Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Dalang sebenarnya



"Bagaimana Brian, apa kata mereka?" tanya Kenjo, begitu Brian dan Arga menghampiri mereka kembali.


Ya, tadi Brian dan Arga memutuskan untuk mendatangi pihak keamanan, untuk melihat rekaman CCTV di luar toilet. Karena siapapun yang masuk ke dalam toilet bisa dilihat dari rekaman CCTV itu.


"Kami tidak mendapatkan informasi apa-apa, karena katanya CCTV di situ sudah rusak dari seminggu lalu," bukan Brian yang menjawab, melainkan Arga.


"Ini sekolah apaan sih? besar tapi CCTV bisa tidak dipedulikan!" Retha terlihat benar-benar kesal.


"Sudahlah, aku akan cari tahu sendiri nanti. Sebaiknya kita pulang dulu. Maaf ya, aku tidak bisa pulang dengan kalian, karena aku akan antarkan Ayesha, pulang!" Brian kembali buka suara.


"Eh, bukannya kita akan merayakan kemenangan kalian? kalau kamu antar dia pulang, gimana mau merayakannya?" Vania, terlihat keberatan.


"Kamu apa-apaan sih? situasi seperti ini saja kamu masih sempat berpikir untuk merayakan kemenangan. Kamu punya otak gak sih? kamu benar-benar tidak punya hati!" nada bicara Arga terdengar sangat sinis.


"Tahu tuh! benar-benar hanya mikir diri sendiri!" Retha juga tidak mau ketinggalan.


Brian terlihat menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. "Kalau kalian masih ingin merayakannya, tidak apa-apa. Aku akan antar Ayesha lebih dulu. Kalau aku tidak capek, aku akan menyusul nanti," Brian kembali buka suara.


Kenjo berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak bisa! tidak mungkin kita merayakan kemenangan, dengan kondisi yang baru saja menimpali Ayesha. Jadi sebaiknya kita rayakan lain kali saja. Kita pulang saja!" ucap pria itu dengan tegas.


"Ihh, sialan! semuanya benar-benar bego. Masa gara-gara Ayesha, rencana jadi batal sih? benar-benar menyebalkan!" Vania menggerutu dalam hati.


"Beb, kamu pulang dengan aku saja!" Arga meraih tangan Retha.


Sementara itu, Kenjo menoleh ke arah Vania." Van, maaf ya, kamu telephone supir kamu saja, atau pesan taksi online. Soalnya aku ada urusan, jadi nggak bisa boncengin kamu,"


Mendengar ucapan Kenjo, membuat Vania semakin kesal. Dia mencoba menoleh ke arah Radit, berharap pria itu menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang.


"Maaf juga, Van. Arah rumah kita benar-benar beda arah. Aku benar-benar capek, jadi pengen istirahat juga," belum juga Vania buka mulut, Radit sudah mengerti makna tatapan Vania.


"Kalian benar-benar menyebalkan!" cetus Vania, dengan bibir mengerucut. Kemudian, ia berbalik lalu beranjak pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Vania akhirnya menghubungi supirnya untuk menjemputnya. Jadi, sembari menunggu kedatangan supirnya, Vania memilih duduk di sebuah kursi besi.


"Ihh, kenapa hari ini aku sial sekali sih? benar-benar di luar ekspektasi. Padahal kan tadi aku sudah berharap dibonceng sama Brian," Vania tidak berhenti menggerutu .


"Haish, mau pipis lagi! hari ini benar-benar hari sial!" Vania berbalik dan langsung melangkah menuju toilet, yang tidak lain toilet yang sama dengan toilet tempat Ayesha disekap tadi.


Setelah selesai dengan hajatnya, Vania kembali keluar, dan hendak kembali ke tempatnya semula. Namun, tiba-tiba dia melihat dua orang yang sangat dia kenal,sedang berbicara dengan dua orang pria yang tidak dia kenal sama sekali.


"Eh, itu kan Dinar dan Aldi? ngapain mereka masih di sini?" bisik Vania pada dirinya sendiri. "Dan apa yang mereka bicarakan dengan dua orang itu? sepertinya sangat mencurigakan," dengan mengendap-endap, Vania memutuskan untuk mencuri dengar apa yang dibicarakan empat orang itu. Wanita itu bahkan menyalakan video untuk merekam pembicaraan empat orang itu.


"Jadi, perempuan itu sudah ada yang membebaskan?" terdengar suara Dinar, yang bicara dengan nada tinggi.


"Iya, Nona. Ketika kami ke sana, toilet itu sudah kosong, dan pintunya rusak. Sepertinya pintu itu didobrak paksa," sahut salah satu dari pria yang sama sekali tidak Vania kenal.


"Kalau iya, bagaimana ada yang tahu kalau ada Ayesha di dalam? kan tidak mungkin? Ayesha kan tidak bisa berteriak karena mulutnya disumpal?" alis Dinar terlihat bertaut, bingung.


"Jadi bagaimana ini, Nar? bagaimana kalau yang menolong Ayesha itu Brian dan teman-temannya? kamu sudah yakin kan kalau kita tidak akan ketahuan?" raut wajah Aldi mulai panik.


