
"Ini sebenarnya ada apa sih?" tanya Radit dengan tautan di alisnya.
Kenjo tidak langsung menjawab, ia menarik napas lebih dulu, lalu mengembuskan keluar dengan perlahan, kemudian menjelaskan pesan yang baru dia baca.
"Su-sumpah demi apapun, aku juga sama sekali tidak tahu kalau salah satu dari mereka Omnya Ayesha. Aku hanya lihat Ayesha memeluk pria itu dan aku mengira kalau itu selingkuhannya. Saat itu aku tidak punya maksud buruk. Justru aku bermaksud baik, tidak ingin kalian dikhianati oleh orang yang kalian cintai," Vania akhirnya buka suara setelah mengerti kenapa Arga bisa tiba-tiba marah padanya.
"Kamu bohong kan? Bilang saja kamu sudah tahu sebenarnya, tapi menjadikan itu senjata untuk membuat Brian benci pada Ayesha. Lalu kamu juga memanfaatkan itu untuk membuatku berhutang budi padamu seolah-olah kamu sudah membantu menyelamatkanku dari seorang gadis penghianat. Itu kamu lakukan agar aku baik padamu dan mendukungmu mendapatkan Brian, Iya kan?" pekik Arga lagi.
"Arga, sumpah demi apapun! Aku benar-benar tidak tahu yang sebenarnya, karena saat itu, aku sama sekali tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Saat itu aku melihat dari kejauhan dan langsung ambil photo saja," Vania berusaha untuk membela diri.
"Kamu kira aku percaya? Aku yakin, kamu pasti sengaja, ayo ngaku!" tuntut Arga dengan manik mata yang berapi-api penuh amarah.
"Arga! pelankan suaramu! Bukannya aku sudah bilang kalau ini tempat umum? Please jangan buat keributan!" Kenjo kembali buka suara.
"Tapi, Ken ... Aku benar-benar tidak bisa terima!"
"Sudahlah, Kamu jangan menyalahkan Vania atas apa yang terjadi. Kamu dan Brian yang paling salah dalam hal ini. Kalian langsung memakan mentah-mentah ucapan seseorang tanpa bertanya lebih dulu. Kalian tidak percaya pada orang yang kalian cintai. Jadi, tolong berhenti menyalahkan orang lain!" ucap Kenjo dengan bijaksana.
Arga bergeming, diam seribu bahasa. Ia tidak membantah ucapan Kenjo karena ia merasa kalau ucapan sahabatnya itu memang benar adanya.
"Maaf, bukannya mau ikut campur. Dari tadi aku mendengar kalian menyebut nama Ayesha dan Retha. Apa mereka berdua yang kalian maksud?" tiba-tiba Deril sudah berdiri di dekat mereka sembari menunjukkan photo Ayesha dan Retha di handphonenya.
Empat orang yang sedang bersitegang itu sontak menoleh dan melihat ke arah photo yang ditunjukkan oleh pria bernama Deril itu.
"Iya," sahut Arga, singkat dengan tatapan sendu ke arah photo Retha.
Deril tersenyum tipis seraya mengangguk-anggukkan kepalanya
"Baiklah, dari apa yang aku dengar, aku bisa menarik kesimpulan kalau kalian berpisah karena salah paham, dan aku tidak tahu kesalahpahaman apa yang terjadi. Apa aku boleh tahu? Karena aku tadi sempat mendengar kalian ada menyinggung Omnya Ayesha,"
Arga diam seribu bahasa, karena bibirnya terasa kelu untuk menjelaskan yang terjadi pada pria yang sempat dicemburuinya itu.
Melihat Arga yang hanya diam saja, Radit kemudian berinisiatif, buka mulut, menceritakan semua yang terjadi.
"Astaga, kalian benar-benar salah paham. Sahabatku tadi namanya Reza dan dia itu adik dari papanya Ayesha sementara aku asistennya Reza. Kebetulan saat itu, kami ada pekerjaan di Bali, dan Reza tahu kalau Ayesha juga di Bali. Ia pun memutuskan untuk menemui Ayesha, karena besoknya kami harus cepat-cepat kembali ke Amerika," jelas Deril panjang lebar tanpa jeda.
"Bahkan saat itu Ayesha sangat senang dan ingin mengenalkan omnya itu ke pacarnya. Tapi, saat itu kami memang ingin makan malam dan bilang lain kali saja," lanjut Deril lagi membuat Arga semakin merasa bodoh.
