
Sementara itu kelas Brian dan Ayesha sudah dimasuki oleh seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah guru yang akan mengajar di jam pertama dan kedua.
"Selamat pagi, semua! sekarang buku kalian masing-masing!" ucap guru itu sembari membuka bukunya sendiri.
Sementara itu dari kursi Vania, terlihat kalau gadis itu sedang gelisah, karena Brian tidak kunjung masuk. Hal yang sama juga dirasakan tiga sahabat Brian.
"Brian kemana sih? bukannya tadi dia hanya izin ke toilet? dan bukannya itu sudah 15 menit yang lalu? kenapa dia tidak ada di kelas?" bisik Vania, resah.
"Di mana Brian dan murid baru itu? mereka janjian tidak masuk ya?" guru yang mengajar itu tiba-tiba kembali bersuara setelah melihat kursi Brian dan Ayesha, kosong.
"Itu dia, Pak, tadi__"
"Pagi, Pak Surya, maaf kami terlambat!" belum sempat Vania menjawab, Brian sudah mengetuk pintu.
Mata Vania sontak membesar dan napasnya memburu begitu melihat siapa yang berdiri di samping Brian. Siapa lagi kalau bukan Ayesha, gadis yang tidak dia suka sejak awal masuk.
"Kalian sudah telat, tapi kenapa masih berani untuk masuk kelasku, hah! kalian berdua keluar dan berdiri di luar!" bentak Surya dengan tatapan mata tajam.
"Emm, tapi Pak __"
"Tidak ada tapi-tapi! pokoknya kalian berdiri di luar sampai kelasku habis!" sepertinya guru yang sering dipanggil pak Surya itu tidak bisa dibantah lagi.
"Dan kamu Brian, Bapak tidak melarang kamu pacaran, tapi harusnya dengan pacaran, kalian bisa semakin baik, bukan seperti ini. Bukan membuat kamu malah menjadi tidak disiplin! sekarang, kalian berdua keluar!" sambung Surya lagi.
"Lho, Pak, siapa bilang Brian tidak disiplin? tadi Brian sudah datang 15 menit sebelum bel masuk. Hanya saja dia tadi langsung ke toilet tanpa meletakkan tasnya lebih dulu ke kelas. Yang harusnya dihukum itu, cuma si Ayesha itu!" Vania buka suara dengan suara lantang. Bahkan gadis itu sampai berdiri dari tempat dia duduk.
"Oke, kalau dia langsung ke toilet, tapi menurut kamu, apa yang dia lakukan di toilet sampai 15 menit. Sebanyak apa air seninya hingga sampai 15 menit?"
Vania terdiam sejenak, seketika bingung mau menjawab apa.
"Emm, kan bisa aja, Pak, Brian tadi sakit perut, jadi harus BAB tapi, kotorannya susah untuk keluar karena keras, makanya bisa sampai 15 menit," Vania akhirnya mencoba mencari alasan lain.
"Apa benar yang dikatakan Vania, Brian?"
"Emm, aku akui salah Pak. Tadi aku dan Ayesha sedang asik ngobrol, sampai tidak sadar bel sudah berbunyi. Kami berdua siap menerima hukumannya," jawaban yang diberikan Brian sontak saja membuat mata Vania membesar, terkesiap kaget. Bukan hanya gadis itu yang kaget, bahkan Ayesha dan ketiga sahabat Brian juga tidak menyangka kalau pemuda itu lebih memilih disalahkan daripada membenarkan ucapan Vania.
"Tuh, kamu sudah dengar sendiri kan Vania? Brian sudah mengakui kesalahannya. Jadi tidak ada alasan lagi untuk menghindari hukuman,"
Vania terduduk lemas benar-benar tidak menyangka kalau Brian lebih memilih dihukum daripada duduk mengikuti pelajaran Pak Surya.
"Kenapa dia melakukan itu sih? padahal aku sudah capek-capek untuk membela dia agar tidak dihukum. Benar-benar bodoh, menyebalkan!" umpat Vania, dalam hati.
"Atau jangan-jangan, kemarin mereka berdua sudah menjalin kedekatan dan akrab?" Vania mulai over thinking mengingat Ayesha yang diantar pulang kemarin.
Sementara itu, Brian dan Ayesha kini sudah berdiri di depan kelas, melaksanakan hukuman yang diberikan pak Surya.
