
Ayesha bukannya tidak mendengar panggilan Brian. Tapi dia berpura-pura tidak dengar dan tetap melangkah. Bahkan wanita cantik pemilik rambut lurus dan panjang itu sengaja melangkah dengan sangat cepat.
"Ayesha, tunggu sebentar!" Brian masih berusaha untuk tetap mengejar Ayesha.
Secepat apapun Ayesha berjalan, tidak perlu menunggu waktu yang lama, Brian sudah berhasil menyusulnya, karena pria itu memiliki kaki yang panjang.
Tanpa bicara lagi, Ayesha yang kesal sontak menghentikan langkahnya dan menatap Brian dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kenapa kamu buru-buru pergi?" tanya Brian mencoba untuk bersikap seperti tidak ada yang terjadi.
"Untuk apa kamu bertanya lagi? Aku tidak mau duduk di dekat laki-laki brengsek dan munafik sepertimu. Sekarang tolong jauhi aku, karena aku tidak ingin melihat mukamu itu!" sahut Ayesha dengan ketus.
"Sana minggir, aku mau lewat!" imbuh Ayesha sembari mendorong tubuh Brian ke samping lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Maaf!" langkah Ayesha sontak terhenti mendengar ucapan maaf yang terlontar lirih dari mulut Brian. Namun, wanita itu sama sekali tidak berbalik. Ia tetap berdiri memunggungi pria yang pernah dicintainya bahkan mungkin masih dicintainya itu.
"Aku tahu, kalau kamu sangat membenciku karena aku sadar yang aku lakukan saat itu sangatlah kelewatan. Tapi, sebenarnya aku melakukannya, karena aku merasa kamu lah yang mempermainkanku, Yesha!" lanjut Brian lagi, tidak peduli dengan posisi Ayesha yang tidak mau melihatnya.
Ayesha kemudian berbalik. Alis wanita itu terlihat bertaut dan tatapannya juga tajam, pertanda kalau wanita itu masih gagal paham dengan maksud ucapan Brian.
"Aku tahu kamu mungkin masih bingung. Tapi, aku akan menjelaskannya," Brian berhenti berucap untuk beberapa saat, untuk menarik napas guna mengurangi rasa tegang yang dia rasakan sekarang.
"Aku tidak butuh penjelasanmu lagi! Jadi kamu tidak perlu susah-susah menjelaskannya!" ucap Ayesha sembari kembali berbalik hendak melanjutkannya langkahnya.
"Sha, please dengarkan penjelasanku dulu!" mohon Brian membuat Ayesha kembali menghentikan langkahnya.
"Sha, sebenarnya aku dan Vania tidak memiliki hubungan sama sekali. Aku bohong saat itu, karena aku tidak ingin terlihat seperti orang bodoh di depanmu," ucap Brian, ambigu, membuat Ayesha kembali berbalik.
"Maksud kamu apa?" tanya Ayesha, yang sebenarnya memang cukup penasaran.
"Aku salah, Sha. Aku Salah tidak bertanya lebih dulu kebenarannya padamu, sehingga membuat aku salah paham," ucap Brian, membuat Ayesha semakin bingung.
"Please, jangan bertele-tele. Sumpah, aku tidak mengerti sama sekali apa yang kamu katakan!" Ayesha mulai hilang sabar.
Brian kembali menarik napas dan mengembuskannya kembali ke udara dengan sekali hentakan.
"Aku melihat photo kamu memeluk dan mencium seorang laki-laki, yang aku kira pacar kamu selain aku. Aku tidak tahu kalau tenyata laki-laki itu Om kamu sendiri, karena aku merasa tidak mungkin kalau papamu punya adik yang sangat muda seperti itu. Begitu melihat photo itu, hatiku begitu panas dan otakku tidak bisa lagi bekerja dengan baik. Aku sangat sakit melihatnya dan aku juga marah karena merasa sudah kamu bodohi. Tadi aku begitu kaget ketika aku tahu kalau ternyata pria yang memelukmu saat itu adalah Om kamu sendiri," tutur Brian dengan suara lirih.
"Tunggu dulu, tunggu! Jadi maksud kamu ... kamu menuduh aku menghianatimu, dan bahkan mengira Om Reza itu pacarku?" Brian menganggukkan kepala membenarkan.
"Haish, bagaimana bisa kamu menyimpulkan tanpa bertanya lebih dulu, Brian?" pekik Ayesha sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itulah yang sangat aku sesalkan. Aku memang benar-benar bodoh, Yesha!" desis Brian, lirih
"Kamu tidak bodoh, tapi super duper bodoh!" umpat Ayesha. "Apa kamu tidak menyadari dengan bersikap seperti itu, itu berarti kamu tidak menaruh kepercayaan sedikitpun padaku. Dan secara tidak langsung kamu sudah menuduhku wanita murahan," lanjut Ayesha lagi, dan kali ini dengan nada berapi-api.
