Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Akal bulus Brian



Ayesha benar-benar tidak bersemangat lagi untuk tetap berada di toko. Wanita itu pun memutuskan untuk keluar setelah menitipkan toko pada karyawannya.


Wanita itu berniat untuk ke butik Retha, tapi di tengah jalan wanita itu berubah pikiran


"Ah, aku pulang aja deh, Retha mungkin lagi sibuk. Dia kan harus menyelesaikan pesanan gaun pengantin artis terkenal itu secepatnya. Kalau au ke sana, yang ada jadinya mengganggu," batin Ayesha, yang kemudian memutar arah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Langit kini sudah berubah warna menjadi jingga, pertanda sudah senja dan sebentar lagi malam akan datang menyapa.


Setelah pulang dari toko, Ayesha sama sekali bel keluar kamar. Bahkan dia yang tadi siang sudah lapar, tidak jadi makan apapun karena entah kenapa rasa lapar yang dia rasakan siang tadi, menguap entah kemana.


Ayesha, bolak -balik berguling-guling di kasurnya dan selalu berhenti menatap menerawang melihat ke langit-langit kamarnya.


"Brian berhasil nggak ya mendapatkan kerja samanya?" tenyata yang membuat Ayesha gusar dari tadi adalah Brian. Wanita itu ternyata belum tenang sebelum mendapatkan info mengenai berhasil tidaknya pria itu mendapatkan kerja sama.


"Aku tanya dia nggak ya? Ah nggak usah deh! peduli amat dia mau gagal kek, mau berhasil kek bukan urusanku! Intinya kalau dia gagal, itu bukan salahku!" batin Ayesha, menghibur dirinya sendiri.


Wanita itu kembali mencoba untuk menutup matanya, namun lagi-lagi rasa tidak enak dan wajah Brian kembali berkelebat di pikirannya.


"Ahh, aku coba hubungi aja deh. Daripada aku penasaran," Ayesha duduk dan meraih ponselnya.


Saat melihat nomor Brian, wanita itu kembali merasa dilema. Namun sewaktu dia hendak meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, rasa penasarannya kembali datang.


"ahh, bodo amatlah! aku hubungi saja dia!" tanpa menunda lagi, Ayesha langsung menekan tombol memanggil.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kamar Brian. Pria itu sedang duduk bersila di atas kasur dengan laptop di atas pahanya. Pria itu tampak fokus menyelesaikan sesuatu di laptopnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ia pun, mengalihkan perhatiannya dari laptop ke arah ponselnya.


"Hah, Ayesha menghubungiku? Ada angin apa ini?"sorak Brian dengan wajah berbinar.


Entah kenapa pria itu seketika salah tingkah, seperti sedang jatuh cinta pertama kali, dan merasa ingin terbang ke langit ketika orang yang dicintai itu menghubungi.


"Tenang, Brian, tenang! Jangan grogi!" Brian berdehem dan mengembuskan napas sebelum menerima panggilan.


"Emm, ada apa, Sayang?" Brian sudah berusaha untuk bersikap biasa saja, tapi tetap saja suara pria itu bergetar.


"Sayang, sayang! Stop memanggilku, Sayang!" bisa dipastikan bibir Ayesha di ujung sana pasti sedang mengerucut.


Brian pun terkekeh, membayangkan ekspresi wajah Ayesha sekarang.


"Iya, iya maaf deh!" pungkas Brian, akhirnya.


"Oh ya, ada apa? tumben menghubungiku? Kamu kangen ya?" Sepertinya Brian sudah bisa menetralisir rasa groginya. Ia kini malah mencoba menggoda Ayesha


"Emm, aku cuma mau tanya, bagaimana tadi pertemuan dengan kliennya? Kamu berhasil kan?" suara Ayesha terdengar sangat pelan. Dan Brian bisa memastikan kalau wanita di ujung sana pasti sedang kepikiran.


Sudut bibir Brian sontak melengkung membentuk senyuman licik. "Emm, sepertinya dia lagi kepikiran. Aku bohong saja ah, biar dia semakin merasa tidak enak," Brian mulai jahil.


"Emm bagaimana ya? Aku gagal, Sha! Itu karena aku tidak bisa fokus karena perutku lapar," Brian dengan sengaja membuat suaranya selirih mungkin, agat terkesan kalau dirinya sedang sangat sedih. Padahal sebenarnya dia berhasil. Karena tidak mungkin dia gagal mengingat banyak perusahaan yang berlomba-lomba ingin bisa bekerja sama dengan perusahaan papanya. Intinya bukan perusahaan mereka yang mencari tapi perusahaan mereka yang dicari.


Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Entah bagaimana ekspresi wajah Ayesha sekarang, Brian sama sekali tidak tahu. Tapi, dari helaan napas yang bisa didengar telinganya, Brian yakin kalau wanita di ujung sana pasti sangat merasa bersalah sekarang.


"Ini salah kamu, Sha!" lanjut Brian lagi, mulai melanjutkan akal-akalannya.


"Tapi, aku maunya makan siang denganmu, Sha. Lagian di toko kamu banyak kue, tapi kamu sama sekali tidak menawarkan padaku, bahkan minum saja tidak kamu kasih. Kamu benar-benar tega," Brian sengaja semakin mendramatisir, agar Ayesha semakin merasa bersalah.


"He, kalau kamu mau, kamu beli lah. Masa nunggu aku tawarin. Enak saja kamu mau makan gratis. Itu semua pakai modal, bukan pakai daun. Lagian, kamu itu siapaku, makanya aku harus nawarin kamu makan kue-kue yang aku jual? Aku itu sedang berbisnis, bukan beramal," cerocos Ayesha dengan cepat tanpa rem.


"Oh, begitu ya? Baiklah kalau begitu.Lain kali kalau aku ke sana, aku akan beli," sahut Brian lirih.


"Eh, bu-bukan seperti itu maksudku!" Sepertinya Ayesha menyadari ucapan sudah terlalu keras.


"Tidak apa-apa, kok, Yesha. Kamu benar! Seharusnya aku memang harus beli, karena menurutmu aku bukan siapa-siapamu. Tapi, bagiku kamu itu tetap wanita yang aku cintai, terlepas kamu yang sudah membenciku,"


Tidak terdengar suara Ayesha lagi. Bisa dipastikan, kalau wanita itu benar-benar kembali merasa tidak enak hati.


"Sudah dulu ya, Sha. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan secepatnya, untuk menutupi kegagalan kerja sama tadi," ucap Brian, sengaja membuat Ayesha kembali kepikiran.


"Maaf!" ucap Ayesha tiba-tiba.


"Maaf? Maaf untuk apa?" tanya Brian, pura-pura tidak tahu. Padahal pria itu tengah tersenyum sekarang.


"Ya, maaf aja. Kamu bilang kamu gagal gara-gara aku tidak mau makan siang denganmu dan bahkan tidak menawarkan sedikitpun kue-kue yang ada di tokoku, ya udah anggap saja itu kesalahanku, walaupun aku tahu itu semua bukan aku yang salah sih. Tapi, aku tetap minta maaf ke kamu. Puas?"


Brian ingin tertawa mendengar ucapan Ayesha yang menggebu-gebu. Namun, pria itu berusaha untuk menahan diri untuk tidak tertawa, agar akal bulusnya bisa dia realisasikan.


"Tidak semudah itu, Yesha. Seperti pesanku tadi, kamu itu harus tetap bertanggung jawab,"


"Bertanggung jawab bagaimana sih?" suara Ayesha mulai terdengar kesal.


"Emm, mulai besok aku mau kamu mengirimkan makan siang ke kantorku!" ucap Brian, tegas.


"Enak Saja. Aku tidak mau!" tolak Ayesha dengan tegas.


"Kalau kamu tidak mau, itu berarti kamu bukan orang yang bertanggung jawab!" tantang Brian.


"Ya udah, ya udah, aku akan kirimkan! Sampai berapa lama?" akhirnya Ayesha, mengiyakan. Jangan lupakan Brian yang bersorak 'yes' di dalam hatinya.


"Sampai satu bulan," sahut Brian, santai.


"Lama banget. Satu Minggu saja!" protes Ayesha.


"Emm, kalau gitu dua bulan aja bagaimana?" bukannya mengiyakan, Brian malah menambah.


"Ya udah satu bulan," akhirnya Ayesha, pasrah.


"Nah, gitu dong! Kalau boleh makanannya yang kamu masak sendiri ya? Soalnya aku kangen masakanmu," ucap Brian, penuh harap.


"Aku nggak janji. Kalau sempat aku masak, kalau nggak, aku beli saja," sahut Ayesha.


Panggilan akhirnya berakhir. Brian melemparkan ponselnya dan dia pun melompat-lompat di atas kasurnya seperti anak kecil.


Tbc