Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Usah pertama Brian



Hari sudah berganti kembali. Brian sudah berada di ruangannya dari beberapa menit yang lalu.


Sementara Vania, terlihat berjalan dengan anggun untuk masuk ke kantor perusahaan milik keluarga Brian. Dia sangat yakin kalau Brian tidak benar-benar memecatnya, karena menurutnya pria itu pasti tidak akan tega.


"Tolong berhenti, Ibu Vania! Anda dilarang untuk masuk!" langkah wanita itu seketika terhenti, karena salah satu security tiba-tiba mencegatnya.


"Hei, kamu apa-apaan sih? Kamu lupa siapa saya? Aku sekretaris CEO kalian. Kamu mau dipecat?" bentak Vania dengan memasang wajah garang.


"Sekali lagi, maaf, Bu! Tapi ini perintah pak Brian sendiri. Ibu dilarang masuk!" security itu masih berusaha untuk sopan


"Hei, berani sekali kamu ya! Kamu kira aku percaya kalau ini perintah Brian? Dia itu sahabatku dari SMA, jadi sangat tidak mungkin. Awas minggir, aku mau masuk!" Vania masih berusaha untuk mencoba untuk masuk. Namun, lagi-lagi security itu mencegat dan menutup pintu.


"Aku bilang minggir ya minggir! Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan meminta kamu dipecat nanti!" Kesabaran Vania mulai habis.


"Sekali lagi maaf Ibu Vania, anda memang benar-benar dilarang untuk masuk! coba ibu lihat itu!" Vania menoleh ke arah tangan Security itu menunjuk.


Mata Vania membesar ketika melihat dengan jelas-jelas ada photo dirinya ditempel dan dibawahnya ditulis, 'Vania Dilarang masuk'.


"Tega sekali sih kamu Brian! Kamu sudah mempermalukanku di depan semua karyawan," bisik Vania pada dirinya sendiri dengan mata yang sudah berkaca-kaca, menahan tangis.


"Ibu sudah baca kan? Kalau sudah, ibu pasti sudah mengerti. Silakan pergi, Bu!" security itu mempersilakan Vania untuk meninggalkan tempat itu dengan sangat sopan.


"Aku benar-benar tidak bisa terima. Awas minggir, aku mau menemui Brian sendiri. Aku mau meminta penjelasan!" Vania kembali berusaha melewati security. Namun, security itu lagi -lagi berhasil menahan tubuh wanita itu, Agar tidak masuk.


"Bu, mohon kerjasamanya! Jangan mempersulit pekerjaanku, dengan pergi dari sini!" nada bicara security itu sudah mulai terdengar tegas.


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tantang Vania.


"Bu Vania, tadi saya sudah berusaha untuk sopan. Kalau Ibu tetap tidak mau pergi, maaf, dengan sangat berat hati, aku akan mengusir ini secara terpaksa," ucap security masih berusaha untuk tetap sopan. Namun, walaupun terdengar sopan, tapi terselip ketegasan, yang tidak bisa diganggu gugat lagi.


Karena merasa tidak ingin malu, seandainya dia benar nanti diseret paksa, mau tidak mau Vania akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi.


Ketika sudah masuk ke dalam mobilnya, Vania mencoba untuk menghubungi Brian, namun panggilannya langsung ditolak oleh pria yang dari dulu dicintainya itu.


Vania mencoba beberapa kali, hasilnya tetap sama. Vania seketika melemparkan ponselnya ke tempat duduk di sebelahnya, lalu memukul-mukul alat kemudi dengan cukup keras.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam sudah menunjukkan hampir pukul 12. Brian, terlihat berdiri dari tempat duduknya lalu merapikan meja kerjanya. Pria itu sepertinya berencana untuk keluar.


Setelah mejanya terlihat rapi, Brian pun meraih jasnya yang sebelumnya dia sampirkan di sandaran kursinya, lalu ia pun membalutkannya ke tubuhnya.


Kemudian ia, meraih kunci mobil dan langsung beranjak meninggalkan ruangannya.


"Maaf, Pak, kalau boleh tahu, Bapak mau kemana?" baru saja Brian membuka pintu, di depannya sudah berdiri Dion asistennya.


"Aku mau keluar, cari makan siang." sahut Brian singkat.


"Aku pergi dulu ya!" ucapnya lagi sembari melangkah pergi.


"Pak Brian, tunggu sebentar!" Brian yang nyaris menjauh, kembali mengurungkan langkahnya dan menoleh ke arah asistennya itu.


"Ada apa?" singkat,padat dan jelas.


"Hmm, aku cuma mau mengingatkan anda lagi, kalau nanti jam 3, kita akan ada rapat," sahut Dion.


"Baiklah, kamu atur saja! Aku akan usahakan, sebelum jam 3 aku sudah kembali ke kantor. Aku pergi dulu ya!" Brian kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil yang dikemudikan oleh Brian terlihat berhenti di depan sebuah toko kue yang tidak lain adalah milik Ayesha, wanita yang akan berusaha dia perjuangkan lagi.


"Mau cari kue apa, Pak? Silakan lihat-lihat dulu!" baru saja Brian masuk, dia sudah disambut ramah oleh karyawan Ayesha.


"Aku tidak ingin membeli kue, aku ke sini mau bertemu bos kalian. Dia ada kan?" tanay Brian tanpa senyum sedikitpun.