"Kamu tenang saja, napa sih Al? kamu gak usah panik seperti itu! kamu lupa, kalau sekolah ini punya pamanku? tadi aku sudah meminta paman agar menghubungi petugas keamanan untuk mengatakan kalau CCTV di jalan masuk toilet dan di toilet itu rusak," Dinar mencoba menenangkan Aldi.


"Kamu seriuskan?" tanya Aldi memastikan.


"Iyalah, aku serius. Emangnya kamu ada lihat kalau aku bercanda?"


Aldi menatap ke mata Dinar, mencoba untuk melihat keseriusan perempuan di depannya itu. Walaupun dia melihat kalau Dinar sedang serius, namun tetap saja dia merasa tidak tenang.


Kemudian, Aldi mengalihkan tatapannya ke arah dua pria suruhan mereka, dengan tatapan tajam.


"Lagian, kenapa sih kalian berdua lalai? kenapa harus selama itu, kalian kembali lagi ke sana, hah?"bentak Aldi, membuat dua orang suruhan itu, terjengkit kaget dan mundur dua langkah.


"Kan, kami meminta hanya 15 menit saja kalian mengurungnya di toilet itu? Kalian juga kan sudah kami kasih tahu, kalau kami hanya ingin menakuti Ayesha saja, tapi kenapa kalian bisa lupa? hah!" lagi-lagi Aldi membentak dua orang itu. Rasa panik, benar-benar membuat pemuda itu tidak bisa mengontrol amarahnya lagi.


"Maaf, Tua Aldi. Kami benar-benar lupa tadi!" dua orang itu menundukkan kepalanya, takut melihat tatapan Aldi.


"Aldi sudahlah! aku bilang kamu tenang saja, tidak perlu panik seperti itu! aku bisa pastikan kalau tidak akan ada yang tahu, tentang ini," Dinar kembali menenangkan Aldi.


"Bagaimana bisa tenang, Nar? kamu tahu bagaimana keluarga Brian kan? kalau mereka sudah berniat menyelidiki, mereka tidak pernah gagal," Aldi benar-benar sudah tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.


"Kamu tenang saja, kamu sudah hapus semua chat kita kan? kalau sudah, kamu tidak perlu khawatir, karena mereka tidak akan menemukan bukti,"


Aldi diam untuk beberapa saat, sedikit merasa lega mendengar ucapan Dinar. Namun, itu hanya bertahan beberapa saat, karena rasa panik seketika kembali datang.


"Ini semua gara-gara kamu! kalau kamu tidak membuat rencana seperti ini, kita berdua tidak mungkin dalam bahaya. kamu sih enak, seandainya ketahuan kamu tidak banyak kehilangan, kalau aku ... aku ini ketua osis, dikenal baik kepemimpinannya,selalu mendapat pujian. Kalau ketahuan, nama baik yang aku bangun selama ini akan hancur, Nar!" Aldi mulai menyalahkan Dinar.


"Hei, kenapa kamu menyalahkanku? kamu sendiri yang setuju, karena sakit hati ditolak Ayesha. Kalau kamu tidak setuju, rencana kita itu,pasti tidak akan terjadi kan? jadi jangan asal main nyalahin orang!" Dinar, tidak mau disalahkan.


Aldi kembali terdiam, tidak membantah ucapan Dinar. Karena yang dikatakan wanita itu memang benar adanya.


"Aku hanya ingin dia benar-benar mendengar ancamanmu, untuk menjauhi Brian, supaya aku bisa berusaha mendekatinya lagi," Kali ini suara Aldi terdengar lirih.


"Sudahlah, kamu tidak perlu pikirkan lagi! yakinlah, kalau kita tidak akan ketahuan. Yang penting, kalau bertemu Brian dan Ayesha, kamu harus bersikap seperti biasa, seperti tidak terjadi sesuatu. Kamu paham kan?" Dinar menepuk-nepuk pundak Aldi, guna menenangkan pemuda itu.


Sementara itu, Vania yang masih setia merekam semua dari balik pohon, tersenyum smirk.


"Emm, ternyata Aldi ditolak Ayesha. Apa sih kelebihan perempuan itu, sampai Aldi juga suka? cantikan juga aku!" gumam Vania dengan raut wajah kesal.


"Jadi, apa aku harus menunjukkan video ini ke Brian, atau bagaimana?" Vania mengetuk-ngetuk kecil, layar ponselnya, seperti tengah berpikir. Tiba-tiba, raut wajah gadis itu berbinar, karena terpikirkan sesuatu yang menurutnya menguntungkan dirinya.


"Sebaiknya aku kasih tahu saja pada Brian. Dengan seperti itu, Brian dan yang lainnya, akan percaya kalau aku benar-benar tulus bersahabat dengan mereka, bukan karena ingin ambil kesempatan biar dekat dengan Brian. Jadi, dengan demikian, aku bisa seterusnya dekat dengannya, sembari tetap mencari cara untuk mengambil hatinya," Vania memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dengan sebuah senyuman yang mengembang sempurna di bibirnya.


tbc


"