Ayesha I Miss You

Ayesha I Miss You
Road to Resepsi



Brian dan Ayesha kini sudah sah mengikat janji pernikahan di depan Tuhan dan disaksikan oleh manusia. Pasangan sejoli itu sudah sah menjadi pasangan suami-istri baik secara agama maupun hukum.


Setelah itu, nanti malam akan berlanjut acara resepsi pernikahan yang juga sudah disiapkan oleh Vania dan Radit. Dan tentu saja bukan hanya mereka berdua, karena semua persiapan juga tidak lepas dari campur tangan kedua orang tua Brian dan Juga Ayesha. Tidak ketinggalan Retha, sahabat Ayesha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Senja akhirnya datang diujung hari untuk menyambut malam. Malam yang awalnya sangat ingin dilewatkan oleh Brian dan Ayesha, kini menjadi malam yang sangat ditunggu.


Ayesha kini sudah tampak cantik deh gaun pengantin hasil design Retha dan benar-benar gaun yang sangat diimpikan oleh Ayesha.


"Kamu cantik sekali, Sha!" puji Vania yang kali ini terlihat sangat tulus tanpa beban.


"Ah, kamu bisa aja, Van. Kamu juga terlihat sangat cantik dengan gaun itu," Ayesha balik memuji.


"Aku cantik hanya karena pakai gaun ini ya? Berarti Retha hebat bisa buat gaun yang membuat orang yang memakainya jadi cantik," sahut Vania, dengan nada bercanda.


"Apaan sih? Kamu tuh mau pakai apa aja cantik. Cuma pakai gaun ini kamu terlihat lebih sangat cantik, Van. Oh, c'mon, jangan buat aku terlihat jahat di sini!" Ayesha mengerucutkan bibirnya.


Tawa Vania seketika pecah, merasa lucu melihat raut wajah kesal, Ayesha.


"Becanda kali, Sha! aku pun mengakui kalau aku cantik, walaupun tanpa make-up," sahut Vania, di sela-sela tawanya.


"Cih, jiwa pick me nya, kumat!" celetuk Retha membuat tawa Vania semakin pecah. Bukan hanya Vania yang tertawa, tapi juga Brianna dan Ayesha.


Tiba-tiba Vania berhenti tertawa dan mata wanita itu juga berkaca-kaca, menahan tangis.


"Kamu kenapa, Van? Kok tiba-tiba wajahmu l sedih seperti itu? Apa kamu menyesal sudah ...." Ayesha menggantung ucapannya, karena tiba-tiba tenggorokannya merasa tercekat, sehingga sulit untuk berucap.


Vania menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, Sha! Aku tidak merasa menyesal sama sekali. Aku juga tidak sedih, hanya merasa terharu saja. Ternyata seperti ini rasanya punya teman. Tidak ada sakit hati walaupun saling mengejek. Aku bersyukur, bisa merasakannya," tutur Vania, dengan cairan bening yang tanpa bisa dicegah lagi, menetes membasahi pipinya.


"Ahh, kamu buat kami jadi terharu juga," Ayesha meraih tubuh Vania dan memeluknya.


Demikian juga Retha dan Brianna. Mereka juga tidak mau ketinggalan untuk memeluk wanita yang selama ini terkungkung dalam kemunafikan hanya demi mendapatkan pengakuan itu.


"Ahh, aku jadi jelek deh! make up ku jadi hancur karena menangis," Vania menyeka air matanya menggunakan tissue.


"Kenapa takut, bukannya kamu cantik tanpa make-up?" ledek Retha, lagi.


"Ahh, Retha!" Vania mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal.


"Hahahaha, canda, Van!" Retha lagi.


"Emm, ini acaranya kapan mulai ya? Kenapa bel dipanggil juga?" celetuk Brianna sembari melihat ke arah pintu.


"Atau jangan-jangan pengantin prianya kabur karena sudah sadar kalau aku lah yang terbaik?" sahut Vania, melirik usil ke arah Ayesha.


