Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Aku sudah dijodohkan



"Sayang, kamu tahu nggak belakangan ini perusahaanku benar-benar maju pesat," ucap Kenjo melirik sekilas ke arah Brianna, kemudian kembali melihat ke arah jalanan.


"Serius kamu? Apa itu berarti kamu sudah siap untuk menikahiku?" mata Brianna terlihat berbinar, penuh harap.


Kenjo kembali melirik dan tersenyum penuh makna. "Hmm, sepertinya iya. Aku akan bilang ke Papa untuk melamarmu secepatnya. Kamu mau kan kita menikah secepatnya?" tanya Kenjo lagi.


"Kenapa harus ditanyakan lagi sih? Tadi akan aku sendiri yang tanya, kamu suap menikahiku atau tidak. Itu berarti, aku sudah siap dong," Briana mengerucutkan bibirnya.


Kenjo tertawa renyah dan mengacak-acak rambut Brianna, merasa gemas dengan ekspresi wajah kekasihnya itu.


"Iya, iya, maaf, Sayang! Kalau begitu aku akan segera bawa papaku untuk melamarmu!"


"Kapan?" Brianna mendekatkan wajahnya ke Kenjo.


"Tunggu saja, Sayang. Pokoknya secepatnya!" pungkas Kenjo.


Brianna kembali menyunggingkan senyum yang sangat lebar, kemudian menyenderkan kepalanya ke pundak pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Radit yang dari tadi masih berada di dalam mobil, akhirnya memutuskan untuk turun dan melangkah masuk ke dalam restoran.


Pria itu menghampiri pelayan dan berpura-pura tidak tahu kalau Vania ada di tempat itu.


"Mbak, apa Vania ada?" tanya Radit dengan sopan.


"Oh, ada Tuan? Mbak Vania ada di ruangannya. Tuan ini siapa? Apa perlu aku panggilkan Mbak Vanianya?"


"Boleh deh! Bilang saja, Radit mencarinya," pelayan itu menganggukkan kepala, lalu berlalu dari depan Radit.


Tidak menunggu lama, pelayan itu kembali datang menghampirinya.


"Tuan Radit, Mbak Vania meminta anda untuk masuk ke ruangannya," ucap pelayan itu.


Radit pun melangkah menuju ruangan Vania setelah mengucapkan terima kasih sebelumnya pada pelayan itu.


Radit mengembuskan napas dengan perlahan, sebelum mengetuk pintu untuk meredam detak jantungnya.


"Masuk!" terdengar suara Vania dari dalam, setelah Radit mengetuk pintu.


"Hai, boleh aku masuk?" Radit menyembulkan kepalanya sembari melemparkan senyum lebar.


"Eh, bo- boleh dong!" sahut Vania, gugup. Bagaimana tidak gugup, dia tiba-tiba teringat akan ucapan tiga sahabatnya yang mengatakan kalau pria yang baru datang itu, juga memiliki perasaan yang sama sepertinya.


Radit pun masuk dan kembali menutup pintu.


"Silakan duduk, Dit! Tumben datang!" Vania mempersilakan duduk sembari menunjuk ke arah sofa.


"Lagi bete, Van. Semuanya dengan pasangan masing-masing. Tidak ada yang ingat denganku lagi. Aku ingat-ingat kamu juga nggak punya pasangan jadi aku datang ke sini. Tidak apa-apa kan?" tanya Radit.


"Emm, karena kamu tidak punya pasangan baru kamu datang. Kalau sudah ada, kamu pasti tidak akan datang lagi," Vania mengerucutkan bibirnya.


"Aku pasti akan tetap datang, karena kamu lah calon pasanganku," ucap Radit yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Kamu bisa aja, Van! Bagaimana kalau kita saja yang jadi pasangan?" tanya Radit tiba-tiba.


Deg ...


"Ekspresinya jangan seperti itu dong, Van. Aku hanya bercanda kali," ucap Radit, yang seketika memaknai lain, tatapan Vania.


"Oh, hanya bercanda?" desis Vania, lirih.


"Becanda kamu nggak lucu, Dit," imbuhnya.