"Kalau boleh aku tahu, kamu ini mantan pacarnya Ayesha atau Retha?" tanya Deril memastikan.
"Retha," sahut Arga, lirih.
"Ya, ampun. Lima tahun kalian hidup dalam kesalahpahaman. Asal kamu tahu, Retha itu gadis yang sangat baik. Sampai sekarang, Retha bahkan tidak memberitahukan pada Ayesha kalau kamu dan dia sudah tidak punya hubungan lagi, supaya Ayesha tidak merasa bersalah, karena merasa sudah menjadi penyebab kalian putus. Jadi Ayesha masih mengira kalau Retha masih berhubungan denganmu. Aku bisa tahu karena kami curiga, dan akhirnya bertanya padanya. Retha meminta kami untuk merahasiakan kebenarannya dari Ayesha. Aku benar-benar kagum padanya. Dia benar-benar sahabat yang baik. Bahkan dia berkali-kali menolak cintanya Omnya Ayesha yang jelas-jelas mencintainya. Aku juga dulu berusaha mendekati Ayesha, sampai bertahun-tahun, tapi juga sangat sulit. Akhirnya kami berduapun menyerah, sampai akhirnya kami menemukan istri masing-masing. Kamu benar-benar sudah menyia-nyiakan wanita sebaik dan setulus Retha,"
Penuturan Deril barusan membuat penyesalan Arga semakin besar. Pria itu kini terduduk dengan lemah.
Deril kemudian tiba-tiba terkekeh membuat Arga dan yang lainnya bingung.
"Asal kalian tahu, sahabat papanya Brian yang sedang makan siang dengan mereka sekarang itu, papanya Ayesha. Mungkin, sekarang Brian juga pasti kaget tahu kalau Reza itu adik papanya Ayesha," terang Deril, menghentikan kebingungan Arga dan yang lainnya.
Wajah Vania sontak, berubah pucat, mendengar informasi yang baru saja terlontar dari mulut Deril.
"Hah, Brian makan siang dengan keluarga Ayesha? Apa-apaan ini? Apakah mereka akan bersatu lagi? Kalau iya, itu berarti aku akan kalah lagi," bisik Vania pada dirinya sendiri, sembari menggigit bibir bawahnya, pertanda kalau perempuan itu sedang cemas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lain tempat, tepatnya di sebuah ruangan VIP restoran mewah, tampak semua makanan yang dipesan, kini sudah tersaji di meja dan siap untuk disantap.
"Kita makan saja dulu, sepertinya anakku memang tidak bisa datang. Maklumlah, tokonya baru buka hari ini, jadi pasti rame, karena bisa dipastikan orang-orang tidak mau melewatkan diskon," Radit buka suara.
Bima dan yang lainnya menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Radit. Akhirnya mereka semuapun mulai menyantap makanan.
Brian terlihat tidak fokus sama sekali. Itu karena kepalanya masih dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak bisa dia temukan jawabannya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Brianna. Ingin dia kembali ingin bertanya, tapi dia tahu jelas kalau papanya tidak akan pernah suka, kalau ada yang membahas sesuatu di saat sedang makan.
"Selamat siang semuanya, maaf aku telat!" semua mata sontak menatap ke arah datangnya suara.
Mata Brian sontak membesar, terkesiap kaget melihat sosok yang baru saja datang, yang tidak lain adalah Ayesha. Bukan hanya Brian, Ayesha juga ikut tersentak kaget. Saking kagetnya, kotak kue yang dibawa Ayesha hampir terjatuh ke lantai. Untungnya Ayesha masih sigap untuk menangkapnya.
Radit yang ternyata papanya Ayesha, berdiri dari kursinya dan langsung melangkah menghampiri putrinya yang mematung.
"Akhirnya kamu datang juga, Nak. Papa kira kamu tidak jadi datang," Radit menuntun Ayesha untuk duduk di kursi kosong, yang kebetulan ada tepat di samping Brian.
"Ayesha anak dari Om Radit? Jadi pria itu omnya Ayesha?" batin Brian sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Tbc
Ada gak yang masih ingat Radit, asisten Bima yang membantu mengelola perusahaan Bima di Indonesia sewaktu dia masih kuliah di luar negri? Itu papanya Ayesha, Guys. 😁😁