"Ahh, Vania! Kamu ihh!" Ayesha memukul pundak Vania yang sekarang tertawa lepas. Sumpah beberapa tahun ini, baru kali ini wanita itu bisa tertawa selepas itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di ruangan lain, tepatnya di kamar ganti groom atau pengantin pria tampak dua pria paruh baya sedang asik bercanda. Sementara sang pengantin pria yang tidak lain adalah Brian, tampak juga sudah rapi dan tampan dengan tuxedo yang selaras dengan gaun yang dipakai oleh Ayesha. Pria itu juga sedang bercengkerama dengan tiga sahabatnya, menunggu acara dimulai.


"Bim, akhirnya kita benar-benar jadi besan ya!" ucap Radit, pada Bima papanya Brian.


"Iya, Dit. Tapi, aku jadi khawatir,kalau nanti kamu akan menguras hartaku," Bima mulai bercanda.


"Cih, sok kesal! Kamu kira kamu cocok memasang wajah seperti itu? Ingat usia, Dit!" ledek Bima memasang wajah sinis.


"Udah, ah bicara denganmu buang-buang energi. Mending aku bicara sama Menantuku," Radit beranjak meninggalkan Bima


Melihat papanya Ayesha menghampirinya, Brian pun berdiri untuk menyambut mertuanya itu.


"Wah, tampannya, menantuku!" puji Radit papanya Ayesha.


"Ya, jelas! Lihat dulu siapa papanya!" celetuk Bima dari belakang Radit.


"Sudahlah, capek bicara denganmu. Kamu diam dulu bisa nggak?" cetus Radit membuat yang ada di ruangan itu terbahak.


"Oh ya, Brian kamu sekarang kamu sudah menjadi menantuku, aku harap kamu jangan apa-apain, putriku ya?"


"Hei, kalau tidak diapa-apain, apa gunanya anakku menikahi putrimu? Harus diapa-apain lah biar kita punya cucu, bagaimana sih?" sambar Bima dengan cepat, membuat tawa di ruangan itu kembali pecah.


"Bim, bukan itu maksudku. Yang aku maksud__"


"Permisi, acara akan dimulai. Pengantin wanita bisa dijemput sekarang!" belum sempat Radit selesai bicara, seorang pria yang merupakan salah satu anggota WO muncul, hingga membuat Radit berhenti bicara.


"Ya udah, Brian! Sekarang kamu jemput istrimu!" titah Bima.


Brian tersenyum dan perasaannya menghangatkan begitu mendengar sebutan istri dari mulut papanya. "Istri? Wah ternyata aku sudah punya istri!" bisik Brian pada dirinya sendiri.


"Woi, kamu dengar nggak yang dikatakan Om Bima? Kok jadi melamun sih?" teriak Arga tepat di telinga Brian.


"Sial! Kupingku sakit, setan!" Brian, mengusap-usap kupingnya.


"Apa yang kamu lamunankan hayo? Sudah tidak sabar ya?" Kini Kenjo yang menggoda.


"Apaan sih? Kalian ngaco! Aku mau jemput istriku dulu!" pungkas Brian, sembari berlalu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelum keluar dari ruangannya, Ayesha terlihat berdiri membelakangi pintu, menunggu Brian datang menjemput.


Jantung wanita itu berdetak begitu cepat,. Ia benar-benar gugup menantikan bagaimana ekspresi Brian saat melihat penampilannya untuk pertama kali.


"Brian sudah datang," bisik Retha, membuat debaran jantung Ayesha semakin hebat.


Suara hentakan bunyi sepatu yang semakin mendekat, membuat Ayesha menggigit bibirnya sendiri saking gugupnya.


Sementara itu, hal yang sama juga dirasakan oleh Brian. Hanya melihat dari belakang saja, pria itu sudah terpesona. Dia bisa pastikan, kalau dia akan semakin terpesona setelah melihat wajah Ayesha.


Pria itu berhenti tepat di belakang Ayesha. Tangannya terulur, lalu menepuk-nepuk pundak Ayesha.


Sebelum berbalik, Ayesha lebih dulu memejamkan matanya untuk sekejap. Kemudian dengan berusaha meredam debaran jantungnya, ia pun berbalik untuk menoleh ke arah Brian.


Mata Brian terlihat berbinar. Tampak jelas kekaguman di mata pria itu, karena seperti dugaannya, Ayesha benar-benar tampak sangat cantik sekarang, sampai tidak sadar pria itupun bergumam, "Cantik banget!"


Tbc