Ya, walaupun Brian itu anak dari pemilik perusahaan terbesar, tapi Bima papanya tidak pernah meminta pihak sekolah untuk mengistimewakan kedua anaknya. Bima tetap meminta kalau kedua anaknya harus tetap dihukum jika melakukan kesalahan.
"Terima kasih ya sudah mau membantuku! harusnya kamu tidak perlu seperti ini. Kamu tinggal membenarkan ucapan Vania tadi, kamu bisa santai mengikuti pelajaran di dalam sana," ucap Ayesha yang benar-benar merasa bersalah.
"Sudah, diamlah! lagian aku memang lagi malas mengikuti pelajaran Pak Surya, jadi anggap saja ini keberuntungan buatku," sahut Brian, dengan mata yang tetap menatap lurus ke depan. Ke arah lapangan yang memperlihatkan siswa kelas lain sedang berolahraga.
Ayesha pun akhirnya diam seribu bahasa, hingga keheningan tercipta di antara mereka. Namun walaupun tidak terjadi pembicaraan di antara mereka, ekor mata Ayesha berkali-kali melirik ke arah Brian.
Setelah berdiam cukup lama, wajah Ayesha tiba-tiba berbinar. Sepertinya gadis itu mengingat sesuatu yang membuatnya bahagia.
Ia pun dengan cepat merogoh tasnya dan mengeluarkan sebatang coklat dari dalamnya.
"Nih, aku ada coklat untuk kamu, sebagai ucapan terima kasihku,". Ayesha menyodorkan coklat di tangannya ke pada Brian.
"Aku tidak suka coklat, kamu makan saja!" tolak Brian tanpa melihat ke arah coklat di tangan Ayesha.
"Kenapa tidak suka? coklat kan enak. Atau jangan-jangan, kamu tidak mau makan coklat, karena merasa kalau kamu lebih manis dari coklat, iya? " Ayesha mencoba untuk bercanda.
"Tidak lucu!" cetus Brian, ketus.
Ayesha, sontak mengerucutkan bibirnya, kesal dengan respond yang diberikan oleh pria di sampingnya itu.
Perempuan itu akhirnya membuka sendiri bungkus coklat ditangannya lalu menggigit coklat itu.
"Emm, coklatnya enak sekali! manisnya pas," ucap Ayesha, dengan tetap mengunyah.
Brian terlihat sedikit melirik dan kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar Cewek aneh! orang sedih dihukum, dia malah bisa menikmati coklatnya," batin Brian.
"Kamu benaran tidak mau?" tanya Ayesha lagi, memastikan.
"Tidak!" singkat padat dan jelas.
"Coba dulu deh sekali, pasti kamu nanti jadi suka!" Ayesha masih tetap memaksa.
"A__" baru saja Brian buka mulut hendak menolak kembali, batang coklat itu sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Kamu, aku kan sudah bilang tidak mau!" bentak Brian dengan mulut yang sudah penuh coklat.
"Udah, nggak usah gengsi. Kamu kunyah aja dulu!" entah kenapa Ayesha sama sekali tidak takut melihat tatapan tajam Brian.
"Mana bekas gigitanmu lagi!" umpat Brian, tapi entah kenapa dia sama sekali tidak memuntahkannya, justru tetap mengunyahnya.
"Gimana, enak kan?" Brian terjengkit kaget ketika tiba-tiba wajah Ayesha sudah tepat berada di bawah matanya yang kebetulan tengah menatap ke lantai. Mata Ayesha terlihat indah, padahal ditutup kaca mata.
Brian sontak mengangkat wajahnya dan kembali menatap lurus ke depan. Entah apa yang dirasakan pemuda itu sekarang, yang jelas kalau bukan sedang dihukum, dia ingin sekali menghilang dari tempat itu.
"Wah, kalian berdua mesra sekali?" baik Brian maupun Ayesha tersentak kaget, karena mendengar suara yang sangat familiar. Mereka berdua tanpa dikomando bersamaan menoleh ke arah datangnya suara. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Brianna.
Gadis itu kebetulan izin mau ke toilet dan melihat saat Ayesha menyuapkan coklat ke mulut kembarannya.
"Yes, mama dan papa harus tahu ini, kalau calon menantu mereka sudah ketemu," ledek Brianna sembari berlari, sebelum mendengar protes dari Brian adiknya.
"Ini gara-gara kamu! aku pasti akan jadi bahan ledekan nanti di rumah," Brian menggusak rambutnya dengan kasar.
"Ya, maaf!" desis Ayesha dengan mulut yang masih tetap mengunyah coklat.