"Aku tahu itu! Dan itu adalah kebodohan yang paling aku sesali, Sha. Apa kamu mau memaafkanku?"ujar Brian. Sikap dingin dan gagah yang bisa terlihat pada Brian, kini terlihat menguap entah kemana di depan Ayesha.
Ayesha tidak menjawab sama sekali. Karena Jujur saja, rasa sakit itu tetap ada walaupun dia sudah tahu kalau ucapan Brian dulu itu bukan yang sebenarnya. Namun, begitu mengingat minimnya kepercayaan pria itu padanya dan rasa sakit yang dia lewati selama 5 tahun ini, membuat Ayesha merasa sulit untuk memaafkan pria di depannya itu.
"Sha, kenapa diam? Kamu tidak mau memaafkanku ya? Apa kamu sudah sangat membenciku?" wajah Brian terlihat sendu dan dibarengi dengan suara yang lirih.
"Sekarang aku mau tanya, tadi kamu mengatakan kalau kamu melihatku dengan Om Reza berpelukan dan aku mencium pipinya ... Apa kamu benar-benar melihat sendiri atau kamu mendengar dari orang lain?" bukannya menjawab pertanyaan Brian, Ayesha malah balik bertanya. Entah apa maksud di balik pertanyaan itu.
"Maaf. Aku sebenarnya tidak melihat sendiri tapi Vania yang menunjukkan beberapa photo padaku," sahut Brian .
Ayesha tersenyum sinis seraya berdecak kesal.
"Dan kamu langsung percaya begitu saja, Brian? kamu lebih percaya dia dari pada pacarmu sendiri?" Ayesha menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar tidak bisa habis pikir.
"Tapi, malam itu aku juga semakin percaya karena aku melihat kamu dan Retha dijemput Om kamu dan membawa kamu ke hotel. Aku benar-benar tidak bisa berpikir positif lagi saat itu, Yesha,"
Ayesha menghela napas dengan sekali hentakan.
"Itu karena aku tidak ingin ada di tempat yang ada kamunya lagi, Brian. Lagian tanpa melihat itu, kamu juga sudah percaya dengan apa yang dikatakan Vania kan?" tukas Ayesha, membuat Brian terdiam, karena yang dikatakan wanita itu memang benar adanya.
"Aku tahu, mungkin karena dia lebih lama kenal dengan kamu dibandingkan aku, makanya kamu bisa lebih percaya padanya. Tapi, tidakkah kamu berpikir Brian, kalau orang yang sudah lama kenal dengan kita, belum tentu lebih baik, dibandingkan dengan orang baru. Apa kamu juga tidak pernah berpikir kalau dia selama ini punya maksud lain, makanya selalu dekat denganmu? Tidak jugakah kamu pernah berpikir kalau dia sama sekali tidak suka dengan hubungan kita, dan punya niat kuat untuk memisahkan kita?" Ayesha kini mulai terlihat berapi-api.
"Maksud kamu? Aku benar-benar tidak mengerti, Yesha. Maksud lain apa yang kamu maksud? dan kenapa kamu menuduh kalau Vania tidak suka dengan hubungan kita? kalau dia tidak suka, kenapa dia mau memberitahu siapa dalang yang menyekap kamu? Seharusnya dia senang kamu disekap dan justru membantu Dinar dan Aldi kan?" Brian mengernyitkan keningnya.
Ayesha berdecak, lalu kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukannya aku tidak berterima kasih padanya, ya Brian. Ya, aku benar-benar berterima kasih, karena dia sudah mau memberitahukan siapa dalang penyekapanku. Tapi aku berani bersumpah, dia melakukan itu tidak tulus. Dia hanya ingin menarik simpatimu dan juga Brianna! Dia itu mencintaimu, paham nggak!" lanjut Ayesha lagi yang kali ini diakhiri dengan penuh tekanan.
Brian diam seribu bahasa. Pria itu terlihat semakin bingung karena bukan hanya Ayesha yang mengatakan kalau Vania itu menyukainya. Melainkan Brianna kembarannya, juga tiga sahabatnya.
"Tapi __"
"Tapi, apa? Kamu mau bilang kalau itu tidak mungkin, karena kami percaya dengan ucapan Vania yang selama ini selalu bilang kalau dia hanya menganggapmu sahabat, iya?" Ayesha dengan cepat menyela ucapan Brian.
"Coba kamu pikir Brian, wanita mana yang selalu saja ikut kemana kamu pergi kalau dia tidak ada maksud lain? dan kenapa kamu tidak pernah curiga dengan dia yang mau bergabung ketika kamunya ada sedangkan Kalau hanya Kenjo, Radit dan Arga, dia tidak pernah mau gabung?" sambung Ayesha lagi.
Brian bergeming diam seribu bahasa.