"Aku serius, Van. Tapi aku takut, kamu menolakku, yang ujung-ujungnya membuat kita jadi canggung kalau bertemu nantinya," ucap Radit,yang hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Ternyata kamu hanya bercanda, Dit. Padahal aku tadi sempat berharap kamu serius. Aku jadi ragu dengan yang dikatakan, Ayesha, Retha dan Brianna tadi," bisik Vania pada dirinya sendiri. Vania memalingkan wajahnya dari Radit, agar pria itu bidak melihat raut wajahnya yang kecewa, dan matanya yang hampir mengeluarkan air mata.


"Atau, aku coba aja dulu ya saran Ayesha tadi?" batin Vania, ketika mengingat saran Ayesha yang menurutnya sedikit gila.


"Dit, aku mau kasih tahu kamu, kalau aku dijodohkan papa dengan anak sahabatnya,"


Radit tersentak kaget mendengar penuturan Vania barusan. "A-apa kamu terima perjodohannya?" tanya Radit dengan suara sedikit bergetar.


"Iya. Karena aku tidak ada alasan untuk menolak. Dan acara pernikahannya dua minggu lagi," terang Vania sembari menggigit bibirnya.


"Dua minggu lagi? Kenapa begitu cepat?" suara Radit terdengar lirih.


"Karena kata papa dan sahabatnya itu, tidak ada gunanya menunggu lama karena usiaku juga sudah sesuai untuk menikah,"


"Ta-tapi kamu kan tidak mencintainya, Van. Coba kamu pikir ulang!" ucap Radit, mencoba mempengaruhi keputusan Vania.


"Aku memang tidak mencintainya, tapi menurut aku, itu adalah jalan satu-satunya agar aku bisa membuka diri lagi untuk pria. Aku akan berusaha mencintai dia dan aku yakin aku pasti akan mampu," tutur Vania, lugas. "Lagian, sekarang tidak ada juga yang mencintaiku kan? Jadi, aku pikir tidak ada salahnya aku menerima perjodohan itu," sambung Vania lagi.


"Siapa bilang tidak ada yang mencintaimu? Pasti ada, Van!" Radit mulai sedikit emosional.


"Siapa?" pancing Vania lagi.


"A ...." Radit menggantung ucapannya karena tiba-tiba dia terpikirkan akan sesuatu.


"Kenapa tidak jadi bicara, Dit? Siapa yang mencintaiku?" ulang, Vania merasa tidak sabar.


"Jadi, Om Vino dan sahabatnya itu sudah sepakat menikahkan kalian dua minggu lagi? Dan apa semuanya juga sudah dipersiapkan?" bukannya menjawab pertanyaan Vania, Radit malah balik bertanya.


"Iya," sahut Vania, singkat padat dan jelas.


"Kalau begitu, semoga semuanya lancar dan kamu bahagia," ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Radit bukan jawaban yang Vania inginkan. Jawaban itu benar-benar jauh dari ekspektasi, Vania.


"Kalau begitu aku pamit dulu ya, Van. Aku tidak mau kehadiranku di sini membuat calon suami kamu itu marah. Permisi!" Radit berdiri dari tempat dia duduk, lalu beranjak pergi.


Sementara itu, Vania bergeming, diam terpaku menatap kepergian Radit. Air mata yang tadi berusaha dia tahan akhirnya lolos juga membasahi pipinya.


"Akhirnya aku tahu kalau apa yang dikatakan oleh Ayesha tadi tidak benar. Radit sama sekali tidak ada perasaan sedikitpun ke aku," batin Vania, sembari menyeka air matanya.


Wanita itu kemudian meraih ponselnya, lalu mengetik pesan untuk Ayesha.


"Aku sudah melakukan sesuai saranmu, untuk memancing Radit mengungkapkan perasaannya, tapi ternyata di luar ekspektasi. Dia justru mendoakan agar pernikahanku lancar dan aku bahagia," Vania langsung menekan tombol send, setelah selesai dia ketik.


Sementara itu, Radit yang sudah keluar dari restoran Vania, langsung masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, dia terlihat mencengkram alat kemudi dan membentur-benturkan kepalanya ke kemudi itu


"Brengsek! Pengecut kamu Radit! Kamu benar-benar pecundang! Kenapa kamu tidak berterus terang saja, hah!" pekik Radit, sembari menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.


Tbc