"Kalau aku kasih tahu, siapa aku ... Ayesha pasti tidak akan mau bertemu, dan malah meminta karyawannya untuk mengusirku," batin Brian, bimbang.


"Pak?" karyawan itu kembali buka suara, ketika tidak mendapatkan jawaban sama sekali.


"Oh,tidak perlu kamu panggil. Aku ini tunangannya, kamu kasih tahu saja di mana ruangan tunangan saya!"


Karyawan itu mengerjab-erjabkan matanya, merasa sedikit ragu. "Apa iya, Mbak Ayesha sudah tunangan? Wah, kalau iya, beruntung sekali Mbak Ayesha punya calon suami seganteng ini. Dan dilihat dari penampilannya, dia pasti orang kaya," bukannya menjawab pertanyaan Brian, Karyawan Ayesha itu malah sibuk mengagumi ketampanan Brian.


"Hei, Nona! Kenapa diam?" Brian menjentikkan jarinya di depan karyawan itu.


"Oh, ru-ruangannya di sana, Pak!" tangan wanita itu refleks menunjuk ke arah sebuah ruangan yang pintunya tertutup.


"Oh, oke terima kasih!" Brian sontak melangkah menuju tempat yang ditunjuk oleh karyawan itu.


"Ihh, dia tampan sekali sih! Beruntung sekali, Mbak Ayesha!" puji Karyawan itu setelah setelah berdiri di samping rekan kerjanya


"Ya iyalah, dia tampan. Papanya aja sangat tampan. Belum lagi mamanya. Udah itu, dia itu anak pemilik perusahaan terbesar di negara ini," jelas rekan kerja karyawan yang dari tadi memuji Brian itu.


"Serius kamu?" taya karyawan itu memastikan.


"seriuslah! Dia itu anak dari Pak Bima dan Ibu Ayunda. Kami pasti kenal mereka kan?"


"Wah, iya, aku baru ingat! Pantas saja dia sangat tampan!" pungkas karyawan itu, masih menatap ke arah Brian yang terlihat masih ragu untuk mengetik Pintu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Masuk!" titah Ayesha, meminta orang yang mengetuk pintu ruangannya, masuk.


"Hai, Yesha! Kamu sibuk ya?"


Mata Ayesha yang tadi fokus ke layar komputer, sontak menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.


"Brian?" gumamnya.


"Kamu sibuk ya?" Brian mengulangi pertanyaannya.


"Menurutmu?" jawab Ayesha ketus.


Brian mengulas sebuah senyuman, tidak sakit hati dengan sikap ketus wanita di depannya itu.


"Menurutku, lumayan sibuk sih? Apa ada yang bisa aku bantu?" Brian mulai menawarkan diri.


"Tuh tahu. Tapi, aku tidak perlu bantuanmu. Aku bisa melakukannya. Sekarang sebaiknya kamu jangan ganggu aku, karena aku butuh konsentrasi!" nada bicara Ayesha masih terdengar ketus. Namun lagi-lagi Brian kembali tersenyum berusaha untuk tidak mengambil hati sikap wanita itu.


"Tapi, sesibuk apapun kamu ... kamu itu harus tetap ingat makan. Ini sudah waktunya makan siang. Aku sengaja ke sini mau mengajak kamu makan siang. Kamu mau ya?" Brian kini sudah berdiri di dekat Ayesha. Sumpah demi apapun, jantung Ayesha benar-benar ingin melompat keluar karena Brian berdiri terlalu dekat ke arahnya.


"Ya, Tuhan,kuatkan hatiku agar tidak mudah jatuh lagi pada laki-laki ini!" batin Ayesha.


"Ogah! Aku tidak mau makan siang denganmu!" tolak Ayesha dengan tegas.


"Sekarang sebaiknya kamu pergi dari sini, karena aku masih sibuk!" sambung wanita lagi sembari berusaha untuk meredam detak jantungnya.


"Kamu sibuk apa sih? Sini aku bantu!" tanpa mengindahkan penolakan Ayesha, Brian justru sedikit membungkuk untuk melihat apa yang dikerjakan oleh gadis yang dicintainya itu. Bahkan tanpa permisi, Pria itu meraih mouse dari tangan Ayesha dan langsung fokus mengerjakan pekerjaan Ayesha. Harum tubuh Brian seketika menyeruak ke hidung Ayesha dan menimbulkan sensasi sendiri bagi wanita itu. Namun, gadis itu berusaha untuk tetap bersikap biasa, walaupun jantungnya sekarang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


"Ini mah gampang. Hanya menghitung keuntungan penjualan kue kamu kan? Sini biar aku yang menyelesaikannya" masih dengan posisi sedikit membungkuk, Brian mulai fokus menyelesaikan pekerjaan Ayesha.


"Brian, aku tidak bilang kalau aku tidak bisa mengerjakannya kan? Please jauh-jauh! biar aku yang menyelesaikannya sendiri!" Ayesha mencoba mendorong tubuh Brian. Namun, tubuh pria itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.


"Kamu jangan keras kepala! aku tidak bilang kalau kamu tidak bisa menyelesaikannya, tapi aku sendiri yang mau bantu. Jadi, kamu duduk tenang saja, dan biarkan aku yang selesaikan!" pungkas Brian


Tbc


Maaf ya, hari ini tidak bisa crazy up, karena ada acara dan kebetulan aku juga lagi Crazy hari ini, karena level karya ini turun, tidak tahu kenapa? Mood menulis benar-benar hancur 😭