"Atau jangan-jangan sampai sekarang dia masih selalu ngikutin kamu?" tukas Ayesha, membuat Brian semakin terdiam.
"Kenapa kamu diam? Apa itu berarti yang aku katakan tadi benar?" cecar, Ayesha.
Ayesha menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya kembali dengan sekali hentakan, merasa semakin kesal melihat diamnya Brian.
"Brian, tidak perlu kamu jawab lagi, karena tanpa kamu jawabpun, aku sudah menemukan jawabannya," ucap, Ayesha, ambigu.
"Maksudnya?" Brian mengernyitkan keningnya.
"Tuh, dia sudah datang!" Ayesha menunjuk ke arah sosok wanita yang baru saja turun dari taksi. Wanita itu tidak lain adalah Vania.
"Dengan kedatangannya ke sini, itu sudah jadi jawaban kalau dia masih mengikuti kamu kemanapun. Sekarang, kamu tinggal pikir baik-baik pertanyaanku tadi. Bye!" Ayesha berbalik dan beranjak pergi.
"A-Ayesha!" Vania mencoba menyapa, Ayesha. Namun, Ayesha dengan sengaja tidak menyapa sedikitpun dan melewati wanita itu begitu saja.
"Ayesha, tunggu dulu!" Brian kembali mengejar Ayesha.
"Brian!" Vania meraih tangan Brian, mencoba mencegah Brian untuk tidak mengejar Ayesha.
"Lepaskan tanganku!" Brian menepis kasar tangan Vania dan kembali mengejar Ayesha.
Vania kini hanya bisa menatap dengan tatapan nanar ke arah Brian yang mengejar Ayesha.
"Berarti, Brian sudah tahu yang sebenarnya. Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Brian pasti seperti Arga yang membenciku dan menuduhku yang menjadi penyebab hubungan mereka hancur," batin Vania sembari menggigit bibirnya.
Sementara itu, Brian sudah berhasil menyusul Ayesha dan mencengkram pergelangan tangan gadis itu, mencegah agar wanita yang masih sangat dicintainya itu tidak masuk ke dalam mobil.
"Ayesha, please dengarkan aku dulu!" mohon Brian dengan wajah memelas.
"Apalagi yang harus aku dengarkan? Semuanya sudah jelaskan?" Ayesha berusaha menepis tangan Brian.
"Tidak bisa kah kamu memaafkanku, Yesha? Please maafkan aku dan kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku masih mencintaimu, dan jujur tidak pernah berubah dari dulu," Brian kembali memohon. Dia tidaj peduli lagi dengan harga dirinya yang memohon pada seorang wanita.
Ayesha menatap manik mata Brian, untuk mencari ketulusan ucapan pria itu. Ia memang melihat ketulusan terpancar di manik mata pria itu, tapi Ayesha sudah berjanji dalam hati kalau dia tidak akan mudah untuk goyah, sekalipun cintanya masih untuk pria yang memohon di depannya itu.
"Brian, aku memaafkanmu, tapi maaf, aku tidak bisa menerimamu lagi karena apa yang kamu lakukan itu sangat sakit," pungkas Ayesha akhirnya.
"Sakit banget ya, Sha? Sampai sulit untuk menerimaku lagi?" desis Brian,lirih.
Ayesha, memejamkan matanya sekilas. Dia tidak ingin hatinya goyah melihat raut wajah sendu yang terlihat di wajah Brian.
"Iya, Brian. Sangat sakit. Aku merasa sakit yang amat sangat, karena kamu tidak punya kepercayaan sedikitpun padaku. Yang membuatku semakin sakit, ketika aku tahu kenyataannya kalau ternyata kamu tidak melihat secara langsung, melainkan hanya dengan kata Vania. Rasa sakitnya semakin berlipat-lipat, Brian. Jadi, maaf aku pun jadi sulit untuk menerimamu kembali," Ayesha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Brian yang sudah melemah, lalu membuka pintu mobilnya.
Ketika Ayesha ingin menutup pintu mobil, Brian kembali menahannya.
"Tapi, aku tidak akan menyerah, Yesha. Aku akan tetap berusaha mendapatkan hatimu lagi dengan caraku," pungkas Brian, tegas.
"Silakan. Tapi aku juga akan tetap pada pendirianku. Sekarang singkirkan tanganmu, aku mau pergi!" Ayesha menarik dengan kuat pintu mobilnya, yang membuat Brian terpaksa menjauhkan tangannya.
Tanpa permisi lagi, Ayesha langsung menjalankan mobilnya, meninggalkan Brian yang mematung menatap ke arah perginya mobil Ayesha.
"Brian!" panggil Vania dengan suara lirih sembari menyentuh pundak pria itu dengan lembut.
"Singkirkan tanganmu!" titah Brian dengan nada suara yang sangat dingin.
Tbc