benar kesal dengan sikap Kenjo.


"Sudahlah, Sayang. Itu urusan mereka. Kita tidak boleh ikut campur. Tugas kita hanya mendoakan yang terbaik buat mereka saja.


Tbc