
Ayesha dan Radit akhirnya bersama-sama melangkah meninggalkan rumah sakit. Keduanya diam seribu bahasa, larut dalam pemikiran masing-masing. Tapi, yang jelas terlukis jelas di wajah kedua orang itu, rasa sedih yang amat sangat.
Ya, sebelum Brian dan yang lainnya datang, Ayesha melihat Radit datang lebih dulu dengan raut wajah panik. Bukan hanya Radit yang panik, Ayesha juga melihat Vino papanya Vania, dari tadi terlihat tidak tenang bahkan sampai menangis.
Melihat hal itu, Ayesha benar-benar merasa tidak tega dan akhirnya mengajak Radit untuk bicara empat mata. Wanita itu akhirnya memohon agar mau membantunya untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Tujuannya hanya satu, yaitu ingin membuat Brian mundur mengejarnya kembali. Namun, dia tidak pernah berpikir kalau ujung-ujungnya, persahabatan Radit dengan ketiga sahabatnya akan hancur, karena permintaannya itu.
"Sekali lagi, aku minta maaf, Radit!" ucap Ayesha dengan lirih di sela-sela langkah mereka.
"Sudahlah, tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Yakinlah semuanya akan kembali baik seperti dulu," Radit terlihat tersenyum, untuk menenangkan Ayesha. Tapi, bisa terlihat jelas kalau dan senyuman itu terselip kegetiran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"B-Brian, ini benaran kamu kan?" Vania yang masih terbaring lemah, berusaha untuk duduk begitu melihat kehadiran pria yang sangat dirindukannya itu.
"Iya, Nak. Ini benaran Nak Brian," sahut Vino sembari tersenyum.
"Kenapa kamu melakukan hal bodoh ini, Van?" tanya Brian dengan dingin.
"Aku melakukannya karena aku benar-benar merasa kalau tidak ada gunanya aku hidup, tanpa adanya kamu. Aku merasa putus asa, Brian. Kamu bahkan sudah membenciku, dan aku merasa usahaku selama ini sia-sia. Aku merasa kalau ini buruk makanya kamu sama sekali tidak pernah bisa melihatku," ucap Vania dengan air mata yang kembali menetes.
"Tapi kamu sangat bodoh, sampai berpikir untuk mengakhiri hidupmu. Apa duniamu hanya sebatas Brian? Apa kamu tidak memikirkan papamu yang sudah membesarkanmu seorang diri?" Brianna tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara.
"Maafkan aku. Aku benar-benar gelap mata. Aku pertama kali merasakan jatuh hati pada Brian sampai aku melakukan apapun bahkan mengorbankan semua yang kusuka dan impianku demi bisa mengambil hati Brian. Tapi semuanya sia-sia, dan bahkan membuat Brian membenciku. Akuu menjadi merasa kalau diriku ini sangat buruk dan tidak pantas untuk hidup, Anna!" Vania semakin sesunggukan.
"Mencintai tidak salah. Yang salah itu, kalau cinta berubah jadi obsesi, yang ujung-ujungnya menghalalkan segala cara demi bisa mendapatkan orang yang kita cintai. Karena sebenarnya, level tertinggi dari mencintai itu, kita bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, walaupun tidak bersama kita," tutur Briana, bijak.
"Asal kamu tahu Vania, orang yang mendapatkan seseorang dengan cara licik, hidupnya tidak akan pernah bahagia, karena orang tersebut, kita dapatkan dengan cara paksaan," sambung Brianna lagi.
"Nona Briana, apa maksud perkataan anda? Apa anda mau mengatakan kalau putriku ini terobsesi dengan Brian? Apa secara tidak langsung anda tidak suka seandainya adik kamu itu benar-benar mau menerima anakku, seperti yang sudah dia katakan tadi?" protes Vino, tidak suka dengan ucapan Briana yang secara tersirat seakan-akan tidak setuju dengan kesediaan yang sempat terucap dari mulut Brian tadi. Dia takut kalau Brian berubah pikiran, hingga membuat putrinya itu kembali depresi.
"Apa, Pa? Jadi tadi Brian sudah bersedia menerima perasaanku?" Vania yang tadinya fokus mendengar penuturan Brianna, tiba-tiba mengabaikan ucapan kakak dari pria yang dicintainya itu, begitu mendengar ucapan papanya. Bahkan wajah wanita itu sudah berbinar bahagia.
"Apa yang dikatakan papaku barusan benar, Brian?" tanya Vania memastikan. Tatapan wanita itu mengandung berkilat-kilat, penuh harap.
Ingin rasanya Brian menjawab tidak. Namun, begitu melihat tatapan penuh harap dari Vania, dan juga mengingat akan penghianatan Radit, serta ucapan dokter yang mengatakan kalau masih harus hati-hati dalam berucap untuk menjaga emosional wanita itu, membuat Brian akhirnya menganggukkan kepalanya.
Wajah Vania berbinar dan langsung memeluk pinggang Brian yang berdiri di dekatnya.
"Terima kasih, Brian! Terima kasih! Aku janji akan menjadi pasangan yang terbaik untukmu," ucap Vania dengan suara bergetar saking bahagianya.
Sementara itu, Brianna hanya bisa diam dan pasrah walaupun sebenarnya wanita itu belum sepenuhnya rela, kalau Brian bersama dengan Vania.
"Maaf, aku pamit dulu! Semoga kamu cepat sembuh, Vania!" Retha yang dari tadi diam saja, akhirnya buka suara.
"Terima kasih, Tha!" ucap Vania, yang masih belum bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Bahkan ia mengurungkan niatnya untuk menanyakan di mana Ayesha, walaupun sebenarnya dia sangat penasaran, mengingat wanita itu tidak ada di ruangan itu. Karena dia takut kalau dia bertanya, sikap Brian akan berubah, dan yang paling dia takutkan, Brian berubah pikiran.
Retha menganggukkan kepalanya, dan beranjak keluar.
"Sayang, aku ikut kamu!" seru Arga sembari menyusul Retha.
"Kenapa kamu ikut aku keluar? Kamu di dalam saja, temani Brian. Dia pasti masih merasa terpukul dengan kejadian tadi," ucap Retha.
"Tenang saja, masih ada Kenjo di dalam sana!" sahut Arga.
"Tapi, Kenjo juga mungkin nanti akan pergi dengan Brianna. Jadi, sebaiknya kamu temani Brian. Karena aku yakin, dia nanti pasti merasa tidak nyaman kalau ditinggal berdua dengan Vania,"
Arga mengernyitkan keningnya, merasa curiga melihat kekasihnya itu, yang terlihat seperti tidak ingin dirinya menemani wanita itu.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu seperti tidak suka aku di dekatmu?" tanya Arga, dengan sudut alis yang terangkat ke atas,curiga.
"Bukan seperti itu. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku hanya __"
"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" tukas Arga, menyela ucapan Retha.
"Apa kamu sedang mencurigaiku?" tanya Retha balik.
"Aku hanya bertanya, Retha. Karena dari tadi kamu terkesan tidak ingin aku ada di dekatmu. Atau jangan-jangan dari awal kamu sebenarnya sudah tahu kalau Ayesha dan Radit sudah menjalin hubungan?" alis Arga bertaut, semakin curiga.
"Ck, ternyata benar dugaanku, kamu itu mencurigaiku. Itu berarti kamu belum sepenuhnya bisa percaya padaku. Tidak cukupkah perkataan Radit tadi, yang bilang kalau mereka selalu bertemu di belakangku, bisa membuatmu percaya?" ucap Retha, dingin.
Arga sontak tersadar dan ingat betapa sulitnya dia bisa kembali mendapatkan kesempatan kedua dari Retha. "Sial, bagaimana bisa aku jadi bodoh lagi! Aku tidak mau kehilangan dia lagi," batin Arga, merutuki kebodohannya.
"Tidak, Sayang. Aku percaya padamu!" ucap Arga dengan cepat sembari merangkul pundak sang kekasih.
"Maaf, Arga. Aku tidak bisa jujur padamu, kalau sebenarnya Radit dan Ayesha itu sama sekali tidak punya hubungan. Mereka hanya berpura-pura demi Brian bisa menerima Vania. Karena Ayesha, tidak tega melihat tangisan papanya Vania. Dia membayangkan kalau seandainya dia ada di posisi Vania, pasti papanya juga akan melakukan hal yang sama," ucap Retha yang tentu saja dia ucapkan dalam hati.
Ya, sebenarnya Retha tahu karena dia berada di tempat saat Ayesha memohon pada Radit. Namun, Ayesha memintanya untuk berpura-pura tidak tahu, untuk menjaga hubungannya dengan Arga. Ayesha tidak mau, Arga marah pada Retha, karena mengira ikut merahasiakan hubungan antara Ayesha dan Radit.
Tbc